Thursday, September 24, 2020
Home > Cerita > Cerita Khas > Ayo Beli Koran   Catatan Hendry Ch Bangun

Ayo Beli Koran   Catatan Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Koran-koran. (ist)

Entah mengapa tadi pagi tiba-tiba saya tergerak untuk membeli koran di halte Transjakarta. Dalam beberapa waktu ini saya memang sering menggunakan transportasi publik itu untuk menghindari kemacetan Jakarta, menghemat waktu dan memanfaatkan kemudahan yang disediakan pemerintah. Jadi saya baru tahu ada penjaja koran di sasa, sementara di stasiun Commuter Line dibabat habis.

Setiap keluar dari bus saya pasti mendapati seorang pria paruh baya, mungkin 50-an tahun, datang menyodorkan selembar suratkabar kepada penumpang bus yang turun. Biasanya saya tidak peduli karena di kantor (masih) tersedia empat koran yang bisa dibaca, termasuk koran yang ditawarkan itu.

Rasanya tidak perlu membeli, meskipun harganya hanya Rp4.000,-  selisih sedikit dengan tiket Transjakarta dan Commuter Line yang juga kerap saya gunakan.  Informasi di koran itu pastilah tidak jauh berbeda, bahkan mungkin lebih ketinggalan dari yang sudah saya peroleh dari ponsel, yang sejak subuh sudah saya hidupkan untuk mendapatkan informasi. Dan bahkan terus saya lirik sesekali saat berada di dalam bus atau keretapi listrik.

Tetapi ada semacam rasa bersalah yang tampaknya sudah bertumpuk setiap kali saya turun di halte dan bertemu lelaki penyodor koran  itu. Sudah sejak lama saya meyakini dia tidak hanya menjual koran, agar dibeli lalu dibaca orang-orang yang berangkat bekerja dan konsumen transportasi umum itu, tetapi dia ikut berjuang mempertahankan jurnalisme yang ditampilkan berita-berita, liputan-liputan yang dikemas dalam berbagai produk jurnalistik sebuah media massa.

Dialah garda terdepan begitu istilah kerennya, yang ikut menentukan hidup mati berita yang ditulis wartawan-wartawan kompeten dan profesional, yang berwawasan luas, memahami kode etik jurnalistik, yang pada saat menulis berita mengharapkan informasinya bermanfaat bagi masyarakat, memberi pandangan bagi pengambilan keputusan, ataupun menimbulkan diskursus publik yang sehat.

Betul masih ada orang yang berlangganan dan korannya diantar setiap hari ke rumah, tetap jumlahnya tidak berkembang malahan cenderung menurun. Koran yang diantar itupun tidak “bunyi”, tidak bernilai promosi karena hanya dilihat, dibaca pemiliknya. Sementara koran yang ditawarkan di tepi jalan, di perempatan lampu merah, terpampang secara visual bagi ribuan orang setiap hari, dibeli ataupun tidak.

Memang tidak seramai masa jaya koran, katakanlah sampai tahun 2010-an, tapi bahwa koran, majalah, masih eksis  dan tampak di jalan-jalan, tetap penting. Sebab hampir tidak ada lagi orang yang membaca koran di bus, di kereta api, di stasiun-stasiun, di bandar udara, di kios pinggir jalan, yang dulu mudah kita saksikan. Artinya, jangan sampai masyarakat mengira suratkabar tidak lagi eksis karena semakin besarnya peran ponsel sebagai penyanji informasi.

***

Dalam dunia perkoranan, penjual sering dianggap remeh. Saya yakin ada wartawan yang sepanjang kariernya belum pernah mengetahui hal ihwal dan kehidupan mereka, bagaimana mereka datang ke agen setiap subuh untuk mengambil koran,  bergerak ke tempat penjualan strategis, lalu berdiri dan menjajakan koran di antara deru asap sampai matahari di atas kepala. Mereka memang bukan pegawai perusahaan pers tetapi orang yang mengambil koran di agen dan menjualnya dan  mendapat selisih dari setiap koran yang laku. Kadang dapat fasilitas seperti rompi, baju kaus, atau tas bermerek sebuah suratkabar atau majalah.

Di masa jaya media cetak, pendapatan penjual ini cukup besar. Dengan membawa 10 koran dan majalah, dia bisa memperoleh margin antara Rp 100.000-Rp 200.000, belum lagi bonus bulanan dari agen tempat dia mengambil koran. Tetapi kini karena pembeli semakin sedikit saya tidak yakin apa masih ada yang mau menjadi penjual lepas, sebab tampaknya yang ada penjual yang menjadi bagian sales marketing perusahaan surat kabar.

Namun mereka tetaplah berperan penting, sebab tidak sekadar menjual tapi memperkenalkan, kadang meyakinkan orang untuk membeli. Dulu sekali, mereka inilah yang meneriakkan headline untuk menarik perhatian dan membeli jualannya. Sampai pernah ada anekdot, si penjual majalah berteriak. “Ayo beli, berita menarik. Ada 10 orang tertipu di Jakarta,” teriak si penjual. Seorang bapak tertarik dan membelinya. Setelah melihat-lihat halaman satu dia bertanya,” Lho mana beritanya kok gak ada.” Si penjual berlalu dan berteriak lagi,” Tambah lagi yang tertipu. Beli koran, ayo beli koran.”  Berita menarik bukan di korannya, tetapi karena kelihaian si penjual koran memperdaya calon pembelinya.

Ketika serbuan informasi dari media sosial dan berita gratis media online di posen membuat masyarakat semakin meninggalkan suratkabar, maka peranan penjual koran ini semakin penting. Dia lah yang bisa merayu, mempengaruhi orang untuk  membeli koran dengan kepandaiannya menjual dan akan semakin baik apabila dia tidak hanya diperankan sebagai penjual tetapi juga pemasar (marketing) ketika dibekali pengetahuan tentang nilai tambah produk yang dijualnya. Dia menjelaskan mengapa orang harus membeli koran, sebab yang dijual bukan sekadar informasi dari berita, tetapi kepercayaan, keakuratan, keberimbangan, harapan, niat baik, dan seterusnya. Untuk itu tentu saja pengelola perusahaan pers harus membuka diri untuk mengubah persepektifnya tentang tenaga penjual ini.

Saat masih bekerja di sebuah suratkabar, saya pernah menemukan tenaga iklan yang modalnya hanya mengandalkan diskon, artinya mengiming-imingi calon konsumen dengan potongan harga, agar mereka mau memasang iklan.

Padahal seharusnya yang ditonjolkan adalah manfaat, benefit, nilai tambah, apabila sebuah produk dipasarkan melalui media kita. Imej, misalnya, amat diperhitungkan produser dalam memasarkan produknya di media. Apakah sesuai target audiensnya dalam hal SES? Apakah koran ini kredibel sehingga kalau dipasang produknya ikut terangkat? Kalau yang “dijual” hanya diskon, lama kelamaan justru si penjual akan tersudut karena pemasang bisa menekan dengan terus meminta diskon diperbesar padahal halaman terbatas.

Soal benefit membeli koran itu pulalah yang menurut saya harus ditanamkan pengelola media kepada para penjualnya yang ada di lapangan. Dengan demikian mereka tidak lagi diperlakukan sebagai tenaga lepas, buruh yang memburu uang, tetapi partner, rekan, yang membantu daya tahan media menghadapi perkembangan yang kian mencemaskan.

Di sisi lain saya kira pengelola media massa khususnya cetak juga harus menyadari mereka harus semakin gencar mengampanyekan nilai lebih koran dari jenis media lainnya. Saya pernah membaca mungkin tiga tahun lalu, hasil riset di Amerika Serikat menunjukkan bahwa konsumen mengambil keputusan untuk membeli barang setelah melihat produk itu diiklankan di media cetak.

Dia belum membelinya meski telah melihat produknya dipajang di billboard atau di platform lain. Tentu saja hal itu patut disampaikan ke produsen agar mereka tetap iklan di koran. Di Indonesia tidak pernah ada penelitian semacam itu dan atau kalaupun ada saya tidak yakin pengelola media massa mau untuk mengiklankan kelebihan mereka. Apalagi secara bersama-sama. Mungkin malu, atau tidak etis, atau merasa tidak perlu. Cara berpikirnya masih jadul. Padahal sudah sekarat dan banyak yang mati.

Mengedukasi masyarakat bahwa membaca koran itu penting, bisa jadi dianggap seperti menggarami laut, percuma, tetapi menurut saya justru semakin terasa pentingnya untuk saat ini. Tengoklah begitu mudahnya informasi palsu (hoaks) disebarkan media sosial.

Lihatlah betapa banyaknya berita tidak akurat, berita sepihak dan tidak berimbang, berita menghakimi, yang disebarkan oleh media siber yang pengelolanya bukan wartawan profesional. Begitu banyak informasi, tetapi justru membuat konsumen semakin tidak yakin kebenarannya sehingga harus dicek silang ke media massa konvensional. Kan lebih baik langsung mendapat berita dari media massa yang jelas, akuntabel, dan dikelola dengan profesional.

Membeli koran, menopang kehidupan media massa, bukan hanya kepentingan wartawan atau pemiliknya, tetapi juga kepentingan bangsa.

Kita akan kehilangan medium diskusi pro kontra, adu gagasan dan pendapat, alat koreksi pemerintahan yang handal, tempat bersuara orang-orang yang terpinggirkan, tempat masyakarat menyaksikan orang-orang kreatif, berprestasi, dengan karya dan pemikirannya, apabila media konvensional ini mati. Turut bersamanya orang-orang idealis, yang sudah mewakafkan dirinya untuk kepentingan publik dan tidak pernah memikirkan kepentingan pribadi dalam bekerja. ***  (Penulis adalah wartawan, mantan Sekjen PWI Pusat dan kini Wakil Ketua Dewan Pers)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru