Saturday, October 16, 2021
Home > Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Perginya Sang Pengelana, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Perginya Sang Pengelana Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Lima tahun lalu aku mengira air mataku sudah habis. Gempa dan tsunami Aceh memporak porandakan semuanya. Tidak hanya rumah, harta benda, keluarga dan semua milik lenyap seketika. Aku sebatang kara. Ibu, bapak, kakak, adik, dan seluruh famili dekat telah dipanggil menghadap Ilahi. Tapi, penderitaan ternyata belum

Read More

Tunjukkan aku jalan ke Surga, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Tunjukkan aku jalan ke Surga Cerpen Djunaedi Tjunti Agus “Susah bisa khusyu. Baru takbiratul ihram mengikuti imam, terdengar teriakan anak-anak di luar. Dengan suara kencang mereka silih beganti memanggil-manggil temannya, di depan rumah tak jauh dari masjid. Nah, baru satu rakaat, tiba-tiba seseorang yang masbuk melempar segepok kunci di latai tanpa karpet

Read More

Menelusuri Terowongan, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Menelusuri Terowongan Cerpen Djunaedi Tjunti Agus   Entah mengapa wajah-wajah orang yang pernah saya kenal hari-hari terakhir satu demi satu melintas dalam pikiran. Sederetan wajah -- teman, senior, guru, dosen -- muncul silih berganti. Wajah orang-orang yang pernah jadi tetangga di rumah kontrakan yang pernah kami tempati dan anak-anak mereka pun kerap mengisi pikiran.

Read More

Laki-laki Tua, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Dia memang tidak sesegar dulu lagi. Telah sulit berjalan terlalu jauh, meski berjalan santai, karena lutut dan betisnya kerap terasa nyeri, kram. Namun agar otot-ototnya tidak terasa kaku dia terus berusaha membiasakan diri berjalan di pagi hari. Kadang sore pun dia jalan keliling komplek perumahan, sekadar mencari keringat. Seusia dia,

Read More

Liar dan Tak Ada Yang Peduli, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Liar dan Tak Ada Yang Peduli Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus   “Goblok. Jangan begitu!” “Terus gimana Njing? “Bodoh! Itu aja lu nggak bisa,…..” Penggalan percakapan antara anak-anak berusia belasan tahun itu bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa. Tapi bagi Pak Rachmat sesutu yang membuat dia galau, risau. Bagaimana tidak,  anak-anak yang usia SD dan SLTP, juga

Read More
Ilustrasi lebah dan sarang. (Foto: Skalanews)

Katakan Tidak, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Katakan Tidak Oleh: Djunaedi Tjunti Agus Lebaran sudah akan datang lagi, tapi entah kenapa wajah teman-teman lama yang sempat melintas dalam pikiran sejak Ramadhan tahun lalu masih terus bertahan. Beberapa hari terakhir ini saya justru bagai dipaksa mengingat-ingat siapa saja teman, senior, guru, dosen, yang pernah saya kenal. Saya juga mengingat teman,

Read More

M u a l a f , Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

"Pa, sini deh. Mana tangannya. Taruh sini. Terasakan gerakannya?" "Ya.., ya.," kata saya. Aku mengelus-eluskan telapak tangan ke perut istriku yang buncit. Narti, istriku, terlihat senang. Senyumnya mengambang. "Laki-laki atau perempuan sama saja kan? Kita harus siapkan dua nama ya, Pa?" "Tapi dokter kan bilang kemungkinan anak kita laki-laki," jawab saya. "Ah, bisa saja meleset.

Read More

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Cincin kawin masih melingkar di jari manis tangan kananku. Hanya itu sisa-sisa pertanda aku pernah menikah. Suamiku telah pergi, raib tidak tahu kemana dia mengelana. Apakah masih hidup, atau telah mati, aku juga tak pasti. Yang jelas tidak ada lagi kabar, telah hampir

Read More
Ilustrasi Jembatan Ampera Palembang. (Foto Wikipedia)

Kembali Bersemi di Charitas, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus "Anda ini siapa? Seenaknya melamar anak orang? Saya tidak tahu asal usul Anda, pekerjaan Anda. Lagi pula Anda baru kenal anak saya empat, lima bulan ini." Saya tak menyangka Bu Nia bakal marah, karena pada dua kali kedatangan saya sebelumnya, dia dan suaminya begitu ramah. "Mama sakit keras. Tolong

Read More
ilustrasi (repro khazanah Republika)

Pesan Singkat, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Pesan Singkat Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus   SEBULAN lebih saya tak lagi menerima  pesan singkat atau  short message service (SMS) dari nomor  telepon genggam tersebut.  Siapa sebenarnya pemiliknya? Rasa penasaran tak kunjung hilang. Padahal biasanya saya tak peduli dan beranggapan itu hanya pekerjaan orang  iseng. Diisengi, bahkan diancam melalui SMS bukan hal baru. Bahkan

Read More
Ilustrasi pohon besar. (foto: WordPress.com)

Si Bunian, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Oleh: Djunaedi Tjunti Agus Piliang GEMURUH suara tambur diselingi suara genderang kecil atau kami sebut tasa yang bersuara menusuk telinga, menggambarkan bagaimana meriahnya pesta. Suara itu kadang seperti berasal dari arah utara, dari kaki Gunung Gadang, selanjutnya seperti berasal dari arah barat laut, dari Gunung Tigo. Kemudian suara tambur dan tasa

Read More

Kekasih yang Hilang, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Kekasih Yang Hilang Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus HARI ini entah sudah hari keberapa, Murni tak lagi mengingatnya. Akhir-akhir ini dia bekerja layaknya robot, pagi pergi ke hypermarket tempat di bekerja, sore kembali ke tempat kos. “Lebih baik saya mati saja. Kenapa penderitaan ini tak pernah berakhir,” tutur Murni. Sriatun rekan kerjanya, yang juga teman

Read More
Ilustrasi bola (Foto: Prediksibolaprofesional.blogspot.com)

Sang Pahlawan, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Sang Pahlawan Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Telah lebih satu bulan Indonesia menyandang gelar juara Piala Dunia 2038, belum ada tanda-tanda puja dan puji terhadap tim nasional bakal surut. Kancang Piliang, salah seorang pemain depan, menjadi bintang utama. Setiap tim nasional diarak di berbagai kota, dia paling banyak mendapat perhatian. Padahal empat tahun

Read More

I b u, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Ibu Oleh: Djunaedi Tjunti Agus Rasanya baru terjadi kemarin. Kadang tangan masih kerap reflek mengusap pipi, menghapus air mata yang sudah tidak ada. Lebaran Idul Adha lalu entah kenapa terasa lain, begitu takbir berkumandang bagda maghrib, usai berbuka puasa sunnah Arafah, serasa ada yang hilang. Esok paginya ketika siap-siap shalat di lapangan serba

Read More

Jangan Panggil Aku Haji, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Jangan Panggil Aku Haji Cerpen Djunaedi Tjunti Agus   Keinginan melengkapi diri dengan gelar bergengsi segera terwujud. Saya termasuk diantara 200 ribu lebih orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji. Beberapa bulan lagi menyandang gelar haji, melengkapi gelar kesarjanaan. "Inilah saya. Apa sih yang tak dapat diraih. Apa yang tak dapat dilakukan?," saya berguman,

Read More

Bermuka Dua, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Bermuka Dua Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus   Munaf tiba-tiba saja merasa ada yang aneh. Kepalanya, di bagian belakang, bergerak-gerak. Kemudian seperti ada yang tumbuh. Untuk memastikan apa yang terjadi dia mengangkat tangan dan merabakan telapak tangannya ke kepala bagian belakangnya. Dia kaget bukan kepalang. Munaf merasakan di kepala bagian belakangnya tak ada lagi

Read More

Layang-layang Putus, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Layang-layang Putus, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus Pada wajahnya sama sekali tidak terlihat perubahan. Pembawaannya yang tenang membuat lelaki ini di mata banyak orang masih seperti dulu. Bahkan keluarganya sendiri-istri dan anak-anaknya-tidak melihat ada tanda-tanda kerisauan di dalam diri lelaki itu, meski dia baru saja memasuki masa pensiun di perusahaan tempatnya bekerja. Sebenarnya

Read More

Baju Kurung, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Baju Kurung Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Sudah dua hari ini saya mondar mandir di Stasiun Pudu, stasiun kereta monorail Kuala Lumpur, Malaysia. Rasanya otak ini tak bisa berpikir, apa yang harus dilakukan selain mondar-mandir dari Hotel Puduraya ke Stasiun Monorail Pudu, meski hari ini sudah yang keempat kalinya bolak balik antara dua tempat itu. Berdiri

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru