Thursday, November 26, 2020
Home > Cerita > Laki-laki Tua, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Laki-laki Tua, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Dia memang tidak sesegar dulu lagi. Telah sulit berjalan terlalu jauh, meski berjalan santai, karena lutut dan betisnya kerap terasa nyeri, kram. Namun agar otot-ototnya tidak terasa kaku dia terus berusaha membiasakan diri berjalan di pagi hari. Kadang sore pun dia jalan keliling komplek perumahan, sekadar mencari keringat. Seusia dia, laki-laki itu termasuk gigih berolahraga, meski hanya berjalan kaki dan sekali-sekali bersepeda.

Sejak memasuki usia 60 tahun dia akrab mendengar ucapan orang yang berkata; “orang tua itu”, “laki-laki tua”, atau “bapak tua”. Ya, dia memang sudah tua. Dia tak tersinggung dengan sebutan itu, meski dia punya nama. Apalagi rambut dan jenggotnya sudah memuth, penuh uban. Salah satu sebutan itu pula yang kerap dia dengar jika dia bertamu ke rumah salah seorang teman sebayanya.

“Orang tua itu datang Pa,” demikian teriak seorang perempuan kepada suaminya di dalam rumah mereka, setelah menjawab salamnya. Laki-laki itu sudah terbiasa dengan ucapan itu. Dia menunggu di luar pagar sambil berpikir; “kan suaminya itu juga sudah tua. Mungkin dia juga sering mendapat sebutan seperti saya, orang tua. Atau barangkali karena rambutnya selalu dicat, mungkin dia belum dianggap tua.”

“Ah peduli apa,” bapak itu bergumam sendiri.

Tak lama teman yang ditunggunya pun muncul. Setelah bertukar salam keduanya beranjak menuju lapangan dan di sana beberapa rekannya sudah menanti. Rombongan kecil itu pun berjalan, melakukan kegiatan rutin olahraga pagi, keliling, dari komplek perumahan mereka, masuk kampung, melalui waduk, melintas pasar, kemudian masuk lagi ke komplek mereka.

Lumayan untuk bapak-bapak yang telah berusia senja. Jarak kurang lebih 5 km mereka tempuh tiap pagi. Sepanjang perjalanan mereka berbicara apa saja, diskusi, sekali-sekali mampir sarapan di warung soto angkringan, di warung ketupat sayur, atau toko kue, dan tak jarang singgah di pasar membeli sesuatu atau mencari pesanan sang istri.

Yang sering menjadi perbincangan adalah menyangkut soal agama. Soal shalat, puasa, zakat, haji, sampai pada tentang istri-istri dan sahabat-sahabat Rasul, serta para tokoh agama. Ada yang merasa terlambat mengenal masjid, ada yang baru bisa mengaji, dan umumnya merasa bersyukur karena kini sudah bisa rutin melakukan shalat berjamaah setiap waktu.

***

Pria yang sering disebut sebagai laki-laki tua itu merasa beruntung di masa tua saat ini. Meski di rumah dia hanya berdua dengan istri, karena anak-anaknya telah pindah ke rumah masing-masing, dia tidak merasa kesepian. Selain berolahraga, dia mengisi waktu hari-harinya dengan membaca buku-buku tentang agama, buku sejarah tentang istri-istri Rasulullah, tentang sahabat-sahabat Nabi, atau menonton televisi tentang kajian.

Dia merasa beruntung karena sekarang banyak saluran televisi khusus agama Islam, sunnah. Menuntun dia menjalankan agama sesuai perintah Allah (Al-Qur’an) dan apa yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Di telinganya terngiang sejumlah ucapan ustadz, antara lain; “Beragama sesuai sunnah itu itu tidak sulit dan tidak macam-macam. Ikuti saja perintah Allah, Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah, hadits.”

Banyak hal-hal baru yang tidak diketauhinya selama ini. Tidak hanya seputar shalat, tetapi juga seputar hidup bermasyarakat sesuai agama, bertetangga, berkeluarga. Apa yang harus dilakukan dan apa saja yang dilarang dalam menjalani kehidupan. Apa saja yang ada di surga dan apa yang ada di neraka selain manusia berdosa. Dia mulai mengerti dengan makna takdir, berangsur paham bahwa manusia tidak boleh pasrah terhadap takdirnya. Doa dan upaya bisa mengubah semuanya.

***

Selain berolahraga pagi atau sore, membaca, menonton atau mendengarkan ceramah lewat televisi/radio, sekali-sekali dia juga mengisi waktunya bersosialisasi lewat media sosial–WhatsApp, facebook, dan lainnya. Namun alangkah kagetnya, pertemanan di media sosial akhir-akhir ini tak lagi sekadar memperbanyak teman untuk menambah wawasan, tetapi tak sedidikit memanfaatkan untuk usaha, mencari jodoh. Tak jarang usaha-usaha tersebut dilakukan secara vulgar.

Di Facebook misalnya, sejumlah orang minta berteman, setelah diterima eh muncul berbagi tawaran. Wanita dengan foto menggiurkan misalnya, mengirim pesan; “bisa berkali-kali sampai pagi. Anda tertarik?”. Janda mengajak menikah, setelah mengirim data dirinya yang lengkap, dan banyak tawaran lainnya dari emas hingga jual beli mobil bekas. Bapak tua tak henti-hentinya geleng-geleng kepala. Namun semua tawaran yang ditujukan langsung kepadanya di jawab dengan sopan, tanpa ingin menyakiti hati pengirimnya.

Kepada yang menawarkan obat kuat dia jawab, dia tak butuh lagi. Kepada janda pencari jodoh dia katakan tak ingin mecari istri. Namun bila ada yang ngeyel, mengajak ketemuan, janji akan memberikan layanan memuaskan dia langsung memblokir atau mendelete teman baru tersebut.

Dia tau, meski tidak semua, sebagian dari wanita penjaja obat kuat yang memasang foto cewek dengan wajah menarik dan tak segan-segan mengirim pesan vulgar adalah laki-laki. Dia tahu persis, karena pernah salah seorang temannya memakai trik tersebut. Dengan memasang foto perempuan dengan pakaian merangsang, dia menggoda laki-laki lewat media sosial. Mengaku dokter dan menawarkan obat (herbal) untuk memacu birahi, bahan mengajak ketemu langsung.

***

Sejumlah pengalamannya di cerikan kepada sahabatnya. Dia berharap teman-temannya tak terjebak oleh berbagai rayuan, tipuan lewat media sosial yang semakin canggih.

“Jangan tergoda jika ada tawaran dari luar negeri yang ingin memodali anda usaha, dengan janji akan memberi modal besar hasil peninggal keluarga. Mengaku bingung mencari orang jujur, lalu dia mempercayai anda memanfaatkan uangnya. Itu kan aneh,” kata laki-laki itu pada temannya.

“Jangan pernah mau menerima panggilan telepon tidak dikenal yang masuk ke hp anda. Bisa jadi itu penipu yang akan menyadap semua rahasia, nomor rekening, dan lainnya, yang tersimpan di hp anda,” ujarnya,

Laki-laki tua memang suka berbagi pengalaman kepada teman-temannya. Bapak bernama Bapak Basyar itu disenangi teman-temannya. Dia dikenal sebagai sosok pembawa berita baik oleh teman-teman, juga di kantor ketika masih aktif dan di lingkungan setelah beberapa tahun menjalani pensiun.

Hanya satu yang sangat dia pegang teguh, diantara pengalaman hidupnya, yang tak ingin dia ceritakan kepada siapapun. Yakni, dia pernah menikah lagi, dengan seorang janda, tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Dia gagal dalam pernikahan kedua itu karena tak mampu dalam hal ekonomi, tak bisa adil. Dia akhirnya menceraikan istri kedua tersebut karena kasihan, menderita.

Dia memutuskan menikah lagi karena pernah mendengar bahwa Rasulullah memiliki 9 istri, umat Islam boleh beristri 4. Dari pada berzina lebih baik menikah resmi. Begitu pemikirannya kala itu. Namun nyatanya apa yang dia pikiran tak semudah kenyataan. Semua jadi buyar. Dia gagal total dalam berbagai cinta.

“Eh, apa yang anda pikirkan,” kata seorang temannya yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya.

“He eh,” balasnya sekenanya.

Dia sempat kaget dan lamunannya pun buyar.

Masih sempat terpikir; Rasulullah mampu berbuat adil, perkawinan Rasul juga mengandung makna, pesan bagi umatnya. Sementera laki-laki Muslim diperkenankkan beristri empat, juga tak sembarangan. Harus mampu berbuat adil terhadap kedua atau keempat istrinya dalam segala hal. Jika tidak di Padang Mahsyar nanti maka dalam berjalan laki-laki itu bergerak miring. Jarang ada lagi-laki yang mampu adil dalam berpoligami.

***

Apa yang kamu pikiran kawan? Temannya kembali bertanya.

“Hanya satu. Kapan hari itu datang dan apakah bekal saya sudah cukup,” balasnya.

“Ah, kau selalu bicara itu dan itu lagi. Jalani saja. Kita serahkan semuanya pada Allah azza wa jalla.”

Seperti biasa, keduanya tenggelam dalam pembicaraan terkait agama. Keduanya berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman. Membahas soal masjid, pengajian, dan soal harus menjaga jarak dalam shalat berjamaah karena protokol kesehatan Covid-19.

Meski begitu, Pak Basyar mengaku menimati hidup di hari tuanya. Dia senang kerap diminta melakukan iqomah, sekali-sekali azan jika dia cepat datang ke masjid. Dia bahagia bisa rutin shalat berjamaah.

“Saya tinggal menunggu waktu,” katanya.

Ya, dia bahagia. Semua anak-anaknya telah berkeluarga. Biaya hidup bersama istri satu-satunya terpenuhi.

“Terimakasih ya Allah. Ampuni hamba, tunjukkan kami selalu ke jalan yang benar.” ***

November 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru