Tuesday, October 20, 2020
Home > Cerita > Ojek Online Cerpen Hendry Ch Bangun

Ojek Online Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Ojek on line.

Hari-hari ini hanya ada 2-3 orang tukang ojek yang duduk-duduk di pangkalan ojek, di pertigaan jalan dekat jalan keluar komplek. Kalau pagi saat banyak warga yang minta diantar, peminat harus menunggu 10-15 menit, berbeda dengan bulan-bulan atau tahun-tahun sebelumnya. Waktu itu selalu ada 5-6 orang yang nongkrong sambil ngobrol atau menonton televisi yang ada di bangunan tempat mereka berteduh.

“Iya, Pak. Teman-teman sudah gabung ojek online. Yang tersisa ya saya ini sama Mamat,” kata Naman, ketika saya sewa untuk mengantar ke stasiun.

“Kadang jadi nunggu juga ya. Dulu, begitu perlu selalu ada,” tambah saya.

“Iya. Cuma ada dua orang, kecuali ada yang mampir ngadem,” katanya.

Menurut Mamat dia dan Naman tidak lagi berebut rezeki dengan tetangganya yang juga ngojek, dengan banyaknya yang bergabung dengan penyedia jasa angkutan online. Sehari minimal dapat lima penumpang, sementara dulu karena pembagian jatah terkadang bisa hanya 3 orang dalam sehari.

“Lumayan sih sekarang. Pagi bisa dapat tiga penumpang, terus siang jemput anak sekolah. Ada aja yang naik,” kata Naman. Para pengojek ini umumnya memiliki langganan khususnya bagi anak-anak sekolah dasar yang diantar pagi dan dijemput siang atau agak sore. Orangtua mereka percaya karena pengojeknya orang yang dikenal, diketahui rumahnya, sehingga tidak ada kekhawatiran anak mereka mengalami kejahatan, sebab pengojek itu sekaligus juga penjaga anak-anak.

Pengojek yang sudah bermigrasi menjadi pegawai ojek online sesekali istirahat di sela kesibukan mereka, di pangkalan ojek. Dilihat dari seragam di helm atau jaketnya ada yang ikut Uber, Grab, atau Gojek. Satu di antara mereka, Muksin, yang sedang nongkrong dan karena temannya tidak ada, suatu saat mengantar saya ke stasiun.

“Enak yang ikut online,” saya tanya. “Bisa narik berapa orang”

“Lumayan, Pak. Minimal 10 sih. Kalau ngotot 20 orang juga bisa,’ katanya.

“Ngotot gimana?”

“Ya, ambil order terus. Kalau muncul di HP, ambil, begitu. Nah, kadang begitu sampai, sudah ada lagi yang nyari,” katanya.

“Banyak dong dapat duitnya.”

“Kan semua ongkosnya untuk kita, Pak. Paling sedikit Rp 100.000 deh. Cuma ya mesti keluar duit buat bensin, makan, pulsa. ”

“Banyak juga ya dibanding di pangkalan,” kata saya lagi.

“Iya, Pak. Soalnya penumpang pasti nambahin, paling nggak yang nggenapin. Kalau sewa Rp 8.000, biasanya dikasih Rp 10.000 nggak minta kembali. Malahan ada juga yang sekalian ngasih Rp 15.000,” katanya. “Terus tiap minggu kita juga dapat komisi, tergantung dari banyaknya ambil penumpang.”

“Lho terus perusahaannya dapat apa kalau ongkos masuknya ke pengojek”

“Mereka dari iklan, Pak. Dari pulsa juga.  Kita kan juga dipotong,” katanya menjelaskan dengan rinci karena saya memang tidak tahu bagaimana sistem keuangan transportasi berbasis aplikasi itu. Saya akhirnya mengerti setelah dijelaskan.

“Jadi setiap hari narik berapa jam?”

“Pagi sampai sore aja, Pak. Lihat kondisi badan. Saya juga nyari yang nggak begitu jauh,” katanya.

Muksin menjelaskan pada suatu saat dia sangat kecapean karena dari Bintaro mendapat order ke daerah Pasar Rebo, kemudian lanjut lagi dengan order ke Tanjung Priok, untuk mengerjar target poin. Dari sini ordernya lalu ke Kemayoran, terus ke Grogol, sehingga dia memutuskan untuk istirahat karena sudah tidak ada lagi order yang mengarah ke Ciputat.

“Kalau sudah begitu, narik besoknya saya nggak mau yang jauh. Dapat duit banyak tapi badan ya nggak kuat juga,” katanya sambil menambahkan order penumpang terkadang memang sampai ke Bekasi.

****

Biro Pusat Statistik di akhir tahun 2016 menyampaikan bahwa banyaknya orang yang bergabung dengan transportasi berbasis aplikasi telah mengurangi jumlah pengangguran, tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya tetapi juga di kota-kota besar di Indonesia.

Paling banyak memang pengojek sepeda motor, yang dengan sekilas mata saja kini sudah tampak hampir di setiap sudut kota, apakah itu di mal, kantor-kantor, stasiun keretapi, halte busway, dan kawasan hunian.

Entah berapa jumlahnya, tetapi pastilah tidak kurang dari 10.000 di Jakarta dan sekitarnya. Belum lagi taksi online yang jumlahnya juga mencapai ribuan. Di tepi jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta mobil-mobil yang parkir, adalah taksi online yang menunggu penumpang yang hendak menggunakannya. Begitu pula yang menyewa untuk pergi ke bandara, yang di jam normal lebih diminati ketimbang taksi biasa.

“Jauh sih bedanya. Dengan taksi online dari rumah saya ke Bandara paling Rp 80.000 tetapi kalau taksi biasa bisa Rp 175.000,” kata seorang teman yang tinggal di kawasan Pondok Cabe membandingkan.

Saya sendiri banyak menggunakan ojek aplikasi ini karena lebih tersedia dibanding dengan ojek pangkalan, dan tarifnya jauh lebih murah, serta ada gimmick berupa diskon agar bersaing dengan kompetitor. Saya pernah lima kali sehari menggunakan ojek, pada saat order ketiga sudah ada diskon sekitar 30 persen, pemakaian keempat tinggal separuh bayar, dan pemakaian kelima bahkan gratis, meskipun saya tidak memanfaatkannya dan bahkan memberi tips kelebihan.

“Iya, Pak. Tips-nya pasti ada, biar dikata bulan tua. Dua ribu-tiga ribu, kalau dapat 10 penumpang kan lebihnya bisa Rp 25.000,” kata Naman.

Tentu saja sebagai pengojek yang biasanya pasif dan menanti di pangkalan, membawa pulang ke rumah Rp 125.000 membuat ekonomi rumah tangganya lebih baik. Sudah berani mencicil peralatan rumah tangga, tidak lagi khawatir membayar uang sekolah anak, dan juga memberi amplop untuk undangan sunatan, kawinan, yang dulu selalu membuatnya sakit kepala. Hal yang berbeda dialami pengemudi taksi yang saat ini untuk mencukupi setoran saja sudah merupakan perjuangan luar biasa, ekonomi morat-marit, karena pendapatan jauh berkurang akibat kemunculan taksi dan ojek onlie, sehingga bagaikan berada di terowongan tanpa cahaya di ujungnya.

Kemajuan teknologi melahirkan kesempatan, sekaligus juga menggilas kemapanan, seperti yang dialami banyak perusahaan, dan memberi pengaruh besar bagi karyawan yang bekerja di sana. Sehingga ada yang mengatakan itu sebabnya generasi milenium tidak lagi setia pada perusahaan, tetapi setia pada profesinya dan pindah pekerjaan tergantung mood mereka, karena perkembangan semakin sulit diduga dan semua terpulang pada diri sendiri dalam mengatur kehidupan.

“Sekarang saya sih senang, Pak. Mau dapat berapa terserah kita. Mau dapat banyak ya mesti mau capek. Kalau malas, ya dapatnya sedikit,” kata Muksin.

Suatu perubahan positif dibanding sikap dia dan teman-teman pengojek yang dulu hanya duduk berdiam diri, pasif dan kadang menyalahkan nasib, padahal akibat kemalasan mereka. Kini mereka sadar bahwa kerja keraslah yang memberi besar kecilnya pendapatan, besarnya rezeki, bukan sekadar angan-angan.

Sisi lain dari kemajuan teknologi….

***
Ciputat, 1 Maret 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru