Sunday, October 17, 2021
Home > Berita > Amir Sjarifoedin Tj A, salah seorang saksi kejayaan tinju amatir Indonesia telah tiada

Amir Sjarifoedin Tj A, salah seorang saksi kejayaan tinju amatir Indonesia telah tiada

Amir Sjarifoedin Tj A. Pemilik nama ini pernah akrab dengan tinju amatir Indonesia di bawah organisasi persatuan tinju amatir Indonesia (Pertina). Legenda tinju nasional Syamsul Anwar Harahap, Wiem Gomies, Johnny Riberu, Benny Maniani,  Krismanto, dan banyak petinju amatir ternama Indonesia lainnya mengenal sosok laki-laki bertubuh jangkung ini.

Amir pernah lama berkecimpung di kancah tinju nasional, bahkan dia dipercaya sebagai Wakil Sekjen PB Pertina tahun 1974 – 1979 ketika Saleh Basarah sebaggai Ketua Umum PB Pertina. Meski hanya wakil Sekjen, dia berfungsi sebagai Sekjen, karena Sekjen PB Pertina kala itu, dr. Hardjanto tinggal dan bekererja di luar Pulau Jawa.

Maka jadilah sosok Amir Sjarifoedin lebih banyak berurusan hal terkait administrasi, hubungan ke seluruh pengurus pusat dan ke daerah. Dia juga kerap berhubungan dengan para pelatih, juga para petinju.

Karena itu Amir menjadi seorang saksi ketika tinju Indonesia meraih prestasi terbaik di Asian Games 1978 di Bangkok, saat  Wiem Gomies meraih emas, Johnny Riberu meraih perak, Benny Maniani dan Krismanto meraih perunggu.

Mantan Wakil Sekjen PB Pertina itu juga menjadi saksi ketika Syamsul Anwar sukses  di Kejuaraan Tinju Amatir Asia Tahun 1977. Amir juga termasuk salah seorang motor penggerak berlangsungnya turnamen tinju internasional Piala Presiden di Indonesia. Prestasi demi prestasi kala itu diraih pertinju Indonesia, terlebih di evet SEA Games.

Amir Sjarifoedin kini telah tiada. Pria 3 anak, sejumlah cucu, serta anak sulung dari 7 bersaudara itu berpulang ke Rahmatullah pada hari Sabtu, 14 Agustus 2021, pukul 22.37 WIB di kediamannya, Wisma Asri Kota Bekasi. Almarhum meniggal dalam usia 75 tahun. Dia dilahirkan di Padang Sumatera Barat, 18 Agustus 1946.

Selain aktif di berbagai orgaisasi, karyawan di PT Inti Insan Sentosa sampai akhir hayatnya ini juga rajin menulis di sejumlah media massa, antara lain di Harian Umum Suara Karya, terutama tulisan tentang olahraga tinju, bisnis, dan wisata. Dia juga menerbitkan sejumlah buku, antara lain buku berjudul; Minangkabau Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol, serta buku sejarah olahraga tinju Indonesia.

Amir di mata adik-adiknya tidak hanya seorang sosok kakak, tetapi sekaligus sebagai ibu, ayah, dan guru. Sejak ditinggalkan kedua orangtua, dia bertindak untuk semua. Amir memimpin adik-adiknya dengan lembut dan bijaksana. Dia bisa bertindak sebagai orangtua, kakak, dan dilain waktu bagai teman yang membuat adik-adiknya tidak sungkan untuk bercanda.

“Uda Amir adalah segalanya bagi kami adik-adiknya. Dia mengerti kita, penuh kasih sayang,” tutur salah satu adiknya, Nurwani, dosen di Unimed Medan.

Istri, anak-anaknya, dan cucu-cucunya merasa selalu hangat bila berada dekat suami, papa, kakeknya. Mereka semua mengaku, juga adik-adiknya sangat dihargai Amir.

Amir Sjarifoedin telah pergi, meninggalkan istri, anak-anak, cucu-cucu, dari saudara-saudaranya. Selamat jalan Uda, selamat jalan Abang, selamat jalan Papa, Kakek, semoga Allah memberi tempat terhormat di alam sana. Aaamiiin.***(Djunaedi TA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru