Friday, April 19, 2024
Home > Cerita > Cerita Pendek > Penggali Kubur,  Cerpen A.R. Loebis  

Penggali Kubur,  Cerpen A.R. Loebis  

Ilustrasi - Penggali Kubur. (digilib.ac.id)

Bila mendengar ada orang meninggal, Akun merasa merinding bulu kuduknya. Ia merasa antara sedih, takut dan sekaligus senang, karena akan mendapat uang atas jerih payahnya menggali liang lahat.

Ia takut dan sedih karena setiap melihat mayat dimasukkan ke dalam lubang, ia merasa seolah-olah ia yang diturunkan ke dalam lahat, kemudian diazankan dan ditimbun tanah. Diinjak-injak menjadi gundukan. Disiram air serimpi, ditaburi kembang, didoakan di antara linangan air mata keluarga.

Tapi apakah keluarganya ada yang menangis? Dua anak kecilnya masih duduk di sekolah dasar, itu pun yang mengurus pendaftaran sekolah mereka, pengurus masjid.  Kedua anaknya itu selalu bolos dan bermain di kuburan.  Mereka tak   perduli dengan ayahnya, atau ayahnya sudah bosan memperingati mereka.

Dasar anak kuburan.  Lihat, kedua anak kecil itu bersama teman-temannya bermain di sela-sela kuburan. Terkadang badan dan pakaian mereka dilengketi tanah liat, karena mereka melompat-lompat di tanah galian ayahnya – yang bekerja bila ada orang koit alias dipanggil penciptanya.

“Assalamu’alaikum warokhmatullohi wabarokatuh…Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…,” pengumuman dari masjid itu membuat Akun memasang telinga, mendengarkan siapa yang sudah berpulang dan kapan akan dimakamkan.

“Alhamdulillah,” bisik Akun pada dirinya sendiri, “Tadi pagi isteriku sudah mengeluh kehabisan beras dan lauk.”

Ya, Akun sudah terbiasa mendengar isterinya ngomel. Sebenarnya bukan ngomel, melainkan mengeluh. Isterinya malu bila nanti siang bocah mereka berteriak-teriak “lapaaar”.  Itu sudah sering terjadi. Makanya isterinya pun rela menjadi tukang cuci dan seterika pakaian. Ia dapat duit harian, tapi tak setiap hari tetangganya mencuci atau menyeterika busana mereka.  Bila pun ada, duitnya tidak seberapa.

“Oalaah abang, aku tidak punya duit lagi,” kata isteri yang dinikahinya sekitar sembilan tahun lalu.

Kalau kata-kata yang menyesakkan dada sudah keluar seperti itu, Akun hanya diam saja. “Entah kenapa dulu ia mau kawin sama saya,” gumamnya di bibir   yang seperti hangus kebanyakan merokok.

Bila baru mengubur mayat, Akun pasti membeli sebungkus racun paru-paru itu, tapi bila sedang tongpes alias kantong kempes, ia hanya meminta sebatang dua dari temannya.  Sesekali menghutang di gerobak dekat rumah.

“Kalau kau gak merokok, mungkin hidupmu sudah  senang dan tenang,” kata temannya, “Setidaknya kau bisa ngumpul duit untuk bayar kontrakan.”

“Si Kojor gak pernah merokok tetap ngontrak rumah.  Katanya kalo gak merokok duitnya kalo dikumpul bisa beli rumah bahkan gedung.  Tuh si Kojor kok tetap miskin,” kata Akun.

Temannya nyengir sembari berujar, “Sebatang-sebatang terus. Sore nanti sudah sebungkus rokokku kau minta.”

oOo

Angin berhembus agak kencang petang ini.  Dua pohon kapas cukup besar dan tinggi di tengah perkuburan itu menancap kuat ke tanah, tetapi dedauannya bergoyang keras. Bila diamati lama, ada daun-daun yang gugur, melambai-lambai hingga menyentuh tanah.

Akun bersama beberapa temannya duduk di bebatuan dekat tempat pembuat batu nisan.  Ada beberapa batu nisan yang sudah siap pakai, bahkan ada nama-nama pemiliknya, mungkin hanya sekedar contoh.

Akun merasa sepi di tengah keramaian celoteh teman-temannya.  Pandangannya terfokus  ke depan.  Jejeran kuburan yang letaknya tak beraturan memanjang kiri kanan, depan belakang. Maklum kuburan lama.  Ada beberapa orang penggali kuburan di situ.

“Entah sudah berapa lubang yang kugali selama bertahun-tahun ini,” Akun membatin. Api rokoknya sudah nyaris menyentuh filter. Ujung jemarinya menguning, karena akrab dengan asap nikotin itu.

Pepohonan di areal pekuburan itu baru dibersihkan, sehingga pandangan lepas ke berbagai arah.

Parahnya, orang-orang tak takut lagi masuk ke kuburan. Kuburan menjadi tempat main kartu ceki atau domino. Bahkan tak jarang tempat orang pacaran.  Ketika masih banyak pepohonan rimbun, – bahkan semak belukar – sebenarnya orang pun sudah banyak pacaran di situ. Bahkan malam hari.  Duh gusti, entah pindah kemana nurani orang-orang itu.

Masyarakat di sekitar pekuburan pernah berang dan makam menjadi obyek pembicaraan berkepanjangan. Pasalnya beredar kabar, kuburan itu akan dipindahkan, karena akan dijadikan apartemen. Berita itu pernah dua kali berkumandang, tapi menguap begitu saja.

“Entah gimana rasanya dalam kuburan itu. Yang jelas sempit, gelap. Binatang-binatang kecil datang menggigiti daging,” suara Akun ternyata didengar teman  sebelahnya.

“Ngomong ape lu Kun. Ah lu nakut-nakutin aje,” kata rekannya sembari ngorek-ngorek telinganya, entah pakai apa.

“Mati kok dipikirin.”

“Ya harus dipikirin lah. Ape lu sudah shalat?”

“Rumah dekat mushola, tapi kok kita  belum shalat juga ye.”

“Ingat gak dulu ada mayat gak bisa muat di lubangnya.”

Dialog itu membuat orang-orang di sekeliling mereka terdiam. Asap rokok sesekali dihembuskan seperti huruf nol melayang  ke angkasa. Berbinar-binar bentuknya dipermainkan angin, kemudian pecah, sirna di udara terbuka.

Suasana diam, lengang. Seseorang dengan perlahan membaca nama-nama orang yang tertulis di batu nisan di dekat mereka.

Rambut awut-awutan Akun menari-nari dihembus angin. Telunjuknya menjentik-jentik kotoran menempel di celananya yang sudah kumuh.  Kulitnya menghitam setiap hari diraba-raba sinar mentari. Ujung-ujung kukunya pun   kotor, terlalu sering berteman dengan tanah liat.

“Kok lu tiba-tiba mikirin mati.  Jangan dulu ah, ingat anakmu masih kecil,” kata temannya memecah kebisuan.

Memang bisu di luar, tapi bising di hati mereka masing-masing. Entah apa yang merasuk ke benak mereka.  Satu yang jelas, otak Akun dipenuhi gambaran tentang liang lahat, tempat orang beristirahat menutup hayat.

Suasana mulai gelap. Magrib sudah bergaung dari tadi. Malam datang menghampar pandang, tandanya siang pulang ke kandang. Matahari masuk ke peraduan dan bulan dengan anggun naik ke singgasananya.

Akun beringsut, kedua lengan menopang ke lutut untuk berdiri. Semua temannya yang tadi bergeming,  serentak merentang kaki, masing-masing menutup pintu harapan hari itu, kembali ke gubuknya.

“Entah apa lagi omelan istri di rumah nanti,” sungut Akun, seolah menghitung langkah.

Apalagi hari itu tiada rejeki, karena tak ada orang mati.  (arl)

 

ooo

Jakarta, 02112019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru