Friday, April 19, 2024
Home > Cerita > Kisah Sebuah Kota,    Cerpen Hendry Ch Bangun

Kisah Sebuah Kota,    Cerpen Hendry Ch Bangun

Ilustrasi : Cerita pendek Di sebuah kota. (pinhome.id)

Ada kabar duka pagi ini. Di grup WA bekas tempat kerjanya disebutkan wafatnya seorang senior, rekan kerja yang tinggal di sebuah kota cukup jauh dari Jakarta. Orang yang ramah, suka membantu, dan yang terutama banyak senyum. Di luar itu ada satu hal yang mengikat kami. Seorang wanita, waktu itu masih gadis, yang sama-sama mereka kenal. Namanya Widya.

Seketika terbayang lagi pendar-pendar kenangan tentang dia yang pernah masuk, mengaduk-aduk ke relung hatinya.  Sang penari, adik angkatan di kampus, yang punya senyum memikat. Ramah dan juga manja. Dia hadir berbulan-bulan tapi tanpa sebab yang jelas akhirnya hubungan mereka terputus. Mungkin juga karena sebenarnya karena belum ada komitmen yang jelas. Entahlah.

Tetapi penyebab utamanya adalah cemburu dan tidak mau mengerti. Atau rasa rendah diri? Keputusan yang di tahun-tahun berikutnya menjadi penyesalan baginya. Ya, lelaki memang egois dan kerap tidak memahami sudut pandang lain. Selesai ya selesai. So what. Pedih hati? Nikmati sendiri dan tetap senyum di hadapan teman-teman kuliah. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Sebetulnya peristiwa mereka akhirnya terpisah terjadi secara sederhana. Sang pemuda kurang nyaman karena gadis yang disukainya seperti menyamakan dia dengan beberapa teman kampus. Kalau diajak ngobrol, dia ok saja. Diajak makan siang sehabis kuliah teman lain, si gadis pun tidak keberatan.

Ketika ditanya, dia menjawab, “Kan dia teman. Kalau mengajak ngobrol mana enak ditolak. Apalagi kan kami seangkatan,” katanya.

Masalahnya si pemuda merasa si gadis sudah menjadi pacarnya.

Suatu ketika karena ada kesempatan dia melakukan perjalanan ke kota S. Kebetulan pula si gadis sedang berada di sana, dia berencana pindah kuliah karena merasa lebih cocok dengan statusnya sebagai penari. Mereka berjanji bertemu dan akan pulang bersama ke Jakarta.

Tiga hari di kota S mereka seperti pacaran. Makan soto gading, minun cendol Bah Bolon, pergi ke pasar antik Triwindu, menjelajah pasar Kliwon, dan jalan-jalan ke wisata alam dengan air terjun. Lalu pulanglah berdua naik kereta malam.

Di tengah perjalanan, di antara goncangan kereta yang melaju, si gadis merebahkan kepalanya ke dada si pemuda. Bahkan lalu merebahkan tubuhnya di pangkuan ketika kantuk makin menjadi-jadi. Melihat si kekasih tidur pulas, dia mengelus-elus rambutnya. Dan suatu ketika si gadis terbangun, mata mereka saling memandang, tiba-tiba si pemuda mencium bibirnya. Mereka berciuman, tanpa mempedulikan penumpang di depan, yang mungkin pura-pura tidur.

Kilometer demi kilometer kereta berjalan, pelukan keduanya makn erat. Dua hati sudah menyatu, walau tanpa kata-kata. Hanya tatapan mata dan pelukan yang mengencang dan elusan rambut. Rasa cinta bermekaran, hati berbunga-bunga.

Lalu ketika akhirnya kereta masuk Jakarta, mereka berpisah. Di stasiun Jatinegara, seperti lagu Ismail Marzuki, subuh itu si pemuda hanya mengantar si gadis ke halte bus. Dia menunggu kekasihnya naik bus menuju rumahnya ke arah selatan sebelum akhirnya dia naik bus menuju ke arah utama, asrama tempat dia menetap semasa kuliah.

***

“Aku tidak suka kamu pergi dengan mobil bersama Si X. Apalagi nggak bilang-bilang,” kata si pemuda, suatu kali.

“Tapi kan aku persama bersama Nunik. Tidak ada acara berdua kok.”

Si pemuda merasa terusik, juga mungkin karena rendah diri. Kendaraannya di kampus hanya sebuah Vespa tua, yang kalah pamor dari Toyota Corona yang selalu dibawa Tommy ke kampus.

“Iya, tapi aku tersinggung,” ujarnya pelahan dan berlalu, menyelusuri lorong kampus yang memanjang.

Si gadis agak bingung. Dia memang manusia publik. Dia memiliki klub tari membina pelajar SMP dan SMA membantu ayahnya yang juga instruktur tari dan pernah menari di Istana Negara. Dia sering tampil, biasa gaul, dan ramah kepada semua orang. Bahkan ketika menari, senyumnya menjadi pesonanya, yang terkadang membuat orang serasa ingin memilikinya.

Ketika suatu saat tampil di acara resmi Fakultas yang dihadiri orang dari Rektorat dan Dekanat, pesona si gadis luar biasa. Semua bertepuk tangan ketika dia selesai menarikan  sebuah tema tari Jawa. “Kalau tampil, dia memang cantik,” ujar si pemuda dalam hati. Tak heran begitu banyak yang menyukainya di kampus. Dia menjadi kecil hati, aku ini siapa? Hanya mahasiswa biasa yang kebetulan aktivis kampus dan suka menulis. Tidak punya duit walau sekadar untuk traktir makan siang di restoran. Kecuali kantin kampus.

***

“Kok kamu unggak datang sih ke ulang tahun Widya. Dia nungguin lho, sampai mau nangis karena kamu nggak muncul. Dia malu sama teman-teman,” kata Nunik, pagi itu di kampus.

“Aku agak sakit kepala. Dan juga lupa,” kata si pemuda memberi alasan. Padahal dia ingat benar ulang tahun si gadis yang pernah dia anggap kekasihnya itu.

“Biar marahan, mestinya datang dong. Terlalu deh kamu itu,” kata Nunik sambil ngeloyor dengan wajah muram.

Nunik layak marah. Dia yang paling senang mereka berpacaran. Mereka beberapa kali pergi bertiga, atau makan siang di rumah Nunik, di sebuah komplekS militer di kawasan Timur Jakarta. Keduanya satu jurusan dan satu angkatan.

Tetapi si pemuda sudah terlanjur patah semangat, merasa tak berdaya. Merasa tidak mampu memiliki pacar seorang “selebritis” yang disukai banyak orang karena dia pencemburu. Lebih baik berpisah daripada sakit hati, pikirnya.

Hubungan keduanya memburuk ketika tidak lama kemudian si gadis memutuskan pindah ke kota S untuk menyiapkan diri pindah kampus. Mereka terpisah secara fisik, setelah sebelumnya secara mental. Tamat.

***

Tuhan kemudian mempertemukan mereka. Kurang lebih 25 tahun kemudian, ketika keduanya sudah menikah.

Awalnya ada faksimil yang ditujukan kepadanya, sudah ada di mejanya, saat dia tiba di kantor, di sebuah media di Jakarta. Si gadis ternyata menjadi pegawai negeri provinsi dan bertugas di suatu wilayah. Karena akan melakukan kegiatan kesenian dia membuat press release, dan diharapkan si lelaki—yang kini menjadi editor—untuk memuat beritanya.

“Hey, kamu menjadi PNS sekarang. Ok, akan aku muat rilisnya meski tidak bisa panjang-panjang. Kapan-kapan ketemuan ya. Pingin ngobrol juga,” katanya.

“Terima kasih ya. Nanti kita lihat waktunya. Kantor aku di anu,” katanya menyebut sebuah gedung di kawasan Kuningan.

Lalu mereka bertemu. Duduk di meja setelah bersalaman dan bertanya kabar keluarga masing-masing. Si gadis, kini menjadi si perempuan, masih menunjukkan kecantikannya. Dia bercerita sudah punya anak dua, keduanyay perempuan. Menikah dengan seorang PNS juga dan tinggal di wilayah Timur Jakarta.

“Sukunya sama dengan kamu, asal tahu saja,”kata si wanita.

“Oh ya. Kirim salam ya sama beliau,” kata si lelaki. “Salam hormat. Mestinya dia bahagia dapat istri secantik kamu.”

“Gombali. Ditungguin malah nggak ada kabar.”

Perpisahan dari pertemuan itu terasa manis sekaligus pahit bagi si lelaki. Rasa penasarannya terpenuhi, dia bisa memandang lagi orang yang dulu pernah dia sukai. Bisa menyapa. Tetapi pahit karena berakhir dengan tanda tanya besar, yang dia tidak pernah tahu, bagaimana sebenarnya perjalanan hidup si perempuan sampai dia melontarkan beberapa hal yang menohok.

Si lelaki pernah mengajaknya bertemu kembali, tetapi si perempuan mengatakan tidak ada perlunya lagi. Lebih baik semua kenangan indah dilupakan saja daripada rasa kecewanya semakin besar.

“Kamu memang egois, tidak pernah mengerti,” kata si perempuan saat menelpon dia beberapa hari setelah menolak bertemu.

“Egois bagaimana?”

“Saya tidak menikah bertahun-tahun karena menunggumu. Menunggu siapa tahu kamu menemuiku, kita berbaikan kembali, dan naik ke pelaminan,” ujarnya dengan sesenggukan di ujung telpon.

“Aku telpon kamu nggak mengangkat kan? Kenapa? Saya kan masih pacarmu, kita tidak pernah putus walau kamu tidak datang di acara ulang tahunku.”

“Lho aku pikir kamu sudah punya pacar lagi. Kan banyak yang menyukaimu. Mengajak makan, ditraktir.”

“Aku kan bilang itu teman biasa. Semua teman bagiku. Hanya kamu yang aku cintai. Apa kamu pernah bertanya sikapku terhadap mereka.? Tidak. Saya menelpon saja kamu tidak angkat.”

Si lelaki menjadi terkesima. Memang sejak memutuskan secara sepihak itu, dia terlanjur memutus komunikasi. Bahkan bertahun-tahun kemudian, setelah dia bekerja dan menikah, telponnya tidak dia terima karena khawatir mengganggu rumah tangga barunya. Ah seandainya..

“Kamu tahu. Aku berkali-kali pergi menari ke luar negeri bersama rombongan. Ada yang melamarku, mengajak kawin. Bahkan ada orang bule. Sebenarnya aku juga pingin, tetapi karena masih mencintaimu, semua aku abaikan,” katanya.

“Terus kapan kamu menikah?”

“Anakku ini baru masuk SMP, anak kamu sudah kuliah kan? Aku lihat di Facebook kamu. Setelah tahu kamu menikah, baru aku akhirnya mau menikah,” katanya.

Si lelaki tidak bisa berkata-kata. Rasa bersalah menerpa jantungnya. Memang betul semua yang dikatakan si perempuan, yang dia lihat juga di Facebook-nya. Mengapa aku begitu bodoh? Setidaknya, dia tidak boleh memutus silaturahmi hanya karena syakwasangka. Mestinya dia klarifikasi. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

“Aku minta maaf. Sungguh minta maaf.” Kata si lelaki, berusaha tabah.

“Sudah lama aku maafkan, karena sampai kapanpun aku akan mencintaimu,” katanya lagi, yang seperti menuangkan cairan cuka di luka hati si lelaki.

***

Si lelaki menulis ucapan dukacita bagi seniornya yang wafat tadi pagi. Ketika mampir menulis berita di kantor perwakilan di kota S, saat cerita-cerita, dia bilang dulu pernah punya pacar seorang penari. Dia kuliah di sekolah tinggi di kota S dan dulu pernah satu kampus di Jakarta. Lalu menyebut namanya.

“Oh. Saya kenal anak itu. Dia ngetop lho di sini,”katanya sambil tersenyum.

“Kenapa, Mas.”

“Lha ini kan kota kecil. Dia penari yang baik dan banyak tampil. Cantik lagi,” kata seniornya yang kini berpulang itu. “Rugi lho kamu putus.”

“Susah, Mas, cinta jarak jauh. Repot menjaganya. Apalagi orang cantic,” katanya menghibur diri.

Di tahun 1980-an, belum ada handphone, belum ada Facebook, sejatinya memang tidak mudah memelihara hubungan. Meski sebenarnya mereka sudah duluan memutus hubungan sebelum keduanya terpisah oleh jarak.

Apa kabar Widya?

OoO

Ciputat, 29 Januari 2022.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru