Thursday, October 22, 2020
Home > Cerita > Layang-layang Putus

Layang-layang Putus

Pada wajahnya sama sekali tidak terlihat perubahan. Pembawaannya yang tenang membuat lelaki ini di mata banyak orang masih seperti dulu. Bahkan keluarganya sendiri-istri dan anak-anaknya-tidak melihat ada tanda-tanda kerisauan di dalam diri lelaki itu, meski dia baru saja memasuki masa pensiun di perusahaan tempatnya bekerja.

Sebenarnya dalam hatinya sedang berkecamuk berbagai perasaan. Dia sedang mengalami kegamangan. Ibarat sebuah layang-layang, kini dia merasa bagai layangan putus yang tak terkendali. Dia memang masih terbang, tapi pergi melayang ke mana angin berembus. Melayang makin jauh, dan entah di mana dia akan tersangkut, entah di sebuah pohon tinggi, di wuwungan rumah, atau mungkin terhempas di tengah padang luas.

Dia sadar, suatu waktu akan kembali kepada-Nya. Pada saatnya, dia akan pergi. Pergi ke alam lain, meninggalkan semua yang dia sayangi, semua keluarga, teman, kerabat, dan tetangga. Semua harta, semua yang pernah dimiliki. Tak satu pun yang akan dia bawa, kecuali kain putih, beberapa lapis kain kafan yang membalut tubuhnya.

“Yaa… jika kita bisa tidak menyusahkan keluarga, tentangga, orang lain, dan siapa pun, kenapa kita harus menyusahkan mereka. Hidup-lah layaknya air mengalir,” katanya suatu waktu dalam suatu acara keluarga.

Ya. Itulah sifat aslinya, tak ingin menyusahkan siapapun. Apa yang pernah dia alami, sejak dulu, sejak kanak-kanak hingga sudah pensiun sekarang-tidak pernah dalam kesulitan, tak pernah kekurangan-membuatnya tak ingin pula merepotkan orang lain.

Semua kemudahan yang pernah dia alami tidak membuatnya sombong, tetapi justru membuat dirinya pandai membalas budi, ya kepada orangtua, kepada saudara, bahkan sangat bertenggang rasa terhadap para tetangga. Dia tak ingin menyakiti siapapun, meski dia terkadang diperlakukan tak menyenangkan.

Bahkan terhadap tetangga di sebelah rumahnya yang dinilai banyak orang memiliki sifat iri-selalu menyiram dan menggenangi jalan di depan rumahnya hingga jalan yang tadinya tertata rapi, berbata blok rapi, berubah jadi becek-dia tetap saja berkata dan bermuka manis pada tetangga itu.

Banyak tetangga lain sudah menyimpulkan, orang seperti itu tak perlu dikasihani, dengan alasan orang itu berbuat demikian karena iri, iri melihat tetangga serba berkecukupan, iri karena tetangga punya mobil dan selalu tampak rukun. Banyak yang memanasi, menyatakan tetangga iri seperti itu harus diberi pelajaran. Tapi dia bergeming, tak hendak berubah sikap.

“Biarlah dia sadar sendiri. Toh sudah banyak yang mengingatkan, nyatanya dia selalu menantang berkelahi orang-orang yang mengingatkannya,” katanya, ketika istrinya menyatakan niat akan mengingatkan “si Eror”-begitu dia digelari para tetangga-lewat istrinya.

“Orang begitu tak ada gunanya dilayani. Mungkin ini peringatan bagi kita, peringatan dari Allah, sehingga kita harus bertetangga dengan orang seperti itu,” katanya lagi.

Sabar betul dia. Tak hendak dia terpancing, termasuk dalam menanggapi ulah beberapa penghuni rumah petak di depan rumah, di pinggir kompleks tempat dia bermukim, yang selalu menyetel radio, memutar casette, bahkan televisi dengan suara sangat keras.

“Kalau tak ingin mendengar suara berisik, ya berusahalah mengalihkan pendengaran. Misalnya dengan mendengar musik pakai head-phone. Mungkin saja tetangga di rumah petak itu kurang pendengaran,” katanya dengan tenang, ketika anak-anaknya mengeluhkan suara musik amat keras dan berisik yang tak henti-hentinya keluar dari rumah kontrakan, yang oleh banyak orang di lingkungan itu selalu disebut rumah petak.

* * *
kc Sudah ada tiga bulan dia tak bekerja. Pensiun. Namun belum juga dia temukan apa usaha atau kegiatan yang dapat digeluti di hari tua ini. Benar, dalam hati kecilnya ada kegamangan. Kepada istrinya akhirnya dia mengakui bahwa terkadang dia merasa bagai layangan putus, yang bergerak ke kiri dan ke kanan tanpa kendali, hanya mengikuti hembusan angin.

Sebenarnya untuk kehidupannya di hari tua, dia tak berkekurangan. Meski uang pensiun yang diterimanya pas-pasan, tetapi dia memiliki harta yang suatu waktu bisa dijadikan uang. Dia punya rumah di tempat lain, yang kini dikontrakkan, dan suatu waktu bisa dijual. Dia punya sepetak tanah seluas 200 meter di salah satu sudut kota Jakarta, juga punya dua mobil meski bukan mobil kelas mewah. Tapi semua bisa dilego jika kebutuhan mendesak datang. Tabungannya pun ada, meski tak banyak. Apalagi anak-anaknya kini sudah menyelesaikan pendidikan, bahkan ada yang sudah bekerja.

Dua dari tiga anaknya sudah mampu membiaya diri sendiri, sedang yang bungsu tinggal menunggu panggilan kerja.

“Kita harus bersyukur, ya Pa. Papa pensiun di saat anak-anak tidak membutuhkan dana banyak lagi,” kata istrinya.
“Ya, alhamdulillah,” katanya singkat.

Lama terdiam. Istrinya rupanya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati sang suami. Namun dia tak ingin mengganggu, karenanya dia tak mengajukan pertanyaan lain. Bahkan, karena tak ingin mengusik, sang istri tak hendak beranjak dari kursinya sedikit pun, khawatir deritan suara kursi saat dia berdiri akan mengganggu lamunan suami tercinta.

“Oh.. maaf. Mama rupanya masih di sini. Tadi Mama nanya apa?” katanya.

Ditanya tiba-tiba begitu, sang istri agak gelagapan. Dia menjawab sekenanya. “Ah… tidak. Papa sepertinya ada pikiran. Ada masalah?” kata sang istri.

Tak biasanya dia rahasia-rahasiaan terhadap istrinya. Selama ini, sejak saling kenal, sampai naik pelaminan, dan kini punya anak yang sudah memasuki usia dewasa, apapun yang mengganjal dalam hatinya selalu dia utarakan pada pendamping hidupnya itu.

Sang istri bagi dia tidak hanya pendamping di kala bahagia, di kala suka, tetapi juga tempat mencurahkan segala uneg-uneg, sekaligus orang yang selalu dimintai pertimbangan. Namun kali ini dia sepertinya tak kuasa untuk membagi persoalan yang ada dalam pikirannya kepada isri. Dia tak tega membebani pikiran sang istri. Entah nanti.

* * *

Laki-laki Minangkabau atau Sumatera Barat tak berhak memiliki bagian harta pusaka peninggalan orangtua mereka. Dia hanya berhak menggarap sawah ladang itu semasa dia hidup. Setelah meninggal, semua harta yang digarapnya kembali pada saudara perempuan atau kepada kemenakannya.

Meski semasa hidupnya dia menanami ladang dengan buah-buahan yang dapat dipanen berulang-ulang, semua itu menjadi hak saudara perempuan atau kemenakannya begitu dia “berpulang”. Istri dan anak-anaknya tak berhak memilikinya. Harta gono-gini tak berlaku atas tanah pusaka di negeri Minang.

Itulah yang selama ini selalu mengganjal dalam pikirannya. Belum ada dalam sejarah, tanah pusaka di kampungnya di bagi-bagi antara semua saudara, kecuali bagi saudara perempuan. Di Minangkabau, semua harta pusaka-sawah, ladang, dan lainnya-adalah milik perempuan.

“Laki-laki di Minang tak seberuntung laki-laki di daerah lain, dapat bagian harta pusaka, seperti juga saudara-saudara perempuannya. Kami hanya berhak menggarap selama kami masih hidup, setelah meninggal, semua pusaka itu kembali kepada saudara-saudara perempuan, atau kepada kemenekan kami,” tuturnya suatu ketika.

Masalah itu kini yang kembali mengusik pikirannya. Dia ingin mengajak istrinya pulang ke Padang, menghabiskan masa tua mereka. Tapi itulah ganjalannya. Dia pernah menyatakan pada sang istrinya bahwa di Padang mereka akan tinggal di sebidang tanah yang cukup luas. Di samping rumah ada kolam ikan dan kandang ayam, kemudian di bagian lain ada ladang tebu, pisang, beberapa batang durian, duku, dan rambutan.

“Biarlah anak-anak tetap di sini. Sekali-sekali kita datang mengunjungi mereka,” katanya pada sang istri.

Tapi setelah kini dia benar-benar pensiun. Setelah anak-anak sudah dewasa, rencana menghabiskan hari tua berdua istri menghadapi kendala karena dia tak mungkin membangun rumah bagi istrinya di tanah pusaka keluarga. Sementara istrinya sendiri tak memiliki tanah pusaka.

Laki-laki ini tak ingin mengecewakan istrinya. Dia ingin apa yang dimilikinya semasa dia ada tetap menjadi milik istri dan anak-anaknya saat dia telah tiada. Itulah yang tak mungkin. Tidak mungkin rumah, kolam ikan, kandang ayam, beberapa batang pohon durian, duku, dan rambutan itu dia dirikan dan tanam di tanah pusaka. Kalau itu sampai terjadi, sama saja dia mempersiapkan kekecewaan besar bagi istri dan anak-anaknya.

Sebenarnya saudara perempuannya di kampung, kakak dan adik-adik laki-lakinya tak keberatan bila angan-angannya itu diwujudkan di atas tanah pusaka. Tapi dalam pikirannya sudah terbayang, bagaimana sakit dan lunglainya istri dan anak-anaknya nanti, harus meninggalkan semua itu setelah dia mati. Meski semua bukan satu-satunya harta keluarga yang pernah mereka miliki. “Istri saya kan bukan orang Minang. Jadi mereka akan sulit mengerti kenapa mereka nantinya harus pergi dari rumah dan tanah milik suaminya. Jadi tak usalah itu dibicarakan,” katanya pada suatu pertemuan dengan saudara-saudaranya.

Bahkan saudara-saudara laki-lakinya pernah mengunsulkan, tanah peninggalan orangtua itu dibagi rata saja. Semua kebagian, baik perempuan maupun laki-laki. Usul itu juga ditolaknya, meski satu-satunya adik perempuannya juga menyatakan setuju, dengan alasan dia juga tidak tinggal di kampung, tetapi sudah lama bermukim di Medan bersama suaminya.

“Janganlah kita mengubah adat-istiadat. Jangan kita membuat lingkungan mempergunjingkan kita. Jangan buat orang di kampung kita ini berdosa karena mereka tiap hari membicara dan mencibirkan kita,” katanya.

Kini pun, ketika dia sudah pensiun, ketika dia benar-benar ingin menghabiskan masa tuanya di kampung, di Ranah Minang, tak terniat di lubuk hati secuilpun untuk mengambil alih tanah pusaka. Meski di atas tanah pusaka itu dia menanam berbagai pohon buah-buahan, tapi dalam hatinya selalui tertanam bahwa itu adalah milik adik perempuannya. Dia selalu ingat pesan almarhum kedua orangtuanya, agar antarsesama saudara selalu akur.

Dia pun tak hendak menjelaskan pada istrinya yang asal suatu desa di pinggiran Yogyakarta sana, soal kerumitan yang sedang dihadapinya. Toh, jika dia ingin menghabiskan masa tuanya di Yogyakarta, di sebuah desa di pinggiran kota, istrinya juga tidak memiliki bagian tanah di sana.

“Saya ini tak punya apa-apa di Yogyakarta. Saya lahir di Jakarta, orangtua kami telah lama tinggal di Jakarta, dan bermukim di satu-satunya rumah kami di Jakarta,” kata istrinya dulu, ketika keduanya masih pacaran. Perkataan itu masing terngiang jelas di telinganya.

* * *

“Apa Angku (*) menyesal dilahirkan sebagai orang Minang?”

Laki-laki itu terlihat agak kikuk. Dia bukannya menyesal menjadi orang Padang, tetapi dia kaget, karena baru saja larut dalam lamunan.

“Ah… tentu saja tidak. Siapapun pasti tak akan pernah menyesali dirinya, walaupun dia dilahirkan sebagai orang mana dan dilahirkan di mana,” katanya.

“Seperti saya. Saya tak menyesal harus memiliki istri bukan orang Minang. Anak-anak kami juga bangga jadi anak kami. Mereka bangga menyebut diri sebagai orang Indonesia asli,” tuturnya lagi.

“Justru saya merasa sangat beruntung dapat menikahi istri saya itu. Kami jadi sama-sama tahu diri, karena memang tak memiliki harta pusaka. Karena tahu diri itulah akhirnya kami mampu membeli tanah di sini,” katanya.

Sejak beberapa pekan terakhir laki-laki itu memang sering bolak balik Jakarta-Padang. Bagai bus antarkota, katanya mengomentari kegiatannya itu.

Sejak tanahnya yang 200 meter di Jakarta laku dijual, dia dan istri memang memutuskan membeli beberapa ratus meter di pingir jalan by pass di antara Padang-Bandara Internasional Minang. Meski tak terlalu luas, tapi dia setidaknya bisa mewujudkan impiannya.

Di tanah itulah kini, meski belum sempurna, sudah berdiri sebuah rumah mungil. Kolam ikan di sampingnya diputari beberapa pohon pisang. Dia juga menanam pohon mangga, jambu, dan rambutan. Meski pernah bercita-cita memiliki pohon duku dan durian, dia tak hendak menanamnya.
“Nantinya terlalu tinggi,” katanya beralasan.

Dia berharap, dua atau tiga pekan ke depan, sudah bisa memboyong istrinya ke rumah itu. Setelah semuanya benar-benar selesai dikerjakan.

“Mungkin anak-anak akan ikut mengantar. Sekalian selamatan, memasuki hari tua,” katanya sambil tersenyum bangga. Dalam hatinya tesimpan suatu kepuasan. Dia membatin: “Akhirnya kemenangan itu berhasil juga aku raih.”

Dia merenung lagi, karena memang sudah kehilangan teman bicaranya. Para pekerja dan tukang di tanah dan rumahnya itu telah pulang menjelang magrib tadi. Dalam hati dan pikirannya terbersib rasa syukur. Berterimakasih pada Allah, karena dia dan istrinya berhasil membina anak-anaknya, sekaligus mempersiapkan hari tua mereka.

Dia bersyukur, karena tak mengalami nasib sial seperti beberapa rekannya. Dia bersyukur karena di Padang kini dia bisa membeli tanah untuk bermukim, yang tak lagi terkait tanah pusaka.

Di matanya terbayang, bagaimana perjalanan hidup rekannya, Makmur, yang tadinya sempat jaya, memiliki toko di Tanah Abang. Tapi karena gengsi, karena ingin dipuji di kampung, akhirnya jatuh bangkrut, karena modal yang ada diambil untuk membangun rumah mewah di tanah milik istrinya di pinggiran kota Padang.

Dia juga ingat dengan juragan cabe yang asal Painan, yang sempat memiliki mobil dan rumah lumayan mewah di Bekasi, tetapi akhirnya pulang dengan kesedihan karena modalnya juga tersedot untuk membangun rumah besar di kampung halaman istrinya.

Hatinya trenyuh, ketika ingat dengan rumah Pak Bakar di Pariaman, rumah bagus yang hanya ditempati Kambing untuk berteduh di kala hujan. Padahal kalau rumah itu dibangun di Jakarta, dia menaksir rumah itu tak kurang harganya dari Rp 500 juta. Padahal pula, untuk membangun rumah itu, Pak Bakar harus menjual rumahnya di Depok, mengurangi modal nasi Padang-nya. Dan sedihnya lagi, Pak Bakar-nya sendiri kini harus mengontrak di rumah petak, dekat pinggir rel kereta api di Pasar Minggu, tak jauh dari tempat dia berdagang nasi Padang dengan gerobak, di pinggir jalan. Padahal rumah besarnya di kampung kosong, tanpa penghuni.

“Mudah-mudahan tak ada lagi yang berpikiran seperti mereka. Bangkrut karena gengsi. Menjadi korban, hanya agar disebut sebagai perantau yang berhasil,” katanya bergumam.

Entah sudah berapa lama dia tertidur dibuai mimpi. Laki-laki itu terbangun karena mendengar suara adzan subuh. Usai shalat, dia pergi ke halaman. Tak sengaja dia mendongak ke wuwungan, di sana tersangkut sebuah layang-layang, layang-layang putus yang terbawa angin.***

* Kebayoran Baru, awal 2007

@ angku = tuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru