Sunday, October 25, 2020
Home > Cerita > Bung Dimana? Cerpen Hendry Ch Bangun

Bung Dimana? Cerpen Hendry Ch Bangun

Kemana teman-teman..(blogprita.wp.com)

Lagu “Bung Dimana” ciptaan Iskandar dalam irama keroncong yang terdengar lamat-lamat dari rumah tetangga melambungkan kenangan Rudy ke masa yang jauh di belakang.

Ya dimana kalian sekarang? Sekian banyak wajah teman-temannya tiba-tiba menyeruak satu persatu. Teman-teman ketika sekolah dasar, ketika menginjak masa remaja di SMP-SMA, dan mereka yang menjalani masa-masa kuliah selama bertahun-tahun. Betapa rindu ia ingin bertemu, khususnya teman SD dan SMP karena tak pernah lagi bertatap wajah selama puluhan tahun.

Ketika dia sudah mendekati masa pensiun, keinginan untuk bercengkerama dengan kawan lama, sahabat dan teman sepermainan semakin mendesak. Tak terasa matanya hampir basah. Mengapa aku begitu lama tidak perduli, pikirnya. Ya, alasan pasti ada. Jakarta yang memaksanya sibuk. Urusan kantor yang tak pernah habis. Persoalan keluarga dan rumah tangga yang menyita waktu dan perhatian. Semuanya bisa menjadi penyebab. Tetapi diam-diam dia mengakui, dia tidak pernah memaksakan waktu untuk bertemu. Dia belum merasa perlu bertemu, terlalu asyik dengan masa kininya yang merenggut jam demi jam kehidupannya setiap hari.

Pernah entah kapan dia mendapat undangan untuk reuni SMA, tetapi karena sudah mengikat janji untuk berdinas luar kota, Rudy tidak berani menolak perintah atasan.

Akhirnya peluang untuk bercengkerama dan bersilaturahim gagal. Entah bagaimana sekarang wajah Rahman atau Yuniar yang menjadi teman dekatnya dulu. Entah apa kabar Teguh dan Rama, teman sepermainan di kala sekolah menengah pertama. Entah di mana sekarang Robert yang menjadi komplotannya saat mencuri buah di kebun tetangga di masa sekolah dasar di kampung halaman.

***
Tinggal di kampung yang sunyi punya kenangan khusus bagi Rudy. Sebenarnya ayah, ibu, abang, dan adiknya tinggal di kota. Tetapi karena menemani nenek yang hidup sendiri dia rela mengajukan diri untuk hidup di sebuah desa di kaki gunung yang menjadi pusat sayur mayur dan buah. Dia suka suasana tempatnya tinggal yang dingin itu, walaupun harus hidup tanpa listrik, hanya ditemani lampu minyak yang membuat lubang hidung hitam setiap pagi.

Sehabis sekolah bersama teman-teman dia sering bertualang. Kadang berjalan ke arah hulu sungai yang berhutan agak lebat sehingga mudah menemukan monyet di atas pepohonan. Kadang ia ikut berburu burung dengan pemuda kampung yang menggunakan senapan angin atau berburu telur burung puyuh di sela-sela semak.

Tapi kadang juga menyelip di antara kebun tomat yang sedang berbuah lebat dan  dengan suka hati memakan sepuasnya. Kadang sasaran juga timun yang masih  tergantung-gantung, enak benar dimakan di siang hari.

Namun pengalaman paling berkesan adalah ketika mereka masuk ke kebun yang konon dijaga mahluk halus, yang ditandai dengan sesaji dalam panci tanah liat yang   diletakkan di ujung sebuah bambu setinggi kurang lebih lima meter. Panci itu dihiasi janur sekelilingnya.

“Kita cari tempat lain sajalah. Ngeri itu, ada begu-nya,” kata Robert setelah kami berhasil menyusup di antara pagar yang dibuat dari tanaman. Kebun itu sendiri berada di tanah menurun, jadi walau pagar tanaman tingginya hanya sekitar satu meter, untuk bisa keluar akan repot kalau bukan dari pintu pagar yang ada tangga dari tanah yang dibentuk.

Ceritanya ketika kami akan mulai memetik jeruk, tiba-tiba Darma berteriak-teriak. Dengan hampir menjerit dia mengatakan,” Ada orang-ada orang”. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah balik pohon, dia ambil langkah seribu. Rudy dan Robert tanpa berpikir segera ikut berlari tanpa sempat menyimpan jeruk yang sudah dia mereka petik. Berlari dan melompat, tahu-tahu mereka sudah berada di luar kebun. Setelah agak jauh mereka berhenti.

“Kau lihat apa tadi?,” tanya Rudy.
“Orang, tinggi besar. Rambutnya panjang, matanya mendelik. Kayak raksasa,” katanya masih dalam nafas terengah-engah.
“Kok kami nggak melihat? Kalau besar begitu pasti kami lihat juga lah.”
“Mana aku tahu. Tapi aku rasa itu begu ganjang yang sering diceritakan orang-orang,” katanya.

Di kampungnya yang ketika itu masih banyak penduduk menganut animisme adalah hal biasa seseorang memiliki makhluk peliharaan, dengan tujuan macam-macam. Menjaga harta benda, menambah kewibawaan, sampai menakut-nakuti orang yang tidak disukai. Jadi kalau kebun yang kami mau jarah tadi ada jin, bukan hal aneh.

Sambil duduk-duduk di rumput mereka lalu bisa bernafas lega karena tidak sampai dikerjai oleh mahluk halus yang sebelumnya hanya mereka dengar melalui cerita orang-orang tua.

“Tapi yang aku heran, tadi kita masuk kebun mesti menyelinap lewat pagar, kok waktu ke luar kita melompat gampang sekali ya,” tanya Rudy, kepada kedua temannya.

“Itulah yang bikin aku heran,” kata Robert. Ya, seperti ada kekuatan ekstra yang membuat ketiga anak bisa melompati pagar tanaman setinggi kurang lebih 1,5 meter.

Sampai sekarang kalau mengingat peristiwa yang terjadi sekitar 50 tahun lalu itu Rudy masih belum bisa mendapatkan logiknya. Meskipun dia tahu, dalam kondisi amat sangat terdesak kadang manusia memiliki kekuatan ekstra yang tidak masuk akal. Mungkin itu.

***
Salah satu kenakalan yang sering dilakukan Rudy dan teman-temannya saat di SMP adalah berlomba membuat teman batal puasa. Hal itu karena cuaca panas Jakarta membuat kepala sering pusing dan badan berkeringat, dan tenggorokan kering.

Kalau sudah begitu, melihat tukang air es (air putih dicampur sirup merah plus es, yang ditaruh di toples besar) yang berkeliling, air liur pun meleleh. Iman pun tergoda, dan mulai lah ada yang menggoda-goda. Satu goyah, mulailah yang bertahan menjadi kalah. Dan biasanya mereka pun rame-rame batal puasa walau ketika azan magrib berbunyi, menyesal luar biasa.

Namun ada satu peristiwa yang justru membuat puasa mereka hari itu bertambah panjang dari lazimnya. Waktu itu untuk membuang waktu Rudy bersama Tegu, Hari, menghabiskan waktu dengan membaca komik di stasiun kereta api. Sudah banyak buku komik dibaca, uang di kantong sudah habis dan mereka pun termenung-menung di peron. Tak berapa lama datanglah kereta barang, yang berhenti mungkin karena menunggu sinyal.

“Kita naik yuk, sambil nunggu magrib,” kata Nowo.
“Sampai mana?,” tanya Rudy. “ Kalau ke sana kan paling jauh Tanjung Priok, kalau ke arah sebaliknya kita nggak tahu dimana berhenti.” Mereka memang sering naik kereta barang ke arah Utara dan bisa turun sesuka hati. Kadang di Priok, kadang pula turun di Ancol dengan jalan melompat, lalu bermain-main ke pantai.
“Ya nanti kita berhenti di Jatinegara aja. Pulangnya nunggu kereta barang lagi.”

Seketika kereta mulai bergerak, dan akhirnya Rudy dan dua temannya melompat ke bagian belakang gerbong barang, yang biasanya cukup untuk berdiri atau duduk sampai lima orang. Azan dhuhur baru saja terdengar ketika itu.

Ternyata kereta yang membawa hampir 20 gerbong itu tidak berhenti di Jatinegara, Bekasi, dan bahkan Karawang. Karena kecepatan yang relatif tinggi mereka tidak berani melompat untuk turun, dan juga ragu karena setelah mengarah ke luar kota.  Rudy dan kedua konconya juga asyik menikmati pemandangan luasnya sawah yang membentang. Tetapi begitu turun di stasiun Cikampek, mereka mulai bingung. Di kantong tidak uang barang satu rupiah. Mereka berjalan ke luar stasiun, lalu duduk-duduk di tepi jalan.

Tak berapa lama mereka melihat truk pasir yang mengarah ke jalan menuju Jakarta, bukan ke arah sebaliknya Cirebon. Rudy lalu bertanya ke pengasong rokok yang menjajakan dagangan ke supir dan kenek truk.
“Bang, itu truk bawa pasir ke Jakarta ya?”
“Iya, biasanya begitu. Memang kenapa,” katanya.
“Kami tadi terbawa kereta barang. Mau balik ke Jakarta naik kereta nggak tahu kapan ada lagi.”
“Ya udah, naik truk aja. Nanti duduk sama kenek di belakang,” katanya. Rudy dan dua teman merasa tercerahkan. Mereka bisa pulang ke rumah. “Saya bilangin sama supirnya.”

Dengan bantuan si pengasong mereka pun diizinkan naik ke bak truk berisi pasir. Mereka bertiga duduk bersama dua orang kenek yang membawa sekop. Mereka duduk begitu saja di pasir, dan ketika mulai lelah, malah tidur-tiduran.

Enak juga, tak terasa truk yang ditumpangi sudah sampai di Pulogadung, melewati Karawang, Tambun, Bekasi dengan beberapa lintasan kereta api. Sore sudah mulai gelap. Tak lama terdengar suara azan. Truk terus melaju. Rudy dan teman-teman tak bisa berbuka puasa. Sementara kedua kenek truk tampak membakar rokok keretek yang mereka selipkan di kantong.

Setengah jam kemudian truk tiba di jalan Pramuka. Karena truk itu akan berbelok kiri ke arah Jatinegara, mereka minta turun. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih karena menyelamatkan ketiganya dari suasana tidak menentu.

Dalam keadaan lapar dan haus ketiganya menyusuri jalan Salemba Raya, terus ke arah Kemayoran, rumah ketiganya. Di Kramat Raya terlihat orang-orang akan salat tarawih. Tak tahan menahan derita Rudy memberanikan masuk ke sebuah warung yang berada di tepi trotoar.

“Bang, minta minum. Saya haus,” katanya. Ketiga-tiganya akhirnya mendapat minum segelas teh hangat dari penjual mie rebus.

Seperti mendapat tenaga mereka pun mempercepat langkah. Menyusuri jalan Bungur Besar, lalu Kepu Timur, dan tiba di rumah. Mereka bertiga makan selahap-lahapnya di rumah Hari. Entah, apakah hari itu mereka dihukum karena suka membatalkan puasa atau tidak, tidak lagi mereka pikirkan. Lelah, lapar, sudah terbalas.

***
Begitu banyak cerita. Begitu banyak kenangan. Betapa rindunya. Dimana kalian Bung?

***
1 Juni 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru