Sunday, October 25, 2020
Home > Cerita > Api Asmara

Api Asmara

Herry ingat peristiwa beberapa bulan lalu. Saat itu dia celingukan di depan kios Starbuck yang berada di kanan pintu luar bandar udara Changi. Mencari Dessy yang tiga jam sebelumnya sudah berjanji akan menunggunya di bangku sekitar tempat ngopi modern itu. 

“Mungkin dia belum sampai,” pikir Herry, meski logikanya mengatakan itu hampir tidak mungkin karena ketepatan jadwal angkutan umum di negeri ini. Tapi dia tidak perlu lama menunggu karena baru saja dia duduk untuk mengurangi beban ransel di punggungnya, Dessy sudah terlihat jalan bergegas.

“Sorry Pap, aku tadi ke money changer dulu,” kata Dessy, dia lalu memeluk dan mencium suaminya itu dengan mesra. “Aku juga baru sampai kok. Belum lima menit,” timpal Herry. Tidak ada kecanggungan, mereka memang suami-istri, walau baru menikah beberapa bulan, yang harus hidup di negara berbeda.

Untunglah karena perkembangan zaman, maraknya angkutan udara murah, pasangan yang masih terhitung  dalam suasana bulan madu ini bisa bertemu dengan mudah: tidak terlalu mahal dan masih terjangkau kocek.

Keduanya lalu bergerak ke tangga jalan untuk naik ke lantai dua. Mereka hendak menuju terminal kereta api yang akan membawa mereka ke arah kota dan mencari hotel yang sudah dipesan melalui internet tidak jauh dari kawasan Little India. Disebut demikian karena buruh dan pekerja kelas bawah warga negara India umumnya tinggal di sana. Jadi di berbagai pojok jalan, perempatan, warung makan, toko-toko barang kebutuhan, pasti bertemu pasti ada mereka yang umumnya keturunan Tamil.

Dengan membeli tiket untuk satu hari seharga 20 dolar, Herry dan Dessy, masuk ke kereta komuter. Setelah satu stasiun mereka pindah kereta lanjutan, sebab kereta pertama akan kembali ke Bandara Changi. Tidak susah mencari lokasi tujuan karena semua petunjuk sudah jelas, baik di dalam kereta maupun peta yang mereka pegang.

“Enak ya kalau Jakarta seperti ini. Murah dan praktis. Orang yang belum pernah kemari pun tidak kerepotan mencari tempat yang dicarinya,” kata Dessy yang tinggal di negara bagian paling ujung Malaysia. Dia diutus universitasnya di sebuah kota di Sulawesi untuk melanjutkan studi di sebuah lembaga pendidikan di negara jiran itu dan ini semester terakhirnya. Herry sendiri bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jakarta.

“Masih harus bersabar, mungkin 10 tahun lagi baru kesampaian. Subway yang dibangun baru satu lintasan, monorail belum jalan juga pembangunannya, busway belum nyaman, KRL sudah ada tapi masik sesak dan jalurnya tidak masuk ke seluruh bagian kota,” kata Herry memberi gambaran betapa masih lamanya Jakarta mencapai kondisi seperti di Singapura.

Pertemuan tersebut adalah kencan kesekian Herry-Dessy sejak mereka menikah pertengahan tahun lalu. Sehabis mengikat janji di depan penghulu Herry mengantarkan istrinya itu ke kotanya sekalian berbulan madu. Setelah itu keduanya sepakat untuk bertemu sekitar sebulan sekali agar bara api kemesraan tetap terjaga, maklum saja keduanya terpisah oleh keadaan dan sangat kurang baik jika sehabis menikah langsung berpisah.

Pada waktu itu mereka bikin janji bertemu di Singapura, sebelumnya di Kuala Lumpur, dan di Johor Baharu. Pernah juga Dessy datang ke Jakarta.

                                                                      ***

Kali ini dia menunggu di terminal feri Batam. Udara bulan Desember agak sejuk, apalagi pelabuhan banyak hembusan angin. Sambil menunggu kapal cepat yang akan membawa istrinya, Herry tersenyum sendiri mengingat pertemuan ini.

“Aku belum bisa memperpanjang paspor karena KTP elektronik belum jadi juga. Padahal sudah berbulan-bulan berfoto di kantor kelurahan,” kata Herry. “Kita tunda sebulan deh pertemuan. Bisa nggak?”

“Aduuuh Papi ini bagaimana sih. Nggak tahu apa istrinya rindu setengah mati.”

“Habis bagaimana dong. Kan paspor tidak bisa digunakan enam bulan sebelum berakhir masa berlakunya,” kata Herry.

“Bagaimana kalau bertemu di Batam?” kata Dessy tiba-tiba.

“Mami naik apa ke Batam? Ada pesawat?”

“Lho kan ada kapal cepat. Banyak kok teman di asramaku kalau pulang via Batam. Seperti Ayu yang berasal dari Padang dan Vonny yang dari Medan..”

“Oke. Nanti saya carikan hotel dulu di sana. Weekend pekan depan ya.”

Tak lama istrinya muncul setelah melewati pemeriksaan di imigrasi. Cukup banyak penumpang dari Stulang Laut, Johor Baharu, siang itu, sebagian besar pekerja Indonesia yang mengadu nasib di negeri jiran. Suami istri berpelukan dengan hangat. Dengan taksi keduanya pergi dengan bergandengan tangan.

“Capek ya?”

“Nggak sih. Ngeri aja. Tadi hampir setengah jam kapalnya berhenti di tengah laut. Mana gelombang agak tinggi lagi.”

“Kok kapalnya bisa berhenti. Mogok?”

“Iya, katanya banyak sampah waktu masuk perairan Indonesia. Mesinnya jadi ngadat tersangkut sampah plastik. Kalau masih di perairan Malaysia sih bersih. Terus terpaksa petugasnya turun ke laut. Malu deh…”

“Putus asa deh kalau ngomongin pengelolaan negeri. Kayaknya susah ya berubah.” Dessy mengangguk sambil memeluk suaminya. Tak bertemu sebulan membuat dia malas untuk membahas hal-hal yang rumit.

“Kita menginap di mana Pap?”

“Di daerah Nagoya. Enak, banyak tempat makan pinggir jalan. Mami juga bisa melihat-lihat tempat belanja barang impor. Konon murah-murah walaupun mungkin banyak barang palsunya.” Keduanya lalu saling memeluk. Entah supir taksi melirik atau tidak, rindu memang kadang sulit terkendalikan. Apalagi kehidupan sehari-hari kadang menguras energi karena harus menuangkan gagasan dan konsep-konsep ke kertas kerja atau proposal. 

                                                                       ***

Kadang Herry merasakan sensasi luar biasa membayangkan hubungan suami-istri yang kurang lazim ini.

Tiap pertemuan adalah bulan madu. Mereka seperti mengulang lagi masa-masa ketika baru berkenalan, saling mengikat janji, dalam usia yang tidak lagi muda. Romantisme muncul lagi, rasa cinta berkobar lagi.

Hal-hal kecil yang dulu dialami, ketika dibicarakan lagi akan menjadi topik yang menimbulkan tawa, membuat keduanya saling meyakini betapa cinta itu sungguh menyenangkan.

“Kalau diingat-ingat, lucu juga ya..” kata Dessy memandang manja. Meskipun dia tidak meneruskan kalimat itu, Herry seperti menangkap nuansa arti kata-kata itu.

“Jodoh itu benar-benar karena campur tangan Tuhan. Tak pernah terduga,” kata Herry, lalu memeluk istrinya.

Sambil diwarnai dengung suara sepeda motor dan mobil yang meramaikan kawasan turis di wilayah downtown itu, mereka merasakan hangat api cinta yang seperti tak pernah padam. Tak boleh ada waktu yang tersia-sia dalam pertemuan singkat ini. Bahkan tak perlu kata berkepanjangan.

                                                             ***
Batam, Januari 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru