Wednesday, October 28, 2020
Home > Cerita > Cerita Buku > Antologi puisi HPN 2020: Membaca Lapis Makna,   Catatan A.R. Loebis

Antologi puisi HPN 2020: Membaca Lapis Makna,   Catatan A.R. Loebis

Antologi puiswi 10 wartawan pada buku HPN 2020 Banjarmasin. (ist)

Bagaimana cara memahami puisi yang baik? Pembaca selayaknya melakukan interaksi dengan fisik puisi, untuk menggali makna (sense) secara umum, karena keberadaan makna akan membuahkan pertanyaan “apa yang ingin dikemukakan penulis puisi lewat karyanya itu.

Para penulis puisi mengungkapkan isi hati dan pikiran mereka terkadang seperti pernyataan, tapi ada yang seperti menyapa alam makro dan mikro – sehingga frasa puisi bernuansa multi tafsir. Inilah makanya ketika membaca puisi, berarti kita berinteraksi dengan kata, frasa, kalimat, bahkan bertemu secara intuitif dengan penulisnya.

Karya wartawan yang termaktub dalam antologi puisi Hari Pers Nasional (HPN) 2020 berjudul Menatap Tubuhmu – Di Belukar Bakau, menunjukkan ketajaman pengamatan para rekan wartawan terhadap lingkungan – baik melalui mata raga mau pun mata batin – sehingga pembaca pada momen tertentu harus meraba-raba makna di balik kata.

Kebebasan berekspresi melalui puisi – tidak lagi dibatasi teori dan tenggat waktu seperti ketika menulis berita (news) – membuat para wartawan penyair menumbuhkembangkan dengan bebas makna pokok pikiran – melalui tema dan amanat yang bernuansa pesan sosial mau pun moral.

Kumpulan puisi wartawan untuk Hari Pers Nasional (HPN) 2020 kali ini luar biasa. Ada 10 wartawan yang mengirim karyanya, dengan jumlah total 121 judul puisi.

Para pengirim puisi ini adalah Ahmad Istiqom (24  puisi) , A.R. Loebis (5), Dheni Kurnia (3), Djunaedi Tjunti Agus (18), Kunni Masrohanti (2), Maria Andriana (6), Syam Irfandi (8), Temu Sutrisno (28), Yusni Fatimah (3) dan Zulfadhli (25).

Antologi puisi wartawan di HPN pertama kali terbit pada HPN 2017 di Maluku, dengan judul Sajak Kepada Presiden & Presiden Bebek, menurunkan karya Djunaedi Tjunti Agus, A.R. Loebis, Artini Suparmo, Iman Handiman, Maria D Andriana dan Nia S Amira.

HPN 2018 di Padang dengan judul buku Wajah Tua Menikam Malam, ada 116 puisi yang lahir dari tangan Ahmad Istiqom, Ayid Suyitno PS, A.R. Loebis, Djunaedi Tjunti Agus, Edy Supriyanta Sjafei, Edi Purnomo, Imam Handiman, Maria D Andriana, Ramon Damora, Ress Yasin, Willy Hangguman dan Yusuf Susilo Hartono.

Pada 2019 dengan judul antologi Negeri Yang Tercabik, hadir puisi ciptaan Ayit Suyitno, A.R. Loebis, Djunaedi Tjunti Agus, Maria D Andriana dan Yusuf Susilo Hartono.

Nah, Menatap Tubuhmu – Di Belukar Bakau, merupakan judul dua puisi sebagai padan kata yang diselaraskan menjadi judul antologi puisi ini. Ini hanya merupakan jalinan frasa puitik – enak dipandang dan didengar.

Menatap Tubuhmu memainkan imagi tentang alam, melalui soliliqui dari pulau karam, ketika sang tokoh berkata: Izinkan aku menatap tubuhmu // engkau tahu tapi merindu. Di Belukar Bakau pun menyentuh alam lewat laut, camar pantai. Ia belajar tentang hidup. Di belukar bakau itulah kita tau perihnya duri akar. 

Membaca 122 judul karya wartawan dalam antologi puisi HPN 2020, rasanya tak cukup sesaat atau hanya semalaman. Kalau dilihat sepintas, kita hanya membaca, namu bila kita berinteraksi dan berapresiasi pada tiap karya, maka kita dipersilahkan penulisnya untuk memamah kata-kata mereka.

Penulis puisi handal, akan merenungkan totalitas makna puisi, bersikap pada pokok pikiran dalam tema dan makna puisinya, sekaligus bersikap kepada pembacanya.

Penulis puisi menuntun pemahaman pembaca secara ekstrinsik, bahkan sebenarnya ia sudah berkata : Inilah latar belakang saya. Inilah keadaan masyarakat saya. Inilah warna sosial dan politik saya. Inilah adat istiadat di lingkungan saya. Inilah cinta saya. Inilah doa saya.

Pengamat atau pembaca puisi, melakukan penafsiran dan ini memainkan unsur subyektivitas, pengalaman dan pengetahuan serta latar belakang sosial budaya, untuk merumuskan makna puisi. Ketika puisi itu sudah memasuki ruang transenden, bisa jadi hanya si penulis puisi yang memahami maknanya.

Lho, kalau begitu apa gunanya puisi bagi kita para pembaca? Dibutuhkan pemahaman tentang tema, pokok pikiran dan makna puisi. Diperlukan pemamahbiakan makna puisi, sehingga, puisi tertentu tidak hanya “digigit” tapi “dimamahbiak” – agar dapat dicerna, untuk mengupas lapisan maknanya.

Akhirnya, yang pasti, semua wartawan umumnya  pandai menulis, tapi tidak semua wartawan pandai menulis puisi, apalagi memahaminya.  Menatap Tubuhmu – Di Belukar Bakau, banyak puisi yang ditulis secara sederhana, tetapi banyak pula yang menukik ke balik kata.  (djun. ta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru