Sunday, September 27, 2020
Home > Cerita > Hidup Sampai September Itu Anugerah, Oleh Hendry Ch Bangun

Hidup Sampai September Itu Anugerah, Oleh Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Hidup hingga September itu anugerah. (ayojakarata)

Memasuki 1 September 2020 kemarin,  ada poster yang marak di media sosial. Bunyinya kira-kira, “Masih hidup sampai 1 September? Sesuatu yang patut disyukuri”.

Ya, virus Covid 19 yang misterius keberadaannya membuat kita masih hidup dengan tubuh sehat menjadi anugerah luar biasa dari Sang Pencipta.

Betapa tidak, setiap saat kita mendengar cerita kematian. Secara resmi dari pemerintah diumumkan jumlah pasien baru Covid19, angka kematian dari seluruh Tanah Air. Meskipun disampaikan juga jumlah orang yang sembuh sebagai counter balance, yang membekas di hati dan pikiran kita adalah kematian.

Di WA grup saya mendapat informasi meninggalnya dalam waktu kurang dari satu bulan, empat kakak beradik akibat virus ini, setelah mereka hadir dalam sebuah pertemuan keluarga. Ya, hanya di Agustus ini saja empat suami, empat ayah pergi ke alam baka, meninggalkan istri-istri dan anak-anak mereka. Suatu hal yang tidak terbayangkan terjadi di zaman “normal”, saat ini serba mungkin.

Ya, kematian kita sudah tertulis di buku takdir itu kita yakini benar. Tetapi kalau biasanya itu terasa jauh dan jarang terpikir, kini seperti ancaman yang setiap saat bisa datang. Kematian jadinya seperti berada di dekat kita secara nyata karena gencarnya berita yang datang. Dari satu sisi ini positif karena mendekatkan diri pada Sang Pencipta, tetapi di sisi lain memberikan ketakutan dan trauma.

Ada seorang teman yang sejak bulan Maret lalu sampai saat ini tidak berani keluar rumah karena khawatir tertular. Ada pula wartawan senior yang dilarang anak-anaknya setelah mendengarkan berita di media massa yang memetakan zona-zona berbahaya di Jakarta. Ketakutan itu sesuatu yang wajar walaupun ada juga yang mengatakan sebagai paranoid, tidak mencerna informasi dengan baik.

Benar bahwa Virus Covid19 sangat berbahaya, khususnya bagi mereka yang punya penyakit bawaan seperti diabetes, jantung, darah tinggi, ginjal dsb, sebab sekali ditulari bisa langsung sakit parah, susah disembuhkan.

Tetapi gaya hidup sehat, memelihara tubuh dengan asupan makanan yang sehat plus vitamin—atau berjemur diri antara 07.30-11.00—juga ikut memperkuat daya tahan tubuh ataupun imunitas.

Pekan lalu saya bertemu mantan Kapolda Bengkulu, Supratman, yang sembuh dari Covid19 setelah dinyatakan positif dari tes usap, melalui isolasi diri dan memakan makanan ditambah vitamin dan sejenisnya. Masih banyak cerita kesembuhan sebenarnya, tetapi kalau tidak mendengar langsung kita kadang kurang yakin bahwa itu benar bisa terjadi.

Definisi tentang zona juga sebenarnya keliru. Minggu lalu disebutkan seluruh kelurahan di Jakarta masuk dalam kategori zona merah kecuali Kepulauan Seribu. Zona ini menimbulkan kesan seolah-olah seluruh wilayah dikepung oleh virus yang terbang bergerak ke sana-kemari sehingga kita tidak boleh keluar rumah. Virus menjadi dikesankan gentayangan kesana kemari bagaikan awan hitam yang aktif mencari korban. Padahal faktanya, virus dibawa orang baik yang Orang Tanpa Gejala (OTG) maupun orang yang terpapar tetapi mungkin belum menjalani tes, dan dia menyebarkan karena tidak mengikuti protokol kesehatan. Yakni memakai masker, menjaga jarak, dan aktif mencuci tangan dengan sabun atau disinfektan. Maka sejauh kita menjaga diri sesuai ketentuan—bahkan ekstra misalnya dengan memakai masker plus face shield, tidak kompromi soal jarak dalam kondisi apapun, mestinya penularan jadi minimal.

Salah satu klaster baru penularan adalah perkantoran yang diatur berpendingin udara sehingga sirkulasi udara berputar tanpa pernah keluar. Satu orang kena maka potensi menulari yang lain sangat besar. Berbeda dengan ruang dengan jendela terbuka yang membuat perputaran udara bebas lepas dan kondisi udara juga tidak dingin, agak panas tetapi segar.

Sementara penularan tinggi dalam lima hari terakhir di DKI Jakarta disebutkan adalah akibat adanya libur panjang di pertengahan Agustus sehingga banyak warga yang bepergian ke tempat wisata, menimbulkan kerumunan warga—entah itu di tempat libur, kuliner, tempat pertemuan, dsb.

Kadang kita kurang enak hati kalau berbicara dengan memakai masker di kantor dengan teman sendiri, padahal kita tidak boleh kompromi, sebab sangat mungkin di antara 2-3 orang yang ngobrol itu ada yang tergolong OTG. Menjaga diri artinya juga menjaga orang lain.

Marilah terus berdoa kepada Allah yang Maha Kuasa, yang menguasai hidup kita. Meminta agar diberi kesehatan, dilindungi dari bencara Virus Covid19.  Tentu sambil mengikuti protokol pencegahan secara ketat, serta terus memelihara kesehatan tubuh dengan olahraga dan asupan makan yang baik.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru