Tuesday, October 04, 2022
Home > Cerita > Cerita Khas > Dari APRC ke APRC dan dari WRC ke WRC,   Catatan A.R. Loebis

Dari APRC ke APRC dan dari WRC ke WRC,   Catatan A.R. Loebis

Buku-buku lama dan arsip liputan Reli Indonesia. (arl)

Mimbar-Rakyat.com(Jakarta) – Kejuaraan reli mobil di Indonesia memiliki sejarah amat panjang, sebelum diakui sebagai tuan rumah Reli Asia Pasifik (APRC) dan kejuaraan reli dunia (WRC=world rally championship).

Cikal bakal reli itu bahkan sudah ada sejak zaman Belanda, di awal abad 19, diawali dengan reli wisata yang dilakukan orang Belanda untuk hiburan akhir pekan dan lama-kelamaan diikuti orang Indonesia.

Setelah adanya reli wisata yang bergelora pada 1950-an, termasuk Jaya-Baya Rally yang amat fenomenal dan berhadiah mobil – diadakan setiap tahun – maka pada Juni 1976 dilangsungkan kejuaraan reli kecepatan (speed rally) bernama Reli Internasional Darma Putra, merupakan speed rally international pertama diadakan di Tanah Air.

Kejuaraan reli panjang 3.250 km (gabungan ketepatan dan kecepatan) dari Jakarta ke Surabaya PP ini amat bergelora, diikuti 67 peserta dalam dan luar negeri, merebutkan Piala Presiden.

Reli Darmaputra itu dimenangi Shekhar Mehta beersama co-driver Yvonne Prath dari Kenya, mengendarai Mazda Capella. Di antara peserta terdapat nama Hannu Mikola / Tinton Soeprapto, Sergio Maiga / Ballestrieri, Lars Carlsson / TT Soeswanto, Man Bergstein / Dodo TS dan Beng Soeswanto / Albert Poon.

Pada Reli Darma Putra II yang dimotori Kostrad dan IPMJ, juaranya adalah Beng Soeswanto / Adiguna Sutowo yang memacu Mitsubishi Lancer. Sehingga piala bergilir Presiden kembali ke Indonesia.

Dalam buku “Olahraga Otomotif Indonesia” (1950-2002) – penulis sebagai salah seorang pengolah datanya – diceritakan betapa ajegnya berbagai kejuaraan reli diadakan di Indonesia, termasuk ASEAN Rally, dan betapa getolnya para pereli Indonesia berlaga di mancanegara.

Pada era 80-an, di antara reli memperebutkan Piala Presiden adalah ASEAN Rally V 1980, IMI Pemuda International Rally 1981, IMI Pemuda Valvoline Rally 1983, Humpus Rally 1984, ASEAN Rally IX 1985 Pontianak-Brunei Darussalam), Sony Rally of Indonesia 1986 dan 1987, Starco Rally of Indonesia 1988, Gudang Garam Rally of Indonesia 1990.

Indonesia akhirnya menjadi tuan rumah kejuaraan reli Asia Timur Jauh (Far East Asia Rally Championship) pada 26-29 November 1987. Reli ini dimulai di Palembang dan berakhir di Jakarta dan sebagai pemenangnya adalah John Bosch / Kevinn Gormley dari Belanda, mereka menggenjot Audi Quattro A-2.

Tuan rumah APRC

Mengamati banyaknya prestasi Indonesia dalam kancah reli internasional, baik sebagai tuan rumah juga dari sisi atlet, maka Indonesia terpilih sebagai tuan rumah kejuaraan reli Asia Pasifik (APRC).

Kejuaraan besar itu diadakan di kawasan perkebunan Sumatera Utara pada 13-15 Agustus 1989 dengan tajuk Gudang Garam Rally of Indonesia dan selain Indonesia juga diadakan di Australia, Malaysia, Selandia Baru dan India.

Ross Dunkerton dari Australia didampingi Mj. Zainuddin tampil sebagai juara dan berhak atas Piala Presiden. Urutan kedua ditempati Rod Millen / Toni Sircombe dari AS disusul Chepot Haniwiano / Rulianto.

Kejuaraan sama diadakan lagi di Sumut pada 3-5 Agustus 1990, diikuti pereli peringkat ketujuh dunia Ingvar Carlsson / Per Carlsson (Swedia) yang menaiki Mazda 323 4 WD Turbo. Mereka didukung tim Mazda Eropa dan Asia Pasifik.

Pereli lain? Ada juga Rod Millen dan Tony Sircombe dan juaranya adalah Kenjiro Shinozuka dari Jepang yang didampingi co-driver Fred Gocentas yang mengendarai Mitsubishi Galant VR-4.

Tokoh otomotif Jeffrey JP, mengatakan APRC diadakan di Sumatera Utara setiap tahun sejak 1989 hingga hingga 1997. Setelah sempat terhenti, diadakan lagi pada 2000.

Pada 2019 hingga 2009 dilangsungkan di Sulawesi Selatan dengan promotor Bloedus Manajemen Indonesia (BMI) dan Jeffrey sebagai salah satu motor penggeraknya. “Kemudian pada 2019 dan 2022 reli ini kembali ke Sumatera Utara,” kata Jeffrey.

Keseriusan penyelenggara reli di Tanah Air ini, juga mendapat perhatian serius dari Ketua Komisi Reli FIA, Guy Gouthard, yang akhirnya mengadakan rapat khusus FIA Rally Commission di Perth, pada 1995. Salah satu resolusinya, menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah kejuaraan dunia WRC untuk tahun 1996 hingga 2000.

Sebelmnya, pada 1992, keseriusan menjadi tuan rumahh itu ditunjukkan Indonesia dengan membentuk Yayasan Reli Indonesia (YRI) dengan pencetus Hutomo MP, Raja Inal Siregar (ketika itu menjabat gubernur Sumut) dan Zulkifli Harahap.

Tujuan mendirikan Yayasan, untuk menyambut Sumut sebagai tuan rumah kejuaraan dunia. Bahkan namanya pun sudah ada, Bank Utama Rally of Indonesia 1996 dan Gudang Garam Rally of Indonesia 1997.

Hari yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, khususnya Sumut, pun tiba lah pada 1996. Sumatera Utara “demam” reli, hotel penuh, rumah penduduk disewa, Danau Toba ramai, penonton di kawasan Huta Tonga, Aek Nauli dan Gorbus memadati pinggir-pinggir lintasan yang nyaman untuk menonton.

Penonton amat “akrab” tidak saja dengan reli mobil, namun juga para perelinya. Jadi tidak heran bila terdengar teriakan mengelu-elukan..”Ayo Kenjiro Tobing” .. atau “Maju yang kencang Ross Sinaga”.  Maksud mereka adalah Kenjiro Shinozuka dan Ross Dunkerton. Para pereli asing itu dikasi marga langsung di tengah perkebunan.

Pereli Indonesia, Reza Pribadi yang memacu Toyota Celica, menembus urutan lima besar, di belakang sang juara Carlos Sainz/Ford), Pierro Liatti (Italia / Subaru), Juha Kankkunen (Finlandia/Toyota) dan Yoshiio Fujimoto (Jepang / Toyota).

Pereli Indonesia lainnya, Irvan Gading yang mengendarai Subaru Imprezza 555 serta Bambang Hermanto di atas Mitsubishi Lancer Evo III, peringkat kesembilan dan ke-10.

Bagaimana dengan WRC kedua di Sumut pada 19-21 September1997?  Reza Pribadi (Subaru Imprezza) kembali menembus 10 besar pereli, sedangkan  Tony Hardianto di tangga ke-11 dan Arief Indiarto di urutan 14 dan Hutomo MP di peringkat 16. Juaranya, Carlos Sainz.

Indonesia tentu saja berbangga hati. Tidak hanya karena prestasi pereli maestro nasional, namun dari sisi penyelenggara WRC, karena negara kita menembus empat besar penyelenggaraan terbaik, setelah Australia, Finlandia dan Spanyol.

Ini semua terjadi, tidak terlepas dari buah kerja keras pada panitia yang menangani dua reli kelas dunia itu, sehingga dapat berakhir dengan sukses dan kesuksesan ini menyebabkan citra olahraga otomotif di Indonesia, khususnya reli mobil, semakin meningkat di mata dunia.

Danau Toba Rally 2022, selayaknya menjadi rentetan kisah sukses itu, dan kelak keberhasilan kerja keras para panitianya,–dengan dukungan berbagai pihak,– akan membuahkan hasil:  Sumut kembali sebagai tuan rumah WRC.  Ini kisah dari APRC ke APRC dan dari WRC ke WRC.

Keinginan Reli Danau Toba 2022 menjadi salah satu seri kejuaraan APRC, sejak dikumandangkan Wakil Gubernur Sumut yang juga atlet reli mobil dan pembina IMI Sumut, Musa “Ijeck” Rajeksyah, pada Kejurnas 2021, termasuk cepat, karena tahun berikutnya reli kejuaraan nasional ini sudah bertajuk APRC.

Selamat bekerja rekan-rekan panitia pelaksana dan panitia lomba Reli Danau Toba 2022.  Selamat datang APRC Danau Toba. Selamat datang WRC Danau Toba. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru