Wednesday, September 22, 2021
Home > Cerita > Badai Pasti Berlalu,   Catatan Hendry Ch Bangun 

Badai Pasti Berlalu,   Catatan Hendry Ch Bangun 

Bagaimana kondisi Anda saat ini? Semoga masih atau tetap baik-baik saja. Banyak sekali teman, kerabat, anggota keluarga, teman sekerja, kenalan jauh, dan anggota masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja.

Mereka marah atas keadaan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia atau sekitarnya. Kalau sudah marah, semuanya pun salah. Bahkan ada yang menyalahkan Tuhan. Luar biasa dan sungguh keterlaluan.

Tidak ada satu kejadian pun di muka bumi, dan seluruh alam semesta, tanpa kehendakNya. Tidak ada selembar daun yang jatuh tanpa diketahuiNya, apalagi bencana yang tengah dijalani oleh seluruh penduduk dunia yang dahsyat ini.  Dan semua yang kita alami ini adalah bagian dari rencanaNya.

Kita tengah diuji, sebagai manusia, sebagai kepala rumah tangga, sebagai anggota masyarakat, dan sebagah makhluk Allah. Kalau Dia yang menguji, umumnya akan lulus, karena tidak mungkin di luar kesanggupan orang yang diujiNya. Asal kita memahami secara komprehensif.

Bagaimana caranya tentu dengan introspeksi diri. Ya pandemi sekarang adalah kesempatan besar untuk melihat kembali ke dalam diri kita, berbagai kekurangan yang ada, dalam perjalanan kita. Di umur sekarang, sudah ngapain aja, kata orang Betawi.

Mungkin kita kurang bersyukur. Kurang komunikasi dengan keluarga. Kurang perduli lingkungan, tetangga-tetangga yang mungkin membutuhkan kita. Kurang silaturahmi. Masih sering membuat kesalahan-kesalahan kecil. Ibadah belum sempurna. Dan sebagainya.

Masa jeda ini bisa digunakan sebagai teropong ke masa lalu. Biasanya karena kesibukan sehari-hari kita lupa, atau tidak peka, atau cuek. Sekarang saatnya memperbaiki. Mumpung masih sempat, karena setiap saat kita mendengar nyawa beterbangan karena Covid-19 dan dampak ikutannya.

Mumpung masih ada waktu, kata Ebiet G Ade.

***

Betul sekali pernyataan yang mengatakan, dengan banyak di rumah, mestinya ibadah kita akan semakin intens. Biasanya malas jalan ke masjid, atau pergi ke gereja, atau ke Pura. Kini mesti dilakukan sendiri karena adanya pembatasan. Atau ketakutan masuk ke dalam kerumunan.

Dari sudut pandang itu, bukankah Pandemi ini membuat kita menjadi sosok lebih baik?

Ribuan industri yang semula menciptakan polusi, terpaksa berhenti beroperasi. Asap-asap hitam pabrik yang biasanya menghiasi langit, berkurang drastis. Udara menjadi lebih bersih. Polusi jadi berkurang. Bukankah dari satu sisi, itu dambaan kita selama ini namun selalu imbauan atau aturan dikalahkan oleh kepentingan uang? Virus yang tidak tampak itu menghancurkan ambisi dan kesombongan manusia.

Laut-laut di daerah wisata yang didatangi kapal raksasa dengan ribuan turis, dulu kotor dan kehilangan penghuni aslinya. Tapi tengoklah. Di Venesia ikan-ikan kecil, mahluk laut, kembali datang dan berenang dengan sukaria. Laut kembali jernis dan biru.

Seperti dikatakan Mahfud MD Menko Polhukum, sekarang tidak ada lagi gunanya kaya dan punya kedudukan tinggi. Sebab masuk UGD pun harus antre. Tidak ada privilege karena rumah sakit disesaki pasien. Pada titik puncak, Bed Occupancy Ratio (BOR) rumah sakit di pulau Jawa mencapai 90 persen lebih. Bupati Bekasi dirawat sampai akhirnya wafat jauh ke Kabupaten Tangerang, di Karawaci karena tidak ada ruang bagi dia, di wilayah kekuasaannya. Betapa ironis.

Ini ujian dari Sang Pencipta. Ini cara dari Yang Maha Kuasa untuk mengingatkan kita sekaligus membersihkan alam. Tujuannya agar kita tetap ingat, manusia itu tidak ada apa-apanya kalau kehendak Dia sudah dijalankan. Kita ibarat debu, titik kecil, dalam semesta alam, tetapi kadang sering berlagak seperti Tuhan, baik terhadap diri sendiri, manusia, maupun lingkungannya.

Lalu bagaimana dengan orang yang kehilangan rezeki karena pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah? Orang-orang kecil semakin menderita sementara banyak pejabat yang diberi kewenangan malah ada yang korupsi, orang-orang kaya semakin kaya?

Ujian banyak caranya. Tetapi tidaklah itu dilakukan tanpa maksud Dia untuk menaikkan derajat kita. Untuk menguatkan kita yang mungkin selama ini lemah. Untuk memberi kita yang lebih baik.

Akan selalu ada akhir berbagai cobaan. Kalau bertahan kita akan menang. Ayo selalu optimistis.

Badai pasti berlalu.

***

Ciputat 26 Juli 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru