Thursday, May 19, 2022
Home > Cerita > Malam Semakin Dingin (3) ,  Cerpen Hendry Ch Bangun

Malam Semakin Dingin (3) ,  Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Malam semakin dingin. (pixabay.com)

Sudah beberapa hari ini Dian dan Budi bertemu sehabis senja. Ngobrol, curhat, berbicara tentang masa lalu yang tidak seperti harapan. Apabila menoleh ke belakang terkadang kita menyalahkan masa muda yang telah lewat karena tidak bertindak dengan sistematis. Dijalani begitu saja, tanpa usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Seakan menjalani hari-hari tanpa rencana, sibuk dengan urusan kampus dengan moto buku, pesta, dan cinta.

“Seandainya waktu itu aku lebih artikulatif, lebih yakin dan berani. Tidak seperti pungguk merindukan bulan. Cuma berangan-angan..” kata Budi dalam suatu percakapan.

“Buat apa menyesali masa muda? Sifatmu juga masih sama kok sekarang,” kata Dian sambil menghirupi kopi dengan wajah santai.

“Iya sih. Mungkin latar belakang keluarga juga. Ayahku dominan, kami rata-rata sulit mengekspresikan perasaan.  Beda sama kamu..”

“Kami memang bebas berpendapat. Mungkin karena ayahku dosen dan kami pernah tinggal di luar negeri,” ujar Dian, sambil membayangkan masa kecilnya di   kompleks kampus kenamaan di negeri Paman Sam. Di saat yang sama Budi melamunkan kehidupannya di sebuah jalan kecil, di daerah padat Jakarta, dengan kehidupan keluarga pas-pasan karena ayahnya hanyalah seorang pegawai negeri di lembaga negara yang kering.

“Tapi kalau ditanya sekarang ini, aku sudah lebih berani,” kata Budi sambil menatapi wajah pujaan hatinya, yang di matanya masih lebih jauh cantik dari Dian Sastrowardoyo atau almarhuman Andi Meriem Mattalata. Ya, cinta memang aneh, dia bisa menutupi akal sehat, bahkan menipu mata.

“Maksudmu apa? Buktinya..” tantang Dian.

“Aku sudah berpikir-pikir sejak kemarin. Seandainya saja kau janda, aku siap mengawinimu besok pagi,” ujar Budi dengan santai.

“Mana mungkiiiiin. Aku terikat perkawinan, anak-anakku sudah besar.”

“Itulah makanya kusebut seandainya..”

“Yah, seandainya…seandainya. Tidak ada yang mustahil di dunia ini,” ujar Dian, memberi harapan yang tidak jelas. Lagu “Seandainya Aku Punya Sayap” yang apik dinyanyikan Rita Butar-Butar menyusup ke kepalanya.// Seandainya aku punya sayap/Terbang, terbanglah aku/Kucari dunia yang lain/Untuk apa ku disini//.

Terbang dari realita, itulah yang diinginkan banyak orang. Padahal mungkin, “dunia yang lain” yang bakal didapatkannya bakal lebih buruk. Entahlah kalau urusan cinta, bisa jadi memberi kepuasan meski hidup lebih susah.

“Kau seperti tersenyum,” kata Budi yang mengamati raut wajah Dian.

“Aku membayangkan lagi Rita Butar-Butar. Ah..selalu begitu. Di sana, di rumahku aku suka mendengarkannya di YouTube bila sedang rindu lagu Indonesia,”

“Oh..” Budi diam saja sambil membayangkan ucapannya tadi soal kesediaan menikahi Dian untuk mengisi masa tuanya. Ah, kau terlalu optimistis, ujarnya dalam hati.

Kalau jadi menikah dengan Dian, Budi membayangkan rumahtangga dosen yang setiap hari pergi bersama ke kantor dengan kendaraan umum, menjadi kolega di kampus, dengan ekonomi yang pasti pas-pasan. Tanpa dukungan orangtua Dian yang menjadi salah satu pejabat di kementerian, hidup tidak akan mudah. Maklum pendapatan mereka dari  mengajar saja, atau menulis, atau mengikuti seminar atau ikut penelitian. Aku pasti akan di bawah ketiak mertua, katanya.

“Kau juga membayangkan sesuatu kayaknya..” kata Dian.

“Kalau dulu kita menikah, mungkin cobaanya juga banyak terutama karena kita hanyalah PNS yang bekerja di perguruan tinggi. Duitnya sedikit”

“Tapi kau akan menjadi professor, terkenal..”

“Ah, kita akan sulit membiayai sekolah anak-anak..”

“Nah yang pasti kita akan banyak anak. Kebanyakan baca buku, pusing, pasti lalu  naik ranjang..”

“Ah kau ini.”

“Habis, ngapaian lagi coba. Nonton film mahal, makan di restoran mahal..”

“Kalau kita banyak di rumah, ya bisa juga cepat bosan. Kecuali itu tadi, aktvitas seksualnya banyak..

“Nah, kaaaan. Ah sudahlah, gawat nanti kalau membicarakan itu.”

Budi dan Dian terdiam. Kedunya menatap meja. Kopi sudah tidak lagi hangat.

“Jadinya kapan pulang,” tanya Budi kemudian.

“Minggu depan..”

Pertemuan lalu sunyi tanpa kata-kata. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Malam kian dingin. Dian memikirkan dunia rutin dan membosankan yang akan dijalaninya lagi, Budi memikirkan seandainya, seandainya…

***

Sehabis makan siang Budi sedang asyik memeriksa feature tentang perjuangan sekelompok wanita di desa terpencil untuk membuat posyandu menangani kesehatan anak balita ketika telponnya berdering.

“Budi, aku pulang lebih cepat. Kayaknya kita tidak bisa ketemu lagi..”

“Maksudnya bagaimana. Semalam bilang kembalinya minggu depan.”

“Tadi pagi Bowo telpon. Dia sudah mengubah tanggal tiketku, berangkat sore ini via Istanbul.”

“Jadi perlu aku antar. Aku bisa minta izin..”

“Nggak usah. Aku baru selesai berkemas dan sudah pesan taksi.”

“Lalu?,” Budi masih terkesima.

“Bisa sih kita bertemu di Bandara. Tetapi aku tidak yakin sebab aku bawa dua koper besar, dan begitu sampai harus segera check-in. Tapi coba deh nanti kontak. Oke ya..” Dian memutus sambungan telpon.

Budi jadi berhenti bekerja, pikirannya tidak sanggup untuk mengolah kalimat-kalimat dalam tulisan panjang yang harus dia perhatian dan perbaiki apabila didapati ada kesalahan bahasa. Balon warna-warni beterbangan di udara yang mengisi rongga hatinya tadi pagi, meletus semua. Hatinya mendadak hampa. Berakhir begitu semua kebahagiaa yang mengisi perasaannya dalam dua minggu ini karena mendadak datang hal yang tidak direncanakan.

Hampir jam tiga ketika Budi menerima berita melalui WA di ponselnya.

“Gila panjang sekali antrean untuk check-in, hampir satu jam baru selesai. Kau tahu sendiri Turkish Airline sekarang diminati karena harganya lebih murah dan bisa mampir keluar berwisata di Istanbul. Maaf ya Budi kita tidak bisa bertemu. I love you,” begitu tulis Dian, sambil memberi sticker hati berwarna merah.

“Au revoir. Semoga berbahagia kembali bertemu keluarga,” balas Budi.

Kegembiraanya sudah kempes, tidak bersemangat untuk mengatakan hal-hal yang membuncahkan perasaan. Pergilah, dan seharusnya aku memang tidak boleh memiliki perasaan yang aneh-aneh, pikir Budi. Dua minggu ini aku terlena, terbawa perasaan karena dilanda emosi masa lalu.

Sore itu dia pulang seperti tentara kalah perang. Dan langsung masuk ke kamar tidur mesti mata tidak bisa terpejam..

**

Bandarlampung, 14 Desember 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru