Sunday, September 27, 2020
Home > Cerita > Puisi & Pantun

Sajak Resesi: Oleh Ahmad Istiqom

Resesi itu, tidak ada beras hari ini Kendilnya ngebul, tapi isinya batu rebus Tangis anak yang memecah gendang telinga Mengiris hati yang tidak lagi berdarah Diamlah nak! Sebentar lagi nasi masak Sekarang lagi musim pandemi Padi belum lagi marak Di gudang bulog biang tikus beranak pinak Khalifah Umar, itu ceritera lama Tidak lagi diproduksi zaman ini Sejak kpk giginya dipangur Doyannya hanya tempe,minumnya

Read More

SAJAK, Salam Sejawat, Oleh: Ahmad Istiqom

Sejawat, tetaplah semangat Atas syahidmu di depan gerbang corona Atas wafatmu dengan stetoscop menggantung lemah di dada Seratus nyawa Bukan seratus jera Kami saja yang terlalu lena Lupa membekalimu dengan cadangan nyawa Itu pun kami tak punya Dok.. apakah dialam sana masih ada masker Sisa kan buat menutupi malu kami Surgamu kah itu yang berbau harum Bukan bau alkohol kamar bedah Kami di

Read More

Semoga Bukan Kita, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Hanya Allah berhak disembah tak ada sesembahan selain Dia Allah satu-satunya, tiada dua apa lagi tiga atau lebih banyak tak beranak dan tak diperanakkan jangan sampai salah jalan   musyrik memohon kepada selain Dia pohon besar, kuburan, tempat angker bukan tempat meminta dan berdoa pergi ke dukun bukanlah solusi kecuali kepada dukun beranak ilmu hitam bukan jalan ke luar semoga itu bukan kita   kita-kita

Read More

Mengetuk Pintu Langit, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Mengetuk Pintu Langit Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   tiada yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Kuasa tiada tuhan selain Allah semoga semua itu selalu terjaga tak mampu dibelokkan sedetikpun meski oleh raksasa penista atau janji kekayaan berlimpah kedudukan dengan kekuasaan penuh oleh wanita pengguncang dunia   hanya kepadaNya hamba berharap memohon dalam sujud panjang mengetuk lembut pintu langit berharap impian diijabahi Allah hanya Dia harapan, tiada

Read More

SAJAK NEGERI TUA, Oleh: Ahmad Istiqom

Negeri ini sudah tua Tapi tak juga dewasa Negeri para sengkuni yang berguru pada Durna Diramaikan pemandu sorak para kurawa Bagong dan punakawan tergelak-gelak Melihat para brahmana main ketoprak Lakonnya "Menyelamatkan Amarta dari Raja Dungu" Katanya, disana "merdeka" nyaris mati Padahal di ruang iccu korban corona tak mati mati Resep yang ditawarkan sebagai yang Maha Benar dengan segala nyinyirnya Tatkala

Read More

Dirgahayu NKRI, SAJAK BUNG, Bangkitlah Bung, Bangkitlah! Oleh: Ahmad Istqom

Barangkali Bung lelah di alam kubur Tengoklah tanah airmu yang kini tinggal tanahnya doang Karena airnya telah terjual Tengoklah tambangnya yang sudah kempot Karena isinya sudah disedot freeport Bung, yang terbaring di Bendogerit Bangkitlah Tapi jangan tanya batubara ya Batunya sudah habis diekspor tinggal baranya saja Kemudian membakar sentimen antar suku, agama dan pilkada Bung mintalah cuti barang dua tiga

Read More

SAJAK HAPE Oleh: Ahmad Istiqom

Sesungguhnya nafasku nafas hape. Hoss.. Sesungguhnya denyut nadiku kentut hape. Nyuut.. Sesungguhnya detak jantungku rentak hape. Taak.. Darahku hape Sumsumku hape Sujudku hape Sembahku hape Pepundenku hape Aku rela diperkosa Aku rela diserimpung Aku pasrah dilumat bulat bulat Karena hidupku kini tergantung di tali hape Karena nyawaku melekat di paket pulsa Karena jiwaku tertambat erat di grup wa Dzikirku bungkam dalam tautan instagram Tahlilku memantul,

Read More

Masjidil Haram (1), Puisi A.R. Loebis

Aku terpana Hampa Terpacak Terpesona Meleleh   Masjidil Haram (2) Pusaran manusia Aku meleleh Hanyut   Masjidil Haram (3) Kiblat dunia penuh manusia Jutaan dari penjuru dunia Ras, warna, jenis kelamin, negara, kostum, satu Rebutan mengagungkan Asma-Mu Ya Allah Kami datang memenuhi undanganMu Ya Robb jutaan dari milyaran penduduk dunia   aku terhanyak memandangi manusia kecil-kecil di lantai tiga mungkin mereka sedang towaf tapi pasti sedang mengagumi kebesaran dan kehebatanMu aku melihat berkeliling,

Read More

Petikan daun bambu, Puisi A.R. Loebis

Jejeran pohon bambu bergerak-gerak Menari dengan gemulai menawan Dedaunannya melambai-lambai Suaranya, aduhai , berdesah-desah basah   Pasti ada yang memetik simfoni itu Kalau tidak tak mungkin senarnya bergetar Punggungku nyaman menempel di tembok Mataku  nanar menatap ke kejauhan Kurasa-rasa, entah kapan menyaksikan keindahan pandang Kemerduan suara dan irama yang mengalun dari buluh perindu   Baru kali ini aku mengamati khusus Kulitku terkesiap seperti

Read More

Mereka pergi, Puisi A.R. Loebis

Memandang punggung mereka Di ujung bulan ini kaki mungil itu berjuntai di gendongan bila terang ia pasti jalan tertatih mengikuti Tapi ia tak pergi Terpateri dalam hati   Aku memandangi punggung mereka Di ujung bulan ini Bebatuan jingga itu Menanti sapuan tangannya Serta jentikan jemari Dan tiupan perlahan Dengan kaki berlonjor dan berjuntai Busana berkibar perlahan Dihembus angin menembus ilalang Yang datang dari arah belakang Entah kapan lagi terbentang   Aku

Read More

Tamu itu pergi, Puisi A.R. Loebis

Sebentar lagi tamu itu akan pergi entah apa yang sudah kusuguhkan kepadanya tapi sebaliknya, begitu banyak makanan yang diantarkannya kepadaku di atas meja santap di dalam relung hati di kolam rindu jiwa entahlah sajadah itu apakah memberi kabar entah kenapa aku begitu cemas jangan-jangan aku hanya lapar dan dahaga karena tak mampu tak kuasa tak menyiapkan waktu hanya menyisakan masa sehingga sukma terasa

Read More

SAJAK RAMADHAN: Oleh Ahmad Istiqom

PUISI ni tidak lagi terasa bergizi Dimaki ayat makiyah dipadani surat madaniyah Satu juta dua puluh tuju abjadnya seperti peluru penuh mesiu Setiap kubaca ia memantul seperti kaca Meletupkan satu kebajikan berbanding sepuluh balasan Ramadhan begini Alquran-ku semakin lusuh Puisiku menjadi pepesan kosong Gurindammu.... bohong Bermain kata bak anjing menggonggong Seratus empat belas surat, bukan syair bukan sajak Berawal dari iqra

Read More

Malam 1000 Bulan, Puisi A.R. Loebis

Malam 1000 bulan Tak terbayangkan begitu banyak menghias angkasa aku termangu hanya termangu tak kuasa membayangkan penciptanya tak terhingga ku membacamu dibawah sinar dian 1000 bulan dada bergetar air mata menetes hingga tertatih-tatih dari Ramadan ke Ramadan menahan rindu dendam   Ya Allah yang maha Kuasa Satu bulan pun membuat semua orang bahagia Apalagi 1000 bulan Bulan di angkasa dan dalam dada Bulan dalam ruang dan waktu Dalam janji dan

Read More

Ramadan dan Doa, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Ramadan dan Doa Puisi Djunaedi Tjunti Agus   jangan pernah berhenti berdoa doa adalah segala-galanya tanpa doa hidup akan hampa jalan kehidupan jadi gelap gulita tanpa doa tujuan hidup kacau   takdir memang telah ditentukan Allah namun doa dapat mengubahnya hanya dengan doa dapat dilakukan begitulah sabda Rasulullah jangan remehkan arti doa Tuhan akan sangat memperhatikannya   barang siapa yang tak minta pada Allah niscaya Allah akan

Read More

Pesona Korona, Puisi A.R. Loebis

Pesona Korona  Puisi: A.R. Loebis   Korona memesona Walau masalah dunia Karena ia memporakporandakan sekaligus meluruskan kembali tatanan peradaban manusia Ia merajalela tak terlihat, entah kapan berakhirnya   Korona memesona Masalah dunia Seperti neraka dan surga Seandai Tuhan menunjukkan bentuk dan isi neraka Tak akan ada manusia berbuat nista karena takutnya Seandai Tuhah menunjukkan bentuk dan isi surga Tak akan ada orang berbuat cela karena

Read More

SAJAK PAGEBLUG Oleh: Ahmad Istiqom

Bulan kalangan lapis tiga Dilingkari warna darah Semburat lembayung diujung ufuknya Kata kyai Semar itu pertanda pagebluk segera tiba Bunyi jangkrik malam pun terdengar sembilu Suara bonang bertalu talu dari Wuhan membawa kidung corona Blug..... Blug.... Blug Blug..... Blug... Blug Tajamkan daun telingamu,asah mata hatimu Pageblug bukan bencana, meski makan korban dimana mana Ia adalah teraju alam,dacin digital dengan presisi tinggi Menyeimbangkan

Read More

Semoga Ancaman Segera Berlalu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Semoga Ancaman Segera Berlalu Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   berawal di Kota Wuhan China menyebar ke penjuru dunia sejak muncul Desember 2019 tak terbendung, belum ada penangkal inikah cobaan bagi yang beriman atau azab dan ganjaran bagi lainnya Allah lah yang tahu   virus corona terus menyebar tanpa kenal batas, hambatan negara kecil, besar, diterabas tak kenal si miskin dan si kaya tak peduli orang

Read More

SAJAK ABABIL Oleh: Ahmad Istiqom

TAK ada lagi salib bersilang di gereja Tak ada lagi tangan bersedekap di mushola, tak juga tangkup telapak dada di vihara Azanpun kini tinggal hanya penanda waktu bukan hayya 'alasshola Ritual luruh bersama virus yang menggerus Dunia guncang bersama kejumawaan adidaya yang tumbang Xi Jinping terkencing kencing Trump melolong lolong bagai donatnya digondol kalong Syech Salman ngumpetin

Read More

Menunggu Dalam Doa

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   menunggu antrian sambil ngantuk kadang terasa nikmat juga apalagi tak ada yang ngajak bicara dan tak ingin ngobrol dengan siapa hanya hati yang terus bicara pikiran pun terus bekerja   kapankah waktu itu datang panggilan dari petugas jaga hati pun terus berkata-kata pikiran melalang buana juga teringat panggilanNya kapankah waktu itu datang   sudah siapkah anda hati pun berkata, bertanya sudah cukupkah bekal

Read More

Sajak Padang, Oleh A.R. Loebis

Padang... adalah  tanah datar luas , tidak ditumbuhi pohon berkayu besar padang  gembala kambing, sapi dan binatang lainnya padang golf hamparan rumput tempat bermain golf padang belantara padang mahsyar,  kelak menjadi tempat orang mati dibangkitkan pada hari kiamat padang minyak tanah luas mengandung minyak bumi padang pasir padang perburuan banyak dihuni binatang padang tekukur belantara padang tempat latihan menembak Padang.. Dalam bahasa Jawa berarti terang..bersinar Tapi Padang ini adalah Kota

Read More

SAJAK GUA HIRA (2) Oleh: Ahmad Istiqom

TAPAK pertama dari seribu tangga telah kujejak Undakan pertama dari ketinggian Jabal Nur telah kuinjak Menapak tilas awal iqra' dikedinginan angin malam Ayat pertama dari qolam suci itu adalah jawaban tahanud berkepanjangan Ketika rintih doanya tidak tahu harus kemana dipanjatkan Ketika titik air matanya menggedor baitul makmur mengguncang arsy Membuat Jibril tergopoh gopoh Mengemas iqra dalam balutan

Read More

Banjir (1) Puisi A.R. Loebis

Perjalanan hidup sesuap nasi dan seteguk air Tapi perjalanan hidup  bersuap-suap nasi Berteguk-teguk air Kualirkan sungai, ingin Kulihat apakah dahagamu cukup dengan seteguk air Tapi kau kuras isi sungai itu Kuberi sungai sampai ke rumah-rumah Teguklah bila kau mampu   Rumah tenggelam Kota terendam Gelap Redup nyali Gerak menjadi diam tapi bergerak pasrah kau pada sungaiKu tapi belum padaKu Kau coba kuasai dan lawan sungaiKu Tapi tak mampu,

Read More

Aku Tak Bisa Berpuisi

Oleh: Djunaedi Tjunti Agus   maafkan, aku tak bisa tak biasa merangkai kata membuat bait-bait puisi tapi aku tetap ingin bersajak jika tak bunyi maklumi maklumi pula jika terganggu aku ingin sampaikan isi hati demi bangsa anak negeri   keren, membawa-bawa bangsa jangan tertawakan aku abaikan jika tak berarti tapi aku ingin menagih janji pada paduka sang presiden jangan lupakan janji saat bapak giat berkampanye   kami para rakyat

Read More

I am a buzzer Oleh A.R. Loebis

Aku harus berpihak Aku harus menelikung Semua orang memihak Semua orang berpihak Berpihak pada kebenaran Adakah kebenaran? Ada tapi mutlak Karena tidak dapat dilihat Abstrak Aplikasinya kelihatan Berpihak pada benar, kata sifat Kebenaran adalah zat, kata benda Kok ada yang menyalahkan aku?   Aku seorang buzzer, kata orang Aku berat sebelah, kata orang Bahkan ada yang menyebutku buzzer istana Tak jelas ketika ada yang bilang ada buzzer

Read More
Bulan. (Foto: Repro Bernama)

Puisi: Ibu, Ini Aku

Puisi Djunaedi Tjunti Agus   wajah itu melintas wajah yang sangatku kenal senyum, lenggang, semua Ibu ini aku, anakmu ucapan itu beegitu saja terlontar tanpa terduga, otomatis tapi ibu terus berlalu   ini aku bu, anakmu tetap bergeming, menjauh tersadar, bangun ada apa dengan ibu aku tercenung, berpikir Astaghfirullah, aku tercekat mungkin ibu membutuhkan doa doa dari anak-anaknya termasuk doa dariku maafkan aku ibu   aku langsung berwudhu lalu sholat sunah di setiap

Read More

Jokowi Vs Prabowo, Oleh Djunaedi Tjunti Agus

perseteruan telah berakhir Jokowi dinyatakan menang Prabowo pun menerima legowo nyatanya Prabowo masuk kabinet kabinet bentukan Joko Widodo lalu kenapa kita masih bermusuhan seolah menghadapi lawan abadi tanpa mengenal kata maaf   siapa kita, apa urusan kita siapapun yang menang silakan yang penting dia memikirkan kita mengutamakan kepentingan rakyat menuntaskan kemiskinan menghukum para koruptor tikus got pencoleng uang rakyat tidak mengacak-acak agama kita tidak melakukan adu domba   siapa

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru