Tuesday, September 29, 2020
Home > Cerita > Jangan Panggil Aku Haji

Jangan Panggil Aku Haji

Keinginan melengkapi diri dengan gelar bergengsi segera terwujud. Saya termasuk diantara 200 ribu lebih orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji. Beberapa bulan lagi menyandang gelar haji, melengkapi gelar kesarjanaan.

“Inilah saya. Apa sih yang tak dapat diraih. Apa ang tak dapat dilakukan?,” saya berguman, puas.

Tetangga, teman, kerabat, akan menyapa saya Pak Haji, Bang Haji, Mas Haji, Dek Haji, atau Nak Haji. Ibu-ibu makin penasaran, berebut mengambil hati, agar bersedia menjadi menantu mereka. Begitu pula beberapa janda.

“Uh..,” saya kembali bergumam.

Pak Haji Syafii, Haji Wagiman, Haji Wahidudin, dan Haji Abidin yang ada di lingkungan RT kami, para haji di lingkungan RW, pasti makin hormat. Semua lewat, karena dalam hal ekonomi, meski masih bujangan, saya di atas mereka.

Di kantor, teman-teman akan makin salut, karena tak semua kepala bagian mampu berangkat haji. Mereka tak boleh iri, karena pemasukan saya tak hanya dari gaji, masih ada usaha batu alam dan simpan pinjam. Memang ada yang kurang, belum punya istri diusia mendekati 40 tahun. Tapi tak masalah, bisa menyusul, karena rumah sudah punya, kendaraan dinas dan pribadi tersedia, lengkap dengan sopir.

                                                       * * *

Ratiban, syukuran ibadah haji, yang dilaksanakan di rumah beberapa hari menjelang keberangkatan masih terbayang. Tetangga, teman-teman, saudara, sanak saudara, semua menyampaikan ucapan senada, semoga jadi haji mabrur.

“Apa saya bisa memenuhi harapan mereka?

Perjalanan panjang menuju Jeddah ternyata melelahkan. Telah beberapa kali tidur, bangun, dan tidur lagi. Terasa lama sekali. Ketika melirik jam tangan, ternyata kami baru terbang 3 jam. Masih 6 jam lagi.

“Apa saya mampu menjalani ibadah haji dengan sempurna?”

“Kenapa tidak? Memangnya ada masalah?”

Saya kaget. Saya ternyata tak berkata dalam hati, tapi terlontar lewat mulut, hingga dijawab jamaah seperjalanan di sebelah saya.

“Kenapa anak terlihat begitu gelisah?”

“Ndak apa-apa. Hanya tak terbiasa terbang jauh.”

“Isilah waktu dengan berzikir.”

“Zikir itu bacaannya apa Pak?”

Dia lama memandang, seperti mencari-cari sesuatu.

“Maaf. Apa ucapan saya salah, Pak?”

Dia menarik nafas dalam, mencari-cari sesuatu di tas kecil miliknya. Istrinya yang duduk di kanannya terusik, melihat ke arah suaminya, lalu melirik saya.

“Ini. Di sini lengkap, tuntunan zikir dan lafalnya. Tapi, baca ini dulu, supaya yakin,” katanya menyodorkan buku kecil.

Saya membacanya; “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. Al Ahzab: 41, 42).

“Itu firman Allah. Bapak tidak asal bicara.”

“Iya, Pak. Saya masih awam. Saya sangat berterima kasih Bapak bersedia membimbing,” saya terus terang.

“Tak masalah. Selagi anak mau, Bapak bantu. Jika tak mampu, kita tanya pada pembimbing, atau kepada yang lebih tahu.”

“Terima kasih Pak.”

“Tentang zikir, lafal yang dapat kita baca, termasuk dalam perjalanan sangat banyak. Bisa membaca tasbih Subhanallah, tahmid Alhamdulillah, dan takbir Allahu Akbar. Juga ada lafal-lafal lain sesuai sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, berdasarkan Al-Qur’an dan hadits-hadits pilihan.”

Diam sejenak, kemudian menatap saya.

“Kita harus mengikuti sunnah Rasulullah. Harus hati-hati, bisa-bisa tergelincir pada bid’ah, beribadah tanpa ada contoh sebelumnya. Bid’ah itu suatu yang dibuat-buat dalam beragama, tanpa ada dalil, tidak pernah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah.”

                                                  * * *

Saya dan rombongan tiba di Makkah beberapa hari lalu. Besok kami bertolak ke Arafah. Namun hari ini segala sesal, kesedihan, kemalangan bertumpuk. Saya mengutuk, menangis. Beberapa kali memukul dada dan kepala sendiri.

Ketika mendarat di Jeddah saya tak menemukan koper. Kemudian tadi pagi di Makkah, ketika jalan-jalan di pertokoan usai shalat subuh di Masjidil Harram, saya kehilangan tas kecil. Semua harta berharga milik saya raib. Dompet, uang kontan -dolar AS dan real-kartu kredit, paspor, lenyap.

“Ini ujian. Peringatan dan ujian dari Allah. Anak harus tabah,” kata Pak Abdul Alim.

“Yang hilang biarkan hilang. Selama berhaji tak perlu banyak uang, tak perlu jas dan gonta ganti pakaian. Soal makan tak usah khawatir.”

“Baik Pak, saya siap menghadapi apa pun ujian berikutnya, asal Bapak tetap mau membimbing saya.”

Sejak hari itu saya selalu mengekor Pak Alim dan istrinya. Saya tak sungkan mengangkat koper atau tas milik Pak dan Bu Alim. Berusaha tak mengeluh, malah terkadang malu karena Pak Alim dan istri yang berusia di atas 60 tahun ternyata lebih siap, gesit, dan kuat dalam menjalani ritual haji. Baik saat melakukan umrah, wukuf di Arafah, mabit di Musdalifah, bermalam dan melempar jumarah di Mina, kemudian kembali ke Makkah.

“Terima kasih ya Allah, dipertemukan dengan orang baik.”

Tapi siang ini, tidak seperti biasa, saya harus pergi sendiri ke Masjidil Haram, tanpa Pak Alim, istrinya, dan jemaah seperjalanan lain.

Kemarin saya dan Pak Alim memang terlambat kembali ke pondokan, karena saya ingin berlama-lama di Masjidil Haram dan sengaja minta bimbingan khusus dari Pak Alim. Minta diajarkan cara bertaubat.

Saya ingin memanfaatkan malam terakir di Makkah untuk bertaubat, minta ampun pada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala dosa saya, mulai dari berbohong, korupsi kecil-kecilan, rentenir, hingga tergoda oleh wanita.

Saya menangis terisak-isak, mohon ampun, berjanji tak akan berbuat dosa lagi. Saya menyesal telah mencari rezeki menghalalkan berbagai cara, tergoda oleh wanita-wanita liar, tergoda rayuan janda binal, dan istri-istri penyeleweng pemburu kepuasan.

Pagi ini dada, pikiran, dan diri saya terasa lebih ringan. Karena itu, ketika Pak Alim menyuruh saya pergi sendiri melakukan tawaf wada, saya tak menampik.

“Saya dan beberapa teman baru nanti sore melakukannya,” kata Pak Abdul Alim, yang konon namanya itu berarti Hamba dari Yang Maha Tahu.

Saya pergi sendiri, melakukan tawaf wada-mengelilingi Ka’bah-pamitan sebelum meninggalkan Makkah. Nanti, sehabis maghrib kami akan berangkat ke Madinah, dan beberapa hari kemudian pulang ke Jakarta .

Pada putaran ketiga dari tujuh putaran yang harus dilakukan, saat berada di antara Rukun Syam dan Rukun Yamani, tiba-tiba saya menengok ke arah kanan. Bertemu pandang dengan seorang gadis cantik luar biasa, sulit saya gambarkan. Melebihi sosok yang saya impikan selama ini. Putaran keempat, persis di tempat sama, kami kembali pandang-pandangan, juga pada putaran ke-5.

“Astaghafirullah. Ampuni hambamu ini ya Allah.”

Saya merasa bersalah, sempat-sempatnya mencuri pandang pada seorang gadis saat seharusnya berserah diri, berdoa, meminta kepada-NYA.

“Apakah ini ujian dari-NYA. Apakah itu godaan?,” hati saya tak henti-hentinya bertanya.

Usai tawaf wada langsung ke pondokan. Sepanjang perjalanan saya menyesali diri. Kenapa tak sadar juga, sempat-sempatnya jelalatan. Padahal sudah berbagai ujian saya alami, tak hanya kehilangan koper, uang, tetapi juga sempat tiba-taiba saja tersungkur saat menggunakan eskalator menuju Masjidil Haram, hingga bibir dan lutut berdarah.

                                                  * * *

“Jangan panggil aku haji. Panggil saja nama saya, atau dik, mas, bang, terserah. Tapi jangan panggil saya Pak Haji, Dik Haji, Mas Haji. Tolong.”

Semua yang datang, menyabut kepulangan saya di rumah, terlihat kaget, saling pandang-pandangan.

“Mudah-mudahan taubat yang saya lakukan di Masjidil Haram Makkah di terima Allah,” kata saya.

“Saya juga baru tahu sebutan haji tak pernah dianjurkan Rasulullah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam tak menyebut dirinya sebagai haji, juga tak pernah memanggil para sahabat dan istrinya dengan sebutan haji atau hajjah.”

“Apa ini ada kaitannya dengan peristiwa kehilangan koper, uang?,” tanya Pak Asep, tetangga sebelah.

Saya tersenyum. Saya memang bercerita soal kehilangan, tapi tak cerita sempat jatuh, takut diartikan tidak-tidak. Saya juga akui, kecuali satu jerigen kecil air Zamzam, korma dan oleh-oleh, termasuk sajadah yang saya bagi-bagikan, semuanya dibeli di Pasar Tanah Abang, sebelum saya berangkat haji.

Saya tak menyesal kehilangan. Juga tak kecewa batal membeli kalung dan cicin emas murni di toko-toko emas yang ada di lantai dasar Hotel Oberoi, tak jauh dari Masjid Nabawi di Madinah, seperti disarankan beberapa teman.

“Saya beruntung kenal Pak Alim, serta beberapa ustad pembimbing. Beruntung diberi buku-buku ini,” kata saya, menunjuk setumpuk buku tuntunan haji dan buku-buku tuntunan agama pemberian Pak Alim dan pembimbing, serta yang saya dapatkan secara gratis di Makkah dan Madinah, sumbangan Kementrian Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Islam Arab Saudi.

“Andai saja semua jamaah haji mau membaca buku tuntunan dan mendengar kaset ajaran Islam yang dibagi-bagikan secara gratis ini, saya yakin orang-orang yang pulang haji akan berubah. Islam makin maju, kompak, sunnah,” kata saya.

Permintaan jangan dipanggil haji pula yang saya katakan ketika beberapa orang menyapa saya saat bertamu ke rumah keluarga Pak Alim, di kawasan Pondok Indah, sebulan setelah kami pulang dari Tanah Suci.

Pak Alim hanya tersenyum.

Tiba-tiba saja darah saya berdesir deras.

“Kok Bidadari itu ada di sini?”

Tapi setelah menghadap ke arah saya, ternyata dia bukan gadis yang beradu padang dengan saya saat melaksanan tawaf wada. Gadis di Baitullah lebih cantik, sempurna. Tinggi dan berat tubuhnya sangat imbang. Saya yakin gadis itu Bidadari yang sengaja menggoda, menguji saya. Meski hanya memandang sekilas, kecantikannya memukau, tak tertandingi gadis manapun.  

“Kenapa? Apa Ananda kenal Sofi?”

Saya dikagetkan pertanyaan Pak Alim.

“Dia anak sepupu kami, silakan berkenalan,” kata Bu Alim.

Saya jadi salah tingkah. Gadis yang sempat membuat saya melamunkan sosok yang saya sebut Bidadari itu tersenyum. Dia juga memiliki daya tarik, masih muda, cantik, meski tak secantik Bidadari.

Saya menyalaminya. Pak Alim dan istrinya medekati saya. Saat itu pula pikiran saya terlintas pada gadis berkerudung yang pernah dikenalkan tetangga.

“Bagaimana kalau kalian berdua kami jodohkan?,” kata Pak Alim. Bu Alim tersenyum.

Gadis itu tersipu. Saya tak bisa segera menjawab. Bimbang apakah memilih gadis berkerudung yang tinggal di Bogor , anak dari saudara tetangga, atau memilih Sofi, keponakan Pak Alim.

“Apa masih perlu bimbingan?,” kata Pak Alim menggoda.

“Ya, ingat, walimah hanya boleh sekali seumur hidup, saat perkawinan. Tak ada pesta lainnya,” kata Bu Alim.***

 

* Jakarta Selatan, awal Februari 2010.  

* Pernah diturunkan di Harian Suara Karya/Sabtu, 6 Maret 2010

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru