Tuesday, October 04, 2022
Home > Berita > Rasionalitas Pulang, Catatan Hendry Ch Bangun

Rasionalitas Pulang, Catatan Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun. (mr)

Kita melihat, mendengar, membaca, betapa mudik di Idul Fitri 1443 Hijriah tahun ini diwarnai berbagai peristiwa dramatis. Ada yang belasan jam tertahan di jalan raya karena luar biasa banyaknya kendaraan yang ke luar dari Jakarta dan sekitarnya, menuju ke Barat dan ke Timur. Tidak mengherankan, karena setelah dua tahun resmi dilarang karena Indonesia dilanda pandemi Covid 19, pada tahun ini pemerintah mengizinkan masyarakat mudik. Diperkirakan ada sekitar 80 juta orang yang kembali ke kampung halaman, dengan menggunakan transportasi darat, laut, dan udara.

Perjalanan via jalan tol, yang secara teoritis lancar, mandeg bahkan mulai dari jembatan Semanggi sampai dengan ujung Cikampek, beberapa hari sebelum Lebaran. Lalu di minus tiga hari sampai malam takbiran, jajaran kendaraan yang berhenti semakin banyak, meskipun jalan bebas hambatan itu sudah dibuat searah menuju Timur.

Di pelabuhan penyeberangan Merak, antrean masuk ke kapal mencapai belasan jam karena jumlah kendaraan yang hendak ke pulau Sumatera melebihi perkiraan. Belasan kilometer jalan tol dipadati mobil sehingga praktis tidak bergerak berjam-jam. Karena keterbatasan daya tampung maka pelabuhan di Cilegon diaktifkan untuk menampung luberan kendaraan, begitu pula ketika terjadi arus balik, pelabuhan Panjang di  Lampung, dipakai untuk para pemudik.

Hal yang sama juga terjadi di Gilimanuk. Para pekerja di Bali yang ingin pulang kampung ke Jawa tidak terkira banyaknya sampai antrean ke pelabuhan juga berkilometer dan menimbulkan antrean panjang.

Yang mudik naik pesawat terbang atau kereta api, dari sisi waktu mungkin ada delay sedikit ataupun berdesakan saat check-in, tetapi tetap ada kerepotan saat berangkat dan tiba di stasiun atau bandara keberangkatan atau kedatangan. Tidak senyaman hari-hari biasa karena volume orang bertambah, melebihi kapasitas tempat. Selain jumlah penumpang, barang-barang bawaan pun berlebihan sehingga suasana membuat nafas sesak atau tubuh lelah.

***

Ada banyak keluhan, ada puluhan mungkin ratusan komplain. Ada rasa kesal, bahkan mungkin pula marah. Tetapi itu semua hilang begitu para pemudik bertemu ayah dan ibu, atau mungkin kakek dan nenek, sanak saudara, handai taulan di tempat tujuan. Yang ada adalah kegembiraan bertemu. Bertatap muka. Bersalaman atau berpelukan. Atau sungkem.

Itulah puncak kebahagiaan yang dicari, sehingga apapun dilakukan untuk dapat mencapainya. Tidak diperhitungkan kesengsaraan. Tidak diperhitungkan susah payah. Tidak diperhitungkan pula ongkos atau biayanya.

Tidak ada rasionalitas dalam pulang, kembali ke kampung halaman. Yang penting adalah pulang. Datang ke tempat kelahiran, ke rumah masa kecil, ke suasana lama, bertemu kerabat dan juga sahabat-sahabat. Dan ini tidak ternilai harganya.

Silaturahmi adalah sesuatu. Agama pun mengajarkan silaturahmi itu memperpanjang umur, memperbanyak rezeki. Jadi ada pembenaran juga, selain masalah emosi, dorongan perasaan yang tidak terjabarkan.

Tidak hanya di Indonesia. Kita menyaksikan di India, Pakistan, dan Bangladesh, lalu di Cina dan Korea Selatan, di hari-hari istimewa, jutaan orang yang pulang ke kampung halaman, dengan tujuan yang sama. Juga kita mengetahui di Amerika Serikat, tradisi kembali ke tanah kelahiran juga meriah. Berkumpul dengan orang-orang tercinta, di saat-saat khusus, menjadi sifat dasar kita manusia. Melepas lelah dari rutinitas bekerja, rutinitas duniawi, yang tidak ada habis-habisnya sampai ajal datang.

***

Kalau kita bertanya kepada mereka yang masih dilanda kantuk, capek, bokek, dan sisa rasa kesal, apakah mereka kapok mudik? Pasti jawabnya, tidak. Tahun depan akan dilakukan lagi. Mereka tidak ingat lagi semua kesulitan, semua kesengsaran yang baru dialami.

Ya karena mudik adalah kebutuhan psikis. Karena kita perlu jeda. Perlu mendapat kesenangan batin, perlu kegembiraan yang pernah kita alami di masa lalu. Ya mungkin di masa kanak-kanak, atau semasa di sekolah dasar. Ketika dunia terasa menyenangkan, dan persoalan ada nun jauh di sana.

Bagi mereka yang bekerja di Jakarta (dan sekitarnya), tiap jam adalah perjuangan, mulai sejak berangkat dari rumah pada pagi hari, sampai kembali pada sore atau malam harinya. Raga dan jiwa ditempa setiap hari, sedikit demi sedikit, hari demi hari, menimbun kelelahan. Bisa jadi ada waktu berlibur, bersantai di akhir pekan atau akhir bulan. Tetapi selalu ada yang tersisa, dan ini bertumpuk, seperti korosi pada logam, yang bisa merusak apabila tidak dibuang.

Rasa bahagia di kampung halaman, menjadi bekal untuk memulai lagi kehidupan hari-hari. Jiwa dan raga kembali kuat, bersemangat, untuk meraih cita-cita dan harapan.

Berbahagialah bagi mereka yang sempat pulang. Minal Aidin Wal Faizin.***

Ciputat, 9 Mei 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru