Thursday, May 19, 2022
Home > Cerita > Media Sosial: Impian yang Menjadi Kenyataan, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Media Sosial: Impian yang Menjadi Kenyataan, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Ilustrasi mimbar-rakyat.com

Media Sosial: Impian yang Menjadi Kenyataan

Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

 

“Saya ingin berbuat yang terbaik untuk keluarga–istri, anak-anak, cucu–saudara, sahabat, tetangga, bangsa, negara, dan agama.”

Itu yang ada dalam pikiran Ghufran. Lalu dia tertegun sendiri.

“Emangnya siapa saya,” kata hatinya.

Beberapa hari, pekan, mungkin sudah beberapa bulan, pikiran  Ghufran  selalu tertuju pada niat berbuat yang terbaik untuk semua. Terlebih untuk keluarganya.

“Lalu apa yang bisa saya lakukan,” dia bertanya sendiri pada dirinya.

Jika sudah sampai di situ dia langsung menarik nafas panjang.

“Ya. Apa yang bisa saya lakukan,” katanya lagi.

Dia terus merenung. Lammaaaa. Tak terganggu oleh keadaan sekitarnya. Deru mobil, kerasnya bunyi knalpot sepeda motor, teriakan pedagang keliling tak mampu mengusiknya sama sekali.

“Ya, saya harus fokus,” kata hatinya.

Telah hampir dua tahun masa pensiun dia jalani. Tak satupun yang telah dia lakukan untuk mecari pendapatan tambahan agar uang tabungannya tidak terus terkuras untuk biaya hidup. Untuk membuka wawasan dia coba bergabung dengan beberapa grup sosial, facebook, whatsApp, dan lainnya. Namun tak menolong, sejumlah grup yang dia ikuti malah dirasakannya membuat pusing.

Grup almamater sekolah, mantan teman-teman sekantor, grup hobi, pekerjaan tambahan, dan lainnya, rata-rata malah membuat dirinya makin tak merasa apa-apa. Bukannya membuka wawasan, tetapi malah mandeg, karena angota grup kerap saling pamer, merasa diri hebat, dan benar sendiri.

“Saya ini selain pedagang juga seorang pengacara. Ini saya kirim foto diri saya, agar teman-teman segrup ini kenal siapa saya. Tidak usah mencari-cari siapa saya lagi. Saya orangnya terbuka. Blak-blakan saja,” tulis salah satu anggota grup yang diikutinya.

Entah apa maksud anggota yang baru dimasukkan seseorang ke grup WhatsApp itu. Namun tak berselang lama ada juga yang menanggapi.

“Apa nih maksud anda. Supaya  terkenal?”

Haya hitungan detik, langsung ada balasan.

“Saya tak perlu terkenal di grup ini. Di kota saya, saya sudah terkenal.”

Wuih, selajutnya jadi ramai. Berbagai tanggapan dan komentar mucul. Ada yang mendukung, tak sedidkit yang ngledek.  Grup jadi panas.

Lucu, norak, kampungan. Entah apa lagi kesannya. Meski begitu, sejumlah aggota grup  juga ikut-ikutan mengirim foto diri, identitas, bahkan foto bersama tokoh idolanya. Namun ada juga yang ngeledek, mengirim foto aktor top dunia yang dikatakan sebagai dirinya.

Tak sampai di situ. Ada pula yang mengirimkan foto kartu kompetensi profesi sebagai seorang ahli hubungan dagang. Namun itu justru mejadi tertawaan, karena kartu yang dimilikinya baru untuk jenjang pertama dari 9 jenjang yang ada, jauh di bawah anggota grup lainnya.

Di grup lainnya yang diikuti Ghufran tak jauh berbeda. Bahkan terjadi perseteruan dua kelompok yang bertikai, saling tuding, dan mengamcam akan menuntut di meja hijau. Sejumlah angota lain sempat berkemomentar, tapi akhirnya banyak yang tak peduli. Tak mau ikut campur.

Di grup satunya lebih parah. Meski anggota grup berasal dari berbagai suku dan agama, namun anggota asal salah satu daerah tampil lebih dominan. Mereka berupaya menguasai grup, mengemukakan berbagai persoalan yang muncul di daerahnya. Anggota yang bukan berasal dari wilayah itu lama-lama sepertinya merasa tak nyaman, kemudian satu persatu mundur dari grup.

“Sepertinya lebih besar mudharat dibanding manfaatnya,” kata hati Ghufran.

Di salah satu grup yang diikutiya bahkan ada anggota yang memiliki sifat selalu ingin tahu segalanya tentang orang lain atau  dikenal dengan istilah KEPO (Knowing Every Particular Object). Begitu ada yang mengirim pesan, entah itu dalam bentuk pemberitahuan, peristiwa yang diteruskan dari grup lain, “si Kepo” langsung menyambar.

Ketika ada salah seorang anggota menyebut salah satu aggota lainnya dengan sebutan guru. Dia langsung ingin tau.

“Dia kan pedagang, kok disebut guru?”

“Itu sebutan khusus dari saya. Kami sudah berteman lama. Jadi sebutan itu ada ceritanya,” balas pengirim pesan.

“Emangnya kenal sejak kapan. Kenal di mana. Apakah anda satu kantor, teman sekolah, kuliah, atau tetangga?,” balas Si Kepo.

“Duh, capee deh,” balasnya.

Si Kepo ini memiliki rasa ingin tahu yang besar urusan orang lain. Padahal sebenarnya dia tidak perlu tahu.

Bagi Ghufran, sesuai dengan makna namanya (pemaaf), hal-hal seperti itu bukan hal baru. Dia kerap menghadapi orang seperti itu, termasuk ketika dia masih aktif bekerja sebagai salah seorang petinggi di sebuah perusahaan dagang.

Memang angota grup di media sosial macam-macam. Bahkan ada yang langsung bereaksi jika pesan yang dikirim atau dilanjutkan orang lain sama dengan pesan yang telah dia lanjutkan sebelumya. Dia langsung bereksi keras. Terkesan tidak suka.

“Itu sudah saya unggah di atas,” tulisnya.

Padahal si pengirim pesan meneruskan pesan dari grup lain itu hanya sekadar untuk meggoda salah seorang anggota di grup itu.

***

Ghufran  left atau keluar dari beberapa grup WhatsApp yang dianggapnya tidak kondusif, lebih dominan berisi hoaks, ghibah, lelucon-lelucon murahan, ujaran kebencian, dan lainnya. Namun dia mempertahankan tetap bergabung dengan beberapa grup yang berkaitan dengan usahanya sebagai pengusaha mebel.

Salah satu grupnya beranggotakan petani hinggga pengusaha kayu jati, para ahli atau perajin perlengkapan rumah, ahli/tukang khusus kursi, lemari, serta ahli ukir untuk keperluan rumah tangga, perkantoran, masjid, dan lainnya.

Dia aktif di grup tersebut, karena kini memang bergerak dalam usaha  mebel atau furnitur. Usaha mebelnya komplit, tidak hanya barang-barang seperti kursi , meja, dan lemari,  tetapi juga hasil kerajinan ukir, podium dan kaligrafi untuk masjid, asesoris gedung, rumah. Lengkap.

Melalui grup itu dia dengan mudah memesan bahan metah dan setengah jadi. Bahkan untuk mencari tukang, ahli, dia dapatkan dengan mudah. Tukang mebel terkenal di sejumlah kota di Jawa, cukup dia cari lewat grup, kemudian dilanjutkan melalui jaringan pribadi (japri) untuk memutuskan kesepakatan.

Berkat aktivitasnya di grup, Ghufran memiliki hubugan erat dengan pedagang kayu jati, dan bahan-bahan baku lainnya. Selain melanjutnya jaringan almarhum mertuanya, dia memperluas hubungan berkat bergabung di grup media sosial. Pegusaha kayu jati di Jawa yang terpusat dan terbesar di Hutan Kabupaten Blora, Kabupaten Grobogan, Cepu dan Bojonegoro, Jawa Tengah, dia kenal. Begitu juga para pengusaha kayu jati di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Timur.

Semua kebutuhan bisa terpenuhi berkat hubungan baik melalui grup media sosial. Ghufran begitu dikenal di grup pengusaha dan perajin mebel itu. Dia mampu mempengaruhi anggota grup. Bila dia megirimkan contoh/model sofa atau lemari jati hasil ciptaannya, hampir semua anggota grup memuji, dan tak sedikit yang bersedia menjadi tenaga untuk memproduksinya. Hampir dipastikann karya ciptaannya itu menjadi model di hampir semua toko mebel seantero negeri.

***

Impian Ghufron telah menjadi kenyataan. Bila dulu, saat sebagai pegawai, meski gaji besar, dia selalu saja merasa kekurangan. Kini, setelah pensiun, terjun sebagai pengusaha mebel, sama seperti usaha mertuanya dulu, dia hidup tenang.

Saya ingin berbuat yang terbaik untuk keluarga–istri, anak-anak, cucu–saudara, sahabat, tetangga, bangsa, negara, dan agama,” ucapnya, menirukan kalimat yang pernah terlontar dari mulutnya sudah lama, lama sekali.

“Kini impian saya menjadi kenyataan. Saya mampu berbuat terbaik bagi keluarga, membantu orang-orang miskin, urusan agama, sosial.  Itukan sama dengan membantu bangsa dan negara,” gumamnya.

“Nah, nah… Nglamunin apa ayo. Ingat loh, istri masih ada, kehidupan lumayan. Anak-anak sudah pada jadi. Cucupun sudah bererot. Mikirin apa lagi pap?,” tutur istrinya yang datang dari ruang dalam, membawa baki berisi makanan kecil, segelas kopi dan segelas teh.

Adiba, sang istri–yang namanya berarti berbudaya, sopan, terpelajar–langsung duduk di kursi teras dekat suaminya. Ghufran meyambut dengan senyum. Raut bahagia tergambar jelas dari wajah suami istri itu.

“Banyak yang masih Papa pikirkan. Kita tidak hanya mengutamakan diri sendiri, keluarga, anak-anak, dan cucu. Tapi kita harus selalu memikirkan orang lain yang tidak mampu, serta membantu pembangunan masjid,” kata Ghufran.

“Mudah-mudahan pula rencana lama kita, tahun ini jadi kenyataan. Melakukan umroh, sekaligus mengunjungi tiga masjid yang memiliki keutamaan.”

“Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad  Rasulallah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam,  yang diriwatkan  Bukhari dan Muslim,  beliau bersabda; “Janganlah (kalian) mengkhususkan melakukan perjalanan (jauh) kecuali menuju tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram (Mekkah), Masjidku (Masjid Nabawi Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina),” kata Ghufran.

Dijelaskan lagi; Masjidil Haram di kota Mekkah, merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun untuk umat manusia. Itu firman Allah yang ada dalam Al-Qur’an. Kedua, Masjid (Nabi) Nabawi di kota Madinah. Ketiga, Masjid al-Aqsa, di Palestina.

Ghufran selanjutnya mengatakan; “Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman; Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Itu ada dalam Al Qur’an, At-Taubah ayat 108,” katanya.

“Iya Ustadz, saya paham. Semoga Allah mengabulkan keinginan kita,” kata Adiba.

“Memang suami tercinta ku ini sudah pantas jadi ustadz,” katanya lagi.

Adiba lalu berdiri. Dia meraih tangan Ghufran.

“Tapi jangan lupa lho Pap kewajiban sebagai seorang suami. Mari kita manfaatkan pagi yang indah ini.”

Adiba menarik lengan Ghufron, dan keduanya masuk ke ruang dalam.***

 @Akhir Desember 2021
Cerpen ini telah dimuat dalam buku Kumpulan Cerpen Wartawan berjudul “Di Sebuah Pasar Desa” yang diterbitkan dalam ragka HPN 2022 di Kedari, Sulawesi Tenggara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru