Tuesday, December 06, 2022
Home > Berita > Tokoh Budayawan Kuningan Kecam Arteria Dahlan. Begini Kata Politis PDIP

Tokoh Budayawan Kuningan Kecam Arteria Dahlan. Begini Kata Politis PDIP

Mimbar-Rakyat.com (Kuningan) – Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Kuningan, Dodo Suwondo mengecam pernyataan Arteria Dahln yang meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk mengganti Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Barat karena menggunakan Basa Sunda saat rapat.
“Itulah yang Kami tidak suka dan Kami protes keras karena bahasa tubuhnya pun, itu sudah menyatakan kemarahan dan kebencian terhadap orang sunda dan itu telah menyakiti masyarakat tatar sunda dan Jawa Barat, ” tegasnya.
Pihaknya meminta agar DPC, DPW dan DPP PDI Perjuangan memberikan sanksi yang setimpal dengan perbuatan Arteria. “Pernyataannya itu telah menyakiti hati masyarakat tatar Sunda. Lebih baik di PAW saja Arteria, digantikan dengan kader PDIP yang lebih baik. Berikan kesempatan pada yang lainnya,” lugasnya.

Sementara itu, ucapan Anggota Komisi III DPR RI dari PDIP, Arteria Dahlan, yang menuntut Arteria minta maaf, ditanggapi Politisi Senior PDIP Kabupaten Kuningan yang juga Anggota DPRD Kuningan, Rana Suparman.
Meski menurutnya beberapa tokoh PDIP Nasional telah “menegur” Arteria, Ia menambahkan bahwa secara historis, Marhaenisme yang lekat hubungannya dengan PDIP pun lahir di Tatar Sunda.
“Itu kan sudah ditegur oleh Kang Budi Dalton ya. Juga tokoh-tokoh Sunda lain, bahkan Ketua DPD PDIP Jabar pun sudah menyampaikan permohonan maaf, ” terang Rana menanggapi masalah Arteria Dahlan, saat ditanya wartawan di WKM, Rabu (19/1).
Ia menambahkan, Bung Karno (Ir Soekarno, Presiden pertama RI) pun belajar Marhaenisme di Tatar Sunda. Nama Marhaen pun lahir di Pasundan.
“Semua elit PDIP pun kalau lagi pidato ada yang suka memasukkan bahasa-bahasa Jawa, bahasa-bahasa daerahnya. Dan Pak Kajati pun saat tersebut memasukkan Bahasa Sunda saat rapat yang disebutkan Arteria, ” papar Rana.
Ucapan Bahasa Sunda yang dikatakan seorang Kajati dalam rapat itu, menurut Rana adalah hal biasa dan itu adalah wujud identitas.
“Ketika perbedaan adalah Taman Sari-nya Nasionalisme, maka perbedaan itu harus ada. Indonesia tidak akan jadi Indonesia, jika Sunda tidak ada, Batak tidak ada, dan suku lain tidak ada, ” tandasnya.
Joke-joke bahasa daerah yang sering disampaikan dalam setiap acara kenegaraan sekalipun, menurut Rana, itu menunjukkan identitas yang menunjukkan ke-Indonesia-an-an.
Saat ditanya, apakah Arteria Dahlan harus meminta maaf kepada orang Sunda, Rana mengembalikan hal itu kepada pribadi Arteria sendiri.
“Itu kembali pada orangnya ya. Beliau pasti juga ber-reflrksi atas apa yang dilakukannya, ” ujar Rana.
Bahkan, Anggota Fraksi PDIP DPRD Kuningan ini menyebutkan, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri pun sering mengamanatkan untuk menjaga kemajemukan.

pak Kajati dalam rapat agar menyelipkam basa Sunda kajari harus diganti.
Bahasa tubuh arteria Dahlan itu bentuk kemarahan, oleh karena itu kami protes keras terhadap pernyataan arteria Dahlan
Arteria Dahlan harus meminta maaf terhadap masyarakat Jawa Barat terhadap masayarakat Jawa Barat. Mohon kepada petinggi partai agar di PAW kan. Yang ketiga meminta tindak lanjut di semua Kabupaten. Berilah hukum. Bahasanya kasar tidak pernah sopan songong dan yang lainnya. Kami minta dan itu protes keras.
Timbulnya reaksi masyarakat Sunda kepada ucapan Anggota Komisi III DPR RI dari PDIP, Arteria Dahlan, yang menuntut Arteria minta maaf, ditanggapi Politisi Senior PDIP Kabupaten Kuningan yang juga Anggota DPRD Kuningan, Rana Suparman.
Meski menurutnya beberapa tokoh PDIP Nasional telah “menegur” Arteria, Ia menambahkan bahwa secara historis, Marhaenisme yang lekat hubungannya dengan PDIP pun lahir di Tatar Sunda.
“Itu kan sudah ditegur oleh Kang Budi Dalton ya. Juga tokoh-tokoh Sunda lain, bahkan Ketua DPD PDIP Jabar pun sudah menyampaikan permohonan maaf, ” terangnya.
Ia menambahkan, Bung Karno (Ir Soekarno, Presiden pertama RI) pun belajar Marhaenisme di Tatar Sunda. Nama Marhaen pun lahir di Pasundan.
“Semua elit PDIP pun kalau lagi pidato ada yang suka memasukkan bahasa-bahasa Jawa, bahasa-bahasa daerahnya. Dan Pak Kajati pun saat tersebut memasukkan Bahasa Sunda saat rapat yang disebutkan Arteria, ” papar Rana.
Ucapan Bahasa Sunda yang dikatakan seorang Kajati dalam rapat itu, menurut Rana adalah hal biasa dan itu adalah wujud identitas.
“Ketika perbedaan adalah Taman Sari-nya Nasionalisme, maka perbedaan itu harus ada. Indonesia tidak akan jadi Indonesia, jika Sunda tidak ada, Batak tidak ada, dan suku lain tidak ada, ” tandasnya.
Joke-joke bahasa daerah yang sering disampaikan dalam setiap acara kenegaraan sekalipun, menurut Rana, itu menunjukkan identitas yang menunjukkan ke-Indonesia-an-an.
Saat ditanya, apakah Arteria Dahlan harus meminta maaf kepada orang Sunda, Rana mengembalikan hal itu kepada pribadi Arteria sendiri.
“Itu kembali pada orangnya ya. Beliau pasti juga ber-reflrksi atas apa yang dilakukannya, ” ujar Rana.
Bahkan, Anggota Fraksi PDIP DPRD Kuningan ini menyebutkan, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri pun sering mengamanatkan untuk menjaga kemajemukan. (Dien)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru