Sunday, October 17, 2021
Home > Berita > Semoga Sehat Selalu, Catatan Hendry Ch Bangun

Semoga Sehat Selalu, Catatan Hendry Ch Bangun

Apa kabar Anda sekalian? Semoga sehat selalu. Berita-berita sekitar pandemic Covid-19 masih ramai dan mencemaskan, meskipun optimisme tetap ada.

Sejak awal Mei, India setiap hari masuk berita karena setiap hari ada ratusan ribu terjangkit virus Covid dan ribuan orang meninggal dunia dalam 24 jam. Kita menyaksikan di televisi bagaimana penderitaan warga anak benua Asia itu karena peningkatan penderita melebihi fasilitas kesehatan. Rumah sakit tidak lagi mampu menampung pasien, alat kesehatan khususnya Oksigen tidak mencukupi.

Orang bergeletak di jalan, parkir rumah sakit, dan menunggu di ambulan dan kendaraan, sementara maut siap-siap menjemput. Ironis karena India merupakan salah satu produsen Vaksin AstraZaneca terbesar di dunia.

Kita pun melihat bagaimana petugas membakar, mengkremasi mayat-mayat karena susah mengurusnya. Dan Sungai Gangga menjadi kuburan masal, entah di aliran sungai, maupun di bantaran, ditanam seadanya.

Malaysia yang semua bangga karena merasa berhasil mengatasi penyebaran Covid-19, melakukan lockdown mulai awal Juni karena pesatnya peningkatan pasien dan tingkat kematian. Angka kasusnya meningkat 7000an perhari, bahkan akhir Mei menjadi 8000an, jauh melebihi kasus di Indonesia yang meskipun meningkat masih di kisaran 5000-an.

Singapura juga membuat batasan yang lebih ketat, pertemuan di tempat umum hanya boleh diikuti dua orang. Tidak ada kunjungan ke rumah tetangga atau kerabat. Dan mereka yang melanggar diberi hukuman yang bernilai jutaan sampai puluhan juta rupiah. Bidang usaha ditutup kalau membandel.

Walaupun di sisi lain belahan bumi, kita melihat perkembangan positif. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, mereka yang sudah menerima vaksin dua kali, sudah dibolehkan beraktivitas di luar rumah tanpa masker. Di negara Eropa pun sudah menerapkannya.
***
Problem utama kita di Indonesia adalah target melakukan vaksinasi 1 juta orang perhari yang disampaikan Presiden Jokowi sampai saat ini tidak tercapai. Menurut data, hanya 400.000an saja. Kendalanya, pertama adalah kesediaan Vaksinator, tenaga penyuntik vaksin yang terbatas meskipun semua sumber daya manusia sudah dikerahkan.

Kedua adalah fasilitas. Walaupun seluruh rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat milik pemerintah dan swasta membuka diri, ruangannya masih kurang. Oleh karena itu banyak pihak menjadikan ruang besar untuk menjadi tempat vaksinasi. Kampus melakukannya, balai-balai pertemuan dst, tapi belum juga bisa menampung semua.

Hambatan berikut adalah sikap mental, menolak keberadaan virus. Masih banyak yang mengatakan Covid 19 adalah rekayasa, tidak benar-benar ada, meskipun sudah puluhan ribu orang meninggal dunia di Tanah Air, dan jutaan orang tewas di seluruh dunia. Bahkan kita sudah membaca berita ada masjid yang melarang jamaahnya shalat menggunakan masker.

Selain itu masih banyak yang lalai dan kurang peduli, seperti dalam kasus jutaan orang yang memaksakan mudik Idul Fitri walaupun sudah diperingatkan dan dicegat di jalan raya, pelabuhan, dan penerbangan.

Aneh sekali Indonesia, ada pula yang membuat surat keterangan Swab Antigen palsu, padahal itu sangat membahayakan dirinya dan orang lain. Ada pula yang menggunakann alat pengetes bekas yang jelas tidak akan memberikan hasil akurat selain berbahaya.

Akhirnya tercipta klaster mudik, mereka yang mengalami penularan Covid-19 sehabis pulang kampung. Mereka ini terdeteksi, lalu bagaimana dengan kerabat mereka di kampung?
Walaupun ada penolakan dari banyak warga di Jakarta dan sekitarnya, tokh potensi penyebaran mereka yang mudik ini akan sulit dicegah sepenuhnya. Walaupun petugas kesehatan, TNI, Polri menjemput bola dengan mendatangi rumah-rumah eks pemudik yang tidak melaporkan diri, itu pastilah hanya sebagian saja akan banyak yang tidak tertangkap.
***
Karena urusan kantor, yang datang ke tempat wisata dan beberapa kota di satu-dua bulan terakhir. Ya seperti tidak ada pandemi karena semua berjalan seperti sedia kala Tentu sebagian besar menggunakan masker. Tetapi menjaga jarak? Tidak. Mencuci tangan? Ya sesempatnya saja.

Ya, ancaman nyata ada di depan mata. Jalan satu-satunya untuk bertahan adalah kesadaran untuk menjaga diri kapan saja, dimana saja. Sebagaimana dikatakan Darwin, mereka yang bertahan bukanlah yang paling kuat atau paling hebat, tetapi paling pandai beradaptasi.

Ayo, tetap waspadai Covid-19. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, lalu hindari kerumunan. Dan yang tentu wajib adalah selalu berdoa kepada Allah Swt. Memohon perlindungan kepada Yang Maha Melindungi. Semoga kita selalu dijagaNya dimanapun kita berada.***

Yogyakarta
29 Mei 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru