Wednesday, September 30, 2020
Home > Cerita > Cerita Bale-Bale > Merugikan Orang Lain,  Catatan Hendry Ch Bangun

Merugikan Orang Lain,  Catatan Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Di masa pandemi Covid 19 kita harus lebih menghargai orang sekeliling kita. (rctiplus)

Amerika Serikat merupakan negara dimana warga bebas menyampaikan pendapat dan aspirasinya, termasuk tidak percaya pada virus Covid 19.

Ada jutaan orang mungkin di negeri itu yang menganggap virus ini adalah rekayasa belaka, yang cuma menakut-nakuti dan dilakukan oleh pihak tertentu untuk memetik keuntungan politis dan ekonomis.

Kita membaca di Jerman, demonstrasi juga terjadi, kota Berlin beberapa waktu lalu. Karena mereka tidak percaya, maka demonstran itu juga tidak peduli pada protokol kesehatan yang selalu dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Tidak ada kabar kelanjutan apakah ada banyak peserta yang lalu menderita sakit.

Salah satu tokoh politik AS yang tidak percaya virus ini, Herman Cain, meninggal bulan lalu karena terkena Covid 19. Ada banyak daftar orang kategori prominent yang menganggap isyu Covid hanya permainan politik semata dan ternyata meninggal karenanya. Tinggal googling, bisa kita tahu.

Tapi poin penting di sini bukan soal percaya atau tidak, tapi apakah hal tersebut merugikan pihak lain atau tidak.

Silakan tidak percaya tapi kalau berada di tempat umum, cegahlah potensi penularan virus dengan menggunakan masker, jaga jarak, dan sering membersihkan tangan dengan disinfektan atau mencuci tangan. Tetapi kebanyakan orang tidak percaya berarti suka-suka, meski barangkali dia termasuk nanti OTG (Orang Tanpa Gejala) yang tampaknya sehat walafiat tetapi begitu ikut tes usap (Swab Test) hasilnya positif.

Orang selalu mengacu pada disiplin diri orang Jepang yang selalu berusaha agar dia tidak merugikan pihak lain. Pada zaman “normal”saja di angkutan umum, orang Jepang dipastikan memakai masker apabila dia merasa memiliki gejala batuk atau flu. Saat ini tentu di semua aspek sikap itu dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Di Indonesia di banyak fasilitas petunjuk juga sudah diberikan. Di semua pelabuhan udara peringatan Covid 19 dan protokol pencegahan sudah dibuat. Tempat duduk di ruang tunggu, toilet, toko, rumah makan, semua sudah diberi tanda. Di pesawat Garuda, bangku tengah pasti dikosongkan, agar penumpang merasa nyaman. Saya pernah juga naik Sriwijaya Air, dilakukan hal serupa.

Tetapi kalau menyangkut manusia, pengaturan tidak mudah. Dengan alasan buru-buru misalnya, antrean keluar pesawat setelah mendarat tidak lagi menjaga jarak, bahkan cenderung berdempetan. Kita menyaksikan di televisi, antrean untuk masuk Stasiun Tanahabang juga tertib kalau ada petugas keamanan. Begitu ditinggal, kondisi berdesakan terjdi lagi.

Merepotkan memang untuk disiplin dan tertib di negeri ini. Saat antre validasi hasil rapid test di bandara beberapa waktu lalu, saya mengalami hal serupa. Saya menjaga jarak dengan orang di depan tetapi dari belakang ada yang mendekat karena kurang sabar.

Menjaga protokol kesehatan yang dianjurkan sebenarnya bentuk penghargaan kita atas orang lain supaya tidak terjadi penularan, jika kita sebenarnya memiliki Virus Covid19, ataupun menghargai diri sendiri sebab dengan demikian kita tidak akan tertulari. Pasti semua agama mengajarkan sikap menghargai orang atau diri sendiri. Namun kenyataan di lapangan, dalam praktek kehidupan social, jauh dari ajaran yang sering kita dapatkan dari pemuka agama.

Naik turun angka penderita Covid19 mencerminkan juga bagaimana sebuah tempat, sebuah komunitas menerjemahkan anjuran protokol kesehatan yang sudah demikian massif dan informatif.

Bukan karena tidak tahu, tetapi lebih karena tidak mau. Kalau yang jadi korban diri sendiri, ya gak masalah. Tetapi kalau sampai membuat orang lain menderita karena terkena Covid 19 yang kita tularkan, alangkah berdosanya kita ini. Kita tidak sadar sudah menyakiti, bahkan sampai membunuh seseorang karena tidak pakai masker, atau tidak jaga jarak.

Pertanyaannya, kita pastilah tidak mau dicap sebagai pembunuh. Tetapi apakah kita sudah berusaha mencegahnya dengan bertindak benar? Ayolah kita pikirkan sekali lagi. (Hendry Ch Bangun, wartawan dan wakil ketua Dewan Pers/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru