Thursday, June 17, 2021
Home > Cerita > Lebaran Digital,   Catatan A.R. Loebis

Lebaran Digital,   Catatan A.R. Loebis

Ilustrasi - Lebaran.

Hampir semua sarana dan prasarana manusia saat ini serba digital, bahkan Lebaran 2021 pun diminta dilakukan secara digital.

Untung saja shalat Ied Fitri di masjid dan lapangan sudah diijinkan, dengan prokes, bila tidak, bisa-bisa shalat pun dilakukan secara digital.

Pada Lebaran 2020 sebenarnya kita sudah melakukan Lebaran secara virtual, bersilaturahim melalui panggilan video atau pun lewat zoom. Nah tahun ini pun kita diminta untuk melakukan hal sama, dengan tujuan untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

“Kita canangkan bersama-sama melakukan Lebaran tahun ini sebagai Lebaran   digital,” kata Menteri Kominfo Johnny G. Plate, sekaligus meminta masyarakat tidak pulang kampung, sebagai gantinya, pertemuan keluarga bisa dilakukan secara virtual melalui aplikasi konferensi video.

“Peniadaan mudik oleh pemerintah dalam hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa Indonesia berhasil menangani pandemi Covid-19, untuk menurunkan serendah-rendahnya penyebaran virus Covid-19,” kata Johnny.

Untuk memenuhi keinginan pemerintah itu, operator seluler menyediakan bandwidth sangat besar, agar masyarakat bisa mengadakan pertemuan virtual lewat gawai masing-masing.

Makna Lebaran atau Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah, suci diri, kembali seperti dilahirkan kembali.

Sejak zaman nenek moyang, Lebaran ditandai dengan saling memaafkan antara sanak keluarga, famili, tetangga, utamanya bagi mereka yang masih memiliki orang tua. Untuk itu, kita harus pulang kampung menemui mereka.

Pertemuan keluarga ini tak ubahnya seperti melakoni “katarsis” dan tidak afdhol rasanya bila tidak menginjakkan kaki di kampung halaman. Tidak lazim bila tidak bersalaman, mencium tangan dan saling berpelukan bermaafan.

Perputaran ekonomi / keuangan selama Lebaran sebelum pandemi, termasuk luar biasa. Selama 11 bulan mengumpulkan uang di kota-kota besar, kemudian membelanjakannya di kampung masing-masing, merupakan pemindahan dana masyarakat besar-besaran.

Tapi kini tidak terjadi. Dana masyarakat tertahan di kota besar.  Kemudian, sentuhan jemari atau lengan dengan orang tua dan sanak keluarga pun tidak terlaksana. Ini semua akibat pandemi dari Wuhan itu belum juga sirna dari muka bumi.

Di India, virus ganas itu malah saat ini semakin bergelora, seolah api membakar dada di berbagai kota.  Orang bertumbangan, rumah sakit penuh, krematorium tak sanggup menampung mayat, sehingga banyak orang meninggal dibakar di tempat parkir dan di jalanan.

Lebaran digital membuat sesama keluarga semakin berjarak.  Orang dilarang mudik, sehingga Ibukota tetap penuh, Tanah Abang sesak, berbagai mol seolah “meledak”, restoran dan berbagai tempat kuliner buka puasa penuh manusia.

Lebaran digital itu hanya untuk orang desa yang cari makan di Ibukota atau kota besar lainnya, agar tidak pulang kampung.  Di Jakarta, orang tetap luber dimana-mana.

Pemerintah hanya mengingatkan, walau tidak pulang kampung, tapi ada alternatif yang sudah diketahui bersama, yaitu bertemu sanak famili secara digital melalui perangkat komunikasi masing-masing.

Sisi positifnya, usaha agar tidak terjadi kerumunan di berbagai kampung halaman di Indonesia.

Peringatan ini perlu, dalam usaha menekan angka penyebaran virus Covid 19 yang hingga saat ini masih merajalela.  Agar Indonesia tidak seperti India.

Selamat Idul Fitri 1442 H, maaf lahir batin.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru