Thursday, August 05, 2021
Home > Cerita > Pintu Babussalam,  Puisi A.R. Loebis

Pintu Babussalam,  Puisi A.R. Loebis

Pintu Babussalam.

Padat..padat

Dimana-mana tiada sekat

Duduk berdiri ruku sujud

Tapi padatnya di tempat air Zamzam adalah pesaudaraan

Siapa pun siap berbagi dari gelas plastik ke gelas plastik

Dari botol air mineral ke botol air mineral

Walau siapa pun yang paling depan

Siapa yang menggapaikan gelas plastik

Siapa yang menyodorkan botol kosong

Dalam bilangan detik pasti diisi

Biar…biar orang yang dibelakang kebagian duluan

Siapa pun di depan pasti amat dahaga dengan kebaikan

 

Padat..sesak

Dimana-mana tiada sekat

Selain tiang-tiang dan pagar pembatas

Manusia menyatu dari segala bangsa dan bahasa

Ingin mengetahui siapa orang di sebelah kita?

Tak usah sungkan,

Lihat saja langsung ke tanda pengenal yang tergantung di leher

Ia  akan tersenyum dan balik melakukan hal sama

Indonesia? Ia berujar.

“Wonderful country,” selalu dikatakan mereka.

Siapa tak bangga

Saudara dari berbagai negara selalu pula mengatakan,

“Penduduk paling banyak muslim. Kita saudara.”

Mereka menyambut atau menawarkan salaman tangan

Bahkan tak jarang berpelukan

 

Padat…merayap

Askar menahan menusia di pintu agar tak berjejal

Bahkan tak lama kemudian melarang masuk

Askar harus jitu dan waspada

Orang-orang pun amat mematuhi

Karena berdesakan dalam padat amat bahaya

Tak jarang terjadi akibat fatal…katanya, ada tewas terjepit kehabisan nafas

Tapi orang tak perduli

Tetap mendesak…melesak…mendorong…merebak

Ini olah kekuatan fisik untuk menimbun ibadah dalam dada

Tapi tak usah khawatir, Allah SWT pasti membantu

Buktinya banyak orang tua bungkuk,  ada yang pakai tongkat

Ada yang pakai kursi roda ada yang tertatih-tatih

Tetap saja aman, selamat dan khusuk berdoa dalam kerumunan massa

Babussalam…Pintu Salam Masjidil Haram

 

Padat…sesak…merayap

Babussalam tetap kokoh

Menyambut jutaan ummat setiap tahun

Yang ingin masuk ke dalam Masjidil Haram

Yang ingin masuk ke dalam dirinya sendiri

Yang ingin duduk bertasbih dalam dadanya sendiri

Yang merasakan sepi dalam keramaian

Yang ingin meraba-raba zat Allah

Dan berbincang denganNya

Babussalam, aku berkali-kali melewatimu

Dalam aliran manusia yang padat sesak merayap

Tapi aku bahagia, Babussalam.

 

Babussalam

Pintu populer, pintu sunnah

Setelah menerobosmu dari kejauhan terlihat

Ka’bah, Hajar Aswad, Maqom Ibrahim, Hijir Ismail

Padat sesak merayap

Tapi kau pintu idaman

Babussalam.

ooo

(Dari Puisi Tanah Haram, 2013, by a.r. loebis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru