Saturday, December 03, 2022
Home > Cerita > Menembus Pintu Langit, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Menembus Pintu Langit, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Bulan. (Foto: mimbar-rakyat.com)

Menembus Pintu Langit

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

 

“Mungkin perjalanan hidup saya sudah akan berakhir. Entah esok, lusa, atau pekan depan. Mungkin bulan depan.”

Kalimat tersebut sering terlintas dalam pikiran Isham. Kadang terucap begitu saja dalam bisikan. Jika sudah begitu dia jadi menerawang, seolah memutar kembali cerita perjalanan hidup, melangkah pada peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain.

Dia ingat ketika sama-sama makan dua pisang goreng di sebuah warung bersama seorang teman. Namun Isham hanya membayar dua pisang goreng, dengan ucapan itu untuk membayar dua pisang goreng yang diakui keduanya hanya makan masing-masing satu.

“Mungkin ibu pejual pisang goreng itu sudah almarhumah, karena itu terjadi 50 tahun lalu,” kata hatinya. Peristiwa itu dia lakukan ketika dia dan temannya pulang dari sekolah saat masih duduk di bangku SMP.

Soal pisang goreng itu pernah dia tanyakan pada seorang ustadz. Dia medapat jawaban, jika memang sipenjual pisang goreng itu atau keluarganya tidak bisa ditemukan lagi, sumbangkan saja uang pembayar penggganti itu atas namanya, ke panti yatim, masjid, atau ke tempat-tempat lainnya.

Masalah pisang goreng itu pernah pula dia ceritakan kepada beberapa temannya. Mereka ternyata mejawab dengan enteng.

“Ah, hanya satu pisang goreng. Itu para kuruptor menyikat uang haram miliaran, bahkan triliuan. Mereka tenang-tenang saja.”

Namu bagi Isham, sekarang hal itu bukan hal kecil. Tetapi berkaitan dengan sorga dan neraka. Dia begitu ngeri bila berpikir tentang neraka. Ancaman api yang begitu panas, dirantai di tengah kobaran api yang bergemuruh, minum air panas mendidih dan memakan makanan berduri, serta berbagai siksaan berat lainnya selalu membayangi. Karena itu dia semakin sering berpikir tentang masa silam, mengingat kesalahan apa saja yang perah dia lakukan.

Dia telah berulang kali bertobat melalui sholat setiap dia ingat kesalahan demi kesalahan yang pernah dia lakukan. Dia sholat tobat ketika ingat pernah menyakiti seseorang. Dia melakukan hal sama ketika ingat pernah berbuat dosa-dosa lain, menyakiti, merugikan, atau ingkar janji.

Saran ustadz dia lakukan. Selain sholat tobat, dia sumbangkan sejumlah uang ke tempat ibadah dan lainnya untuk pengganti utangnya atau hak orang-orang yang tidak bisa ditemuai lagi. Dia berusaha mensucikan diri, termasuk mengganti dana-dana orang lain yang diambilnya secara tidak sah, dengan membantu orang-orang miskin.

Begitu dia tahu memakan bunga uang itu adalah riba, dia berusaha menggubah tabungan uangnya tidak lagi berupa tabungan atau simpanan berbunga. Dia juga berusaha agar tidak lagi ngomongin keburukan orang lain atau berghibah, karena berghibah ternyata dosa besar, sama seperti memakan mayat orang yang digosipi atau difitnah. Balasannya adalah neraka.

Namun perbuatan ghibah merupakan satu hal yang sangat sulit dia hindari, karena meski bukan dia yang memulai ada saja teman lain yang mengangkatnya. Bahkan tak jarang usai sholat pun perbuatan ghibah ada saja yang memulai. Dia berusaha megalihkan pembicaraan, namun kadang sulit, meski kerap juga berhasil.

Dosa besar hingga dosa sekecil-kecilnya hampir tidak pernah luput dari ingatannya, berusaha diingat-ingatnya satu persatu. Dia minta ampun pada Allah, mohon dimaafkan, dihapuskan dosa-dosanya.

Yang paling berat dia rasakan adalah harus minta maaf lansung pada orang-orang yang pernah disakiti, dirugikan, sesuai keharusan agama seperti dijelaskan seorang ustadz yang dia tanya. Jika tidak dosanya yang berkaitan dengan orang-orang tersebut sulit diampuni.

“Saya bukan Nabi Yusuf,” gumamnya suatu waktu.

Kalimat itu terlontar ketika dia ingat pernah tergoda oleh rayuan wanita.

“Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya itu,” gumamnya lagi.

Menghindari godaan wanita, salah satu hal tersulit lainnya yang dia hadapi.

Dia kerap tak tahan utuk tidak melirik wanita saat berpapasan di jalan atau di tempat-tempat keramaian, karena tergiur penampilan seronok wanita-wanita tersebut.

“Ini salah siapa,” katanya.

“Kenapa kebanyakan wanita-wanita suka pamer lekuk-lekuk tubuh mereka. Maksudnya apa?”

Isham sulit mengerti tentang kaum Hawa. Jika sudah ada maunya, sepanjang yang dia alami, wanita akan melakukan apa saja. Dia beberapa kali mengalami, wanita yang baru dikenalnya menyerahkan diri tanpa ada kompensasi. Dia coba memberi imbalan, tapi ditolak. Dia tak habis pikir.

“Apakah itu pekerjaan iblis. Apa mungkin wujud iblis yang menyamar jadi manusia?”

Dosa lain yang sering mengganggu pikirannya adalah uang yang pernah dia terima dari berbagai pihak ketika dia masih bekerja. Entah apa namanya, suap, upeti, tanda terima kasih, uang jasa. Bahkan untuk menghindari perangkap tangkap tangan oleh petugas, dia punya cara, tidak mau menerima langsung amplop, map, atau bungkusan-bungkusan upeti tersebut. Dia menyuruh sang pemberi menaruh pemberian di bawah jok mobilnya karena biasanya dia selalu mengajak tamu-tamu kelas “kakap”  untuk bertemu di salah satu restoran. Nah saat mau kembali ke kantor atau pulang, tamu mengantarnya hingga ke mobil.

Dia juga telah minta ampun pada Allah soal upeti tersebut. Namun dia tetap saja tidak bisa tenang, karena sebagian besar dana suap itu dia gunakan untuk membeli rumah, membiaya keluarga. Dia masih kerap gelisah, meski sejumlah uang itu juga disumbangkan untuk pembangunan masjid-masjid dan tempat-tempat sosial lainnya.

“Ampuni hamba ya Allah,” bisiknya, setiap perbuatan masa lalu mengusik dirinya. Dia berharap semua penyimpangan yang pernah terjadi dimaafkan Yang Maha Kuasa.

***

“Saya benar-bernar harus bertobat.”

“Harapan orangtua saya belum kesampaian. Karena konon mereka memberi nama Isham pada saya punya maksud khusus. Menurut ayah, Isham berarti baik hati atau penuh perhitungan,” kata hati Isham.

Pikirannya terus berkelana ke masa lalu. Dia ingat sederet perbuatan baiknya pada keluarga, orangtua, dan orang lainnya. Namun dia juga tidak bisa mengelak ketika pikirannya juga mencuatkan perbuatan-perbuatan buruknya.

Pikirannya terus menerawang. Tak lama usai salat isya dia telah melambung tinggi. Terangkat ke angkasa bebas dan lepas, telentang sambil membentangkan kedua lengan, terangkat dengan kecepatan lumayan.

“Kita akan menembus pintu langit.”

Suara di sebelah kanannya mengingatkan. Dia tidak tahu suara siapa, karena selama ini dia belum pernah mendengar suara lembut bersahabat itu.

Dia terus terangkat, mengambang, konsisten. Di kiri kananya bersiliweran banyak sosok, ada yang turun dan ada yang naik. Ada yang pelan, sedang,  dan ada yang cepat seperti kilat.

Dia coba berusaha melirik ke bawah. Bumi makin kecil, kemudian menghilang, hanya ribuan mungkin jutaan sosok yang turun naik, ada yang terbungkus selimut putih, ada yang digulung kain hitam. Bau wangi, busuk, menerpa hidung silih berganti.

“Dimanakah dan mau kemaa saya. Kenapa harus menembus pintu langit. Telah kiamatkah?,” pikirnya. Dia ingin bertanya pada dua sosok yang ada di kiri kenannya, namun lidah terasa berat.

“Apakah saya telah mati?”

Dia memang sering mendengar bahwa kematian merupakan suatu hal yang pasti bagi setiap makhluk, termasuk manusia. Kapan, dimana, semua  telah ditetapkan ketika masih dalam kandungan, saat ruh ditiupkan.

“Ya, apakah saya telah mati. Tapi saya merasa belum didatangi malaikat maut,” bisiknya.

Dia juga pernah mendengar kajian terkait kematian seseorang. Hamba yang beriman menjelang akhir hayatnya didatangi sejumlah malaikat berwajah putih yang turun dari langit. Malaikat itu membawa kain kafan dan minyak wangi dari surga dan duduk di sekitar orang yang akan meningal. Berikutnya datang malaikat maut dan duduk di samping kepala orang itu, dan mengatakan; ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’ Kemudian keluarlah ruh itu dari jasad dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat lainnya kemudian mengambilnya dari malaikat maut.

Sedang orang kafir atau pendosa, ketika hendak mati dan menuju akhirat, dia didatagi para malaikat dari langit berwajah bengis, keras, hitam. Para malaikat itu membawa kain kasar yang diambil dari neraka dan duduk di sekitar calon mayit. Selanjutnya datanglah malaikat maut, dan duduk di samping kepalanya, lalu berkata;  “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju murka Allah.”

Ruh si penuh dosa amat ketakutan, lalu  terpencar ke suluruh tubuhnya. Malaikat maut menariknya dengan kasar dan keras, membuat putus pembuluh-pembuluhnya. Para malaikat lain  langsung mengambilnya dari malaikat maut. Kemudian dengan dibungkus kain yang mereka bawa. Ruh ini baunya sangat busuk, seperti busuknya bau bangkai yang pernah ada di muka bumi.

Berikutnya kedua macam ruh itu, baik yang beriman maupun yang kafir, diangkat ke lagit. Yang beriman ruhnya sangat wangi.  Setiap  berpapasan dengan malaikat yang lain, mereka bertanya: “Ruh siapakah yang baik ini?” Hingga sampai di langit dunia. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, lalu dibukakan. Mereka naik menuju langit berikutnya, hingga sampai di langit ketujuh. Allah kemudian berfirman, memerintahkan ruh orang beriman itu dikembalikan ke bumi, menunggu di alam barzakh—batas alam dunia dan alam akhirat—dengan nyaman.

Sementara ruh yang penuh dosa, malaikat lainnya yang diliwati bertanya; “Ruh siapa yang busuk ini?” Ketika mereka sampai di langit dunia, pintu langit tertutup bagi dia. Allah memerintakan malaikat  mengembalikan si kafir ke bumi, meghadapi siksa kubur, kemudian di akhir masa nanti dilanjutkan dengan siksa neraka.

Isham tidak bisa memastikan apakah ruh dan jasadnya termasuk yang beriman atau kafir. Dia coba mencium bau ruhnya, dia tidak bisa mecium apakah wangi apa busuk. Dia juga berusaha melihat apakah tubuhnya dibalut kain putih atau hitam. Dia juga tak dapat jawaban, karena dia tidak bisa melihat jasadnya.

“Apakah saya sudah mati,” kata hatinya lagi.

Dia makin mendekati pintu langit bumi, namun dia berada di antrean panjang. Disebelahnya justru banyak ruh yang justru terus melaju kencang, seolah mereka berada di jalan bebas hambatan.

Di sisi lain, ruh-ruh yang dibungkus kain hitam, mental dengan cepat ke bawah. Mereka telah gagal saat melewati pintu langit pertama.

Dia ingat pernah membaca Al Quran surat Al-A’raf ayat 40 yang artinya; “Kafir  (Orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya), tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.”

“Apakah saya termasuk diantara mereka? Lalu kenapa saya harus antre?” kata hati Isham.

Dia tak habis pikir, kenapa ada yang lansung terpental ketika tiba di pintu lagit pertama, dan kenapa pula ada yang melaju kencang melewatinya. Lalu bagaimana dengan dirinya. Kenapa harus antre?”

Tiba-tiba saja ruhnya ada yang mendorong keluar dari antrean,  kini bergabung dengan ruh-ruh lain yang ada di jalur bebas hambatan. Hati Isham mendadak lega, karena kini berada di jalur cepat untuk menembus pintu langit. Namun itu hanya berlangsung sesaat, karena tiba-tiba saja ada yang membentur  dirinya dari sebelah kanan, hingga terpental dan masuk di barisan ruh-ruh yang dibungkus kain hitam.

“Astagfirullahaladzim. Ampun hamba ya Allah.”

“Allahu Akbar,” ucapnya.

“Ampuni hamba ya Allah, ampuni hamba. Ampuni,” katanya berulang kali.

Sayup-sayup dia mendengar benturan, ruh-ruh yang terpental dari batas langit bumi, karena tak berhasil menembus pintu langit. Dia menutup mata, memperkirakan sebentar lagi ruhnya juga akan menabrak pintu langit, kemudian terjun bebas menuju bumi, tak terkendali.

Dia coba berteriak; “Allahu Akbar. Astagfirullahaladzim.” Namun suaranya tak keluar.

“Pa, papa. Bangun. Sebentar lagi azan, Ayo sholat tahajud dulu.”

Suara itu mengagetkan Isham. Istrinya menggoyang-goyagkan tubuhnya. Dia tersadar, dan kembali mengucapkan Astagfirullahaladzim sambil mengusap-ngusap dada.

“Sebelum tidur papa lupa baca doa ya?,” tanya istrinya.***

 

@November 2022

tjunti@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru