Thursday, November 26, 2020
Home > Cerita > Berbaik Sangka,   Catatan Hendry Ch Bangun

Berbaik Sangka,   Catatan Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun.

Berapa lama Anda menunggu terkabulnya doa?

Kalau ditanya pengalaman banyak orang, tentu bervariasi. Ada yang doanya mendadak dikabulkan, ada yang bertahun-tahun tidak kunjung kesampaian. Ada yang yang relatif cepat, ada yang relatif lambat.

Memang begitulah adanya. Allah yang memiliki kekuasaan memiliki alasan untuk menjadikannyata permintaan kita dalam waktu tertentu.

Kadang kita meminta, tetapi sebenarnya belum siap menerimanya. Mungkin karena tidak akan mampu mengelolanya, sehingga nanti malah memberi dampak negatif. Mungkin juga untuk menguji kita, apakah kita sudah mencapai tingkat kesabaran tertentu sehingga pantas mendapatkan sesuatu dari Sang Pencipta.

Dan waktu itu betul-betul bersifat nisbi. Sangat bergantung pada persepsi. Menjalankan sesuatu yang kita sukai, semuanya terasa cepat berlalu. Menghadapi sesuatu yang membuat kesal, jengkel, tiap menit terasa menyiksa.

Maka kalau bersifat nisbi sebenarnya semua tergantung pada persepsi kita sendiri apakah doa itu diterima dengan cepat atau tidak. Nah, disinilah perlunya refleksi diri, melihat ke relung hati terdalam. Apakah saya pantas menerima, atau bahkan ataukah saya pantas meminta.

Kita sudah diberi banyak tetapi seberapa bersyukur kita selama ini. Coba saja kita tes, silakan dimulai. Saya setiap hari melihat orang dekat rumah yang berjalan susah payah karena penyandang cacat. Bagaimana repotnya dia berjalan, sering saya saksikan dia bekerja keras hanya untuk berjalan sepulang dari masjid setelah salat subuh. Bagaimana mungkin saya tidak bersyukur masih bisa berjalan normal?

Ada  orang tua yang untuk menghidupi keluarga harus berjualan sayur dengan berjalan entah berapa kilometer, setiap hari.  Sementara kita mungkin mendapat uang dengan cara yang lebih santai, dan jumlah yang lebih besar. Apakah pantas kita tidak bersyukur?

Ya, sebagaimana disebutkan di kita suci, kalau seluruh isi laut menjadi tinta dan seluruh pohon di dunia menjadi pena, itu tidaklah cukup untuk menuliskan aneka kenikmatan yang sudah diberikan kepada manusia.

Maka sebaliknya, melantunkan seribu kata syukur  kepada Allah Yang Maha Rahim, tidaklah cukup pula. Dan kita perlu bertanya ke dalam diri, seberapa banyak sudah saya sampaikan itu setiap hari?

Pastilah  masih kurang. Dan dalam kekurangan itu, pantas pulakah kita menuntut doa kita segera dikabulkan oleh Dia?

Pastilah Dia mendahulukan mereka yang tidak pernah berhenti bersyukur. Mereka yang selalu mengingat betapa besar nikmat yang diterimanya. Dan tentu doa akan lebih cepat dikabulkan apabila kita telah memperbanyak upaya mendekatkan diri lewat puji-pujian dan kemurahan hati padaNya.

***

Berbaik sangka merupakan langkah awal. Sebagai manusia disebutkan bahwa manusia biasanya melihat Tuhan dengan positif apabila diberi kenikmatan. Begitu diambil sedikit, segera ngomel. Begitu diberi cobaan, mulai mempertanyakan kasih Tuhan kepadanya. Dan begitu diberi musibah mulai menganggap Allah SWT tidak menyayanginya.

Padahal kadar keimanan kita itu justru diuji pada saat kita sedang dilanda masalah. Jangankan kita, para nabi juga diuji dengan cobaan yang besar sampai membuat seolah mereka putus asa. Tetapi setiap cobaan pasti diberikan karena orang itu dianggap mampu menjalaninya. Makin beriman, makin berat cobaan. Dan itu tanda manusia itu justru disayangiNya.

Dalam kaitan ini, untuk lebih memahaminya cara terbaik adalah untuk melihat kembali ke perjalanan hidup kita, sejak akil balik sampai saat ini. Apa saja kebaikan-kebaikan yang sudah kita tanam, apa saja yang sudah kita nikmati. Apa saja kerja keras yang sudah kita selesaikan sehingga dapat menikmatinya pada saat ini.

Tidaklah mungkin kalau kita menaburkan bibit jagung, lalu nanti memetik buah durian. Tidaklah mungkin apabila kita hanya bermalas-malasan maka rezeki dan kemaslahatan datang dengan lancar. Dalam bahasa populernya, keringat itu berarti. Capek itu ada maknanya.

Ini semua kalau dipikirkan di waktu yang tenang, di saat hening seperti di tengah malam yang sepi, akan memberi keyakinan bahwa tidak ada rencana Allah yang tidak baik. Hanya saja, kita sering salah sangka. Oleh karena itu kesabaran dan keikhlasan menerima apa adanya, penting selalu kita ingatkan pada diri sendiri.

Ada kok orang yang beruntung, kerja sedikit tapi kaya. Ada kok yang karena koneksi mudah mendapat uang. Betul sekali. Itulah cobaan yang lain. Dia pastilah diberi kenikmatan seperti itu untuk ujian. Dan hanya sedikit yang berhasil karena tidak memikirkan maksud dibalik semua itu, bahwa dirinya hanyalah perantara untuk membantu orang.

Ujian kenikmatan itu lebih sulit dari ujian kesusahan, itu sudah banyak contohnya, kalau kita melihat contoh-contoh yang dikisahkan dalam kita suci dan realitas dunia.

***

Di tengah hiruk pikuk kehidupan. Di tengah kondisi sosial politik saat ini yang membuat perasaan dan pikiran susah, menentramkan hati dengan rasa syukur juga akan memberi dampak positif.

Lalu berdoa untuk semakin menyejukkan jiwa, akan semakin baik.

Dengan keyakinan bahwa semua masalah itu akan terlewati, bahwa badai akan berlalu bakal memberikan optimisme. Semoga.

***

Jakarta, 18112020

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru