Sunday, July 21, 2024
Home > Cerita > Rumah yang Hilang, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Rumah yang Hilang, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Rumah yang Hilang

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Ini hari ketiga saya mendatangi rumah itu. Berkali-kali memencet bel yang ada di pagar rumah, tapi seperti hari-hari sebelumnya tak ada yang keluar. Saya melihat gorden jendela rumah itu tersibak, tapi tak ada yang mucul. Orang-orang yang lewat di depan rumah itu tak ada yang peduli. Kepada siapa saya bertanya? Tetangga kiri kanan rumah keadaan sama, rumah yag sepi, belum pernah saya melihat ada yang ke luar masuk.

Pasrah. Keberadaan saya di kota provinsi itu telah akan berakhir. Sore ini saya harus kembali ke Jakarta tempat saya bekerja dan bermukim. Apa boleh buat, saya sudah berusaha maksimal untuk menyampaikan titipan seorang tetangga ke alamat yang telah saya datangi itu. Tapi tak berhasil. “Maafkan saya Pak,” tanpa sadar saya bergumam.

Setibanya di rumah kos di kawasan Kebayoran Baru saya melihat beberapa bendera kuning—tanda adanya kematian di wilayah itu–terpasang di sejumlah tiang.

“Siapa yang meninggal?”

Teman-teman satu kosan memberitahu bahwa babak pemilik rumah di sebelah meninggal dua hari lalu, ketika saya bertugas ke luar kota.

Lalu bagaimana titipannya?

Orang itulah yang menitipkan sebuah map kepada saya untuk disampaikan pada alamat yang dia tulis di amplop besar itu. Titipan itu tidak berhasil saya sampaikan. Lalu mau diserahkan pada siapa, semetara si bapak penitip selama ini tinggal sebatang kara. Tak ada tetangga yang tahu apakah dia punya keluarga atau famili. Hari-harinya hanya ditemani dua pembantu, suami istri.

Caspar. Demikian nama bapak itu. Seorang pengusaha, duda dan tak memiliki anak. Dia sangat baik terhadap siapa saja, selalu memberi salam setiap jumpa. Teman-teman kos sering membicarakan sosok dia, bahkan ada yang menyatakan siap menjadi istri bapak itu, meski usianya sepantaran ayahnya.

Pak Caspar juga kerap mengirim pembantunya ke tempat kos kami, memberikan makanan. Dia juga kerap mengundang kami, juga ibu dan bapak pemilik rumah kos, ke rumahnya, untuk sekadar makan-makan. Orangnya amat santun, bahkan terhadap dua pembantunya.

“Khalisa itu artinya suci, bersih, dan murni. Nama yang indah, seperti orangnya,” kata Pak Caspar tentang nama saya. Saya merasa tersanjung.

“Semoga selalu sukses, bahagia dunia dan akhirat,” katanya lagi.

Orangnya pintar memanfaatkan situasi dan kondisi, membuat suasana jadi cair. Teman-teman pun berebut menanyakan apa arti namanya. Pak Caspar dengan tenangnya menjelaskan satu-persatu. Sekali-sekali dia mempersilakan kami menikmati suguhan yang ada.

“Diantara kita ini, Pak Chaspar sepertinya paling perhatian pada kamu Khalisa,” kata seorang teman.

“Jangan-jangan dia naksir kamu. Kalo saya sih, saya terima dengan tangan terbuka, meski usianya jauh di  atas saya.”

Saya tak tertarik dengan ocehan itu. Entah kenapa, saya merasa Pak Caspar  seperti ayah saya. Tak mungkin saya mengharapkan dia sebagai pasangan hidup. Kebaikannya, keramahan, perhatian yang dia perlihatkan saya rasakan sebagai kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya.

“Ah, saya bukan sedang mengkhayal sebagai anak orang kaya,” gumam saya.

Tidak, saya sudah cukup bahagia dengan ibu dan ayah saya, hingga saya kini sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta ternama. Meski kedua orang tua saya tidak kaya, namun dia sagat mendorong saya untuk meraih sukses. Bahkan dia kini menyarankan saya untuk mengambil S2 dan menyatakan siap membiayai, meski sehari-harinya ayah hanya seorang pedagang kelontong di kampung kami.

***

Saya hampir lupa dengan keberadaan titipan yang saya taruh di lemari pakaian dan baru ingat kembali begitu mendapat tugas lagi ke kota yang sama 4 bulan kemudian. Saya keluarkan amplop berbungkus plastik transparan itu lalu di taruh di koper, khawatir ketiggalan. Saya akan datangi lagi rumah yang tertulis di amplop.

Saya sampai di kota itu pada siang hari. Tugas saya di kota itu baru mulai esok hari.  Saya manfaatkan waktu yang ada, mendatangi alamat  yang tertera pada barang titipan. Saya memilih naik taksi argo saja, karena rumah tujuan tak begitu jauh dari hotel saya menginap. Sopir tak lagi bertanya, lansung tancap gas. Sepertinya dia paham betul tujuan yang hendak didatangi. Namun saat tiba di jalan yang tertera di alamat, si sopir tidak berasil menemukan rumah yang dicari.

Nomor rumah yang dicari tidak ada. Di jalan yang tidak begitu panjang itu, Jl. Budi Utomo, nomor rumah yang saya cari tak ditemukan. Rumah yang dulu saya datangi kini berupa taman. Hanya dalam beberapa bulan?

Rumah bernomor 85 tak ada lagi, alamat yang pernah tiga kali saya datangani setiap waktu magrib,  seusai melaksanakan tugas di kota itu,  tak ada bekasnya, begitu juga dua rumah di kiri kanannya, nomor 84 dan 86. Tiga rumah itu bagai tak pernah ada. Anehnya, nomor rumah lain di sebelahnya seperti melompat, dari nomor 83 langsung ke nomor 87. Berarti ada tiga rumah yang hilang berubah jadi taman yang asri, lengkap dengan bangku taman. Padahal beberapa bulan lalu saya masih memecet bel di pagar salah satu rumah itu.

Ada jalan kecil, pas-pasan untuk mobil menjelang bangunan nomor 87. Saya minta sopir taksi masuk ke jalan itu, dia bersedia. Taksi berjalan pelan. Tak terlalu lama, hanya sekitar 200 m, jalan  berakhir di sebuah lapangan parkir yang mampu menampung sekitar 10 mobil. Di samping areal parkir ada sebuah bangunan, pondok.

Saya turun dari taksi menuju pondok yang cukup bersih dan memiliki ruang itu. Beberapa kali mengucapkan salam, namun tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian ada yang mucul dari balik pagar di dekat areal parkir dan pondok. Muncul seorang laki-laki paruh baya, berjenggot. Pandagannya tajam, terkesan menyelidik.

“Mencari siapa Mba? Dari Mana?”

Belum lagi saya menjawab, dia kembali berucap;

“Kalo mau nyari kuburan, ini bukan pemakaman umum. Ini makam keluarga. Lagi pula sudah penuh,” katanya.

Saya baru menyadari, ternyata di balik pagar pelataran parkir dan pondok mungil itu adalah komplek pemakaman.

“Saya tidak mencari kuburan. Saya mencari alamat. Nomor 85,” jawab saya.

“Di sini tidak ada rumah. Memangnya mau nyari siapa!?”

Saya menuju taksi, lalu membuka tas. Mengambil map yang dititipkan pada saya.

“Saya mencari Ibu Alesha,” kata saya.

Bapak berambut ikal, berbadan gempal itu terdiam. Dia tidak segera menjawab.

“Anda perlu apa?”

“Apa tidak salah nama?

“Ibu Alesha telah meningal 25 tahun lalu. Suaminya, Den Chaspar berpulang 4 bulan lalu. Dia dimakamkan di sebelah Ibu,” katanya.

Medengar nama Pak Chaspar saya terkesima. Ternyata dia berasal dari kota ini. Lalu apa maksudnya menitipkan map itu pada saya, minta disampaikan pada Bu Alesha,  yang konon  berarti; beruntung, selalu dilindungi Allah, ternyata sudah lama berpulang.

Saya minta izin melihat kuburan pasangan suami istri itu.

Saya jongkok di bagian kaki kedua kuburan tersebut. Tiba-tiba tubuh saya bergetar. Air mata saya mengalir deras, tak bisa dihentikan. Saya merasa amat mengenal kedua orang yang dimakamkan di situ. Saya kemudian menagis tersedu-sedu, berdoa semoga kedua orang yang dimakamkan di hadapan saya itu dilapangkan dalam kuburnya, dan diampuni segala dosanya, diterima di sorgaNya.

***

Sekembali dari luar kota saya menemui suami istri pembantu Pak Chaspar, yang masih menempati rumah mantan majikannya itu. Saya ingin minta pendapatnya, mau diserahkan kemana titipan yang ada pada saya.

“Bapak pernah pesan. Jika ada apa-apa dengan dirinya bilang sama Non agar titipannya dibuka saja.”

“Non? Maksudnya siapa Bu,” tanya saya.

“Ya Non Khalisa.”

“Bapak selalu menyebut Non sebagai Non Khalisa,” kata suaminya.

Saya minta izin kembali ke rumah kos, mengambil titipan Pak Chaspar. Lari-lari kecil, kemudian saya kembali menemui suami istri itu. Kepada keduanya saya katakan, saya mau membuka amplop besar titipan itu di depan mereka berdua. Ibu dan Bapak itu mengangguk berbarengan.

Dengan menucapkan Bismillahirrahmanirrahim amplop besar berwarna coklat itu saya buka. Saya meggunting ujung amplop itu hati-hati sekali. Amplop saya miringkan, ternyata ada amplop lagi yang ditempeli amplop lebih kecil berwarna putih.

Di luar amplop kecil itu tertulis pesan; “Non Khalisa. Buka dan bacalah surat dalam amplop ini?”

“Ada apa ini? Koq jadi begini?,” saya begumam.

“Baca saja Non. Mungkin itu pesan tentang titipan Den Chaspar itu.”

Saya membuka amplop tersebut, membuka lipatannya, lalu membaca;

“Non Khalisa. Bapak minta, bukalah amplop titipan babak di depan beberapa saksi. Selain dua orang yang selalu membantu bapak di rumah bapak, Basyar dan Dairah, juga minta Bapak RT di lingkungan ini menyaksikannya, Bapak Ibu pemilik rumah tempat Nak Khalisa indekos, kemudian Ayah dan Ibu Non Khalisa, Faadil dan Amelia.”

“Apa artinya semua ini,” pikir saya.

“Apakah ada kaitanya dengan diri saya, sampai-sampai ibu dan ayah saya perlu menyaksikannya. Apa mungki Pak Chaspar kenal ayah dan ibu saya?”

Saya lama tercenung. Bapak dan ibu pembantu Pak Chaspar hanya diam.

“Bagaimana jika amplop ini saya serahkan pada Bapak?,” kata saya sambil menyodorkan titipan itu.

Dia seperti terperanjat.

“Jangan Non. Lakukan pesan bapak saja. Mungkin besok atau lusa para saksi bisa hadir di sini,” katanya.

***

Pak Ketua Rt setuju jadi saksi, begitu juga Ibu dan Bapak pemilik rumah kos tempat saya tinggal. Ayah dan Ibu saya pun sudah datang. Sabtu malam ini kami berkumpul di rumah almarhum Pak Chaspar. Pak Rt, Ibu dan Bapak pemilik rumah kos beberapa kali bertanya-tanya. Apa gerangan isi amplop yang dititipkan pada saya.

Sementara Ayah dan Ibu saya, juga suami istri pembantu Pak Chaspar di rumah itu, terlihat tenang.

“Ayo suguhannya silakan dicicipi,” kata Dairah memecah kecanggungan suasana.

“Ya.., kita mulai saja. Silakan Dek Khalisa membuka amplop. Biar kita saksikan bersama-sama apa isiya,” kata Pak Rt.

Khalisa mengeluarkan sebuah gunting, lalu menggunting pinggir amplop besar itu hati-hati sekali. Kemudian dia mengeluarkan isi amplop. Ada sejumlah amplop lainya, beberapa. Dia membuka salah satunya, ternyata berisi surat.

“Anakku Khalisa. Saya adalah Papamu. Ayah kandungmu.”

Khalisa terpana. Dia bingung apa maksud Pak Chaspar.

“Apa ini? Apa saya mimpi.” Tanpa sadar dia berucap, melihat sekeliling, memadang satu persatu yag hadir di sekitarnya.

“Teruskan saja membaca Nak Khalisa,” kata Faadil, ayahnya. Ibunya Amelia pun mengangggukkan kepala memberi dukungan.

“Semua dokumen di amplop ini adalah milik Khalisa. Sertifikat rumah di Kebayoran Baru, deposito, serta sebidang tanah di kampung adalah milik anak papa, Khalisa. Itulah yang bisa papa berikan. Papa selalu berdoa, Khalisa berbahagian menjalani kehidupan. Papa juga setuju Khalisa memilih Gibran  sebagai calon pasangan hidup.

Khalisa serasa bermimpi. Dia tak sanggup meneruskan membaca isi surat itu.

“Baik-baik. Khalisa biar istirahat dulu. Besok kita teruskan,” kata bapak pemilik rumah kos tempat Khalisa tinggal.

***

“Mama meninggal saat melahirkan saya. Lalu saya dibuang?”

Khalisa setengah berteriak, lalu menangis terisak-isak.

“Semua kejam. Apa salah saya! Kenapa papa tidak mau merawat saya. Kenapa.”

Faadil dan Amelia yang selama ini dikenal Khalisa sebagai ayah dan ibunya hanya bisa terdiam.  Ibu kos beberapa kali berusaha menenangkan Khalisa.

“Den Chaspar tidak pernah membuang Nak Khalisa. Dia selalu mengikuti perkembangan nak Khalisa. Semua, rumah dan warung kita di kampung dibangun dan dimodali Den Chaspar. Semua biaya nak Khalisa, makan, minum, biaya sekolah, kuliah semua dari beliau,” kata Faadil.

“Kami hanya pelaksana. Den Chaspar sangat menyayangi nak Khalisa. Kami juga begitu. Nak Khalisa sangat mirip dengan Ibu Alesha,” kata Amelia.

Khalisa lama duduk tercenung. Air matanya telah mengering.

“Maafkan saya Mama Alesha. Ampuni kedua orang tua hamba ya Allah. Mama Alesha dan Papa Chaspar. Sayangilah keduanya seperti mereka menyayangi hamba.”

Khalisa kembali terisak. Dia memandang kedua orangtua angkatnya Faadil, yang namanya berarti beruntung dan memiliki banyak kebaikan dan Amelia yang berarti terpercaya, cantik.

Faadil dan Amelia adalah pembantu rumah tangga pasangan Chaspar sebelum pindah ke Jakarta.  Chaspar konon namanya berarti  “dia yang menjaga harta karun.”

Faadil dan Amelia tetap menjadi ayah dan ibu Khalisa. Orang kampung pasangan itu pun tak ada yang tahu, Khalisa bukan anaknya. Anak yang dibawa pulang saat bayi, hanya beberapa hari setelah lahir.***

@Maret 2023

tjunti@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru