Wednesday, January 26, 2022
Home > Cerita > Kita Tidak Ingin Rekor Baru,   Catatan Hendry Ch Bangun

Kita Tidak Ingin Rekor Baru,   Catatan Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun,

Ketika saya menulis catatan pertengahan Juni 2021, sebenarnya angka-angka terkait Covid-19 sudah mengerikan. Rata-rata nasional penderita Virus Cotona sudah menembus angka 10.000 per hari. Khusus Jakarta rata-rata mencapai 5.000 penderita baru. Total nasional sampai Minggu, menembus angka 2.000.000 penderita Covid-19.

Tetapi angka per 5 Juli 2021 lebih mendebarkan jantung. Ya terutama sejak masuk ke bulan Juli, ketika dampak liburan panjang dan ketidakdisiplinan masyarakat makin memperlihatkan diri. Ketika banyak orang merasa bencana sudah berkurang. Dan ketika sejumlah tokoh agama masih mempertentangkan kondisi faktual dan doktrin agama.

Per 30 Juni, hanya dalam tempo 15 hari, total penderita Covid-19 di Tanah Air perhari mencapai angka 21.807. Alias naik dua kali lipat dalam dua minggu dari sebelumnya 10.000. Di DKI Jakarta penderitanya mencapai angka 7.680 dari sebelumnya sekitar 5.000.

Ternyata  hari demi hari, rekor-rekor baru terus tercipta. Total nasional 1 Juli menjadi 24.836, per 2 Juli menjadi 25.830, lalu 3 Juli menjadi 27.913, dan kemudian 5 Juli penderita Covid menjadi 29.745 dalam satu hari. Luar biasa.

Untuk Jakarta yang menjadi provinsi terbesar dalam hal penderita, melesatnya angka tidak jauh berbeda. Dari angka 7.680 pada 30 Juni, melesat menjadi 10.903 untuk 5 Juli 2021. Bukan prestasi tetapi kenaikan luar biasa yang harus kita cemasi bersama.

Angka-angka signifikan itulah yang membuat pemerintah menetapkan PPKM Darurat untuk pulau Jawa dan Bali yang menjadi episentrum pandemic Covid-19. Angka yang selain disebabkan merosotnya disiplin warga khususnya ketika jutaan orang melanggar aturan mudik Idul Fitri, juga dikarenakan munculnya varian baru Covid, yang lebih cepat menulari dan lebih ganas merusak organ tubuh penderita.

***

Kita tidak perlu saling menyalahkan. Semua kita berkontribusi atas kealpaan, ketidaksigapan, yang membuat Covid-19 mencetak rekor demi rekor sehingga Indonesia mulai disamakan dengan India yang telah mengalaminya bulan Mei lalu.

Bukan hanya Indonesia. Gelombang kedua juga terjadi di Eropa yang tengah asyik dengan event Euro2000 yang ditonton ribuan orang di stadion seperti di zaman normal. Padahal varian Covid baru yang lebih ganas kini telah mendapat tempat di Amerika Latin, Afrika, selain Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Dalam satu pekan ini kita mendengar terjadinya krisis oksigen, selain krisis tempat tidur, di rumah sakit di banyak provinsi. Banyak pasien ditolak karena tidak ada tempat, dan banyak pula yang meninggal tanpa sempat masuk rumah sakit.

Ada puluhan pasien yang meninggal karena oksigen habis seperti terjadi di RS Sarjito, Yogyakarta. Ada tabung oksigen dirampok di sebuah Puskesmas di Lampung. Dan pemerintah mulai minggu pertama Juli ini sudah siap mengimpor agar stok terjaga. Indonesia bulan Mei lalu, ikut mengirim Oksigen ke India agar stok di sana mencukupi. Kini malah kita yang kekurangan akibat ledakan jumlah pasien.

Upaya pemerintah melakukan vaksinasi bagi satu juta penduduk per hari di bulan Juli dan dua juta penduduk perhari di bulan Agustus, tentu baik. Tetapi akan lebih baik lagi apabila kita semua sebagai warga negara menyadari faktor kesadaran diri, berupa disiplin protocol kesehatan yang telah disebarkan sejak lama.

Kita jelas tidak perlu rekor. Maka ayo semua ikut berperan. Kita jaga agar angka-angka penderita Covid tidak semakin tinggi. Ayo targetkan setidaknya mulai pertengahan Juli jumlah penderita semakin sedikit, yang meninggal terus berkurang  ( dari angka 558 sekarang), dan yang sembuh terus bertambah (dari 14.416).

Taati protokol kesehatan. Kondisi sudah sangat kritis.

oOo

Ciputat, 5 Juli 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru