Monday, March 08, 2021
Home > Cerita > Puisi & Pantun

Sajak Kelahiran, Puisi A.R. Loebis

Sejak dua purnama rajutan menikam Satuan unsur meregang aurat Auratku tengadah hormat Sukma semburat ujungnya melibat   Sejak purnama demi purnama sajakku tersurat Urutan himbau mampu menyirat, kubidik Kau dengan kata Sorot mata menyinari dada yang menganga.   *** Yogyakarta, 1979       Sajak Kematian   Bulan redup diselaputi darah Menyimak jasadmu ditimbuni tanah Pekat!! *** Yogyakarta, 1979

Read More

Keakraban yang Mulai Sirna, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Keakraban yang Mulai Sirna Puisi Djunaedi Tjunti Agus gerimis menambah sepi apalagi hujan deras, angin menderu masjid menjadi makin jarang jika pun ada jadi saling curiga seseorang yang batuk dihindari orang-orang mejauh bunyi sirine ambulan melintas membuat suasana makin mencekam apa lagi masjid-masjid saling bergantian mengumumkan berita duka perginya seorang warga mati karena terifeksi virus corona kita hanya bisa berdoa semoga yang tewas diterimaNya mudah-mudahan bencana

Read More

Alam pun Bicara, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Alam pun Bicara Puisi Djunaedi Tjunti Agus   dosa apa yang telah kita lakukan? terlalu angkuh bertanya demikian setiap manusia pasti pernah berdosa entah dosa kecil, mungkin dosa besar tanyalah pada diri sendiri   alam sepertinya memperingatkan kita manusia telah melakuan kerusakan berbuat dosa, merusak diri dan lingkungan alam pun bicara, mengingatkan hingga kapan manusia berbuat nista memporak-porandakan alam berbuat hina, bergelimang dosa   masih kah kita

Read More

Jangan Abaikan 3M, Sajak Djunaedi Tjunti Agus

Jangan Abaikan 3M Sajak Djunaedi Tjunti Agus   Covid-19 masih jadi ancaman tak hanya di Wuhan tapi juga di sini di negara kita negeri tercinta jumlah korban terinfeksi terus bertambah meski yang sembuh juga banyak begitu juga yang menjalani isolasi   protokol kesehatan mulai terbaikan itu alasanmu kenapa pandemi tetap masih menjadi ancaman banyak orang merambah ke berbagai pelosok memakan korban demi korban tak pandang

Read More

Bersihkan Hati, Sajak Djunaedi Tjunti Agus

Bersihkan Hati Sajak Djunaedi Tjunti Agus   masih munculkaah rasa iri dengki? itu artinya iblis masih bercokol setan masih berhasil menggoda hingga rasa hasad tetap timbul meski anda sadar itu tercela   jika rasa dengki tetap terasa saat melihat keberhasilan orang lain ketika orang lain meraih nikmat itu artinya anda belum bersih titik hitam masih menyelimuti hati   teruslah berupaya bersihkan hati jangan tergoda bisikan

Read More

UNESCO tetapkan pantun sebagai warisan budaya dunia

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) - Sidang UNESCO sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paris, Prancis, menetapkan tradisi pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda. Nominasi Pantun yang diajukan secara bersama oleh Indonesia dan Malaysia ini menjadi tradisi budaya ke-11 Indonesia yang diakui oleh UNESCO. Sebelumnya, Pencak Silat diinskripsi

Read More

Siapa Yang Peduli, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Siapa Yang Peduli Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   lihat kaca bercermin diri apakah bersih atau penuh noda apakah hati bebas titik titik hitam apakah jiwa bebas kemunafikan mungkinkah telah salah jalan atau masih di jalan lurus   siapa yang peduli jika bukan diri sendiri dimana kan berakhir jalannya kita yang mengarahkan karena itu jangan salah jalan akan jadi penyesalan panjang   kita bisa merasakan tanpa harus menduga-duga siapa

Read More

Bulan di Ujung Daun, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Di malam yang kelam dari balik dedaunan terlihat bulan bersinar terang benderang menerangi angkasa dan bumi di ujung daun yang bergoyang bulan terlihat semakin riang mengajak alam bicara mengirim pesan ke semua orang di sinilah beberapa tahun lalu dalam suasana hampir serupa menjejakkan kaki di Cianjur menatap bulan yang sama sambil mendengar bait-bait yang dilantunkan oleh Alfian jangkrik menjadi saksi bulan yang sama kembali muncul membawa kecerahan,

Read More

Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun, Puisi Djunaedi Tjunti Agus   innalillahi wa innalillahi rojiun kalimat ini sering didengar sering ditulis via pesan mengiringi kepergian seseorang entah keluarga, teman, tetangga selamat jalan pergi ke hariban milik Allah kembali ke Allah   kesedihan, kerelaan, dan doa suatu waktu ditujukan pada kita melepas kepergian ke alam baka menemui penguasa alam semesta mungkin menanti waktu lama sebelum diadili di akhirat berakhir

Read More

Sajak RAHMAT, Oleh Ahmad Istiqom

Siapa bilang matahari itu satu Matahari itu ada seribu Bahkan ada seribu lainnya Di balik gugusan bintang itu Di sana ada seribu galaksi Dan satu janji   Siapa bilang matahari itu abadi Di kota, gerainya bangkrut satu persatu Pajangannya lumat Pramuniaganya megap megap Demi langit yang berlapis tuju Pada singkap pertama ada tuju ratus istana Pada lapis kedua ada tuju ribu cakrawala Pada tabir

Read More

Jangan Tanam Kebencian, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jangan Tanam Kebencian Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   jangan tanam kebencian saatnya nanti kau yang memetiknya menanggung akibatnya langsung semua akan dibalas tunai habis tanpa sisa sedikitpun membuat kau bangkrut ludes menjadi orang yang merugi neraka lah sebagai balasannya   jangan pernah melecehkan mengancam orang tanpa alasan ingkar janji lari dari tanggungjawab mencemooh peringatan Tuhan   jangan pernah tonjolkan kesombongan keangkuhan merasa hebat sendiri jangan timbulkan kebecian kepada siapapun di

Read More

Hari ini terasa khusuk, Puisi A.R. Loebis

Hari ini terasa khusuk Bersila duduk Tawaduk dan tunduk Memandang ujung hidung Dan lipatan lutut Merasa dada berdegup Nadi berdetak Darah mengalir Bersedekap memeluk diam Menyekap senyap Tafakur dan bersyukur Perjalanan panjang Entah sampai mana Tapak jejak Dimana tibanya Meraba-raba nurNya Tak terasa Mencari-cari bayangannya Tak bersua Padahal Ia berada dalam ada Masuk ke belantara masa Menusuk dari dalam dada Menghunjam ke dalam aorta Melayang di alam maya Hari ini perjalanan ntah kemana-mana Tapi hari

Read More

Cek Itu dan Ini, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

hari-hari yang sibuk mondar-mandir ke sana ke mari menemui banyak orang dari petugas, perawat, hingga dokter melakukan konsultasi berbagai hal dari masalah gula darah hingga mata sampai pada masalah asam urat   anda sudah tua, sadari lah itu bukan ucapan sang dokter tapi kata hati dari lubuk yang dalam karena itu banyaklah beramal jangan buat lagi dosa-dosa meski memandang barang terlarang bertobatlah, minta ampun

Read More

Sajak Resesi: Oleh Ahmad Istiqom

Resesi itu, tidak ada beras hari ini Kendilnya ngebul, tapi isinya batu rebus Tangis anak yang memecah gendang telinga Mengiris hati yang tidak lagi berdarah Diamlah nak! Sebentar lagi nasi masak Sekarang lagi musim pandemi Padi belum lagi marak Di gudang bulog biang tikus beranak pinak Khalifah Umar, itu ceritera lama Tidak lagi diproduksi zaman ini Sejak kpk giginya dipangur Doyannya hanya tempe,minumnya

Read More

SAJAK, Salam Sejawat, Oleh: Ahmad Istiqom

Sejawat, tetaplah semangat Atas syahidmu di depan gerbang corona Atas wafatmu dengan stetoscop menggantung lemah di dada Seratus nyawa Bukan seratus jera Kami saja yang terlalu lena Lupa membekalimu dengan cadangan nyawa Itu pun kami tak punya Dok.. apakah dialam sana masih ada masker Sisa kan buat menutupi malu kami Surgamu kah itu yang berbau harum Bukan bau alkohol kamar bedah Kami di

Read More

Semoga Bukan Kita, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Hanya Allah berhak disembah tak ada sesembahan selain Dia Allah satu-satunya, tiada dua apa lagi tiga atau lebih banyak tak beranak dan tak diperanakkan jangan sampai salah jalan   musyrik memohon kepada selain Dia pohon besar, kuburan, tempat angker bukan tempat meminta dan berdoa pergi ke dukun bukanlah solusi kecuali kepada dukun beranak ilmu hitam bukan jalan ke luar semoga itu bukan kita   kita-kita

Read More

Mengetuk Pintu Langit, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Mengetuk Pintu Langit Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   tiada yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Kuasa tiada tuhan selain Allah semoga semua itu selalu terjaga tak mampu dibelokkan sedetikpun meski oleh raksasa penista atau janji kekayaan berlimpah kedudukan dengan kekuasaan penuh oleh wanita pengguncang dunia   hanya kepadaNya hamba berharap memohon dalam sujud panjang mengetuk lembut pintu langit berharap impian diijabahi Allah hanya Dia harapan, tiada

Read More

SAJAK NEGERI TUA, Oleh: Ahmad Istiqom

Negeri ini sudah tua Tapi tak juga dewasa Negeri para sengkuni yang berguru pada Durna Diramaikan pemandu sorak para kurawa Bagong dan punakawan tergelak-gelak Melihat para brahmana main ketoprak Lakonnya "Menyelamatkan Amarta dari Raja Dungu" Katanya, disana "merdeka" nyaris mati Padahal di ruang iccu korban corona tak mati mati Resep yang ditawarkan sebagai yang Maha Benar dengan segala nyinyirnya Tatkala

Read More

Dirgahayu NKRI, SAJAK BUNG, Bangkitlah Bung, Bangkitlah! Oleh: Ahmad Istqom

Barangkali Bung lelah di alam kubur Tengoklah tanah airmu yang kini tinggal tanahnya doang Karena airnya telah terjual Tengoklah tambangnya yang sudah kempot Karena isinya sudah disedot freeport Bung, yang terbaring di Bendogerit Bangkitlah Tapi jangan tanya batubara ya Batunya sudah habis diekspor tinggal baranya saja Kemudian membakar sentimen antar suku, agama dan pilkada Bung mintalah cuti barang dua tiga

Read More

SAJAK HAPE Oleh: Ahmad Istiqom

Sesungguhnya nafasku nafas hape. Hoss.. Sesungguhnya denyut nadiku kentut hape. Nyuut.. Sesungguhnya detak jantungku rentak hape. Taak.. Darahku hape Sumsumku hape Sujudku hape Sembahku hape Pepundenku hape Aku rela diperkosa Aku rela diserimpung Aku pasrah dilumat bulat bulat Karena hidupku kini tergantung di tali hape Karena nyawaku melekat di paket pulsa Karena jiwaku tertambat erat di grup wa Dzikirku bungkam dalam tautan instagram Tahlilku memantul,

Read More

Masjidil Haram (1), Puisi A.R. Loebis

Aku terpana Hampa Terpacak Terpesona Meleleh   Masjidil Haram (2) Pusaran manusia Aku meleleh Hanyut   Masjidil Haram (3) Kiblat dunia penuh manusia Jutaan dari penjuru dunia Ras, warna, jenis kelamin, negara, kostum, satu Rebutan mengagungkan Asma-Mu Ya Allah Kami datang memenuhi undanganMu Ya Robb jutaan dari milyaran penduduk dunia   aku terhanyak memandangi manusia kecil-kecil di lantai tiga mungkin mereka sedang towaf tapi pasti sedang mengagumi kebesaran dan kehebatanMu aku melihat berkeliling,

Read More

Petikan daun bambu, Puisi A.R. Loebis

Jejeran pohon bambu bergerak-gerak Menari dengan gemulai menawan Dedaunannya melambai-lambai Suaranya, aduhai , berdesah-desah basah   Pasti ada yang memetik simfoni itu Kalau tidak tak mungkin senarnya bergetar Punggungku nyaman menempel di tembok Mataku  nanar menatap ke kejauhan Kurasa-rasa, entah kapan menyaksikan keindahan pandang Kemerduan suara dan irama yang mengalun dari buluh perindu   Baru kali ini aku mengamati khusus Kulitku terkesiap seperti

Read More

Mereka pergi, Puisi A.R. Loebis

Memandang punggung mereka Di ujung bulan ini kaki mungil itu berjuntai di gendongan bila terang ia pasti jalan tertatih mengikuti Tapi ia tak pergi Terpateri dalam hati   Aku memandangi punggung mereka Di ujung bulan ini Bebatuan jingga itu Menanti sapuan tangannya Serta jentikan jemari Dan tiupan perlahan Dengan kaki berlonjor dan berjuntai Busana berkibar perlahan Dihembus angin menembus ilalang Yang datang dari arah belakang Entah kapan lagi terbentang   Aku

Read More

Tamu itu pergi, Puisi A.R. Loebis

Sebentar lagi tamu itu akan pergi entah apa yang sudah kusuguhkan kepadanya tapi sebaliknya, begitu banyak makanan yang diantarkannya kepadaku di atas meja santap di dalam relung hati di kolam rindu jiwa entahlah sajadah itu apakah memberi kabar entah kenapa aku begitu cemas jangan-jangan aku hanya lapar dan dahaga karena tak mampu tak kuasa tak menyiapkan waktu hanya menyisakan masa sehingga sukma terasa

Read More

SAJAK RAMADHAN: Oleh Ahmad Istiqom

PUISI ni tidak lagi terasa bergizi Dimaki ayat makiyah dipadani surat madaniyah Satu juta dua puluh tuju abjadnya seperti peluru penuh mesiu Setiap kubaca ia memantul seperti kaca Meletupkan satu kebajikan berbanding sepuluh balasan Ramadhan begini Alquran-ku semakin lusuh Puisiku menjadi pepesan kosong Gurindammu.... bohong Bermain kata bak anjing menggonggong Seratus empat belas surat, bukan syair bukan sajak Berawal dari iqra

Read More

Malam 1000 Bulan, Puisi A.R. Loebis

Malam 1000 bulan Tak terbayangkan begitu banyak menghias angkasa aku termangu hanya termangu tak kuasa membayangkan penciptanya tak terhingga ku membacamu dibawah sinar dian 1000 bulan dada bergetar air mata menetes hingga tertatih-tatih dari Ramadan ke Ramadan menahan rindu dendam   Ya Allah yang maha Kuasa Satu bulan pun membuat semua orang bahagia Apalagi 1000 bulan Bulan di angkasa dan dalam dada Bulan dalam ruang dan waktu Dalam janji dan

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru