Sunday, June 20, 2021
Home > Puisi A.R. Loebis

Masjid-Masjid Jabal-Jabal, Puisi A.R. Loebis 

Masjid masjid Jabal jabal gunung bukit Bukti sejarah bukti ibadah Kemegahan bangunan fisik Kekuatan gunung bukit sebagai paku bumi Tempat perjuangan nabi rasul Dalam menegakkan syariat Allah Ziarah, panas, payung, onta, foto, buku, lelehan keringat, mendaki, tapi tiada lelah   solat di Masjid Nabawi lebih baik 1000 kali dari mesjid lain solat di Masjid Haram 100 ribu kali lebih baik dari

Read More

Pintu Babussalam,  Puisi A.R. Loebis

Padat..padat Dimana-mana tiada sekat Duduk berdiri ruku sujud Tapi padatnya di tempat air Zamzam adalah pesaudaraan Siapa pun siap berbagi dari gelas plastik ke gelas plastik Dari botol air mineral ke botol air mineral Walau siapa pun yang paling depan Siapa yang menggapaikan gelas plastik Siapa yang menyodorkan botol kosong Dalam bilangan detik pasti diisi Biar...biar orang yang dibelakang kebagian

Read More

Pintu 25, Puisi A.R. Loebis

Terik, ramai Padat, sesak Riuh Dari asal tiga pintu bertiang atap pohon kurma Kini ada 95 pintu Masjid Nabawi Pintu 25 gemuruh Pedagang K-5 berteriak menjajakan barang Orang keluar masuk halaman mesjid Di sinilah aku kesasar Di sinilah temanku sempat menghilang Di sinilah aku dihardik Di sinilah ia menanti Berjam-jam Aku kehilangan Pintu 25 Ini bisa mengarah ke Raudhah Kok terkadang terasa dekat dengan pintu

Read More
Mereka shalat berjamaan.

Hiu Kencana (Nanggala-402), Puisi A.R. Loebis

Hiu Kencana (Nanggala-402)   Mereka semua sudah pergi menabur duka menebar nestapa Nanggala-402 akuarium raksasa membawa hiu kencana Mereka menjemput maut Di kedalaman 838 meter di perairan Bali Sabtu 25/04 21 pukul 09.04 Wita semua 53 awaknya gugur. Selama 72 jam, kapal tua itu hilang Sebelum dinyatakan tenggelam Entah kenapa, tak ada yang tahu mengapa Simpang siur ceritanya Ah, kekuatan oksigen untuk mereka hanya 72 jam Setelah itu

Read More

Sajak Kelahiran, Puisi A.R. Loebis

Sejak dua purnama rajutan menikam Satuan unsur meregang aurat Auratku tengadah hormat Sukma semburat ujungnya melibat   Sejak purnama demi purnama sajakku tersurat Urutan himbau mampu menyirat, kubidik Kau dengan kata Sorot mata menyinari dada yang menganga.   *** Yogyakarta, 1979       Sajak Kematian   Bulan redup diselaputi darah Menyimak jasadmu ditimbuni tanah Pekat!! *** Yogyakarta, 1979

Read More

Hari ini terasa khusuk, Puisi A.R. Loebis

Hari ini terasa khusuk Bersila duduk Tawaduk dan tunduk Memandang ujung hidung Dan lipatan lutut Merasa dada berdegup Nadi berdetak Darah mengalir Bersedekap memeluk diam Menyekap senyap Tafakur dan bersyukur Perjalanan panjang Entah sampai mana Tapak jejak Dimana tibanya Meraba-raba nurNya Tak terasa Mencari-cari bayangannya Tak bersua Padahal Ia berada dalam ada Masuk ke belantara masa Menusuk dari dalam dada Menghunjam ke dalam aorta Melayang di alam maya Hari ini perjalanan ntah kemana-mana Tapi hari

Read More

Masjidil Haram (1), Puisi A.R. Loebis

Aku terpana Hampa Terpacak Terpesona Meleleh   Masjidil Haram (2) Pusaran manusia Aku meleleh Hanyut   Masjidil Haram (3) Kiblat dunia penuh manusia Jutaan dari penjuru dunia Ras, warna, jenis kelamin, negara, kostum, satu Rebutan mengagungkan Asma-Mu Ya Allah Kami datang memenuhi undanganMu Ya Robb jutaan dari milyaran penduduk dunia   aku terhanyak memandangi manusia kecil-kecil di lantai tiga mungkin mereka sedang towaf tapi pasti sedang mengagumi kebesaran dan kehebatanMu aku melihat berkeliling,

Read More

Petikan daun bambu, Puisi A.R. Loebis

Jejeran pohon bambu bergerak-gerak Menari dengan gemulai menawan Dedaunannya melambai-lambai Suaranya, aduhai , berdesah-desah basah   Pasti ada yang memetik simfoni itu Kalau tidak tak mungkin senarnya bergetar Punggungku nyaman menempel di tembok Mataku  nanar menatap ke kejauhan Kurasa-rasa, entah kapan menyaksikan keindahan pandang Kemerduan suara dan irama yang mengalun dari buluh perindu   Baru kali ini aku mengamati khusus Kulitku terkesiap seperti

Read More

Mereka pergi, Puisi A.R. Loebis

Memandang punggung mereka Di ujung bulan ini kaki mungil itu berjuntai di gendongan bila terang ia pasti jalan tertatih mengikuti Tapi ia tak pergi Terpateri dalam hati   Aku memandangi punggung mereka Di ujung bulan ini Bebatuan jingga itu Menanti sapuan tangannya Serta jentikan jemari Dan tiupan perlahan Dengan kaki berlonjor dan berjuntai Busana berkibar perlahan Dihembus angin menembus ilalang Yang datang dari arah belakang Entah kapan lagi terbentang   Aku

Read More

Tamu itu pergi, Puisi A.R. Loebis

Sebentar lagi tamu itu akan pergi entah apa yang sudah kusuguhkan kepadanya tapi sebaliknya, begitu banyak makanan yang diantarkannya kepadaku di atas meja santap di dalam relung hati di kolam rindu jiwa entahlah sajadah itu apakah memberi kabar entah kenapa aku begitu cemas jangan-jangan aku hanya lapar dan dahaga karena tak mampu tak kuasa tak menyiapkan waktu hanya menyisakan masa sehingga sukma terasa

Read More

Malam 1000 Bulan, Puisi A.R. Loebis

Malam 1000 bulan Tak terbayangkan begitu banyak menghias angkasa aku termangu hanya termangu tak kuasa membayangkan penciptanya tak terhingga ku membacamu dibawah sinar dian 1000 bulan dada bergetar air mata menetes hingga tertatih-tatih dari Ramadan ke Ramadan menahan rindu dendam   Ya Allah yang maha Kuasa Satu bulan pun membuat semua orang bahagia Apalagi 1000 bulan Bulan di angkasa dan dalam dada Bulan dalam ruang dan waktu Dalam janji dan

Read More

Banjir (1) Puisi A.R. Loebis

Perjalanan hidup sesuap nasi dan seteguk air Tapi perjalanan hidup  bersuap-suap nasi Berteguk-teguk air Kualirkan sungai, ingin Kulihat apakah dahagamu cukup dengan seteguk air Tapi kau kuras isi sungai itu Kuberi sungai sampai ke rumah-rumah Teguklah bila kau mampu   Rumah tenggelam Kota terendam Gelap Redup nyali Gerak menjadi diam tapi bergerak pasrah kau pada sungaiKu tapi belum padaKu Kau coba kuasai dan lawan sungaiKu Tapi tak mampu,

Read More

Matamu membuka rahasiamu Puisi A.R. Loebis

Matamu membuka rahasiamu Karena ia jendela nurani Yang menunjukkan kebaikan Kekejaman Kelicikan Matamu membuka rahasiamu Tak lagi sorot tajam meredup kau pesan kapling entah di mana mungkin di neraka atau surga Tapi apakah ada neraka dan surga Kok penilaianmu berkabut Ah, merananya nestapamu   Matamu membuka rahasiamu Tak ada lagi rahasia Pertemuan mata meluluhkan batas pandang Hilang makna rahasia Luluh arti rahasia   Rahasia, Kemana kau pergi Tiraimu tergulung Jendela nurani itu ternganga Kata rahasia

Read More

Menikam malam Puisi A.R. Loebis

Di tempat ini dulu aku menikam malam Luka menguak Cairan meleleh merah bersimbah   Di tempat ini dulu aku ditikam kelam Degup menganga Buih merekah merah membuncah   Di tempat ini kini waktu merunduk Menjahit duka Pandangan binar putih mengkristal,   Di tempat ini kini dipaku lara Terpacak meronta Merona di antara tusuk terus menikam   Di tempat ini dulu dan kini memasung langkah Tak bisa bersiasah Melihat

Read More

Jakarta Mabuk  Puisi A.R. Loebis

I Jakarta mabuk kebanyakan air kepayang kepenuhan kata Aku kepayahan ah kurasa hampir semua kesusahan memungut kata untuk menyusun frasa Karena ia seperti banjir yang menghanyutkan makna Menenggelamkan arti yang terukir dalam dada Mencampakkan pikir yang terlukis di benak kepala Menghunjam logika yang sudah tertatih dimakan zaman Menghantam-hantam Apa siapa kapan dimana pun   Ah Jakarta mabuk kebanyakan air kepayang kepenuhan kata Aku resah menyimpan cemas

Read More

“Tamu” itu pergi Puisi A.R. Loebis

"Tamu" itu pergi Sebentar lagi "tamu" itu akan pergi entah apa yang sudah kusuguhkan kepadanya tapi sebaliknya, begitu banyak makanan yang diantarkannya kepadaku di atas meja santap di dalam relung hati di kolam rindu jiwa entahlah sajadah itu apakah memberi kabar entah kenapa aku begitu cemas jangan-jangan aku hanya lapar dan dahaga karena tak mampu tak kuasa tak menyiapkan waktu hanya menyisakan

Read More

Balada Sendu Dihembus Angin ke Langit Biru Puisi A.R. Loebis

Balada Sendu Dihembus Angin ke Langit Biru (Sajak Puasa)   (puasa, kemauan, Menahan kebutuhan fisik Rukun islam Yang tak di lihat orang)   Tiga puluh hari dalam setahun Menyelam dalam diri Mencari-cari tetap mencari Mencari menjadi bayi   Aku dan kuasaku adalah satu Puasamu adalah kehendak mu Menjalankan kewajiban yang sama Tapi aku menyelami kolam rindu Kalimat-kalimatMu oksigenku Gemlembung-gelembung nafasku rahasia zatMu Mencari-cari tetap mencari Mencari wadah diri tempat kebesaranMu Dalam

Read More
Coretan kehidupan

Solitaire 23 Puisi A.R. Loebis

SOLITAIRE 23 (nyanyi untuk istri) siang malam kulantunkan lagu cinta kepada Kekasih istriku pagi petang kubangun istana suka tapi kubangan duka menganga luka berlumpur masa aku coba tak menoleh tapi suaka tertoreh sejarah coretlah Yang Mulia melalui dua sahabat siang malam bergerak asa asihMU kepada istri Kekasihku Jakarta, 01-04-06 SOLITAIRE 53 (I) Menembus batas lapis solitaire lima tiga berdegup gegap detak gerak derai gerai tajam tikam tumpul tusukku timbul lekuk keris keras landai mata pisauku geram rimau lahir

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru