Monday, September 28, 2020
Home > Cerita > Dan Malam Semakin Dingin, Cerpen Hendry Ch Bangun

Dan Malam Semakin Dingin, Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi -Dan Malam Semakin Dingin. (fimela.com)

“Seharusnya kita berbicara seperti ini dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Wajah kita masih bersinar, masih ada sesuatu yang dibanggakan.”

“Dalam pandanganku kau masih cantik..”

“Ah, kau selalu tak pandai berbohong. Atau memang bodoh”

“Aku serius.”

“Itulah kebodohanmu. Tapi itu yang membuat aku menyukaimu.”

“Kita cocok kan? Apapun namanya, kita sebenarnya saling menyukai.”

“Dan terbukti, itu tidak cukup untuk menyatukan kita.”

“Karena kita takut membayangkan masa depan, waktu itu. Aku takut tidak bisa membahagianmu dengan gajiku sebagai dosen. Sementara kau takut kelak tidak bisa menjadi istri yang baik. Bukan begitu?”

“Entah lah. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bahkan lupa mengapa waktu itu tidak membalas surat-suratmu. Kalau dipikir-pikir kemudian aku merasa menyesal. Tapi mau apa lagi. Dalam kekosongan pikiran karena terlalu sibuk kuliah aku malah tergoda untuk pacaran dengan orang lain. Ah sudahlah.”

Café itu hening. Tidak banyak tamu malam ini. Hanya beberapa meja terisi. Meja vintage, dari kayu yang sudah kehilangan warna. Bangku-bangku tua, dengan bantalan karet busa. Berada di sebuah Kawasan perumahan yang asri, café ini biasanya ramai justru pagi waktu sarapan atau sore sehabis jam kantor. Sekarang jam menunjukkan pukul 20.00.

“Tapi surat-suratku sampai? Maksudku, kau terima.?”

“Tentu aku terima. Tapi memang karena kelelahan sehabis kuliah atau membaca di perpustakaan, surat itu jarang aku buka. Kubiarkan saja di atas meja dan kalau sudah menumpuk, aku sisihkan ke laci.”

“Sama sekali tidak sempat baca?”

“Kau kan tahu program S2. Kami hanya punya waktu maksimal enam semester. Kalau tidak selesai, bea siswa habis, mau membiayai pakai apa? Ya pasti sibuk apalagi masa penyesuaianku kurang lancar.”

“Tapi malah sempat pacaran sama orang sana.”

Dian terdiam. Bayangannya kembali terseret jauh ke belakang. Ke sebuah kampus, dengan bangunan-bangunan dan taman yang eksotik, ruang kuliah, perpustakaan yang luas dan lapang, jalan-jalan yang bertabur daun ketika musim gugur, musim yang dingin dan bersalju, seorang lelaki yang tersenyum manis dan menyapa hangat. Ah..

“Awalnya hanya teman ngobrol di kantin kampus. Bertemu tidak sengaja. Kemudian ngobrol..Aku memang salah di saat seperti seharusnya aku mengingat kamu. Seandainya aku membaca surat-suratmu..”

“Masa lalu. Pada saat mengalaminya aku merasa sakit hati. Tapi sekarang, entah apa ada gunanya aku memikirkannya.”

“Aku tetap merasa bersalah.”

“Aku kira tidak ada gunanya.”

***

Budi lalu mengingat-ingat tahun yang menyedihkan itu. Sambal mengajar sebagai asisten dosen dia harus membagi waktu dengan mengajar di beberapa kampus untuk menghidupi diri.

Status asisten tidak cukup untuk membayar kontrakan dan makan di Ibu Kota yang sering dikatakan lebih kejam dari ibu tiri. Naik sepeda motor ke kampus yang satu dan lainnya, kadang mengajar di tempat kursus persiapan masuk perguruan tinggi, namun dia tidak mengeluh karena ada orang yang selalu memberi semangat. Meskipunn dia mengetahui gelembung harapan yang tiap hari dipelihara justru meletus saat dia mengira akan melambung ke surga.

Budi memandangi wajah Dian. Sudah ada keriput. Rambutnya pun satu-dua sudah berwarna putih. Sudah ada uban. Wajar usianya sudah lebih 50 tahun, memiliki anak yang sudah beranjak dewasa. Tetapi dua matanya yang agak sipit, hidungnya yang mangir, dan bibirnya yang seperti selalu hendak tersenyum, membuat daya tariknya tidak pernah hilang, di matanya.

“Bagaimana anak-anakmu?”

“Mereka baik-baik. Yang sulung sudah bekerja dan kuliah hampir selesai. Aku sebenarnya ingin dia menikah saja daripada berteman dekat dengan anak lelaki tetangga. Kau tahu sendiri di sana anak-anak muda kadang ingin hidup serumah saja. Ada komitmen dan si lelaki bertanggungjawab tetapi aku tidak suka. Malu kalau bertemu sesama warga Indonesia. Apalagi sekampung. Apa kata mereka nanti. Aku akan terus membujuk Joseph agar mau menikah. Soal agama terserah merekalah.”

Budi terdiam. Kalau saja kau menikah denganku, hal seperti ini takkan terjadi. Anak-anak harus memahami dan menjalankan agama dengan benar, tidak sembarangan menerjemahkan kehidupan hanya berdasarkan baik buruk pikiran manusia. Aku takkan rela anak perempuanku hidup serumah tanpa menikah, katanya dalam hati.

“Della? Masih kuliah?”

“Dia bekerja part time sambil kuliah. Dia mau punya uang sendiri, tambahan jajan yang aku beri. Di restoran sih seminggu tiga kali. Uang tipsnya lumayan, tapi aku mengingatkan dia untuk tidak melupakan pelajaran di kampus. Kadang uang membuat anak-anak tergoda untuk berhenti kuliah.”

“Dion masih sekolah menengah ya?”

“Si Bungsu ini yang membuat akan bisa bahagia. Dia sayang ibu, aku minta tolong apa saja dia mau. Bahkan manja sekali, minta dipeluk. Kalau pergi selalu minta izin. Ah Dion, pelita hatiku. Mungkin karena anak laki-laki kan memang cenderung dekat dengan ibunya. Aku merasakan betul itu.”

Budi menerawang jauh. Dian pasti akan bertanya tentang anak-anakku. Apa yang harus aku katakan?

“Aku tahu yang kau pikirkan. Aku tidak akan bertanya tentang anak-anakmu yang ikut Santi. Mudah-mudahan kalian masih bisa berkomunikasi dengan baik sebab anak-anak membutuhkan curahan cinta, kasih sayang dari kedua orangtua mereka. Bukan hanya ibu atau bapaknya saja.”

Pendapatan yang kecil membuat Budi tidak bisa memenuhi kebutuhan Santi, istrinya dulu, yang terbiasa hidup serba berkecukupan. Hanya 10 tahun mereka berumahtangga dan pada puncaknya harus bercerai. Dua anak mereka, Wahyu dan Rita, tinggal bersama neneknya di Bandung. Tinggal di rumah besar, dalam keluarga yang relatif makmur walaupun juga pegawai negeri, karena bekerja di kementerian yang “basah”seperti mertuanya dulu.

“Terkadang cinta tidak bisa menutupi realita. Aku hanya bisa memberikan mereka sepatuh Bata, istriku ingin mereka menggunakan Nike agar tidak malu kalau ke rumah sepupunya. Ingin agar mereka seminggu sekali makan di KFC atau McDonald. Sulit bagiku memenuhinya.”

”Aku banyak mendengar cerita tentang keluargamu dari Mirna. Aku cukup banyak tahu..”

“”Memang kami sering bertemu di kampus. Nasibnya juga kurang baik ya..”

“Kira-kira sepertimu juga walau dengan keadaan yang berbeda.”

Ada senyum di wajah Dian. Kehidupan pahit seseorang kadang menyenangkan untuk dibayangkan. Bisa jadi juga dia merasa senang bahwa Budi tidak sendirian bernasib buruk dalam perkawinan.

“Kau membayangkan apa kok tersenyum ?”

“Bukan apa-apa. Dulu semasa kuliah, ketika kita muda, kehidupan rasanya senang semua, tidak ada kesusahan. Nilai ujian dapat D juga tidak masalah, tidak bikin pusing. Saking banyaknya rasa senang, sengsara sedikit kita anggap biasa. Ternyata di kehidupan nyata, kebahagiaan itu  kadang terasa jauh. Sebuah kemewahan. Membayangkan  wajah teman-teman dulu yang selalu ceria, senang rasanya. Menghibur hati walau zaman itu tak bisa kembali.”

“Senyummu itu yang dulu membuatku jatuh cinta. Bahkan sampai sekarang,”kata Budi, memandang mata Dian.

“Berhentilah bergombal. Aku sudah tua. Aku tinggal jauh. Aku memang menyukaimu. Tetapi kita terlalu berbeda sekarang.”

“Justru kita sama. Kau sudah pisah dengan suami. Aku tidak beristri. Dan yang terpenting, kita masih saling menyukai. Betul kan?”

Dua cangkir  sudah kosong. Kentang goreng, roti lapis, tinggal sisa-sisa. Ada musik lamat-lamat dari meja kasir. Malam berangsur larut.

“Sudah malam. Nanti portal dikunci dan mobil tidak masuk. Aku kira kita mesti berpisah. Besok atau lusa kita ngobrol lagi.”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku?”

“Aku kira kau tahu apa jawabanku?

“Kau tidak perlu menjawab sekarang. Pikirkanlah.”

“Kita cukup bertemu saja. Melepas rindu dan selesai.”

“Aku ingin lebih. Aku ingin berbahagia di hari tua sampai aku menutup mata kelak. Dan itu hanya bisa terjadi kalau aku hidup bersamamu.”

Dian sempat tersentak. Ada sesuatu yang seperti meninju hatinya. Dia pun mungkin berharapan sama. Tetapi begitu banyak rintangan.

“Kita bicarakan lain kali. I love you,”kata Dian sambal mencium pipi Budi. Lalu mengemasi tasnya, beranjak ke kasir, dan membayar hidangan yang mereka santap. Selalu begitu. Euro memang lebih mahal dari rupiah.

“Jangan pernah lupa, aku selalu menyayangimu, “ balas Budi.

“Aku tidak bisa mengantarmu,” kata Dian lagi. Lalu dia bergerak ke halaman parkir pusat kuliner itu. Tidak ada perpisahan yang romantis seperti layaknya antara dua orang (bekas) kekasih, yang baru saja melepas rindu setelah begitu lama tidak bertemu.

Malam terasa dingin, walau angin bertiup tidak begitu keras.

oOo

Ciputat, 09072020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru