Wednesday, October 28, 2020
Home > Cerita > Mencatat Korona,   Oleh Hendry Ch Bangun

Mencatat Korona,   Oleh Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Mengcatat Corona. (validnews.id)

Pandemi Covid 19 memasuki bulan ketujuh tetapi belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan angka yang tersaji membuat bulu kuduk berdiri. Sampai hari Senin (21/9/20), tambahan kasus Covid-19 yang dilansir pemerintah dalam hal ini Satgas Covid19 tercatat sebanyak 4.176 orang sehingga total kasus menjadi 248.852 orang.

Angka 4000-an per hari ini lonjakan  luar biasa karena pada Juli rata-rata per hari baru sekitar 1000-an, meskipun sejumlah pihak di luar negeri kurang  percaya pada angka itu.

Dalam “dunia besar” kondisi di atas menimbulkan berbagai wacana. Pertama adalah imbauan agar Presiden Joko Widodo menunda Pilkada serentak untuk memilih sembilan Gubernur, 224 Bupati, dan 37 Walikota, yang akan dilakukan 9 Desember 2020. Dikhawatirkan pilkada menjadi klaster Covid baru. Beberapa tokoh, organisasi Muhamaddyah, Nahdlatul Ulama, ikut minta pilkada ditunda.

Padahal dari sisi ketatanegaraan repotnya luar biasa. Gubernur, Bupati, Walikota, semua harus cuti, lalu diangkat Pelaksana Tugas. PLT ini tidak memiliki kewenangan untuk eksekusi, hanya menjalankan tugas rutin administratif saja, tidak bisa mengangkat atau mengganti ASN, menandatangani dokumen tertentu, yang akan menghambat kinerja daerah. Apalagi PLT ini diangkat pemerintah, yang tentu saja tidak mewakili aspirasi rakyat, sehingga kalau dia sampai menjabat lama akibat pilkada ditunda, justru membuat kondisi sosial politik  tidak kondusif.

Sebenarnya Komisi Pemilihan Umum sudah sangat siap, semua sudah diatur baik, tetapi memang faktor disiplin masyarakat membuat semua bisa berantakan. Tempat pencoblosan, alat pendukung, kelengkapan petugas dan pencobolos semua dibuat sesuai protokol kesehatan.

Artinya di Tempat Pemungutan Suara, semua ok, tetapi di luar itu tentu bukan kewenangan KPU. Di sini penegakan hukum di masyarakat menjadi sangat penting. Bila denda yang sudah diatur di Pergub, Perbup, Perwali diterapkan ketat, masyarakat akan taat. Tetapi seperti biasa seperti kata pepatah bangsa kita ini memang senang “hangat-hangat tahi ayam”, satu dua hari disiplin, hari ketiga kendor lagi. Pasangan calon yang membawa massa, sebenarnya bisa didiskualifikasi tetapi apakah Bawaslu berani? Masyarakat yang melanggar apakah seketika dikenai denda di tempat?

Hal lain adalah perkiraan resesi. Kalau semua kwartal ketiga diharapkan sudah mulai ada pertumbuhan, kini kondisi itu menjadi tanda tanya besar khususnya ketika DKI Jakarta kembali memberlakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam dua pekan ini.

Banyak kantor tutup, karyawan bekerja dari rumah, dan kegiatan ekonomi seperti restoran, hiburan, terkena dampak. Berkurang drastisnya pembelanjaan masyarakat, jelas mempengaruhi perputaran uang. Meskipun di sisi lain kegiatan ekonomi digital seperti pembelanjaan online meningkat.

Kalau resesi, mereka yang bekerja kehilangan mata pencaharian, sementara biaya hidup justru kian meningkat karena adanya kekurangan dalam suplai barang maka, bisa timbul gejolak social. Adanya bantuan langsung tunai ataupun  subsidi diberi kepada banyak pihak yang membutuhkan, tetap saja persoalan masih ada. Karena angkatan kerja bertambah namun lowongan berkurang, serta muncul kesenjangan antara mereka yang kerja kantoran dan kerja harian, yang mengandalkan kegiatan setiap hari untuk hidup.

***

Mengikuti  “dunia besar” itu bikin sakit kepala. Di media massa, entah itu televisi atau pun surat kabar, dan khususnya lagi media online yang begitu banyak jumlah dan sebarannya, berita “negative” itu membuat daya hidup menurun.

Atau malah, membuat orang banyak marah-marah. Pesimis. Lalu menyalahkan sana sini karena merasa pengelola negara tidak beres. Padahal faktanya, tidak ada negara di dunia yang tidak terimbas problem Covid19. Nonton TV asing, kita akan menemukan hal sama. Inti pentingnya, orang susah semakin susah.

Maka mungkin agar tidak terpapar informasi negatif lebih parah, ada baiknya kita melihat ke “dunia kecil” kita sendiri untuk menjaga keseimbangan. Bukan menjadi katak dalam tempurung, atau masuk gua untuk sembunyi dari persoalan. Tetapi untuk mengasah sisi lain dari otak dan perasaan  kita. Di samping hal yang membuat sedih, murung, takut, kesal, marah, sebenarnya masih banyak hal yang bisa membuat kita berbahagia. Tepatnya bersyukur.

Tadi malam secara tidak sengaja saya mendengarkan lagu Louis Armstrong, yang saya kira banyak kita sudah pernah mendengarnya. Ya, Wonderful World. Beginilah sebagian liriknya. //I see trees of green, red roses too/I see them bloom for me and you/And I think to myself what a wonderful world.//I see skies of blue and clouds of white//The bright blessed day, the dark sacred night/And I think to myself what a wonderful world.

Kita tahu pohon itu hijau, mawar itu merah, melihat daun dan bunga merekah, tapi pernahkah kita memandang proses-prosesnya sebagai sebuah keindahan? Kita setiap hari melihat langit yang biru, awan putih, siang terang ataupun malam yang gelap, tetapi apakah kita menikmatinya. Apakah kita bahagia menyaksikan apa yang disajikan alam pada kita? Dan tentu saja, bagaimana Sang Pencipta memberi kita keindahan, kesempurnaan ciptaanNya?

Maka seperti kata Armstrong ada banyak hal indah di dunia ini untuk dinikmati, seandainya kita melihat sisi positif. Menikmati masih bisa berjalan kaki, melihat orang bertegur sapa dengan wajah gembira.  Betapa indahnya melihat anak-anak berlarian bermain, burung-burung berkicau di pohon depan rumah.

Korona ini mengajarkan kita juga untuk mencatatkan apa saja yang kita rasakan karena terkurung di rumah, entah karena dipaksa kantor, ataupun takut terjangkit penyakit. Apa yang dilakukan? Bagaimana mengatur agar berbagai tekanan psikis terkurung di ruang sempit bisa diatasi? Buku apa yang dibaca? Lagu apa yang kini banyak didengar? Dan bisa ribuan hal.

Tujuannya hanya satu, ketika kita nanti selamat dari musibah ini maka anak-cucu kita mengerti sejarah orangtua atau kakek neneknya dalam menjalani Pandemi Covid-19.  Kalaupun tidak, bagus menjadi catatan berharga. Yang penting, ayo kita lakukan dengan penuh rasa bahagia. Rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa.

oOo

Jakarta, 20/09/20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru