Tuesday, September 29, 2020
Home > Cerita > Belum Terlambat

Belum Terlambat

Bangunan itu sudah menjulang tinggi seperti menembus langit tetapi belum selesai. Ceceran semen, tertinggal di sana-sini. Onggokan besi, beton, menghiasi kompleks di dalam pagar. Isyarat istirahat siang baru saja berbunyi, ratusan pekerja meninggalkan kesibukan untuk sekitar satu jam. Semua bergerak ke warung tempat mereka bisa berhenti sejenak, menyantap makanan, menghilangkan dahaga. Beberapa orang memilih duduk-duduk dan berteduh, pada tepi hutan kota, dekat kampus.
 
Hening baru saja hendak ke luar dari universitas yang luasnya puluhan hektar itu dan sebagiannya tengah dibangun lagi. Sebelum menyeberang, ia mampir sebentar berlindung dari sengatan terik. Lembaran kartu registrasi semester ini, harus dia kembalikan satu rangkap ke fakultas. Padang rumput luas, pepohonan rindang berderet membingkai jalan menanjak dan kebisingan siang hari membaur satu. Perbincangan tiga lelaki berseragam pekerja di samping Hening, mengusik pendengarannya.
 
“Urus saja paspor, Yud. Buat apa ambil risiko menjadi bulan-bulanan mereka,” ujar seorang di antara mereka. Wajahnya lebih tua dari dua lainnya.
 
“Aku pingin. Tapi mahal sekali?” sergah lelaki berkulit gelap itu. Logat Jawa Timurnya sangat kental. Terbersit nada putus asa di dalamnya.
 
“Kita tidak punya pilihan. Imigran gelap ganjarannya penjara. Padahal kamu datang ke sini untuk cari makan, ” kata lelaki yang satu lagi. Dia bertopi biru, cocok meredam teriknya siang.
 
“Kalian kan tahu aku nggak punya uang,” suara pasrah bercampur ketakutan terdengar. “Aku ke sini saja sudah minjam kesana kemari. Ingin mengubah nasib. Kalau ada uang, buat apa aku nekad kesini.”
 
“Kamu kan tinggal ngomong sama Cukong. Ada risiko. Waktu dulu aku ngurus paspor, gaji dua bulan nggak dikasih. Terpaksa makannya harus numpang Mas Panjul.”
 
Yang memakai kaos berwarna kelabu ini, namanya Panjul. Hening membatin.
 
Hening terpaku mendengar pembicaraan tiga orang sebangsanya itu. Dua bulan kerja tidak digaji hanya untuk mendapatkan paspor? Benar-benar kurang ajar para cukong itu. Hening membayangkan beratnya beban para pekerja, harus setiap hari membanting tulang di negeri Jiran. Dari pagi sampai sore berkubang dengan kekuatan otot, hanya buat mengurus paspor, membayar jasa perantara, dan kadang menyuap polisi yang melakukan inspeksi. Ada saja alasan mereka itu agar ikut menikmati hasil keringat pekerja kasar yang mungkin sama sekali tidak memahami aturan. Tak ada siapa pun sungguh-sungguh membela dan memperjuangkan mereka.
 
“Aku harus berbuat sesuatu,” katanya bertekad. Hening lalu merancang beberapa hal, menghitung-hitung mudah tidaknya, dengan tujuan minimal untuk melegakan hatinya yang seperti ditinju menyaksikan nasib orang sebangsa di rantau orang.
* * *
 
Hening memarkir sedannya di tempat parkir khusus mahasiswa. Tidak boleh sembarangan di sini, kalau sampai diketahui petugas, bisa ditilang. Sedan sejuta umat kebanggaan Malaysia yang dipakainya ini berwarna hitam. Bekas, pasti. Hening membelinya agar mudah bergerak. Kampus nan luas, dan juga tingginya aktivitas membuat Hening merasa perlu memiliki mobil. Walaupun kondisimobilnyaitutidak lagibagus dan di sana-sini sudah banyak goresan.
 
Dia melintasi jembatan kecil, pemisah antara tempat parkir dan gedung utama. Gemercik air jatuh di bebatuan. Tidak seberapa jauh, dia melihat beberapa gadis Iran berbicara nyaring, tanpa tahu apa artinya. Siang jadi seperti garing ditambahi percakapan riuh. Entah apa yang didiskusikan seserius itu. Tuntutan kuliah tinggi dan memaksa harus bekerja keras? Suasana negara mereka yang masih menempatkan lelaki sebagai raja? Revolusi? Atau memikirkan negaranya yang kaya raya, tapi terancam kekurangan air dalam sepuluh tahun ke depan, bila sumbernya tidak dikelola secara baik? Entahlah. Hening malas berpikir. Dia hanya mau konsentrasi pada kewajibannya dan harus selesai dalam tiga-empat bulan ke depan.
 
“Buru-buru?” Gema tiba-tiba telah tegak di hadapan. Hening hampir menabraknya karena dia tidak melihat rekannya itu saking asyiknya melamun.
 
“Iya nih. Biasa, kejar deadline. Nggak asyik kalau telat. Bisa dibabat habis oleh supervisorku,” ungkap Hening. Gema tersenyum maklum dan Hening membalas sambil terus berjalan seraya melambaikan tangan.
 
Saat melihat tempat parkir khusus milik Professor David Sumurugamkosong, ia berhenti pada bangku besi yang bertebaran. Cericit burung-burung mendinginkan batinnya. Tak apalah menunggu. Lima menit sebelum jadwal, Hening telah keluar dari lift penghubung dengan lantai enam. Supervisornya, warga Malaysia keturunan India itu adalah seorang akademisi tepat waktu.
 
“Selamat siang, Prof. Saya telah mengirim email tugas semalam,”kata Hening membuka pembicaraan pada guru besar berwajah beku itu. Hening menggeser kursi pelan dan mendudukinya. Lelaki itu membalikkan badan dan beralih pada layar monitor di sebelah kanan.
 
“Seluruhnya tiga lampiran, Prof.” ujar Hening.
 
“Baik. Saya akan mengeceknya segera. Minggu depan Anda datang lagi dan kita akan membicarakan materinya,” kata Professor David Sumurugam. Ada sedikit senyum di wajah lelakiberusiahampir50 tahun itu.
 
“Baik, Prof. Terima kasih atas waktunya. Saya akan kembali minggu depan,” ujar Hening sambil berdiri dan segera melangkah ke luar.
* * *
 
Udara panas kembali menyambut di teras fakultas. Ya, di sana tidak ada AC, hanya sejumlah kipas di langit-langit ruangan. Kembang kertas kukuh menantang. Daun kecilnya ringkih meski tetap tegar. Gedung itu memang menghadap ke barat dan sang surya terlalu perkasa tuk sekadar diajak berdamai. Tak ingin berlama-lama, Hening berlari turun menuju lantai dasar.
 
Rasa haus menjadi tidak tertahankan. Hening memutuskan untuk duduk sejenak di kafe. Segelas teh tarik hangat pasti nyaman di tenggorokan. Ia mengambil kursi dekat teras dan memandangi hamparan padang rumput serta lapangan hijau di bawah sana.
 
Hening mengamati ritme kesibukan mulai melambat. Deru kendaraan memecah keheningan perbukitan. Kafe itu terletak di ketinggian sehingga mata leluasa memandang ke semua penjuru mata angin. Tak ada pengunjung. Seorang pelayan sedang menyapu dan membersihkan puluhan meja.Dia hampir tidak pernah melihat wanita ini padahalsudah lima semester kuliah di sana.
 
“Mbak ini orang Indonesia ya. Barukerja di kantinini?,”tanya Hening. “ya, Mbak. Dari Surabaya. Saya menggantikanteman yang sakit,” jawabnya pelan. Mata wanita itu bercahaya. Entah kenapa. Bisa jadi karena selama ini tidak ada pengunjungkantin yang mengajaknya berbicara. Dalam bahasa negerinya pula.
 
“Sudah lama bekerja di Malaysia?”
 
“Dua tahun,Mbak, ” ujar perempuan itu yang kini berdiri tepat di depan Hening.
 
“Bagaimana gajinya di sini. Lumayan, ya?” Hening menyetel wajahnya seramah mungkin.
 
“Hampir dua jutaan uang kita,” senyumnya. Hening membayangkan, jumlah itu sudah cukup besar bagi seorang pekerja di Indonesia.
 
“Digajinya dalam ringgit kan? Berapa tuh??”
 
“Seribu tiga ratus.”
 
“Seribu tiga ratus? Itu kalau dirupiahkan hampir empat jutaan.” Hening menjelaskan.
 
“Iya, tapi saya menerimanya dalam bentuk rupiah dari Agen. Dan jumlahnya dua juta,”
 
Hening diam saja. Tidak habis pikir. Bisa jadi selisih uang gaji dan pendapatan wanita itu sebagai uang jasa agen yang mengirimkannya dari Tanah Air. Atau cicilan tiket, pengurusan paspor, izin tinggal, mendapatkan pekerjaan. Ah, entah apa lagi.
 
“Uangnya itu cukup banyak. Bisa nabung, kan?”
 
“Nggak bisa. Anak-anak sekolah. Biaya hidup mahal di sini,” wajahnya tertunduk.
 
Entah mengapa, Hening jatuh kasihan. Mungkin karena tubuh kurusnya dan tidak tangguh seperti kebanyakan orang. Hening menaksir berat badannya 40 kg.
 
“Suaminya kerja di sini juga?”
 
“Iya. Kerja bangunan. Mbak kuliah di sini?” Ini yang pertama kali pertanyaan terlontar dari mulutnya. Semoga suamimu pekerja legal, Hening berdoa dalam hati.
 
“Benar. Saya memang kuliah di sini,” jawab Hening.
 
“Ya, di sini banyak orang Indonesia sih Mbak. Sesekali saya lihat mereka makan juga. Tetapi cuma Mbak yang ngajak ngomong saya…”
 
Ada rasa gamang di hati Hening.Ya, selamainidiaenak-enak saja, jarang sekali memikirkan nasib orang lain. Mendapat beasiswa dari pemerintah sekian ribu ringgit perbulan, ditambah lagi kiriman orangtua walau sedikit, Hening bisa hidup “mewah.” Makan tinggal pilih, mau di kantin, sering juga di restoran mal yang banyak di kota Johor. Kalau akhir pekan kosong, Heningsering berlibur dengan teman-teman dari Pakistan, Arab, berjalan-jalan.Ke Singapura, ke Langkawi. Dia lupa, di sekelilingnya ada banyak orang Indonesia, sebangsa dirinya, bercucur keringat bahkan mungkin berkeringatdarah dalam sistem ketenagakerjaan yang tidak adil.Ya Tuhan, kemana aku selama ini?
 
“Mbak, saya minta alamatnya,ya. Kapan-kapan saya mau datang, barangkali ada barang dan pakaian yang bisa kami sisihkan untuk keperluan keluarga Mbak,” katanyasambil memegang pundak wanita itu. Tidak lupa dia menyusupkan lembaran 50 ringgit Malaysia ketangan.
 
“Ah, Mbak. Nggak usah repot,” katanya hendak menolak.Tapi dengan senyum hangat Hening menyorongkan kembali uang itu.
 
Langkahnya pun menjadi seolah ringan.Ya, ada yang harus aku lakukan satu lagi, katanya dalam hati.Ini lebih berat, tapi harus bisa.
* * *
 
Hampir dua jam Hening menanti di ruang tunggu KJRI Johor Bahru. Biasanya dia datang ke sana untuk silaturahmi acara kenegaraan, pameran, dan juga memenuhi undangan KJRI bagi mahasiswa yang tergabung dalam PPI. Kali ini dia datang sendiri.
 
Tak lama dia melihat Yudi berlari ke arahnya. Tanpa merasa canggung lelaki itu memeluknya erat. Hening rikuh. Tapi akhirnya dia balas pelukan lelaki itu. Ada airmata menggenang tiba-tiba, melihat lelaki itu tersedu-sedu.
 
“Terima kasih, Mbak. Saya akhirnya memegang paspor lagi,” katanya tersendat. “Saya bebas sekarang. Tidak takut dirazia, tidak takut dipenjara lagi.”
 
“Jangan ke saya, Mas Yudi. Ini hasil urunan teman-teman di kampus. Selama ini kami lalai melihat sekeliling. Padahal banyak teman sebangsa yang membutuhkan bantuan.” Hening mengingat kembali bagaimana dia melacak keberadaan Yudi dan mempertanyakan persoalan hidupnya. Ternyata seperti banyak TKI lain paspor mereka semua ditahan agen sebagai jaminan, gaji dipotong, kalau protes diadukan ke polisi agar ditangkap. Mau pindah kerja tidak bisa. Persis seperti kuli kontrak di perkebunan tembakau di Deli zaman penjajahan dulu, terkadang seumur hidup tidak bisa pulang karena diperas. Hening lalu menghubungi teman-teman untuk menggalang dana, membantu Yudi dan keluarga pelayan kantin yang kekurangan itu.
 
“Saya berdoa semoga Mbak Hening dan teman-teman lulus cepat. Dan kalau bisa kelak menjadi pemimpin di negara kita,” kata Yudi sambil bersalaman dan mencium tangannya. “Terima kasih,” balas Hening lirih. Terima kasih Tuhan, aku belum terlambat untuk berbuat bagi sesama, katanya dalam hati. ***

* Johor Bahru, 8 Mei 2013
(Andi Dasmawati, Ph.D Candidate,
Universiti Teknologi Malaysia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru