Sunday, October 25, 2020
Home > Cerita > Masjidil Haram (1), Puisi A.R. Loebis

Masjidil Haram (1), Puisi A.R. Loebis

Ilustrasi - Masjidil Haram. (wikipedia)

Aku terpana

Hampa

Terpacak

Terpesona

Meleleh

 

Masjidil Haram (2)

Pusaran manusia

Aku meleleh

Hanyut

 

Masjidil Haram (3)

Kiblat dunia penuh manusia

Jutaan dari penjuru dunia

Ras, warna, jenis kelamin, negara, kostum, satu

Rebutan mengagungkan Asma-Mu Ya Allah

Kami datang memenuhi undanganMu Ya Robb

jutaan dari milyaran penduduk dunia

 

aku terhanyak memandangi manusia kecil-kecil

di lantai tiga

mungkin mereka sedang towaf

tapi pasti sedang mengagumi kebesaran dan kehebatanMu

aku melihat berkeliling, ada tujuh menara

dua di antaranya mengapit jam besar yang menjulang tinggi

ya Allah, di masjid utama ini Kau hadiahkan 100 ribu kali lipat pahala

aku memandang berkeliling

penuh manusia..penuh wajah..penuh bentuk rupa macam-macam

jutaan manusia niatnya satu

ingin bertemu dan menyapaMu

di masjid ini ada 129 pintu, empat pintu utama dan 45 pintu biasa

jutaan manusia berdesakan tapi bersaudara

ada yang bertengkar, adu kuat suara, tapi tetap ada yang melerai

manusia tak jarang tersesat, karena tak hapal pintunya

ada pintu (Bab) Syafa, Darul Arqom, Nabi, Bani Syaibah, Marwat,Faruq Umar,

Nadwah Umrah, Madinah Munawarah, Abu Bakar Sidiq, Umi Hani, Ibrahim, Wada,

Umar, Abdul Aziz, Hudaibiyah, Alfatah, Malik Abdul Aziz, Umar Abdul Aziz, Ismail,

Babussalam, dan beberapa lainnya

Ada juga pintu untuk penyandang cacat

 

Ini masjid-Mu Ya Robb

Di dalamnya rumahMu

Kiblat ummat sedunia

Satu-satunya masjid yang jamaahnya melingkar

Aku ikut duduk, sujud, tafakkur, berputar-putar, menangis,

Aku merasa amat kecil, selama ini penuh kesombongan

Kurung aku dalam bangunan ini

Tutup semua pintu-pintunya

Biarkan aku dalam kegelapan

Sampai semuanya akhirnya terang disinari lampu

Dari dalam dadaku

Seberkas Nur-Mu yang semoga tetap menyala hingga akhir hayatku

Mabrurku Ya Allah.

 

Ini masjidMu Ya Al-Kabir, Yang  Maha Besar

Pusat persinggungan dengan Bait Ma’mur

Yang penuh pintu-pintu

Yang kuncinya berserakan di antara kami

Tapi kami tak tahu pasangannya dan bagaimana menggunakannya

Itulah kebodohan kami Ya ‘Aliim Yang Maha Mengetahui

Bantulah kami mempelajarinya

Agar tak tersesat dalam kiblat ini

Supaya tidak tergelincir jatuh di dunia ini

Ooo

(Tanah Haram, kumpulan puisi, 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru