Saturday, December 03, 2022
Home > Cerita > Cerita Khas > Sean Gelael mendominasi tapi terbentur masalah pompa air,  Catatan A.R. Loebis

Sean Gelael mendominasi tapi terbentur masalah pompa air,  Catatan A.R. Loebis

Sean Gelael di hari pertama Reli Danau Toba 2022. (jagonya ayam)

Dahsyat dan mendebarkan. Sean Gelael tampil tercepat sejak SS1 hingga SS8 pada kejuaraan Reli APRC Danau Toba 2022, termasuk tercepat pada sesi “shake-down”, sehingga diprakirakan ia akan tampil sebagai juara.

Tapi hasil laga ditentukan pada akhir lomba, artinya, hasil laga Reli APRC 2022 (23-25/9-22) itu baru dapat diketahui pada garis finish SS12, saat sang peserta penyentuh finis melapor di TC terakhir di Kawasan Aek Nauli.

Namanya saja prakiraan, hasilnya tentu baru ketahuan pada ujungnya, demikian pula yang terjadi pada Sean Gelael, yang baru tampil sebagai juara pada   kejuaraan FIA WEC 2022 di Fuji, Jepang, merupakan putaran kelima dari enam seri yang berlangsung sepanjang 2022.

Pereli tim Jagonya Ayam, Sean Gelael dan co-driver Hugo Magalhaes, yang menjadi Panglima Perang ajang pertarungan kecepatan di Danau Toba Rally 2022 itu membuktikan tampil tercepat di seluruh SS Leg-1.

Pada laga  yang berlangsung di areal Hutan Tanaman Industri (HTI) TPL Sektor Negeri Dolok. Huta Tonga, Aek Nauli dan Gorbus di Parapat, yang digelar Sabtu (24/9), Sean memacu  Citroen C3R5 membuat catatan total 01:16:57.1.

Rifat Sungkar (Mitsubishi Xpander) menorah waktu 01:19:56.4 dan Ijeck 01:22:18.8.

Namun posisi Sean, juara nasional Reli Danau Toba 2021, terpaksa melorot ke peringkat tiga dengan total waktu 1:24:57,1, karena menerima penalti delapan menit.

Pereli 26 tahun itu dihukum karena terlalu cepat keluar dari Technical Zone Out atau time control (TC 8B), dimana Sean seharusnya berada di lokasi tersebut selama 10 menit (Target Time).

Tetapi, baru dua menit di dalam Pre Service Parc Ferme, ia sudah keluar, sehingga posisinya langsung turun ke peringkat ketiga, dengan selisih total waktu sebesar 05:00.7 di bawah Rifat Sungkar.

Posisi kedua disandang Musa “Ijeck” Rajekshah yang memacu Skoda Fabia, sementara Ryan Nirwan (Toyota Gazoo Racing Indonesia) hanya mampu menempati posisi ke-9 karena sempat tergelincir keluar lintasan di SS 4.

Pereli M alaysia Karamjit Singh / Jagdev Singh berhenti lebih awal karena mobil Protonnya mengalami kerusakan powersteering dan differential di SS 2 yang menyebabkan roda mobilnya terkunci total.

Ganasnya lintasan juga membuat mobil Mitsubishi Mirage proto yang dikendarai Harun Nasution (Bla Bla Bla Motorsport) terguling di SS 2 setelah sebelumnya mengalami rem blong di SS 1.

Juara reli nasional tiga kali, Subhan Aksa, juga gagal menuntaskan Leg 1 karena piringan rem mobilnya pecah di SS 6.

Cuaca yang berangsur terik membuat lintasan SS 2 (Huta Tonga 1) lebih bersahabat sehingga para pereli lebih pede menggeber mobil mereka. Sean Gelael tampil all out di SS 6 sepanjang 16,67 Km itu.

Tetapi pebalap internasional itu mengaku lebih suka jika lintasan sedikit basah. “Balapannya seru dan lebih rough lebih sulit untuk mobilnya. Tapi semua aman, it’s a nice stage bebatuan juga. Lebih enak kalau gerimis, mengurangi batu berterbangan. Penonton banyak,” katanya.

Pada Leg 1, banyak peserta berguguran. Dari 65 peserta yang tertera pada starting list, hanya 36 pereli yang bisa menuntaskan perlombaan. Pereli asal Sumatera Utara Agung/Ibnu Akbar bahkan terperosok ke jurang sehingga tak dapat meneruskan lomba.

Akibat kena penalti, Sean Gelael turun ke tangga ketiga, setelah Rifat Sungkar / Benjamin Searchy di urutan pertama dengan waktu 1:19:56.4, Ijek / Hervian Soejono di tempat kedua (1:22:18.8) dan Sean Geael / Hugo Magalhaes (1:24:57.1).

Urutan keempat ditempati H. Rachmat / Hade Mboi dengan catatan 1:26:12.9 disusul Ricardo Gelael / Rony Maroun dengan waktu 1:27:20.0.

Leg2 mendebarkan

Laga Leg 2 Minggu dimulai pukul 07.30 dengan 57 starting list 57 peserta dan ini menjadi amat mendebarkan, karena para pengamat menunggu apakah Sean Gelael yang difavoritkan mampu mengejar ketertinggalannya, untuk kembali naik ke urutan puncak.

Perbandingan selisih angka ini cukup jauh, Sean memiliki angka total Leg1 01:16:57.1 disusul Rifat Sungkar (01:19:56.4) dan Ijeck (01:22:18.8). Sebelum dikenai penalti Ijek yang memacu Skoda terpaut angkanya dengan Sean sejauh lima menit 21,7 detik. Kini angka Sean menjadi 1:24:57,1.

Penampilan gemilang Sean seperti yang diharapkan penonton di sekitar Danau Toba yang senantiasa hadir di Negeri Dolok, Huta Tonga, Aek Nauli, dan Gorbus. “Sean Gelael yang paling kami tunggu,” begitu jawaban rata-rata penonton.

Sebelum kena penalti Sean mengatakan bahwa Reli Danau Toba kali ini memang seru dan mengasyikkan. “Ada beberapa jump yang bisa jadi tontonan tersendiri. Masih ada 4 SS besok. Tetap semangat!” serunya.

Sementara itu, pasangan Jagonya Ayam Motorsport satu lagi, Ricardo Gelael didampingi co-driver Rony Maroun masuk lima besar. Mereka yang juga mengendarai Citroen bisa memberikan perlawanan, terutama Ricardo yang sudah berusia 63 tahun.

Nah, apakah Sean mampu mengejar ketertinggalan waktunya dalam empat SS Leg2 hari berikutny?

Ini yang menjadi pertanyaan dan dinantikan dengan mendebarkan oleh para penggemar reli mobil, terlebih para pendukung Sean Gelael, yang tahun lalu juga menyaksikan penampilan menakjubkan Sean di kawasan perkebunan HTI TPL itu.

Sean Gelael di Leg2 harus tampil tercepat di tiap SS, untuk mengejar waktunya yang tertinggal. Seharusnya ia bermain di SS 9: Negeri Dolok Reverse (7,94 km). SS 10: Huta Tonga Reverse (16,42 km), SS 11: Gorbus Reverse (20,36 km) SS 12: Aek Nauli Reverse (7,67 km).

Para pendukung Sean menantikan dengan mendebarkan hasil adu kecepatan pada keempat SS itu, Namun penantian ini tidak terwujud. Pada akhir SS9 Negeri Dolok,  pompa air (water pump) Citroen C3 Rally2 dengan kapasitas 1598 CC yang dikendarai Sean bersama co-driver Hugo Magalhaes mengalami kerusakan, sehingga mereka tidak dapat melanjutkan persaingan yang semakin tajam itu.

Padam sudah harapan, karena “water pump” pada Citroen C3 itu tidak dapat diperbaiki dalam waktu cepat. Sean Gelael tidak dapat melanjutkan permainan, sehingga pada SS berikutnya Ijeck naik ke urutan kedua disusul Rifat Sungkar. Padahal sampai SS9 itu Sean masih memimpin tiga menit dari Rifar Sungkar, yang akhirnya tampil sebagai juara, disusul Ijeck yang dielu-elukan dan menjadi pujaan penonton lokal.

Ketika Sean hadir di SS terakhir, 12, di Aek Nauli, dia dielu-elukan penonton yang memang biasanya tumpah ruah di kawasan itu. Banyak yang ingin berfoto bersama dengan Sean dan pebalap profesional itu melayaninya dengan antusias dan ramah.

“Saya menikmati momen berada di tengah penonton dan mendukung ayah sendiri, legenda balap Indonesia. Selamat ya, Pa! Ikut bangga dengan podiumnya,” kata Sean yang menjadi suporter ayahnya di pinggir lintasan.

Menanggapi kegagalan itu, Hugo Magalhaes,”Kami masih ikut 9 SS dan selalu jadi yang tercepat di setiap SS-nya. Masalah pada water pump membuat kami tak bisa lanjut setelah SS9. Itulah motorsport, terkadang kejam,” ujar co-driver dari Portugal itu.

Apa yang menarik bagi mereka?

“Kami menunggu Sean,” demikian rata-rata komentar penonton, yang dengan sabar menantikan datangnya para peserta reli di tiap kawasan SS Reli Danau Toba 2022 itu.

M Zainullah Rivaldi ini penonton setia reli mobil, padahal rumahnya jauh dari Parapat. Ia tinggal di kawasan Sinaksak, dekat ke Pematang Siantar. Ia datang bersama isterinya Ratika, mengendarai sepeda motor, padahal bayi mereka baru berusia 26 minggu.

“Nggak apa-apa jauh Pak, naik sepeda motor. Saya sama isteri gemar nonton reli. Tahun lalu waktu kejuaraan nasional saya juga nonton, ketika bayi masih dalam perut isteri saya,” kata Rivaldi.

“Saya mau lihat Sean Gelael dari Rifat. Mereka favorit saya,” kata Ratika, sembari menambahkan ia ingin berfoto dengan kedua pereli dari Jakarta itu, namun belum ada kesempatan.

“Tahun lalu saya malah pengen berfoto dengan Sean ketika bayi saya masih dalam perut,” kata Ratika, “Sayang tidak kesampaian.”

Penonton yang satu ini luar biasa. Dedi Anjana datang jauh-jauh dari Tebing Tinggi bersama isteri dan anaknya, Devana Anjana, menumpang mobilnya dan mengaku susah benar mendapatkan tempat parkir.

Rivaldi bersama isteri dan bayinya dari Sinaksak. (arl)

“Kami parkir jauh dan jalan kaki ke dekat tempat lomba agar bisa nonton dengan enak,” kata Dedi.

Dedi mengaku, ketika ia berusia delapan tahun, ayahnya mengajak dia nonton reli kejuaraan dunia 1997. Saya masih terbayang, waktu saya kecil sudah nonton. Saya ingat nama-nama Carlsson, Sainz, Kenjiro. Mereka luar biasa,” tuturnya.

“Anak saya Devana pun kini gemar nonton olahraga otomotif. Dia katanya mau lihat Sean Gelael dan Ijeck,” kata Dedi, yang mengaku lupa membawa payung dan tikar, sementara matahari ketika itu memancarkan sinar sehingga panas tertik.

Dedi Anjana bersama isteri dan anaknya, di SS Aek Nauli Reli Danau Toba 2022. (arl)

Dedi mengatakan ia sedang menunggu Sean Gelael, yang dilihatnya sehari sebelumnya amat kencang.

Ketika dijelaskan bahwa Sean sudah berhenti, karena mengalami kerusakan pada mobilnya, ia menyatakan amat kecewa. “Wah sayang sekali Pak, kita menunggu mobil merah itu. Tapi masih ada mobil merah satunya,” katanya dan menyatakan takjubnya ketika dijelaskan mobil itu adalah kendaraan ayah Sean.

“Kapan lagi kejuaraan dunia di sini Pak.”

“Ya sabar saja. Mungkin dua atau tiga tahun lagi.”

“Kami tak sabar menunggunya Pak.”

 

Yuda dan Eva. (arl)

Penonton dari Serbelawan ini pun tak jauh beda keinginannya datang ke Reli Danau Toba 2022, ingin menyksikan pereli favoritnya.  Yanto dan Eva dengan senada mengatakan ingin melihat Ijeck, Sean dan Rifat.

Ternyata nama para pereli itu sudah dekat dengan telinga mereka. Mau nonton apa, demikian ditanyakan dan dengan spontan Yanto berujar: “Ijeck, Rifat dan Sean Gelael.”

Baca juga : Analisis dominasi Sean Gelael di Reli Danau Toba 2022

Mereka mendambakan para pereli itu beratraksi di hadapan mereka, tapi Sean hanya hari pertama yang tampil, sedangkan hari kedua hanya menonton ayahnya bersama ibunda Rini Gelael di sela-sela pepohonan perkebunan itu.

“Perlombaan adalah proses. Terkadang kesuksesan itu ada dan terasa di tengah proses itu,” Sean pernah mengatakan filosofi lomba itu.

Sampai bertemu di reli mendatang Sean! (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru