Thursday, May 19, 2022
Home > Cerita > Di Sebuah Pasar Desa, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Di Sebuah Pasar Desa, Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Ilustrasi foto mimbar.rakyat.com

Di Sebuah Pasar Desa

Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Dia melangkah lunglai. Entah kemana semangat yang selalu dia perlihatkan selama ini. Langkahnya terayun lemah, mulut kerap komat kamit, dan kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya digelayuti kekecewaan, ketidak puasan, sesal,  menumpuk jadi satu. Tak peduli lagi kiri kanan. Berjalan lurus, mengabaikan sapaan dari orang-orang di warung-warung yang dia lalui, atau dari orang-orang yang berpapasan.

“Mungkin dia lagi stres berat. Sejak dia terkena PHK tanpa pesangon, dia berubah total. Bagai tak lagi megenal orang. Terlebih setelah istrinya pulang ke rumah orangtuanya, kemudian menggugat cerai,” kata Busyra.

“Tidak hanya dia. Banyak yang mengalami nasib seperti dia. Di kampung kita ini saja ada sekitar  empat atau lima orang. Semua karena kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan,” kata Dzakir.

Hampir setiap hari, dari pagi hingga malam, warung kopi di pinggir jalan itu selalu ramai. Setidaknya ada sekitar 10 orang yang jadi pelanggan tetap, seharian penuh. Datang setelah subuh dan pulang setelah larut malam, karena warung sudah mau tutup.

“Sejak pandemi  Covid-19 melanda negeri ini, perekonomian bayak orang ambrol. Pabrik, perusahaan dengan alasan merugi melakukan pemutusan hubungan kerja. Pedagang kekurangan pelanggan, untuk makan saja sulit,” kata Ghani, anak orang kaya di kampung itu.

Berawal dari membicarakan Masykur yang dikatakan lagi stres, pembicaaan di warung itu terus berlanjut bak orang mendaki. Tak ada habisnya. Dari pandemi, terus ke soal ekonomi, soal menteri yang dikatakan justru memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadi, kinerja presiden, tentang agama, soal para penjilat di negeri ini, dan banyak lainnya.

Di kampung ini, duduk seharian di warung kopi ataupun warung makanan tak perlu banyak uang. Dari pagi hingga larut cukup membayar segelas kopi atau teh. Bila kopi tinggal setengah gelas, minta pemilik warung untuk menambah air panas. Sesaat kemudian dengan alasan kopi atau tehnya kurang kental, minta tambah bubuk kopi atau teh. Berikutnya minta tambah gula, karena alasan kurang manis. Yang namanya tambah tidak perlu bayar, jadilah sehari penuh cukup membayar segelas kopi. Jika lapar, pesan mie instan atau lainnya. Tidak sedikit diantara pelanggan minta apa yang dia minum dan makan di catat saja dulu. Bayarnya, nanti kalau ada uang.

Akhir-akhir ini yang sering menjadi bahan pembicaraan di warung itu adalah Masykur. Laki-laki itu dikatakan tidak tahan bating, belum teruji, cengeng.  Masykur pulang kampung, setelah lama merantau di salah satu kota di Jawa. Tidak ada yang tahu pasti pekerjaannya, apakah pegawai, pedagang, atau lainnya. Namun selentingan ada kabar dia dulunya bekerja di salah satu perusahaan pengolahan makanan. Entah apa pastinya.

Ada empat warung yang mengapit  jalan raya di sebuah pasar desa itu. Pertama warung ketupat sayur dan bubur kacang hijau di pertigaan, tempat turun naik para penumpang kendaraan umum; kedua warung kopi, nasi, soto, dan makanan lainnya; ketiga warung ketupat dan bubur; dan keempat warung kopi, mie instan, dan makanan ringan.

Warung keempat itulah yang selalu ramai dari pagi hingga malam. Pelanggan datang silih bergati, selain yang datang pagi hingga malam. Warung ini terletak di dekat tanjakan di ujung pasar. Di warung ini pelangannya beragam latar belakang, petani, pedagang, pengangguran, pemuda kampung. Sedang warung pertama, warung ketupat sayur dan bubur kacang hijau,  di pertigaan di mana para penumpang turun naik kendaraan umum, pelanggan tetapnya adalah sopir dan kernet yang masih aktif atau yang sedang menganggur, serta penumpang kendaraan umum yang turun naik atau menunggu angkutan.

Warung kedua, warung kopi, nasi, dan makanan lainnya, yang berada di bagian tengah di pingir jalan pasar itu kerap disebut sebagai warung elite. Itu karena pelanggannya  memang khusus, mulai dari guru, kepala desa,  camat, dan aparat, anggota DPRD, serta tokoh masyarakat desa. Sedang di warung ketiga ramai oleh anak-anak sekolah SD dan pegantar, karena paling dekat lokasinya dengan sekolah.

Diantara keempat warung yang ada, warung ke-4 lah yang paling ramai, hampir sepanjang hari. Di sini bebas bicara apa saja, bahkan sambil berteriak sekalipun. Bersitegang urat leher, kadang menggebrak meja merupakan hal biasa. Di sini berkumpul para “ahli”. Bicara dari soal harga telur yang naik, politik, kabinet, presiden, agama, olahraga, sepakbola. Semua merasa ahlinya, meski analisanya ngawur.

Bila bicara soal agama para pengamat warung itu degan entengnya menuding orang sebagai penganut aliran Wahabi, tanpa tahu apa itu Wahabi. Dengan entengnya pula menyebut sekelompok orang sebagai penganut alirasan sesat, dan lainnya. Menuding pihak ini dan itu tanpa alasan jelas, sementara yag bersangkutan tidak pernah melaksanakan kewajiban sebagai umat.

***

Dua bulan telah berlalu sejak kepulangannya ke kampung halaman. Hampir setiap hari Masykur, di pagi hari, turun di pertigaan pasar desa itu dari sebuah kendaraan, lalu berjalan kaki melintasi pasar.  Setelah turun di simpang tiga itu, dia tidak naik kendaraan umum, meski angkutan selalu ada. Dia memilih berjalan, menuju rumah orang tuanya, sekitar 3 km dari pasar desa.

Beberapa hari terakhir dia mulai berubah. Bila selama ini hanya lewat, melintas di depan warung-warung yang dia lalui, sekarang dia selalu mengucapkan salam, kadang mampir di salah satu warung. Namun yang agak sering dia singgahi adalah warung elite, yang pelanggannya terdiri dari  guru, kepala desa,  camat, dan aparat, angota DPRD, serta tokoh masyarakat di desa itu, bahkan wartawan.

Di warung itu dia merasa nyaman. Pembicaraan satu sama lainnya nyambung. Bila saat diskusi  menghadapi jalan buntu, diantara mereka berinisiatif  mencari-carinya, antara lain lewat google.  Di warung itu dia merasa mudah mendapatkan berbagai hal, informasi, karena di sana memang kerap berkumpul orang-orang yang selalu mengikuti perkembangan.

Sejak kembali ke kampung halaman, Masykur, yang konon namanya berarti bersyukur, rutin tiap pagi pergi pulang dari rumah kediaman yang dibangun bersama istrinya di sebuah Kota Madya. Dia turun di Pasar Desa dekat kampung halaman orangtuanya, sementara istrinya yang menyetir kendaraan sedan milik mereka, terus ke Ibu Kota Provinsi, sekitar 60 km dari kediaman mereka.

Masykur jalan kaki dari pertigaan pasar desa menuju rumah orang tuanya bukan karena tidak punya uang, atau ngirit, tetapi memanfaatkan untuk berolahraga. Kenapa dia saat jalan kerap memutar-mutar kedua lengan, kemudian menggeleng-geleng atau memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, itu adalah dalam rangka berolahraga. Bukan karena stres.

Orang-orang, pelanggan warung di pasar desa itu,  jadi maklum. Apalagi akhirnya mereka tahu Masykur pulang kampung bukan karena kena PHK. Masykur justru minta mundur dari perusahaan tempatnya bekerja karena berencana membuka usaha madiri di kampung halaman. Keinginan itu muncul, karena istrinya sebagai seorang dokter spesialis mendapat penempatan di ibu kota provinsi.

“Kami, saya dan istri, memutuskan pulang kampung, dengan tekad membuka lapangan kerja di kampung sediri,” kata Masykur ketika berbincang-bincang di warung elite Pasar Desa.

Rencana Masykur mendapat dukungan penuh dari semua yang ada di warung. Kepala Desa, Camat, angota DPRD, aparat, dan beberapa tokoh masyarakat  menyatakan mendukung. Mereka berharap, semoga usaha Masykur mampu menampung pemuda dan pemudi usia kerja yang ada di desa itu.

“Ya, sebagai putra daerah saya dan istri bertekad mengutamakan tenaga kerja asal kampung sendiri. Kecuali satu dua tenaga ahli,” katanya.

Sejak itu Masykur jadi disegani. Tak ada lagi analisa ngawur tetang dirinya dari pelanggan warung. Banyak orang yang menawarkan diri untuk megatarnya dari pasar desa itu ke rumah orang tuanya, entah naik sepeda motor atau mobil. Namun dia masih bertahan tetap jalan kaki, sekalian olahraga.

***

Di bekas kebun kelapa yang terhampar luas di belakang rumah kediaman orang tua Masykur kini sudah berdiri sebuah pabrik. Pabrik pengolahan kelapa untuk dijadikan santan instan. Di samping kiri pabrik, berdiri sebuah bangunan pengolahan makanan ringan yang bahan bakunya juga berasal dari kelapa.

Di sebelah kanan pabrik berdiri sebuah rumah keluarga, rumah yang akan ditempati Masykur sekeluarga, selain di rumah di kota madya. Rumah orang tuanya sendiri telah dirombak total, bertingkat dua. Selain dihuni ibu dan ayahnya, juga ada seorang adik perempuannya yang masih lajang.

Hari itu Masykur, istri, kedua orang tuanya, adiknya yang masih perawan, serta tiga saudara lainnya yang sudah berkeluarga dan tinggal di kota provinsi, berkumpul di rumah orang tuanya. Satu persatu tamu mulai berdatangan. Kepala Desa dan Camat sudah tiba dari tadi. Hari itu akan datang gubernur daerah itu.

Tiba saatnya peresmian pengoperasian pabrik santan miliknya. Karyawan, laki-laki dan peprempuan, dibalut seragam warna putih (atas) dan biru tua (bawah), berbaris rapi. Menjelang pukul 10.00 WIB pagi deretan kursi sudah terisi sebagian besar. Terdengar teriakan di mulut jalan, semua terdiam. Sebuah kendaraan berhenti di depan tenda, kemudian turun seorang laki-laki didampingi seorang ajudan. Dia adalah gubernur.

Orang nomor satu di provinsi itu terlihat begitu akrab dengan Masykur.

“Semoga saja kelapa yang selama ini tidak ada harganya, dibiarkan para pemiliknya jatuh dan berserakan jadi terangkat kembali berkat pabrikmu ini. Saya doakan perusahaanmu berkembang di kampung ini,” kata Gubernur.

Sejak beroperasinya pabrik santan tersebut Masykur tak pernah lagi turun di pertigaan pasar desa kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki menuju rumah orang tua atau menuju pabriknya. Dia sangat sibuk, pergi ke pabrik atau berangkat ke kota, di antar seorang sopir pribadinya. Sekali-sekali mobilnya terlihat parkir di depan warung elite.

“Saya belum mampu,” katanya suatu ketika, saat menerima tamu seorang laki-laki dan seorang wanita di ruang tamu pabrik.

“Saya datang bersama anak saya ini bukan karena tergiur harta dan kekayaan Nak Masykur. Tapi karena saya menilai Nak Masykur cocok dengan putri saya ini.”

Masykur sekali-sekali melirik gadis itu. Dadanya berdebar, darah sempat berdesir melihat gadis langsing semampai berparas menarik itu. Tapi dia langsung ingat istri dan anak-anaknya.

“Maafkan saya Pak. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa adil bila beristri lebih dari satu. Dalam agamapun laki-laki dilarang berpoligami bila tidak bisa berbuat adil teradap istri-istrinya.”

“Saya pernah mendengar satu hadits Nabi Muhammad,  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa; Barang siapa yang memiliki dua orang istri lalu dia lebih cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah tubuhnya miring.”

“Apalagi tiga anak-anak kami masih kecil-kecil,” kata Masykur lagi.

“Saya yakin Murni akan mendapat pasangan pas, muda, masih perjaka, dan sukses. Saya berharap Murni menganggap saya sebagai kakak. Saya siap membantu jika dibutuhkan,” kata Masykur sambil meilirik gadis manis yang ada di hadapannya.

Murni tersenyum.

“Terimakasih Kak Masykur. Saya senang kakak siap membantu saya. Terimakasih,” kata kepala bagian di salah satu perusahaan swasta itu.

Terdengar langkah-langkah kaki berjalan menuju ruangan itu. Ada salam berbarengan dengan ketukan pintu. Setelah dipersilakan masuk langsung menerobos tiga anak-anak, satu mungkin usia sekolah SMP, satu lagi SD, dan paling kecil mungkin masih TK. Ketiganya  diikuti seorang wanita semampai berparas cantik.

“Inilah anak-anak saya. Itu istri saya,” tutur Masykur memperkenalkan keluarganya.***

@1jan2022

Cerpen ini telah dimuat di buku Kumpulan Cerita Pendek Wartawan dalam rangka Hari Pers Nasional 2022, berjudul “Di Sebuah Pasar Desa.”

tjunti@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru