Friday, December 02, 2022
Home > Cerita > “Salto” Sean Gelael di dalam data dan fakta,  Catatan A.R. Loebis

“Salto” Sean Gelael di dalam data dan fakta,  Catatan A.R. Loebis

Mobil Sean Gelael yang terbang salto di Meikarta Sprint Rally, Sabtu lalu. (ist)

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Citroen R3 S5 itu bersalto tiga putaran di udara, di dalamnya ada Sean Gelael dan Bambang Soesatyo, kemudian mobil reli itu mendarat dengan moncong ringsek dan menakjubkan dua orang penumpangnya tidak cedera sedikit pun.

Apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya salto itu, yang secara dramatis sekaligus fantastis dapat disaksikan publik lewat gerai di tangan masing-masing – karena gambar dan videonya viral se-nusantara.

Berita merebak dengan seru, karena di dalamnya ada seorang pejabat publik, Bamsoet yang ketua MPR sekaligus ketua IMI, dan Sean Gelael – juara kedua Kejuaraan Dunia FIA WEC 2021, juga juara kedua lomba ketahanan legenda Le Mans, sebagai salah satu seri dari kejuaraan WEC musim tahun ini.

Citroen R3 S5 dengan homologasi kejuaraan dunia reli (WRC) grup 2 itu, langsung “dibedah” di kediaman Ricardo Gelael, oleh dua “dokter bedah” mobil, yaitu engineer dari Citroen Eropa Nuno Pinto dan Daniel Silva.

Onderdil mobil dipereteli dan tidak ditemukan kerusakan berarti dan Nuno mengatakan “dari sisi mobil, tidak ada yang salah.”

“Di Meikarta panjang lintasan 5,3 km di mana 5 km adalah tarmac (aspal) dan sisanya gravel. Jadi wajar kalau setelan mobilnya adalah untuk tarmac. Dan dengan setelan seperti itu jika ada perubahan lintasan di area gravel tentu bisa memengaruhi apa pun, termasuk kecelakaan. Dan pada pagi hari sebelum SS1 kami keliling naik motor melihat lintasan dan semua normal,” ujar Nuno.

Daniel Silva menambahkan, mobil yang dikendarai Sean sudah memenuhi standard reli dunia. “Sean sebenarnya tidak melaju terlalu kencang, dalam taraf wajar karena statusnya ekshibisi. Pembelajarannya adalah, lintasan memang harus dipastikan aman dan layak,” ujarnya.

Nah, Sean Gelael mengaku masih belum menyadari apa yang terjadi sehari setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan Bambang Soesatyo alias Bamsoet pada SS2 Kejurnas Sprint Rally di Meikarta, Bekasi, Sabtu (27/11) itu.

Ini kesimpulannya

Namun setelah mobilnya dibongkar, sekaligus membuka data telemetri serta memutar ulang semua video yang ada, atlet otomotif yang suka senyum itu mengambil kesimpulan apa yang sebenarnya terjadi.

Pertama soal mobil. Setelah diperiksa memang ada beberapa bagian yang rusak, tapi rollbar di kabin mobil sama sekali tidak rusak, bahkan tak satu pun yang patah dan mesin pun masih bagus.

Sean Gelael menjelaskan lewat ilustrasi telemetri tentang kecelakaan yang menimpa dirinya bersama ketua IMI Bamsoet.

“Tapi kerusakan yang ada karena dampak dari tabrakan, bukan sebelum tabrakan. Artinya, sebelum insiden mobil dalam kondisi bagus,” komentar Ricardo Gelael, sembari mengangkat beberapa bagian pretelan mobil, saat ditemui media di kediamannya.

Sean menambahkan, “Sebelum buka telemetri saya menyangka saya melaju lebih cepat dari sebelumnya, tapi ternyata tidak. Pada saat shakedown Jumat di lintasan kering, saya melaju 110 km per jam di tempat kecelakaan. Lalu pada SS1 karena becek setelah semalaman hujan saya mengurangi kecepatan dengan melaju 107 km per jam. Dan pada SS2 yang mulai mengering kecepatan saya 109 km per jam. Kesimpulannya, kecepatan saya kurang lebih sama,” kata Sean.

Kemudian video dibedah dan didapatlah fakta bahwa ada satu kondisi berbeda di area gravel (tanah liat). Ada gundukan yang memang sama sebelumnya, tapi setelah itu ada gundukan tanah tambahan yang menjadi penyebab mobil Citroen C3 R5 itu terbang, terguling, dan terdampar secara spektakuler. Jarak antara dua gundukan tanah itu sangat dekat, sehingga mobil bisa terlempar dan crash dengan hebat.

“Nah, gundukan tambahan itulah yang saya tidak mendapat laporan keberadaannya. Karena selama SS1 dari video yang kami buka ulang terlihat tidak ada,” ujar Sean.

Gundukan tanah tambahan itu bisa jadi karena proses alamiah, misalnya karena tanah yang mengering. “Tapi semestinya ada yang memberitahu ke semua peserta bahwa lintasan telah berubah,” ujar Sean.

Kalau di reli, semua terkait kondisi lintasan itu adalah tugas “00” atau “0” Car, alias mobil pengaman dan pemantau lintasan dan lokasi lomba, yang keluar sebelum peserta peserta pertama melaju. Kalau di F1 dan MotoGP itu tugasnya Safety Car. Pengendara mobil-mobil tersebut lalu melaporkan kepada Clerk of The Course (pimpinan lomba) dan Race Director.

Ricardo juga menjelaskan bahwa apa yang dia dan Team Jagonya Ayam lakukan adalah apa yang biasanya dilakukan oleh FIA setelah kecelakaan terjadi. Dalam skala dan ruang lingkup kecil, mereka melakukan tiga hal: mengecek data mobil, mengecek apakah ada driver error, dan mengecek lintasan.

“Dengan adanya engineer dari Citroen Eropa yang memang kami hadirkan untuk Reli Meikarta. kami bisa dengan cepat mengetahui penyebab kecelakaan,” ujar Ricardo.

Dua “dokter mobil” itu dengan cepat mendeteksi apa yang terjadi dan Sean Gelael secara teknis menjelaskan gambar telemetri tentang lintasan, kecepatan (speed) kendaraan, hingga ia melambung ke udara.  Dan dengan kecepatan kerja secara canggih dan profesional, insiden itu dapat dijelaskan berdasarkan data dan fakta.

Di ajang reli dunia, unsur safety memang jadi prioritas FIA menyusul kecelakaan hebat Robert Kubica saat mengendarai Skoda pada Reli Andora 2011. Mobil, pebalap, dan lintasan harus benar-benar dipastikan layak.

“Menjadi pebalap itu besar risikonya. Saya berkali-kali mengalami tabrakan dan saya bahkan kehilangan teman baik akibat insiden di trek. Semoga dengan kejadian ini kita di Indonesia bisa belajar banyak tentang bagaimana menciptakan kondisi yang aman, apakah saat balapan atau berkendara biasa di jalan raya,” kata Sean.

“Dalam racing apa saja bisa terjadi. Semoga kejadian ini membuat kompetisi di Indonesia semakin professional. Dan ini semoga menjadi jalan dalam membangun talenta para penerus atlet otomotif ,” tambah Sean.

Komentar Pimpinan Lomba

Pimpinan Lomba  (Clerk of the Course), Poedio Bintoro, mengakui, dalam setiap perlombaan, apa pun jenisnya, yang paling diutamakan adalah faktor keselamatan (safety).

“Kita pun sudah berusaha maksimal mengutamakan faktor keselamatan dan faktor keamanan para peserta, dan juga para penonton,” tutur Bintoro yang akrab dipanggil Mas Bin, dan sudah kerap memimpin lomba otomotif.

“Saya kira unsur pendukung keamanan dalam lomba itu tertata dengan baik sesuai aturan,” kata Mas Bin, dengan menambahkan, bahkan mereka memotong lintasan karena di kawasan itu terlalu banyak penonton.

Namun Mas Bin mengatakan, dengan adanya insiden yang menimpa Sean Gelael, selayaknya panitia perlombaan semakin hati-hati dan awas dalam menata setiap lomba, utamanya dari sisi keamanan.

“Ini merupakan pembelajaran bagi para panitia lomba agar berusaha lebih profesional,” kata Mas Bin, sembari menyebutkan keikutsertaan Sean Gelael di ajang lomba itu – kendati hanya bereksibisi- , tapi membuat laga semakin semarak.

“Dengan ikutnya Sean dan timnya di lomba mana pun, event menjadi lebih bersemarak, karena ia merupakan atlet otomotif internasional dan masyarakat haus menyaksikan lomba yang bermutu dan menegangkan,” kata Mas Bin, dengan menambahkan, ia berharap Sean Gelael ikut dalam kejuaraan nasional reli di Sumatera Utara pada pertengahan Desember 2021.  (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru