Wednesday, July 06, 2022
Home > Cerita > Nostalgia WRC di Reli Danau Toba 2021,   Catatan A.R. Loebis

Nostalgia WRC di Reli Danau Toba 2021,   Catatan A.R. Loebis

Reli Danau Toba 2021 di Aek Nauli, Simalungun, (arl)

Mimbar-Rakyat.com (Aek Nauli, Simalungun) – Kejuaraan Dunia Reli (WRC) pernah berlangsung di Kawasan Sumatera Utara pada 1996 dan 1997 dan kedua kejuaraan itu dengan menakjubkan dimenangi Carlos Sainz dari Spanyol yang mengendarai Ford Escort.

Urutan kedua pada WRC Bank Utama Rally of Indonesia 10-12 Mei 1996, ditempati Piero Liati (Italia / Imprezza 555), disusul Juha Kankkunen (Finlandia / Toyota Celica), (Yoshio Fujimoto (Jepang / Toyota Celica) dan pereli tuan rumah Reza Pribadi yang menaiki Toyota Celica. Di urutan kesembilan dan ke-10 ditempati Irvan Gading dan Bambang Hartono yang menggenjot Subaru Impreza 555 dan Mitsubishi Lancer Evo 3.

Pada kejuaraan dunia Gudang Garam Rally of Indonesia 19-21 September1997 yang juga dimenangi Carlos Sainz, urutan kedua ditempati Juha Kankkunen, disusul Kenneth Eriksson, Richard Burns (Inggris / Mitsubishi   Lancer), Yoshio Fujimoto, Karamjit Singh (Malaysia / Proton), Harri Rovanpera (Finlandia / Seat Ibiza), Shugeyusuki (Jepang / Subaru Impreza), Erwin Weber (Jerman / Seat Ibiza) dan Reza Pribadi di urutan ke-10.

Sukses penyelenggaraan reli dunia itu, diikuti dengan kemajuan para pereli nasional, seperti yang diwujudkan Reza Pribadi yang berhasil menembus urutan lima besar dunia.

Irvan Gading yang memacu Subaru Impreza 555 dan Bambang Hartono di atas Mitsubishi Lancer menempati posisi kesembilan dan ke-10. Pada 1997, Reza berada di urutan 10, sedangkan Tony Hardianto di urutan 11, Arief Indiarto ke-14 dan Hutomo MP di urutan ke-16.

“Ketika itu reli mobil di Tanah Air amat membanggakan. Selain diramaikan para maestro reli nasional, Indonesia berhasil menembus empat besar penyelenggara terbaik dunia setelah Australia, Finlandia dan Spanyol,” kata Jeffrey JP, salah seorang dedengkot reli mobil, yang pernah sebagai co driver Ricardo Gelael dan Hutomo MP.

Keberhasil pereli Indonesia bersaing dengan para atlet dunia itu, tidak lepas dari dukungan hebat tim reli yang terbentuk pada saat itu, di antaranya Goro Rally Team dengan pereli Hutomo MP dan Ricardo Gelael. Kemudian tim lain adalah Impreza Motor Sport, Gading Rally Team, Mitsubishi Reliart Team dan beberapa lainnya.

Ketika itu, dari Medan hingga Danau Toba terasa suasana “hingar-bingar”, masyarakat “demam” reli mobil, penonton memadati perkebunan, penghunian hotel penuh, rumah-rumah penduduk disewa untuk berbagai kebutuhan.

Penonton di tepi lintasan hafal dengan nama-nama pereli dunia itu, lengkap dengan nomor dan merek mobilnya. Mereka mengelu-elukan, terkadang di belakang namanya ditambah marga, misalnya Kenneth Eriksson dijuluki Keneth Sinaga. Kenjiro Shinozuka dikasi marga Tobing. Nama dan marga itu lah yang diteriakkan para penonton, di saat pereli pereli melintas di hadapan mereka.

Di beberapa area tempat menonton, pagi hari sudah dipenuhi orang, dimeriahkan dengan pedagang penganan dan minuman di sekitarnya. Hal yang terpenting, masyarakat Sumut sudah faham dengan dunia reli, sehingga “mind-set” mereka terbentuk dengan berbagai hal positif tentang reli, di antaranya faham tentang bahayanya olahraga otomotif itu. Sehingga mampu menjaga diri dan saling mengingatkan saat suara mesin mobil sudah berderam-deram dari posisi start SS.

Satu tim pabrik umumnya didukung personil mencapai ratusan orang dan mereka mencarter pesawat yang parkir beberapa hari di Bandara Polonia Medan. Banyak tim pabrik yang datang. Sementara restoran dan rumah makan dipenuhi orang di berbagai lintasan sejak dari Medan hingga Parapat. Dapat dibayangkan tingkat income pemerintah daerah selama berlangsungnya WRC.

Panitia reli pun terasah kemampuannya secara professional, karena terbiasa melakukan tugas masing-masing sejak menaja kejuaraan bersifat nasional, hingga seri kejuaraan Asia Pasifik (APRC) dan tentu saja WRC.

Nostalgia WRC

Nah, Ketika berlangsung kejuaraan Danau Toba Rally 2021 pada 11-12 Desember, di Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, – wilayah salah satu rute yang dipakai pada WRC Indonesia,- perasaan bergejolak karena merasa nostalgia WRC, terlebih ketika bertemu dengan kawan-kawan lama sesama panitia setempat.

Di antara para panitia dan mantan pereli yang terlihat hadir di Aek Nauli, adalah Poedio Oetojo, Faryd Sungkar, Chepot Hanni Wiano, Beng Soeswanto, Jeffrey JP, Choti, Meck, Andy Yachmon, John Lubis, Lanang, Yanto Pasaribu, Bayoe, Rifat dan Rizal Sungkar, Ria Sungkar Renata Pasaribu dan lainnya. Ricardo Gelael dan Ijeck bahkan tampil sebagai peserta. Ada juga Subhan “Ubang” Aksa, Benny Lautan serta navigator kawakan Anthony Sarwono, Hade Mboi, Herkusuma, Mago Sarwono, Maman Aruman, Hervian “Ian” Sujono dan lainnya. Dedengkot lainnya, Indrajit Sarjono sebagai pimpinan lomba WRC, tak kelihatan di Aek Nauli.

Ian Sujono (kiri) bersama Meck, penulis, dan Andy Yachmoon, bertemu di ajang Reli Danau Toba 2021 di Aek Nauli. (arl)

Sebagian aktivis reli itu kelihatan sudah memutih rambutnya, terutama Andy Yachmon dan Choki yang bahkan jenggot pun sudah memutih. Tapi mereka masih penuh semangat, beraktivitas tanpa pamrih, terutama membantu dan menurunkan ilmu mereka pada para panitia baru sebagai regenerasi mereka.

“Regenerasi dan alih pengetahuan kepada panitia muda itu merupakan suatu keharusan. Mereka harus ditempa untuk dapat meneruskan dan mengikuti apa yang dilakukan para senior mereka,” kata Jeffrey JP, yang beberapa kali menjadi pimpinan lomba otomotif di tanah air.

Semangat dan passion yang harus dimiliki para pekerja (panitia), menjadi perhatian khusus Jeffrey JP, dan hal ini merupakan hal utama yang harus “dipompakan” para senior itu kepada generasi penerus yang membidangi OC dan RC pada event itu.

“Sumber daya manusianya dulu yang perlu dibangun, untuk memperkokoh tindak lanjut event reli mobil yang saat ini didambakan kembali menjadi kejuaraan internasional di Sumatera Utara,” kata Jeffrey, co driver Hutomo MP dalam WRC Indonesia.

Danau Toba yang terpilih sebagai salah satu dari lima destinasi wisata prioritas Indonesia, menyebabkan Wakil Gubernur Sumut, Musa “Ijeck” Rajekshah, yang juga pereli, merasa terpanggil untuk memboyong kembali Reli Asia Pasifik (APRC) dan WRC ke Sumut.

“Di sini pernah ada kejuaraan dunia, makanya WRC harus menjadi sport wisata di Tanah Air. Di Mandalika ada sirkuit internasional dengan laga internasionalnya, maka Sumut pun harus berusaha memboyong kembali kejuaraan dunia ke Danau Toba,” kata Ijeck.

Bahkan Ijeck menjelaskan, dana tidak menjadi masalah, karena ada dukungan pemerintah yang siap mengucurkan dana APBD. “Kita usahakan memboyong APRC ke Danau Toba pada 2022, kemudian WRC pada 2023,” kata Ijeck disambut tepuk tangan meriah, ketika ia memberikan kata sambutan pada acara pembukaan resmi Reli Danau Toba, Jumat (10/12-21) di Aek Nauli.

Ricardo Gelael mendukung niat baik itu. “Saya yakin hal itu bisa diwujudkan. Tahun depan harus ada reli nasional minimal tiga seri dalam setahun. Di sini amat memungkinkan, karena rutenya sudah ada. Para peserta pun tidak harus bersusah payah berpindah tempat, sehingga mempermudah akomodasi para peserta untuk mengikuti reli itu,” kata Ricardo, urutan ke-10 pada putaran pertama Kejuaraan Reli Danau Toba 2021, Sabtu (11/12).

Sean Gelael yang tampil sebagai juara dalam Reli Danau Toba itu, juga menginginkan ajang lomba otomotif utamanya reli mobil, kembali menggeliat di Tanah Air. “Saya yakin kejuaraan reli mobil semakin bersemarak di Sumut setelah lomba kejuaraan nasional ini dan akan diikuti para pereli asing. Semoga WRC kembali diadakan di Sumut,” ungkap pebalap yang akan mengikuti semua seri kejuaraan FIA WEC 2022, setelah menempati urutan kedua pada kejuaraan 2021.

Salah seorang panitia yang cukup berpengalaman, Choki, menyambut baik keinginan memboyong kembali WRC ke Sumatera Utara. “Saya menyambut baik keinginan itu, apalagi mendapat dukungan besar dari pemerintah. Saya kira panitia siap bekerja. Lintasannya tinggal diperpanjang untuk memenuhi persyaratan reli dunia,” ungkapnya.

Semangat itu sudah dibangun pemerintah dan para pegiat lomba otomotif nasional, kini tinggal bagaimana organisasi otomotif IMI serta semua unsur terkait menanggapi tantangan itu, hingga para pereli dunia sekaliber Carlos Sainz yang dua kali juara di WRC Indonesia, datang lagi ke Sumut.

Nostalgia WRC 1996 dan 1997 lewat gelaran kejuaraan nasional Reli Danau Toba 2021, tidak terasa hambar, karena ada semangat dan fokus tujuan untuk mengembalikan marwah dan kemegahan reli dunia ke Tanah Air, khususnya ke Danau Toba.

Horas ma di hita sasude.. (***)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru