Thursday, November 26, 2020
Home > Cerita > Istriku Hobi Berkebun,  Cerpen Hendry Ch Bangun

Istriku Hobi Berkebun,  Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Istriku suka berkebuh, cerita pendek Hendry Ch Bangun. (idekunik.com)

Survei membuktikan sejak pandemic Covid 19 banyak ibu rumah tangga menjadi ahli berkebun, khususnya bunga-bungaan. Semula Herman tidak begitu percaya saat membaca berita di salah satu media online tersebut. Di rumah, istrinya yang terkena program work from home, biasa-biasa saja. Sehabis absen, atau zoom meeting, paling yang dilakukan membaca ataupun menonton video musik atau drama Korea.

Tetapi pada suatu sore, ada yang berbeda di rumah. Begini ceritanya.

Karena kebetulan hari itu dia kena piket ke kantor, sebuah intansi pemerintah, Herman sudah pergi pada pagi hari, naik kereta api listrik yang stasiunnya tidak jauh dari rumahnya. Seperti dianjurkan, dia pakai topi, masker, dan baju lengan panjang agar tidak mudah ketularan.

Sesampai di kantor dia kebanyakan duduk-duduk saja dan siap untuk diberi tugas oleh atasannya. Catat sana, catat sini. Kadang-kadang telpon atau video call dengan orang daerah yang berurusan dengan instansinya.

Tidak terasa hari sudah siang, dia pesan makan lewat aplikasi. Tidak mau ke warung yang jauhnya sepelemparan batu yang harga makanannya pasti lebih murah. Dia khawatir ada kerumunan dan tidak ada protokol kesehatan dalam pengaturan kursi, takut pelanggan lain tidak memakai masker, dan sebagainya.

Makan sendiri di meja, tentu saja terasa aneh karena biasanya ruangan itu ramai saat istirahat seperti ini. Dia juga melihat tanda X di meja dan kursi agar kalau ada sejumlah orang, tetap mematuhi larangan yang dibuat. Bahkan ruang tamunya sudah dipasang “dinding” dari bahan plastik sehingga kalau berbicara maka bila ada cipratan, butir-butirnya terhalang pembatas itu. Di bawahnya ada lubang sehingga kalau ada dokumen yang ingin diperlihatkan, tinggal disodorkan untuk dicek, tidak ada sentuhan fisik.

Pembatas itu sudah lazim di berbagai tempat pelayanan seperti kasir bahkan restoran yang mejanya kecil jadi walau jarak hanya satu meter, dijamin steril dari cipratan yang mengandung bakteri atau virus. Sungguh hal yang tidak terpikirkan beberapa waktu lalu, kini nyata di depan mata dan semua harus menyesuaikan diri.

“Pak, mau minum kopi,” kata Rudy, petugas umum menawarkan saat Herman selesai makan siang dan memasukkan perangkat makan istannya ke tempat sampah dekat dapur.

“Jangan kopi. Saya bawa serbuk jahe merah ini. Seduh ini saja,” katanya, sambil menyerahkan satu saset lain untuk Rudy.

Sejak pandemi, Herman mulai akrab dengan minuman herbal baik dalam bentuk kemasan maupun tanaman asli yang dia konsumsi. Dia rutin minum rebusan daun binahong, lalu kadang daun salam, tidak lupa juga jus tanaman seledri.

Nah khusus jahe, selain bagus untuk menguatkan tulang konon baik agar tenggorokan tetap hangat. Dia jadi lebih pede. “Lebih murah mencegah daripada mengobati,” ujarnya kalau ada yang bertanya mengenai kegemaran barunya.

***

“Tumben berwajah ceria. Ada apa. Naik gaji,” kata Herman kepada istrinya yang sore itu tampak bersemangat.

“Nggak apa-apa sih. Tapi coba lihat ke samping yuk,” ajak istrinya.

Melepas sepatu dan  masih mengenakan kaus kaki, Herman mengiringi istrinya ke sebelah rumah. Sebidang tanah kecil yang luasnya sekitar sembilan meter dan ditanami rumput dan selama ini tidak terpelihara.

Herman terkejut. Bidang tanah yang selama ini terlantar, sudah terlihat rapi. Berjejer aneka jenis bunga warna-warni. Tetapi di salah sisi masih ada juga sejumlah pot yang belum terisi dan beberapa karung plastik.

“Siapa yang mengerjakan ini? Kamu?”

“Ya nggak lah. Aku hanya mengatur. “

“Trus siapa?”

“Itu, Bang Ribut, yang biasanya membersihkan rumput dan tanaman.”

“Bunganya?”

“Ya beli dong. Masak datang sendiri, kan nggak mungkin.”

“Hmmm pasti ke luar duit deh.”

“Nggak banyak kok. Duit dapur tidak terganggu.”

“Bagus juga sih, mata jadi segar kalau bangun pagi, duduk-duduk sambil minum teh, melihat kebun kecil ini,” kata Herman.

“Nah, itu dia. Bagus untuk menghilangkan stress,” balas istrinya sambil tersenyum karena merasa senang karyanya dipuji suami.

“Memang. Asal tidak bikin stress baru karena keluar duit buat beli bunga.”

Herman lalu masuk ke rumah, duduk-duduk di meja makan sambal menikmati sore seperti biasanya. Melihat berita di televisi dan minum kopi yang disajikan bersama setumpuk penganan.

***

“Pap, kasih Siti duit belanja dong, biar dia ke warung beli ikan dan sayur.”

“Lho, kan sudah di Mami semua jatah belanja.”

“Talangin dulu deh.”

“Maksudnya?”

“Iya kemarin itu sudah terpakai. Untuk Bang Ribut seratus ribu. Trus beli bunga-bunga sama pupuk kandang dan pot lumayan juga.”

“Lumayan itu berapa?” Tanya Herman.

“Ehmmm, lima ratus ribu…”

“Busyeeeet. Ini yang bikin stress. Trus nggak ada lagi sisa uang belanja?”

Istrinya hanya diam saja, meskipun dengan wajah separuh cuek sebagaimana biasanya.

“Nanti Mami ganti deh..”

“Mustahil…” kata Herman sambil bergerak ke kamar untuk mengambil uang dari dompet di celananya.

“Nah, ini uangnya. Ingat ya. Jangan belanja bunga lagi.”

“Kalau nggak?”

“Nanti kita rebus atau tumis itu semua bunga untuk makan..”

“Kejaaaaam,”kata istrinya. “Iya deh, iya deh.”

Herman diam saja. Dia tahu itu pasti janji palsu. Dia sudah kenal watak istrinya. Kalau sudah punya mau, pasti sulit untuk diberi nasihat apapun. Maka Herman pun berharap mudah-mudahan Covid 19 segera berlalu, agar istrinya kembali bekerja di kantor dan tidak sibuk mengurusi kebun dan membeli bunga-bunga yang akan menguras isi kantongnya .***

Jakarta, 251020

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru