Sunday, June 20, 2021
Home > Cerita > I Can’t Stop Loving You,    Cerpen Hendry Ch Bangun

I Can’t Stop Loving You,    Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - I can't stop loving you. Cerita pendek Hendry Ch Bangun. (id.pinteres.com)

Sore belum lagi habis, masih ada kemerahan di ufuk langit. Pulang dari bekerja, Budi duduk sambil minum teh di meja makan. Hari ini dia pulang agak cepat karena pekerjaan yang menjadi bebannya sudah diselesaikan karena kebetulan tidak banyak. Mengedit berita-berita untuk diterbitkan keesokan harinya.

Dia kebetulan memegang halaman opini, surat pembaca, dan berita-berita dari daerah yang deadlinenya siang karena dicetak terlebih dahulu. Koran tempatnya bekerja dicetak di percetakan yang belum bisa sekaligus mencetak 24 halaman maka dicetak dua bagian, dan akan digabung ketika bagian halaman utama naik cetak pukul 23.00.

Rumah agak sepi. Anak bungsunya pergi ke luar rumah untuk suatu keperluan. Anak kedua belum pulang dari kampusnya di Depok. Sementara si sulung biasanya pulang sehabis magrib karena kantornya di bilangan Radio Dalam termasuk daerah macet.  Belum lagi kalau pekerjaannya, di sebuah perusahaan periklanan dan event organization, sedang menumpuk kadang bahkan pulang di atas pk 20.00.

Sepeninggal istrinya tiga tahun lalu, Budi hanya tinggal berempat di rumah. Pembantunya hanya datang pagi dan pulang sore, untuk membersihkan rumah, mencuci seterika, dan membuat makanan malam.

Suasana hening, ada angin yang kadang meniup daun. Kadang dia merasa sedang mendapat diri dalam kondisi itu. Pikirannya bisa tenang, seperti hendak menikmati pensiun yang baru akan dinikmatinya tujuh tahun lalu.

Ya kadang jenuh memikirkan pekerjaan. Kadang jenuh memikirkan kemacetan. Kadang jenuh memikirkan keruwetan persoalan politik yang kontroversial karena semakin banyaknya politisi yang tidak tahu diri. Kian banyak pejabat yang tertangkap korupsi. Entah azab apa yang melanda negeri ini karena seolah penyelenggara negara sudah jauh dari cita-cita pendiri bangsa yang penuh keringat dan airmata bahkan jiwa raga.

Ah, percuma saja memikirkan itu semua, katanya dalam hati. Lebih baik fokus ke tugas yang menjadi beban di pundaknya. Lalu fokus ke anak-anaknya agar kelak mereka dapat menjalani hidup dengan baik. Selesai kuliah, bekerja, berkeluarga, dan memiliki anak-anak yang berbakti kepada orangtua. Selesai dan dia akan menjalani masa tua dengan senang.

***

Suara azan baru saja terdengar dari masjid dekat rumah, ketika si sulung mendatanginya dengan berlinang air mata. Agak heran juga Budi mendapati anaknya ini menangis. Sebab Riska adalah anak yang tomboy, kadang seperti tidak perduli pada dunia.

“Ada apa? Kok menangis?,” sapa Budi sambil mengajak putrinya itu duduk di bangku yang ada di hadapannya. “Ayo sini ceritakan. Riska kan sudah besar.”

Ya, anaknya ini sudah berusia 25 tahun, bekerja, dan selama ini tidak pernah cengeng dalam menghadapi pekerjaan di kantor.

“Aku putus sama Dodi,” katanya. “Tadi siang…” dia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.

“Kenapa? Selama ini kan baik-baik saja?”

“Orangtuanya memaksa putus.”

“Lho kok mereka ikut campur. Selama ini hubungan Riska sama orangtuanya bagaimana? Nggak pernah cerita sih..”

“Dodi dijodohkan. Orangtuanya sudah menjodohkan mereka sejak kecil. Nggak masuk akal banget zaman sekarang begitu..”

“Trus Dodinya gimana?”

“Dia sebenarnya tidak mau. Tapi ibunya bilang, lebih baik dia bunuh diri daripada malu kalau tidak menepati janji..”

Budi lalu memeluk anak perempuannya yang sudah dewasa itu.

“Sudah. Riska tenangkan diri saja dulu. Diamkan, tunggu beberapa saat. Nanti waktu yang akan menentukan. Jodoh itu di tangan Tuhan.”

“Iya Pa..”

“Ambil wudhu. Trus salat deh. Berdoa minta yang terbaik..”

Budi sendiri segera bergegas ke masjid. Dia selalu salat berjamaah setidaknya subuh dan magrib untuk saling menyapa dengan tetangga, karena hanya di waktu itulah dia bisa bertemu.

Dia pun jadi galau dan wajah si sulung tidak hilang dari wajahnya bahkan ketika membaca ayat-ayat saat melakukan salah. Ah, seandainya masih ada istriku, tentu dia bisa menjalankan peran itu, katanya dalam hati. Ibunya lebih lancar memberi nasihat sesama perempuan. Sementara dia hanyalah seorang ayah yang sulit menebak-nebak anak gadisnya. Ya itulah nasib hidup sebagai single parent.*

Saat makan malam Budi kembali duduk dengan Riska. Dua anaknya yang lain sudah di rumah. Kalau sempat mereka memang biasa makan bersama sambil ngobrol, meskipun itu sebenarnya jarang terjadi. Malam itu, Budi sengaja mengajak si sulung berdua supaya dia tidak terkurung dalam perasaan yang tidak menentu.

“Riska mau ambil cuti biar bisa tenang?”

“Nggak sih Pa. Masih bisa kerja kok.”

“Iya lah. Sisihkan saja untuk sementara. Usahakan memisahkan perasaan dan pikiran, biar bisa konsentrasi ke pekerjaan. Nggak gampang, tapi kalau fokus ke tugas, mestinya bisa.”

“Iya Pa. Kebetulan lusa Riska ada tugas ke Bali tiga hari. Ada event pertemuan dokter ahli kandungan, trus perusahaan kita ditunjuk jadi event organizer.”

“Sekalian bisa libur deh.”

“Iya Pa. Doain Riska ya,” kata anaknya itu sambil memeluknya. Budi tidak dapat menahan haru, ada tetes air yang hendak keluar dari ujung matanya.

“Pasti Papa doain.”

Dia mendidik Riska dengan keras sejak sekolah karena dia ingin anaknya ini tegar dalam menghadapi dunia dan lingkungan yang tidak menentu. Dari sisi itu dia mampu tetapi rupanya urusan cinta ada persoalan lain.

“Ingat lagu lama. Kalau gak salah liriknya,  they said that time heal the broken heart. Seiring waktu segala kesedihan akan terlupakan. Buka pikiran dan akan ada cakrawala baru sehingga kita dapat melihat dunia lebih luas..”

Budi lalu menonton televisi sebentar lalu masuk ke kamar tidur. Ya, berkaca pada dirinya sendiri waktu memang akan menghapus sedikit demi sedikit kesedihan seperti ketika dia rasakan saat kehilangan istrinya. Kadang masih ada rasa sepi tapi secara umum dia sudah dapat menjalani hidup sebagai orangtua tunggal.

Dari jendela kamar lantai dua dia menikmati malam yang agak terang karena cahaya bulan terlihat di balik pohon alpukat. Langit bersih. Tidak ada bunyi.

Budi lalu mengingat nasihat yang tadi dia sampaikan ke si sulung. Dia ingat potongan lirik lagu dari Ray Charles. Dia cek ke google, judulnya I Can’t Stop Loving You. Dia cari liriknya. Hmmm. Untunglah potong lirik yang dikatakannya tadi tidak lengkap. Sebab artinya akan beda.

They said that time/Heal the broken heart/But time has stoodstill/Since we have been apart.

Budi lalu mencari ke saluran YouTube untuk mendengarkan lagu itu. Lalu dia ingat film “Ray” tentang kehidupan penyanyi tunanetra Ray Charles yang diperankan Jaime Foxx. Dalam kehidupan nyata Ray memang patah hati setelah dia berpisah dengan istrinya yang ikut berjuang saat mereka masih sederhana sampai akhirnya menjadi penyanyi kenamaan. Persis seperti lagunya.

Ah, ujar Budi dalam hati. Sampai saat ini waktu seakan berhenti setelah perpisahan, meskipun itu dikarenakan kematian. Dan lagu itu dia putar berulang-ulang sampai akhirnya tertidur. Waktu seakan berhenti, sejak kau tinggal pergi…

oOo

Medan, 28 November 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru