Sunday, September 27, 2020
Home > Cerita > Cerita Pendek

Sejak ada Korona ia tak mau menciumku,   Cerpen A.R. Loebis

“Sejak ada Korona ia tidak mau menciumku,” kata Sahri. Kami yang duduk di pos jaga itu diam dan saling pandang. Mata kini selalu menjadi juru bicara, karena mulut sudah tertutup pelindung alias masker.  Walau kata dan kalimat masih dapat jelas didengar, tetapi tatapan mata kini semakin memiliki nuansa dan makna tersendiri. “Siapa

Read More

Dan Malam Semakin Dingin, Cerpen Hendry Ch Bangun

“Seharusnya kita berbicara seperti ini dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Wajah kita masih bersinar, masih ada sesuatu yang dibanggakan.” “Dalam pandanganku kau masih cantik..” “Ah, kau selalu tak pandai berbohong. Atau memang bodoh” “Aku serius.” “Itulah kebodohanmu. Tapi itu yang membuat aku menyukaimu.” “Kita cocok kan? Apapun namanya, kita sebenarnya saling menyukai.” “Dan terbukti,

Read More

Sesal, Cerpen Kartika Permata

“Maaf Dit, tapi gue nggak bisa menerima perasaan lo.” ucapnya ketika kami duduk bersama di ruang makan. “Perasaan gue ke lo saat ini, hanya bisa sayang sebagai teman dan nggak bisa lebih.” lanjutnya lagi. Ucapannya mengingatkanku pada ucapanku sekitar setahun lalu, ketika aku menolak perasaannya. Kali ini, aku yang harus menerima perkataan itu kembali

Read More

Dia melangkah Pergi  Cerpen : Andi Dasmawati

Koridor panjang dengan dinding berlapis wallpaper berwarna krem dan coklat menggaungkan kesunyian. Matahari telah lama tenggelam. Alin menekan lift menuju lantai dasar. Kantor tempatnya bekerja memang seperti tidak pernah tidur. Satpam berseragam biru gelap berjaga sepanjang waktu, selama masih ada pegawai yang bekerja di gedung. Pekerja di sini tidak perlu takut

Read More

M u a l a f , Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

"Pa, sini deh. Mana tangannya. Taruh sini. Terasakan gerakannya?" "Ya.., ya.," kata saya. Aku mengelus-eluskan telapak tangan ke perut istriku yang buncit. Narti, istriku, terlihat senang. Senyumnya mengambang. "Laki-laki atau perempuan sama saja kan? Kita harus siapkan dua nama ya, Pa?" "Tapi dokter kan bilang kemungkinan anak kita laki-laki," jawab saya. "Ah, bisa saja meleset.

Read More

Bintang Kejora, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Telah berbulan-bulan saya tergeletak di tempat tidur. Di atas ranjang besi model lama, di dalam kamar yang lembab karena bocor di sana sini. Saya menghabiskan hari-hari dalam keadaan kusut masai. Rambut yang telah banyak memutih karena uban, semrawut. Mengenakan daster atau  baju tidur lusuh, awut-awutan, kadang memperlihatkan

Read More

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Cincin kawin masih melingkar di jari manis tangan kananku. Hanya itu sisa-sisa pertanda aku pernah menikah. Suamiku telah pergi, raib tidak tahu kemana dia mengelana. Apakah masih hidup, atau telah mati, aku juga tak pasti. Yang jelas tidak ada lagi kabar, telah hampir

Read More

Tromol Mesjid Cerpen A.R. Loebis

Masyarakat di kawasan tempatku bermukim gempar Senin pagi.  Pasalnya kotak tromol mesjid amblas isinya. Kegemparan ini terasa semakin menyesakkan, karena kejadiannya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Berikut ini kejadiannya. Sekitar satu jam setelah usai solat hari raya, terdengar suara-suara berisik dari arah mesjid, yang letaknya tak jauh dari rumahku. Aku saat itu

Read More

Di Simpang Jalan, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus “Maaf jika saya mengganggu. Sekali lagi maaf. Tapi saya tidak sabar melihat anda duduk diam dari waktu kewaktudengan wajah sedih begitu. Pulau Maratua begitu indah, penuh pesona. Kenapa tidak anda nikmati?” Saya coba mengangkat wajah, malas, berusaha meneyilidiki apa maunya perempuan ini? “Saya perhatikan beberapa hari ini anda menghabiskan

Read More
Ilustrasi Jembatan Ampera Palembang. (Foto Wikipedia)

Kembali Bersemi di Charitas

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus "Anda ini siapa? Seenaknya melamar anak orang? Saya tidak tahu asal usul Anda, pekerjaan Anda. Lagi pula Anda baru kenal anak saya empat, lima bulan ini." Saya tak menyangka Bu Nia bakal marah, karena pada dua kali kedatangan saya sebelumnya, dia dan suaminya begitu ramah. "Mama sakit keras. Tolong

Read More
ilustrasi (repro khazanah Republika)

Pesan Singkat

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus   SEBULAN lebih saya tak lagi menerima  pesan singkat atau  short message service (SMS) dari nomor  telepon genggam tersebut.  Siapa sebenarnya pemiliknya? Rasa penasaran tak kunjung hilang. Padahal biasanya saya tak peduli dan beranggapan itu hanya pekerjaan orang  iseng. Diisengi, bahkan diancam melalui SMS bukan hal baru. Bahkan seorang 

Read More

Maafkan, Jika Saya Tak Sempurna

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus “Maafkan, jika saya tak sempurna. Saya pamit untuk tidak kembali. Kita sudah tidak cocok, saya pergi untuk selamanya. Lagi pula tidak ada yang kita pertaruhkan. Kita tidak punya keturunan. Anda tak lagi mempedulikan saya. Kita tak lagi saling membutuhkan. Sudah tak sejalan.” Surat, atau persisnya catatan singkat itu

Read More

Lobang Maut di Malam Lebaran Cerpen Astrid Citra Damaiyanti

Pengumuman di komuter line menyebutkan kereta dari jurusan Bekasi akan tiba. Aku naik pukul 17.40 dengan tujuan stasiun terdekat, Manggarai, dan  seperti biasa, tinggal jalan kaki saja menuju rumahku yang tidak jauh dari stasiun penghubung itu. Pengumuman dari pengeras suara dalam kereta memberitahukan agar para penumpang berhati-hati dan segera menutup pengaman jendela,

Read More

Kekasih yang Hilang

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus HARI ini entah sudah hari keberapa, Murni tak lagi mengingatnya. Akhir-akhir ini dia bekerja layaknya robot, pagi pergi ke hypermarket tempat di bekerja, sore kembali ke tempat kos. “Lebih baik saya mati saja. Kenapa penderitaan ini tak pernah berakhir,” tutur Murni. Sriatun rekan kerjanya, yang juga teman sekamar Murni

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru