Sunday, October 17, 2021
Home > Cerita > Cerita Pendek

Perginya Sang Pengelana, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Perginya Sang Pengelana Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Lima tahun lalu aku mengira air mataku sudah habis. Gempa dan tsunami Aceh memporak porandakan semuanya. Tidak hanya rumah, harta benda, keluarga dan semua milik lenyap seketika. Aku sebatang kara. Ibu, bapak, kakak, adik, dan seluruh famili dekat telah dipanggil menghadap Ilahi. Tapi, penderitaan ternyata belum

Read More

Tunjukkan aku jalan ke Surga, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Tunjukkan aku jalan ke Surga Cerpen Djunaedi Tjunti Agus “Susah bisa khusyu. Baru takbiratul ihram mengikuti imam, terdengar teriakan anak-anak di luar. Dengan suara kencang mereka silih beganti memanggil-manggil temannya, di depan rumah tak jauh dari masjid. Nah, baru satu rakaat, tiba-tiba seseorang yang masbuk melempar segepok kunci di latai tanpa karpet

Read More

Hidup itu Sebenarnya Indah,  Cerpen Hendry Ch Bangun

September mestinya ceria. Tapi langit terus dipenuh kabut.  Gerimis kadang turun. Angin dingin menderu di antara pohonan dekat rumah. Suasana alam membuat semangat untuk bekerja menjadi anjlok. Sehabis salat subuh maunya tidur-tiduran saja. Badan terasa pegal. Pikiran buntu. Perasaan tidak menentu. Tidak ada yang salah sebenarnya. Pekerjaan terus datang dari kantor,

Read More

Maafkan sayang, ternyata tugas ibu rumahtangga itu berat. Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Maafkan sayang, ternyata tugas ibu rumahtangga itu berat Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus   Semua cucian, pakaian kotor telah masuk mesin cuci. Namun apa selanjutnya? Saya bingung. Mau mencet apa, banyak tombol pilihan. Ada tombol power, start, halus, selimut, jeans, putar, bilas, lembut, ketinggian air, turbo udara, cuci, jeda, cepat. Lalu ditergen dan pewangi ditaruh

Read More

Menelusuri Terowongan, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Menelusuri Terowongan Cerpen Djunaedi Tjunti Agus   Entah mengapa wajah-wajah orang yang pernah saya kenal hari-hari terakhir satu demi satu melintas dalam pikiran. Sederetan wajah -- teman, senior, guru, dosen -- muncul silih berganti. Wajah orang-orang yang pernah jadi tetangga di rumah kontrakan yang pernah kami tempati dan anak-anak mereka pun kerap mengisi pikiran.

Read More

Jenazah Dekat Masjid,   Cerpen Hendry Ch Bangun

Warga perumahan di tepi kota Jakarta itu geger. Seorang laki-laki yang tinggal di sebelah perumahan, diketemukan meninggal dunia di jalan, tidak jauh dari masjid. Mayatnya tergeletak di jalan aspal, tertelungkup. Dia menggunakan celana yang bersih, baju kaus, dan sebuah sajadah masih melekat dekat bahunya. Sandalnya pun bersih. Beberapa orang dewasa yang

Read More

Malam Semakin Dingin (5),  Cerpen Hendry Ch Bangun

Hari demi hari berlalu dilalui Budi. Malam-malam menjadi dingin karena hujan dan gerimis setiap hari mewarnai harinya. Angin yang kadang kencang menambah pilu hatinya karena sepi, seakan menerpa semua kehangatan yang diharapkannya. Kalau sedang kesepian seperti itu Budi lalu memutar lagu kesayangannya, Let Me Make Itu Through The Night yang dinyanyikan

Read More

Malam Semakin Dingin (4),   Cerpen Hendry Ch Bangun

Kepulangan Dian menyisakan kekosongan dalam rongga hati Budi. Entah kenapa. Setelah mendapat banyak kehangatan, setelah rindu seperti terlunasi atas mimpi bertahun-tahun, setelah harapan seperti menjadi nyata, kini lenyap begitu saja. Terus terang dia malas berkomunikasi karena konteksnya pasti sudah berbeda. Aku di sini sendiri, engkau di sana bersama keluarga, termasuk suamimu

Read More

Malam Semakin Dingin (3) ,  Cerpen Hendry Ch Bangun

Sudah beberapa hari ini Dian dan Budi bertemu sehabis senja. Ngobrol, curhat, berbicara tentang masa lalu yang tidak seperti harapan. Apabila menoleh ke belakang terkadang kita menyalahkan masa muda yang telah lewat karena tidak bertindak dengan sistematis. Dijalani begitu saja, tanpa usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Seakan menjalani

Read More

Dan Malam Semakin Dingin (2),   Cerpen Hendry Ch Bangun

Budi bersiap-siap tidur. Dia sudah mengenakan piyama sehabis membereskan meja kerja yang tadi menjadi tempatnya duduk membaca. Dia sudah menyetel alarm di ponsel, agar bisa bangun kira-kira setengah jam sebelum subuh. Maksudnya agar persiapan menuju masjid tidak buru-buru. Bebersih di kamar mandi dengan santai dan berjalan juga dengan santai untuk

Read More

I Can’t Stop Loving You,    Cerpen Hendry Ch Bangun

Sore belum lagi habis, masih ada kemerahan di ufuk langit. Pulang dari bekerja, Budi duduk sambil minum teh di meja makan. Hari ini dia pulang agak cepat karena pekerjaan yang menjadi bebannya sudah diselesaikan karena kebetulan tidak banyak. Mengedit berita-berita untuk diterbitkan keesokan harinya. Dia kebetulan memegang halaman opini, surat pembaca,

Read More

Laki-laki Tua, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Dia memang tidak sesegar dulu lagi. Telah sulit berjalan terlalu jauh, meski berjalan santai, karena lutut dan betisnya kerap terasa nyeri, kram. Namun agar otot-ototnya tidak terasa kaku dia terus berusaha membiasakan diri berjalan di pagi hari. Kadang sore pun dia jalan keliling komplek perumahan, sekadar mencari keringat. Seusia dia,

Read More

Istriku Hobi Berkebun,  Cerpen Hendry Ch Bangun

Survei membuktikan sejak pandemic Covid 19 banyak ibu rumah tangga menjadi ahli berkebun, khususnya bunga-bungaan. Semula Herman tidak begitu percaya saat membaca berita di salah satu media online tersebut. Di rumah, istrinya yang terkena program work from home, biasa-biasa saja. Sehabis absen, atau zoom meeting, paling yang dilakukan membaca ataupun

Read More

Sejak ada Korona ia tak mau menciumku,   Cerpen A.R. Loebis

“Sejak ada Korona ia tidak mau menciumku,” kata Sahri. Kami yang duduk di pos jaga itu diam dan saling pandang. Mata kini selalu menjadi juru bicara, karena mulut sudah tertutup pelindung alias masker.  Walau kata dan kalimat masih dapat jelas didengar, tetapi tatapan mata kini semakin memiliki nuansa dan makna tersendiri. “Siapa

Read More

Liar dan Tak Ada Yang Peduli, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Liar dan Tak Ada Yang Peduli Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus   “Goblok. Jangan begitu!” “Terus gimana Njing? “Bodoh! Itu aja lu nggak bisa,…..” Penggalan percakapan antara anak-anak berusia belasan tahun itu bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa. Tapi bagi Pak Rachmat sesutu yang membuat dia galau, risau. Bagaimana tidak,  anak-anak yang usia SD dan SLTP, juga

Read More

Dan Malam Semakin Dingin, Cerpen Hendry Ch Bangun

“Seharusnya kita berbicara seperti ini dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Wajah kita masih bersinar, masih ada sesuatu yang dibanggakan.” “Dalam pandanganku kau masih cantik..” “Ah, kau selalu tak pandai berbohong. Atau memang bodoh” “Aku serius.” “Itulah kebodohanmu. Tapi itu yang membuat aku menyukaimu.” “Kita cocok kan? Apapun namanya, kita sebenarnya saling menyukai.” “Dan terbukti,

Read More

Sesal, Cerpen Kartika Permata

“Maaf Dit, tapi gue nggak bisa menerima perasaan lo.” ucapnya ketika kami duduk bersama di ruang makan. “Perasaan gue ke lo saat ini, hanya bisa sayang sebagai teman dan nggak bisa lebih.” lanjutnya lagi. Ucapannya mengingatkanku pada ucapanku sekitar setahun lalu, ketika aku menolak perasaannya. Kali ini, aku yang harus menerima perkataan itu kembali

Read More

Dia melangkah Pergi  Cerpen : Andi Dasmawati

Koridor panjang dengan dinding berlapis wallpaper berwarna krem dan coklat menggaungkan kesunyian. Matahari telah lama tenggelam. Alin menekan lift menuju lantai dasar. Kantor tempatnya bekerja memang seperti tidak pernah tidur. Satpam berseragam biru gelap berjaga sepanjang waktu, selama masih ada pegawai yang bekerja di gedung. Pekerja di sini tidak perlu takut

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru