Friday, April 19, 2024
Home > Cerita > Abang, Kunanti Kau di Siantar,  Cerpen A.R. Loebis

Abang, Kunanti Kau di Siantar,  Cerpen A.R. Loebis

Ilustrasi - Wanita menanti. (pixabay)

Angin menderu, suaranya hembusnya seolah menusuk telinga, awan berarak-arak beranjak mendung dan tak lama kemudian hujan rintik-rintik turun di kawasan terbuka itu. Tak ada tempat berteduh, padahal sebelumnya saat mentari cerah, tempat itu begitu kering dan gersang.

Ratusan orang yang berdiri di tepi lintasan panjang serta di kawasan berbukit-bukit itu tetap bertahan. Sebagian membuka payung mereka, mengenakan mantel hujan, tapi banyak yang membiarkan saja hujan membasahi diri mereka.

Ada yang ditunggu orang banyak itu, sehingga tak perduli dengan air hujan yang mulai lebat. Selain tak ada tempat berteduh, apalagi parkir mobil mereka di tepi jalan lintas Sumatera, berjejer panjang sekali, jauh dari tempat kerumunan itu.

Aku mengembangkan payungku berwarna biru sementara tetes hujan semakin deras menyerbu.  Seorang dara menghampir setengah berlari, disusul dua lainnya sembari menutup kepala dengan kedua telapak tangan.

“Bang, boleh aku ikut berteduh,” katanya.

“Silahkan..,” setengah terpana aku menjawab. Ia masuk ke dalam naungan payung, disusul dua dara lainnya.

Aku tersisih, kendati masih masih pegang kendali menggenggam gagang payung.

Bau harum menyeruak dari tiga dara itu. Kulirik satu-persatu, ketiganya berwajah manis. Tapi dara pertama yang menghampiri aku, berbaju lengan panjang putih, bercelana hanjang hitam, berhijab hitam, menjadi sosok yang lebih kuperhatian.

Dara ini lebih jangkung dari dua lainnya, bila senyumnya mengambang ada sedikit lesung pipit di pipinya. Ia pun lebih banyak ngomong, setiap mulutnya mengeluarkan kata-kata, bibir tipisnya tersenyum.

Ia pula yang terlebih dahulu mengulurkan tangan.

“Sofia..,” katanya memperkenalkan diri.

“Deni..,” kusambut uluran tangannya, terasa halus, tersenyum lagi, tak langsung menarik lengannya.

“Abang dari mana,” ia membuka bicara.

“Dari Jakarta.”

“Abang sendiri saja.”

“Gak, banyak teman-teman. Kami berpencar. Mau ambil foto sendiri-sendiri.”

“Abang dari Jakarta khusus mau ambil foto-foto mobil reli?”

“Ya..”

“Abang wartawan ya..”. Ia spontan bertanya Ketika melihat bacaan media di kartu indentitas yang tergantung di leherku.

“Ya..”

Hembus angin semakin kencang, kukuatkan peganganku di gagang payung, sedangkan air hujan tak lagi seperti tadi, secara perlahan mulai mereda. Orang-orang semakin banyak berdatangan.

“Enak ya Bang jadi wartawan, bisa pergi kemana-mana,”  Sofia menghadapkan wajahnya ke arah aku.

“Sofia dari mana?”

“Saya dari Siantar, Bang,” katanya, kemudian mengenalkan dua dara lainnya, yang ternyata adiknya.

Sofia bertutur, ia berkunjung bersama keluarga untuk berwisata ke Parapat, daerah wisata di tepi Danau Toba.

“Mendengar ada reli mobil di sini, kami pun datang ke tempat ini. Ibu dan keluarga lain tidak ikut, mereka istirahat di hotel di Parapat,” kata Sofia.

Tak berapa lama setelah payung kulipat karena hujan reda, terdengar suara mesin mobil dari kejauhan, ternyata zero car, untuk membuka jalur yang akan dilalui para peserta kejuaraan nasional Reli Danau Toba.

“Itu mobil apa Bang. Kok nomornya OO,” adik Sofia, Reni, berkaca mata hitam, nimbrung pembicaraan kami.

“Mobil pembuka jalan, namanya zero car. Setelah itu, baru peserta reli melaju satu per satu.”

Suara mesin mobil kembali berdentam-dentam, orang-orang mendekat ke jalur lomba, padahal itu tidak dibolehkan karena olahraga ini amat berbahaya bila dilihat dari jarak dekat.

Saat mobil muncul di kejauhan, semua seolah bersiap dengan alat potret masing-masing, bersiaga untuk mengabadikan momen yang jarang disaksikan itu. Mobil semakin mendekat, merah kehitaman warnanya, ada tulisan KFC di bagian depan.

“Sean Gelael…Gelael…Gelael..,” orang-orang berteriak mengelukan pereli yang melintasi jalur panjang di Desa Pondok Buluh, Aek Nauli, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun itu.

“Hebat kali Sean Gelael itu ya bang..Dia ikut balapan dimana-mana. Aku ingin melihatnya dari dekat dan foto Bersama,” Sofia mengeluarkan komentarnya.

“Di mobilnya ada tulisan KFC. Itu sponsornya ya Bang.”

“Ya. Di Siantar ada KFC kah?”

“Ada Bang Deni. Mainlah Abang ke Siantar. Sudah pernah Abang ke Siantar.”

“Sudah tapi hanya lewat saja. Dulu dari Parapat menuju Medan.”

“Mainlah Abang ke Siantar,” Sofia memandang, kubalas dengan tatap tajam. Sesaat kami saling pandang, kemudian dara manis itu menunduk, rona merah menjalar di pipinya.

Ah, aneh sekali perasaan ini. Kok aku merasa berdebar berdiri di sebelahnya. Untung kedua adiknya tak memperhatikan kami, mereka asik dengan hapenya, potret sana potret sini.

“Tadi katanya mau berfoto sama Sean Gelael. Ayo, saya kasi tunjuk tempat ia istirahat setelah berlomba,” kulempar kata untuk menghilangkan canggung. Ia tersenyum, waduh.. kelihatan semakin manis, tampak giginya rata tersusun rapih, putih seakan bersinar.  Aku merasa terpana.

“Sofi ingin sih, Bang. Pengen kali pun, tapi awak khawatir nanti kelamaan, Ibu bisa khawatir,” Sofia mempermainkan telepon genggamnya.

Suara mesin mobil kembali berdentam-dentam di kejauhan. Semakin lama semakin mendekat. Kelihatan mobil hijau mendekat, melesat cepat, terdengan suara saling bersahutan, “Ijeck..Ijeck..Ijeck”.

Itu wakil gubernur Sumut, masyarakat mendambakannya, dan seolah tak putus suara mengelukan namanya. Sofia dan kedua adiknya pun tak luput dari rasa gembira itu, si adik berbaju merah malah melompat-lombat. Pipi si adik ini pun berubah seperti warna bajunya, Ketika ia tersadar aku mengamatinya. Ia senyum menutup lompatnya. Semua gembira menyaksikan pemandangan di lintasan itu.

Aku kembali membatin. Aneh sekali perasaan ini. Baru bertemu beberapa menit, tapi aku merasakan seperti ada sesuatu yang mengganjal, yang mengikat, yang menyentuh rasa pesona. Anehnya lagi, aku berdebar setiap bertatap pandang. Aku merasa, jangan-jangan ia pun merasakan hal yang sama. Buktinya, pipinya itu lo, pipinya kok merona merah setiap kami bertatap mata. Mata adalah jendela hati, tempat menjenguk isi jiwa seseorang yang kita sukai.

Tak terasa, mobil reli berlewatan satu persatu, sampai akhirnya usai dan teman-teman yang tadi berpencar, bekumpul kembali. Mereka saling berkenalan dengan Sofie dan kedua adiknya.

Pertemuan ini terasa singkat sekali. Bukan perpisahan yang terasa sakit, tapi pertemuan itu yang disesalkan. Kami saling bersalaman. Kedua adik berjalan di depan. Sofie jalan berdampingan dengan Deni.

“Abang Deni..kutunggu Abang di Siantar..”

“Ya Sofie..sampai jumpa lagi ya.” Kami Kembali bersalaman. Kugenggam erat lengannya dan Sofie membalas mengencangkan genggamannya.

***

“Deni luar biasa..kamu selalu jadi inti cerita,” kata Gatot Ketika kami semua sudah berada dalam mobil.  Akhirnya komentar pun berhamburan, Deni membalas sekali-sekali.

“Diplomasi sebuah payung..hahaha,” kata Firzie.

“Payung biru pula,” ujar Cahyo.

“Kawan kita nih luar biasa..asal dia tidak bermain dengan rasa,” timpal Wahyu.

“Aku pun tak menduga. Ini kan karena hujan dan kebetulan aku bawa payung,” kata Deni, dengan menambahkan, “Kuakui ini merupakan diplomasi sebuah payung..hahaha.”

“Kalo ada waktu kita main ke Siantar nih. Deni kayaknya terbelah hatinya..hahaha,” Resha menimpati.

“Begini inilah romantika liputan. Semua pasti pernah merasakan. Bahkan pada liputan luar negeri pun,” kata Bayu.

“Tapi dia bilang pengen banget foto Bersama Sean. Dia mau ikut kita, tapi takut ibunya marah,” kata Deni.

Keesokan harinya, ketika berangkat dari Parapat menuju Bandara Silangit, kami melintasi Porsea, Laguboti, Balige, sampai ke Siborong-Borong. Pembicaraan di dalam mobil masih terus berkisar tentang kisah asmara singkat Sofie dan Deni.

Ketika rombongan mampir makan siang di Resto & Coffee Caldera di Kawasan Balige, sembari menunggu makanan pesanannya, Deni membuka hapenya, ada WA masuk dari Sofie.

Abang Deni sudah sampe mana?

Ia membalas, Sedang berhenti makan siang.

Deni memandangi tulisan di layar hapenya. Wajah Sofie muncul. Terbayang Ketika Sofie memegang tangannya saat melintasi jalan becek berlumpur. Suara manja gadis itu, dengan aksen Siantar, memanggilnya dengan sebutan Abang, berngiang di telinganya. Ah, Sofie.

“Hei Deni..jangan nglamun..Jangan menerawang..haha, lagi teringat seseorang ya,” Gatot berteriak dari meja sebelah. Teman-teman beralih pandang ke arah Deni. Semua ngakak..hahahah.

“Ah tidak lah,” seru Deni.

“Ini kan sudah kubilang hanya romantika. Besok ngliput di tempat lain, ya ganti lagi. Tambah teman lagi. Mosok beginian aja jadi pikiran, apalagi jadi kenangan,” sergah Deni, ikut ngakak.

Suara berdenting dari hapenya, Deni membuka, eh ada lagi WA dari Sofie.

Hati-hati di jalan ya Bang. Kunanti Abang di Siantar.

Ah, Deni menutup hapenya sembari menarik nafas panjang. (***)

000

Aek Nauli / Jakarta, 14122021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru