Wednesday, May 22, 2024
Home > Cerita > Malam Semakin Dingin (4),   Cerpen Hendry Ch Bangun

Malam Semakin Dingin (4),   Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Malam Semakin Dingin. (islampos.com)

Kepulangan Dian menyisakan kekosongan dalam rongga hati Budi. Entah kenapa. Setelah mendapat banyak kehangatan, setelah rindu seperti terlunasi atas mimpi bertahun-tahun, setelah harapan seperti menjadi nyata, kini lenyap begitu saja.

Terus terang dia malas berkomunikasi karena konteksnya pasti sudah berbeda. Aku di sini sendiri, engkau di sana bersama keluarga, termasuk suamimu tercinta. Apalagi Budi mengenal Bowo cukup baik, dan dia tidak ingin berkonflik dengannya.  Budi menyadari waktu tidak berpihak kepadanya, sejak dulu.

Budi mengingat kejadian kira-kira delapan tahun lalu, yang juga sempat dia tuliskan menjadi sebuah cerita pendek di buku hariannya, yang tersimpan rapi di meja kerjanya. Dia membuat cerpen itu dengan membuat perubahan di sana-sini untuk menyamarkan identitas tokoh-tokohnya agar tidak diketahui terutama oleh teman-teman lama. Dia juga mengubah setting dan latarnya.

 

“Pulanglah. Malam sudah larut.”

“Aku masih ingin bersamamu. “

Setiap kali hendak berpisah, setiap kali pula rasa enggan mencegahnya.  Untuk apa pulang? Pertanyaan itu bergaung di benak Budi. Iya, untuk apa pulang. Bukan kah di rumah yang menemanimu hanya sunyi?  Nonton televisi, hanya matamu yang tertuju ke layar kaca, kata suara hatinya. Betul. Kerapkali Budi menonton dirinya sedang menonton televisi. Sosoknya memang berada di kursi malas dan matanya mengarah ke kotak yang mengeluarkan suara dan gambar itu. Tapi hatinya tidak di sana. Hatinya mengembara kemana-mana. Dan kebanyakan ke masa lalu. Lebih khusus lagi ke seorang wanita yang telah meninggalkannya bertahun-tahun lalu.

 Maryam pergi meninggalkan Budi dan dua anaknya di usia yang relatif muda, 45 tahun. Tubuhnya yang semampai masih belum ditimbun lemak. Rambutnya yang ikal dan agak keriting, belum lagi beruban. Kulitnya masih kencang dan belum disusupi keriput. Gigi putihnya yang suka tertawa, masih lengkap. Ah, betapa aku kehilangan. Jiwa dan raga. Sifat periang, sifat manja, sifat merajuk, yang menjadi kombinasi sifat yang membuat Budi sulit melupakan istrinya itu. Kehangatan tubuh yang memahami hasrat tiap kali Budi ingin mencumbu dan berbagi kasih, tidak kalah membuat Budi sempoyongan. Bersama istri, dulu Budi sering menjalankan fantasi-fantasi yang mereka nikmati tanpa ragu, penuh sensasi, dan memunculkan selera yang tak pernah berhenti.

Sampai berpekan-pekan, berbulan-bulan, dan tahun-tahun pertama, Budi suka membohongi diri bahwa Maryam telah pergi dengan memabukkan diri. Sepulang kerja dia membeli bir, mengurung diri di kamar, lalu kehilangan kesadaran, dan tertidur. Kadang bersama teman-teman dia mampir di kafe atau warung, untuk minum sambil mendengarkan musik yang keras. Tetapi betapapun dia berusaha untuk menghilangkannya, itu tidak mudah. Maryam telah menjadi bagian dirinya, belahan jiwa, yang mungkin bisa lepas jika dia sendiri sudah kehilangan jiwa, mati.

Kerinduan membuat Budi membayangkan untuk ikut mati dan bisa hidup kembali bersama dengan kekasih hatinya itu. Dia membayangkan kapan saja dia mau, dia bisa bersama Maryam. Setiap saat tanpa putus, apalagi konon di alam baka kehidupan kelak abadi selamanya. Padahal saat hidup bersama setelah ikatan perkawinan menyatukannya,  cinta Budi kepada Maryam biasa saja. Dia cinta, sayang, tetapi tidak begitu tergantung sekarang. Kalau istrinya bertugas keluar kota, atau Budi yang pergi beberapa hari, kehilangannya tidak terasa. Mungkin karena waktu itu, betapapun lama berpisah tokh mereka akan bertemu dan dapat berkasih mesra.

Tidak seperti sekarang, tidak bertemu berakhir dengan tidak bertemu. Tidak akan ada pertemuan lagi, tidak bisa bersentuhan secara fisik.  Maryam sudah di dunia lain. Dunia mereka berbeda. Berpisah untuk selamanya. Serindu apapun, tidak ada obatnya, tidak ada jalan keluar. Mengingat ini maka rasa frustrasinya akan bertambah. Kesedihannya memuncak.

Bertahun-tahun dilanda duka yang mendalam, Budi tidak lagi tahu harus berbuat apa. Bertemu dengan wanita manapun, dia tidak tertarik. Bisa berkenalan, bisa ramah, bisa tersenyum, berjalan bersama ke suatu acara. Tetapi usahanya menjadikan itu sebuah peristiwa yang akan membuka lagi   kotak cinta yang tertutup rapat, sulit sekali. Susah untuk klik, susah nyambung. Yang menambah repot, Budi percaya pada cinta pada pandangan pertama.  Kalau melihat seseorang dan hatinya tergerak, Budi yakin wanita  itulah yang bisa membuat dia bergeser dari posisi nol. Bila tidak, sejauh apapun didorong, dengan cara  apapun, dikompori oleh siapapun, tak lama hatinya akan kembali ke titik awal. Tidak ada apa-apa. Hampa….

Budi sedikit terhibur ketika dia ikut-ikutan tergabung dalam media sosial. Mulanya agak apriori karena dia tergolong malas berhadapan dengan komputer seperti laptop yang dimiliki dua anaknya yang tengah kuliah. Tetapi karena di hampir semua pertemuan dia didera informasi yang sama, dan dengan maksud dapat berkomunikasi lagi dengan teman-teman lama, semasa SMP, kuliah, rekan sekampung, perkumpulan penulis, alumni pelatihan, outbound dsb. Tentu saja lalu, orang-orang yang pernah masuk ke relung hatinya, sebelum pacaran dan menikah dengan Maryam, juga  ada di sana. Ada Wati, Widya, Yulianti,  Fitria, Susiana,  atau teman dekat seperti  Rini, Irma, Novianti, dan…..Dian.

Kadang dalam sepi yang menjepit dan menyesakkan hatinya, memandang foto-foto masa muda, sedikit memperluas rongga pernafasannya. Adegan-adegan kecil, menerbitkan senyum. Momen-momen saat dia beranjak dewasa, mengenal cinta, terpedaya, patah hati.. ha..ha..ha.. ternyata banyak peristiwa yang dia lewatkan karena terlalu sibuk mencintai Maryam. Hatinya lebih ringan. Ya ternyata hidup tidaklah terlalu sempit. Ada hal lain di luar sana. Kalau selama ini dia merasa sendirian, kini Budi sudah sadar bahwa ada banyak orang lain yang dekat dengan dia, di masa lalu maupun di masa kini. Dan mereka itu sebenarnya peduli, memberikan perhatian, yang selama ini kurang dia hiraukan.

Tentu saja tidak semua tokoh yang menjadi pemeran utama dalam tonggak perjalanannya ada di media sosial itu, tetapi sebagian besar khususnya temannya semasa SMA dan kuliah, ada. Berbincang dengan mereka ada rasa nyaman, rasa dekat, dan perasaan hangat. Dia coba mencari nama Wati, gadis pertama yang dia cium, waktu itu sama-sama kelas 2 SMA.  Kalau saja ‘bertemu’ lagi, Budi ingin menggoda dan menanyakan peristiwa itu, setelah 30 tahun lebih. Apa pengaruh peristiwa itu   bagi kehidupan si gadis yang sebenarnya pemalu ? Bagi Budi sendiri, peristiwa itu membuat dia tidak lagi dianggap ‘ketinggalan zaman’ oleh teman-temannya, yang tidak tahu bahwa dia menenggak satu-dua teguk minuman keras agar keberaniannya muncul. Yang aneh, setelah peristiwa ciuman itu, mereka tidak pacaran dan hanya berteman biasa. Sebab sebenarnya orang yang disukai dan diincar oleh Budi adalah Ita Purnama yang tinggal di Matraman. Dimana dia sekarang? Lalu terbayanglah gadis dengan hidung mancung, berdada busung, yang senyum lesung pipitnya membuat Budi jatuh hati. Hanya waktu itu, dia tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta dan kesempatan hilang begitu saja..

Ingatannya beralih ke Widya, gadis penari yang sempat jadi pacarnya beberapa saat. Gadis manis yang pentas di sana-sini untuk menambah uang kuliah dan membuat Budi cemburu habis dan merasa tidak mampu menanggung derita. Dengan kalap dia memutuskan hubungan walaupun sebenarnya adik kelasnya itu berkeras dia setia, seperti peran  Dewi Shinta yang kerap dia lakoni, tokoh yang tetap menjaga kesucian walau tidak dipercaya suaminya. Aku terlalu sensitif, tidak percaya diri, padahal tidak ada bukti yang aku miliki saat menuduhnya. Barangkali itu pula yang dirasakan Rama saat menerima kembali kedatangan Shinta yang dibebaskan Hanoman dan pasukannya dari penjara istana Rahwana bertahun-tahun lamanya.

“Aku menunggumu dan kau pergi begitu saja. Aku marah. Dan kamu tetap tidak merasa bersalah,” kata Widya, ketika mereka kembali berkomunikasi. Waktu itu Budi bertanya usia anak hasil perkawinan Widya dengan suaminya sekarang. Dia menyesal menanyakan itu. Sebab Widya menikah lima tahun setelah Budi menikah,  yang dia tidak diketahui karena tidak diundang. Herman lalu merekonstruksi keputusannya dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah harus meminta maaf atau membiarkannya begitu saja.

“Aku ingin menebus dosa, kapan kita bisa bertemu?”

“Kalau sudah ketemu waktunya akan aku sampaikan.”

“Kalau perlu ajak anakmu. Jangan suami, nanti bicaranya nggak enak. Setelah kita ketemu, boleh juga sih aku ngobrol dengan suamimu..”

“Iya, nanti aku pikirkan deh..”

+*+*+*

UPAYA melenyapkan bayangan Maryam dari kepalanya kadang berhasil kadang tidak. Bila sedang asyik bercengkerama dengan teman lama, sejenak dia bisa menyisihkannya. Tetapi ketika malam semakin malam dan dia terkurung dalam kesendirian, di kamar tempat dia tidur seranjang dengan istrinya lebih dari 20 tahun, wujud Maryam seperti kembali. Apa yang harus kulakukan? Budi bertanya pada diri sendiri.

“Tidak usah terlalu bersedih. Dia sudah berbahagia di alam sana. Kamu setiap hari mendoakannya, kuburannya setiap bulan kamu ziarahi, anak-anak kamu rawat dengan baik, dan sampai sekarang kamu belum beristri. Kurang apalagi pengabdianmu?,” kata rekan-rekannya. Budi membenarkan, tapi dia seperti tak berdaya.

“Cobalah mencari orang lain. Atau kami yang mencarikan,” kata iparnya, adik ibunya, adik bapaknya, dan bahkan teman di kantor.

“Soal maut, jodoh, rezeki itu di tangan Tuhan. Dan aku masih percaya itu,” ujar Budi agar dia tidak lagi diganggu pertanyaan sejenis.

Dalam hati Budi juga ingin lepas dari sepi, ingin punya orang yang bisa diajak bicara di malam yang sunyi, di saat gembira, untuk mendiskusikan berbagai hal urusan rumah tangga, anak-anak, dsb. Namun dia kurang berinisiatif, sebagaimana sifatnya selama ini. Kalau belum ada “sinyal” , dia takkan berani mendekati seorang perempuan. Dia harus yakin betul bahwa wanita itu menyukainya sebelum maju untuk menyambut cintanya. Dia bukan tipe ayam jago yang berkokok untuk menunjukkan kejantanan di hadapan betina yang ditaksir.

Dalam keadaan itulah tiba-tiba muncul  Dian. Budi tidak pernah mengategorikannya sebagai pacar semasa mereka kuliah dulu, karena memang tidak pernah ada hubungan khusus selain sekadar teman.  Dian pernah mampir di hati Budi walau sejenak, bermula dari kekagumannya pada intelektualitas anak diplomat ini. Gadis yang lama sekolah di luar negeri ini  selalu menjadi pemimpin rekan-rekannya kalau ada tugas membuat paper dari dosen, namun rendah hati. Dia periang dan berteman dengan siapa saja. Rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kampus sering menjadi tempat istirahat rekan mahasiswa yang menunggu kuliah sore. Laki-laki dan perempuan datang ke sana.

Suatu kali Budi pernah datang untuk sekadar bertamu, dia disambut ramah. Ngobrol sebentar, tapi kemudian dia jadi canggung karena ada teman mahasiswa lain yang datang: untuk menanyakan rencana belajar bersama. Dia tidak enak hati. Lalu permisi. Di kesempatan berikutnya, mereka asyik bincang-bincang, tiba-tiba telpon berbunyi dan Dian harus pergi. Di kampus, sama saja. Terlalu banyak “figuran” yang membuat Dian susah diajak ngobrol berdua padahal hati Budi sudah tertambat padanya.

Budi lalu melampiaskan hasratnya dengan membuat cerpen, puisi, di majalah dinding dan majalah kampus.  Karena beberapa kali dia tulis “Buat D” maka orang bertanya-tanya siapa gerangan orang yang dimaksud. Hanya kepada satu teman akrab Budi membocorkan rahasia itu. Gawatnya, tidak lama kemudian hampir semua teman di jurusannya tahu bagaimana Budi mendambakan Dian, mahasiswi jurusan lain. Dan betul juga, akhirnya sampai ke telinga Dian.

“Terima kasih ya puisinya. Aku suka,kok,” kata Dian sambil mengedipkan mata, ketika mereka bertemu dekat perpustakaan yang menjadi tempat favoritnya. Budi salah tingkah. Dia sungguh cangggung melihat kegenitan Dian.

“Iya, itu untuk kamu. Mudah-mudahan tidak ada yang tersinggung,” kata Budi

“Tidak apa-apa. Anto memang cemburuan, tapi dia kan nggak ngerti puisi,” kata Dian, menyebut nama yang diketahui kemudian oleh Budi, adalah pacar Dian. Seketika ciutlah semangat Budi, ternyata memang sudah ada lelaki di hati gadis pujaannya itu. Budi patah hati, padahal tidak pernah menyatakan cinta secara langsung dan terbuka.

Lalu mendadak di jejaring sosial, Dian menyapa dengan hangat setelah mereka tersambung sebagai teman.

“Apa kabar penyair? Masih mencintaiku?”

Tentu saja Budi terkejut.  Jantungnya berdegup keras. Apa maksudnya? Sungguhan atau main-main.

“Masih seperti dulu. Cinta kan tidak bisa hilang. Tapi konteksnya bisa saja tidak sama,” balasnya dalam percakapan elektronik yang aneh itu.

“Ha..ha..ha.. Bikinin puisi dong. “

“Apa suamimu masih nggak ngerti puisi. Aku takut nanti diadukan ke polisi,” kata Budi becanda.

“Tenang aja. Belanda masih jauh…”

+*+*+*

DALAM percakapan melalui komputer, berupa chatting maupun email, Dian tidak pernah mau membicarakan suaminya. Budi yang berusaha mencari tahu, agar tidak berada dalam suasana yang terjebak, gagal memperoleh informasi yang dia inginkan. Di jejaring sosial, Dian hanya memberikan informasi minim. Dia hanya menyebut diri masih menikah, memiliki tiga anak, dan kini dosen di kampus mereka dulu.

“Tidak usah khawatir. Kita ini dua orang dewasa yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi kamu nggak perlu cemas,” kata Dian, saat Budi menyatakan rasa tidak enak hati kalau-kalau pertemanan mereka bisa merusak rumah tangga Dian.

Awalnya mereka bertemu di kampus, kebetulan Budi sebagai orangtua mahasiswa diundang untuk sebuah acara anak bungsunya. Dia lalu sekalian membuat janji pertemuan dengan Dian, mengajak makan siang. Dari rencana hanya bertemu sejenak, sepanjang siang hingga sore itu mereka habiskan seperti tidak ada batas waktu. Namun Dian menolak diantar ke rumah.

“Aku naik taksi saja,” katanya. Lalu turun di pemberhentian taksi, dan melambaikan tangan ketika dia menemukan mobil yang bisa membawanya pulang. “Sampai besok ya..”

Hari-hari berikutnya berlangsung normal. Karena kesibukan masing-masing Budi dan Dian jarang bertegur sapa di media sosial. Mendadak suatu malam tidak lama sepulang dari kantor, dering telpon seluler Budi  berbunyi dan di ujung sana terdengar suara isak tangis berkepanjangan.

“Hei, ada apa. Tenang, tenang, Coba ceritakan apa masalahnya,” kata Budi.

“Kalau kamu sayang aku, datang. Aku tunggu sekarang,” kata Dian sambil menyebutkan nama sebuah pusat pertokoan dan restoran.

“Oke, aku pasti datang. Tunggu 20an menit ya,” kata Budi dengan cemas. “Sabar ya, aku sampai kira-kira lima menit lagi,” katanya ketika jaraknya semakin dekat. Dia sangat khawatir membayangkan Dian yang rasional itu nanti melakukan hal yang membahayakan.

Rupanya Dian sempat hendak bermobil ke rumah Budi, tetapi karena macet dan   semakin tidak bisa mengendalikan emosi, dia pun membelokkan mobil ke tempat pertemuan sekarang yang berada di tepi jalan tol. Lagipula dia merasa tidak enak hati.

Budi langsung memeluk Dian ketika mereka bertemu di tempat parkir yang bercahaya agak redup.

“Kita ngobrol di sini atau sambil minum?,” tanya Budi. Dian akhirnya memilih bergerak ke arah kafe setelah memperbaiki riasan wajahnya. “Aku akan bercerita biar kamu tahu. Aku tidak kuat lagi menutup-nutupi..”

Jakarta penuh bencana rumah tangga, tetapi Budi menganggap itu hanya berita biasa ketika tidak ada kaitannya dengan dia. Tetapi ketika mendengar seorang sahabat mengalaminya, barulah dia tahu betapa dekat masalah itu dengan dirinya. Betapa tragis kadang-kadang. Dan hati pun seperti ikut tersayat-sayat, menyayangkan, menyesalkan mengapa itu harus terjadi. Sama seperti membaca berita kematian yang mungkin hanya dianggap sekadar angka-angka statistik. Tetapi ketika kita yang mengalaminya, baru terasa betapa berpengaruhnya kehilangan seseorang itu bagi kehidupan kita.

Dalam hal DianBowo, suaminya berselingkuh dengan sekretarisnya. Lelakinya bahkan menyewakan sebuah rumah. Dia terkejut karena selama ini, keengganan berhubungan intim dikira Dian karena suaminya yang bekerja di bisnis retail itu sudah mengalami penurunan kemampuan, padahal sebenarnya sudah tidak berselera. Mungkin karena tidak lagi berkulit mulus dan bersolek. Dian syok, kehilangan kepercayaan diri. Dia berusaha mengatasi dengan memberi maaf namun meminta suaminya berjanji  memutuskan hubungan. Awalnya disetujui, tapi lalu dilanggar. Dan itu berkali-kali. Tetapi untuk bercerai, Dian memikirkan anak-anaknya yang sudah besar.

“Saya bersedia kok jadi teman curhat. Its’okey,” kata Budi.

“Terima kasih ya. Aku tahu kok seniman itu berjiwa besar,” kata Dian, sambil memegang kedua tangan Budi dengan hangat. Mungkin Dian masih membayangkan betapa dulu Budi tidak pernah marah ketika cintanya tidak bersambut dan tetap mau membantu dia yang tengah kesulitan.

“Ah, biasa saja. Aku senang bisa membantu teman,” balasnya.

                                                +*+*+*

WALAUPUN bertekad tidak meminta pamrih, kadang ada keinginan liar dalam diri Budi bila sedang ngobrol dengan Dian. Saat  matanya basah menceritakan dukanya, Dian di mata Budi begitu cantik. Wajah yang dulu dia puja,  yang dia dambakan, dan gagal didapatkan. Sekarang seperti tersaji di depan mata. “Terlambat 25 tahun pun tidak apa-apa,” kata hatinya yang lain. “Cintaku tidak pernah pudar…”

Hari demi hari pertemuan membawa Budi dan Dian pada kedekatan yang relatif.  Dian merasakan perhatian besar orang yang masih mencintainya, dan bisa mencurahkan segala gundah gulana. Budi medapatkan kehangatan yang dibutuhkan untuk mengimbagi kesepian yang mendalam karena ditinggal istri yang dicintainya.  Mereka bertemu di tempat-tempat umum, ngobrol, tentang apa saja yang menyenangkan, tanpa bergerak lebih jauh.

“Aku tidak akan merebut milik orang. Dan lagi pula aku tahu kamu masih mencintai Bowo. Dan faktanya kamu juga istri Bowo,” kata Budi. Maksudnya tentu saja selain menyadarkan Dian, juga menyadarkan dirinya sendiri, agar tidak macam-macam.

“Aku mungkin istri Bowo. Tapi itu hanya status, karena dia sudah menikah dengan orang lain. Dan yang pasti, aku tidak lagi mencintainya.”

Maka mereka kerap menghabiskan waktu berdua, di tempat dimana mereka suka. Keduanya yakin itu bukan perselingkuhan, hanya pertemanan yang mesra. Paling tidak sejauh ini. Mereka membatasi diri untuk hanya sampai mencium pipi dan tidak lebih. Meski mata mereka penuh harapan.

“Pulanglah. Besok kita bertemu lagi. Perasaanku sudah tenang…”

“Betapa aku selalu mengalah padamu. Biarlah. Aku mencintaimu.”

“Aku tahu. Aku juga mencintaimu.”

 

Budi tersenyum-senyum membaca cerpen yang dia tulis beberapa tahun lalu. Seperti pengulangan saja kejadiannya. Tidak ada yang berubah. Seperti cintanya pada Dian.

Malam sudah larut. Langit dihiasi awan gelap, pertanda sebentar lagi hujan. Musim semakin tidak jelas, apakah masih penghujan atau telah masuk kemarau.

Tapi Budi suka hujan, apalagi kalau itu malam dan di langit ada bulan. Dia tidak tidak peduli akan kebasahan atau tidak. Kalau sekadar gerimis, dia akan tetap berjalan mengikuti aspal. Dibasuh hujan, dia mendapatkan kesegaran.

Ah, malam terasa semakin dingin..

oOo

Palmerah, 18 April 2012

Ciputat, 18 Desember 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru