Wednesday, October 28, 2020
Home > Cerita > Foto Penanda Itu Cerpen Hendry Ch Bangun

Foto Penanda Itu Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Perjalanan hidup.

Tanpa perlu bertanya, aku tahu kalau mulai rindu. Tentu kau tahu maksudku. Ya, kalau kau sudah mengganti profile picture dengan gambar kita di Bandara Changi itu, aku tahu bahwa rindu telah merebak di kepalamu. Potret yang menunjukkan aku tengah asyik menatap telpon seluler sementara kau menatap fokus ke lensa kamera.

Ada dua wajah yang kontras di sana. Yang satu seperti cuek, gak peduli, menatap ke bawa dengan serius. Yang seorang lagi, ya kau, dengan sedikit senyum, menunjukkan hasrat dan gairah seorang yang gembira. Tentu saja itu sisi luar dari foto, makna ekstrinsik, seperti tampaknya.

Tapi tentu saja orang tidak tahu peristiwa di balik foto itu. Foto tentang pertemuan di bandar udara sebelum akhirnya berpisah menuju pulang ke tempat masing-masing. Aku akan kembali ke Jakarta dan kau kembali ke Malaysia, setelah bertemu hanya dua malam. Suami istri yang terpisah karena tempat. Yang satu masih menempuh pendidikannya di negeri tetangga, yang lainnya menunggu di Tanah Air untuk sementara.

Bertemu hanya dua atau tiga bulan sekali, karena alasan finansial tentunya, sebab entah kau ke Jakarta atau aku ke Malaysia, biayanya tidak sedikit. Dan kita harus berhemat agar kehidupan dapat berjalan baik.

Gambar itu seperti tidak menunjukkan rindu, kalau dilihat sepintas. Ya hanya seperti pasangan biasa yang berfoto di sebuah latar dengan suasana, mungkin pertokoan, mal, atau pusat keramaian biasa. Seperti orang yang tengah rehat sehabis berbelanja, menunggu sesuatu, atau sejenis itu.

Tetapi mengingatnya lagi, terus terang aku malah ingin menitikkan air mata. Betapa tidak, sementara aku tinggal masuk ke dalam bandar udara untuk check-in dan menunggu di ruang sebelum naik pesawat, kau masih harus menempuh perjalanan panjang. Naik kereta api ke perbatasan, melewati imigrasi perbatasan darat yang penuh curiga bagi pendatang, dan masih harus naik kendaraan umum lagi sekitar 45 menit untuk sampai di asrama kampus.

Tapi kau berkeras untuk mengantar dulu ke airport dan berpisah di sana, dibanding di sebuah stasiun kereta api dekat hotel, yang tentu saja kurang romantis. Aku baru menyadari hal itu sepenuhnya ketika sudah duduk di pesawat yang menerbangkanku ke Jakarta. Aku bahkan mulai sentimental, menyalahkan keadaan yang membuat kita harus terpisah seperti yang harus kita jalani.

***
BARU tiga minggu terpisah, rasanya sudah begitu lama. Saling bicara, berbalas kata, tidak lagi cukup untuk menghilangkan rindu. Mungkin karena umur yang terus bertambah, membuat emosi begitu mudah datang. Ingin bersama, ingin bercanda, bertukar pikiran, membicarakan hal-hal apa saja. Dan pertemuan tatap muka sudah menjadi sebuah tuntutan.

Jadi aku kira, kita berdua sama saja. Sama rindu, sama ingin jumpa. Walaupun mungkin lelaki dan perempuan mempunyai cara yang berbeda menyampaikannya. Kau lebih berterus terang dan ekspresif, sementara aku memendamnya saja. Bahkan kalau kau tanya apakah aku rindu, kadang malah karena tak berdaya, aku jadi seperti hendak marah. Padahal maksudnya, ya tentu saja aku ingin memelukmu, misalnya.

Tak lama lagi tokh kita bertemu. Di tempat kita berfoto itu, dengan segala eksotismenya, dengan semua kenangan manisnya. Dan semua perasaan yang tertahan pastilah akan tumpah sehingga wajah kita akan berbinar-binar, gembira, semua terasa menyenangkan, dunia seperti milik berdua saja.

Walaupun tidak selamanya, karena setelah itu kita harus kembali ke tempat sendiri-sendiri. Untuk beberapa tahun ke depan.

Itulah hidup yang telah kita pilih untuk dijalani. Kalau kita melihat diri sendiri mungkin saja terasa menyedihkan. Tetapi masih banyak orang, ribuan, puluhan ribu mungkin, yang lebih menderita.

Bayangkan saja puluhan ribu tenaga kerja kita di luar negeri yang terpisah bertahun-tahun karena alasan ekonomi. Bayangkan pula puluhan ribu orang yang tugas belajar untuk menuntut ilmu, di negara lain ataupun provinsi lain, agar karier mereka lebih baik di masa depan.

Atau juga mereka yang merantau ke luar kampungnya untuk mencari hidup yang lebih baik.

Jadi aku kira, kita nikmati saja. Rindu itu indah kalau dinikmati. Yang penting kita tahu, walau tinggal terpisah, hati kita menyatu.

Cinta yang tak pernah padam. Mudah-mudahan itu cukup untuk menjadi obat setiap saat ada rasa ingin bertemu.

Pembunuh rindu.

***

Jakarta, Agustus 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru