Thursday, January 27, 2022
Home > Cerita > Surat yang Tertunda, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Surat yang Tertunda, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Foto Ilustrasi mimbar-rakyat.com

Surat yang Tertunda

Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Di antara tumpukan surat, sebuah amplop dengan warna mencolok ditujukan kepadaku. Tak ada nama dan alamat pengirim. Surat-surat lainnya, baik yang dalam amplop, atau lembara-lembaran kertas ditujukkan pada perusahaan tempat kami bekerja. Semuanya terkait urusan perusahaan dengan relasi. Namun yang satu itu menarik perhatianku. Dari siapakah? Urusan apa?

Ku robek salah satu pinggir amplop surat, hati-hati khawatir suratnya ikut terobek. Surat terlipat rapi, lipatanya begitu rapi. Aku tak mengerti apakah ada makna dari lipatan-lipatan itu. Ku bentangkan surat tersebut, ku telusuri dari atas ke bawah. Tak ada nama jelas pengirimnya, kecuali inisial SN.

Siapa SN?

Ya, kalo urusan pribadi kenapa harus pakai surat? Kaya zaman 80 atau 90an saja. Sekarang kan sudah banyak alat komuniasi canggih, cepat, murah, dan hampir tak ada lagi rintangan. Kenapa?

Ku taruh surat itu di meja. Tapi hati penasaran, surat dari siapa? Ku raih kembali.

“Kak Yazdan. Saya sangat yakin kakak tidak lansung mengenal saya yang mengirim surat ini. Namun percayalah, setelah selesai membacanya, lalu merenung sesaat, kakak akan tersenyum karena akhirya mengetahui siapa saya.

Mungkin warna surat ini sudah berubah, karena memang ditulis sudah cukup lama tahun 1990, namun tak langsung dikirim. Saya titipkan pada adik dengan pesan baru diposkan 5 tahun setelah saya tiada.”

Saya belum juga bisa menebak, siapa pengirim surat ini. Coba mengingat-ingat masa lalu, tapi tak kunjung terbayang sedikitpun siapa pegirim surat ini.

Siapa yang suka memangil saya kak? Banyak, tapi tidak ada yang cocok dengan inisial SN.

Ah, pagi-pagi begini awal kerja ku jalani dengan teka-teki soal pengirim surat. Siapa dia, apa urusannya. Ku putuskan terus membaca…

“Surat ini saya tulis saat saya dirawat di sebuah rumah sakit. Kata dokter ada kelainan pada jantung, dan ada isyarat dari tim dokter yang merawat bahwa kemungkinan operasi yang akan saya jalani tidak berhasil.

Memang pastinya hanya Allah lah yang tahu. Tapi dari lubuk hati saya ada dorongan utuk mengirim surat kepada kakak, hanya utuk menyatakan bahwa hingga surat ini ditulis saya tidak pernah bisa melupakan kakak. Saya selalu mecintaimu Kak Yazdan. Sesuai dengan nama kakak yang dalam Islam berarti orang yang penuh belas kasih, saya selalu meridukan kasih sayang kakak.”

Saya makin penasaran. Siapa SN?

Sarah, Septi, atau Shanty? Gak ada yang cocok. Lalu N-nya apa?

Ah, saya mengangkat kedua lengan di atas kepala sambil meregang otot bahu dan dada. Siapa SN yang pernah mencintaiku.

Ku tarik laci meja, memasukkan surat itu sambil terus bertanya-tanya, siapa pengirim surat ini. Mungki nanti ku baca lagi.

***

Selly Nurjenna.

Aku langsung tersontak,  memang pernah berkenalan dengan gadis ini ketika kami sama-sama berangkat umroh. Yang paling cocok dengan inisial SN adalah dia. Dia adalah anak salah seorang jamaah asal Jakarta. Putri Pak Baizhan Gafur.

Suatu ketika di Madinah, ustadz yang jadi pembimbing kami di rombongan umroh kala itu, Ustadz  Abizar, memberikan tausiyah tentang keputusan Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam untuk menghancurkan Masjid ad-Dhirar yang dibangun sekelompok penduduk Madinah, tidak jauh dari Masjid Quba.

Disebutkan, Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam membangun masjid pertama saat dirinya melakukan perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah, yakni di Quba, dan masjid itu diberi nama Masjid Quba. Kemudian, tak jauh dari situ dibangun Masjid Dhirar.

Saat sedang dalam perjalanan menuju Pertempuran Tabuk, sekelompok pria datang kepada Nabi dan memintanya untuk berdoa di Masjid Dhirar. Kelompok itu mengklaim bahwa mereka membangun masjid itu untuk membantu orang sakit dan membutuhkan di malam yang dingin dan hujan. Nabi menerima undangan mereka dan berjanji  akan shalat di situ begitu ia kembali dari Pertempuran Tabuk.

Saat Nabi Muhammad  Shalallaahu Alaihi Wassalaam kembali dari Perang Tabuk, turun ayat Al-Quran 9:107. Allah mengungkap soal masjid itu, yang dibangun oleh orang-orang munafik . Dalam Quran 9: 108, Allah  melarang Nabi  shalat di masjid itu, karena masjid itu bertujuan memecah belah orang mukmin. Mereka, pendiri masjid itu adalah pedusta, dan menunggu orang-orang yang memerangi Allah dan Rasulnya.

Setelah ayat-ayat itu diturunkan kepadanya, Nabi memerintahkan pengikutnya menghancurkan masjid tersebut.

Masjid Dhirar  dibangun  oleh Abu Amir,  seorang biarawan dan munafik. Abu Amir dan orang-orangnya adalah musuh Islam dan umatnya.  Tujuan mereka membangun masjid bukan untuk tempat ibadah, tetapi menggunakannya untuk melawan kaum Muslim, dengan jalan menarik simpati umat Islam agar dengan bebas merencanakan perangkap baru bagi umat Islam.

Ustadz Abizar, kala itu megingatkan kami semua anggota rombongan umroh yang dipimpinnya, bahwa orang-orang seperti pendiri Masjid Dhirar bisa berada di mana-mana, termasuk di Indonesia. Mereka menyatakan sebagai umat Islam, umat Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam, tetaapi sesungguhnya mereka adalah musuh Islam, munafik, dan bertekad menghancurkan Islam dari dalam.

Ustadz mengutip Alquran (QS At Taubah ayat 107), yang berbunyi: “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan  (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).”

Orang-orang munafik itu membangun masjid untuk menjebak umat Islam. Menggunakan masjid  untuk fitnah antara umat Islam dan rumah perlindungan bagi orang-orang yang berperang melawan Allah dan Nabi Muhammad.

“Hati-hati lah, orang-orang munafik seperti kelompok pendiri Masjid Dhirar  itu ada di mana-mana, juga di Jakarta, Surabaya, Semarang, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan kota-kota lainya. Dengann mengatasnamakan Islam, mereka mendirikan masjid, mengadakan berbagai kegiatan sosial, dan lainnya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang munafik yang bertekad menghancurkan Islam,” kata Ustadz.

Selajutnya dikatakan, banyak contoh, banyak nama kelompok Islam muncul di Indonesia. Ada Islam yang dikatakan versi Indonesia, Islam dari India, Islam yang “berkiblat” ke berbagai negara, dan lainnya. Semua merasa merekalah yang benar. Sedangkan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist dituding sebagai Wahabi. Padahal sejatinya mereka tak paham apa itu paham atau aliran Wahabi. Banyak yang menyatakan kelompok merekalah yang paling benar, bahkan menganggap umat Islam lainnya haram, tidak boleh sholat di masjid yang mereka bangun.

Nah usai tausiyah itu aku berkenalan dengan Selly Nurjenna. Dia dipangil ayahnya, Pak Baizhan Gafur. Nama Selly menurut ayahnya, berarti cahaya terang dari surga. Ayahnya pun bercerita, Selly merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, yang baru saja beberapa bulan ditinggal ibunya akibat penyakit jantung. Saat diperkenalkan, ayahnya meminta Selly membuka cadarnya untuk sesaat. Dadaku berdesir, ternyata Selly cantik luar bias.

Selama 9 hari di Tanah Suci, aku dan Selly berkomunikasi, entah di tempat makan di hotel, saat dalam bus, juga pada kesempatan-kesempatan lain di dua masjid suci di Tanah Arab itu. Gadis itu menarik, ramping, berlesung pipi, tigginya sebanding dengan ku. Tubuhnya yang dibalut pakaian muslim, rok dalam menyentuh tanah, jilbab sunnah, dan bercadar, membuat dia tampil menarik.

“Nanti saya boleh menghubungi Selly, saat kita sudah kembali ke Tanah Air,” kataku memberanikan diri.

Dia mengangguk tanda setuju. Beberapa kali aku menghubunginya. Namun memasuki bulan ketiga, setelah aku menyatakan tertarik padanya, dan berencana melamarnya, secara tidak langsung dia bersedia.

“Sampaikan pada Papa. Saya akan mengikuti keputusannya,” kata Selly di ujung telepon sana. Beberapa hari kemudian saya menghubungi Pak Baizhan, dia pun bersedia menerima sayang di rumahnya. Saya degan dua saudara datang ke rumah Selly. Keputusannya, keluarga itu menyatakan bersedia menerima rencana saya. Kami pun sepakat lamaran resmi akan dilakukan tiga bulan berikutnya.

***

Telah lima tahun lebih berlalu. Keinginan memperistri Selly tak kunjung kesampaian. Aku coba mengubunginya, juga ayahnya, namun tidak pernah terhubung. Suatu ketika ketika bertugas ke Jakarta, aku mendatangi rumah kediaman mereka, namun penghuninya sudah berbeda. Mereka tidak tahu kemana keluarga itu pindah.

Aku kembali membuka surat yang dikirim wanita berinisial SN. Lansung mebacanya mulai dari alinea tengah: Memang pastinya hanya Allah lah yang tahu. Tapi dari lubuk hati saya ada dorongan utuk mengirim surat kepada kakak, hanya utuk menyatakan bahwa hingga surat ini ditulis saya tidak pernah bisa melupakan kakak. Saya selalu mecintaimu Kak Yazdan. Sesuai dengan nama kakak yang dalam Islam berarti orang yang penuh belas kasih, saya selalu meridukan kasih sayang kakak.”

Lalu aku melihat ke alinia di atasnya; Mungkin warna surat ini sudah berubah, karena memang ditulis sudah cukup lama tahun 1990, namun tak langsung dikirim. Saya titipkan pada adik dengan pesan baru diposkan 5 tahun setelah saya tiada.”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya, ini adalah surat dari Selly Nurjenna. Kenapa aku begitu lama baru menyadarinya?

Aku menyesali diri. Kenapa tidak ada yang mengabari, kenapa tak ada yang memberitahu. Aku sangat mencintainya, meski baru kenal hitung hari. Sudah lima tahun lebih menanti, terus membujang. Namun yang datang adalah kabar kematian orang yang dicintai.

“Selamat jalan kekasihku Selly Nurjenna. Semoga dilapangkan kuburanmu, dibukakan pintu surga. Semoga Allah mempertemukan kita di alam sana. Di surga,” bisikku.***

*2 Desember 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru