Wednesday, October 28, 2020
Home > Cerita > Mengasah Perasaan,   Oleh Hendry Ch Bangun

Mengasah Perasaan,   Oleh Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun.

Semakin bertambah usia, biasanya seorang manusia semakin sering melakukan refleksi diri. Mengingat-ingat kembali perjalanan hidup yang telah dilewati. Pengalaman saat melewati waktu-waktu, dari ketika telah memiliki kesadaran diri, sampai dengan saat ini. Dan kebanyakan setelah itu maka manusia akan bersyukur, telah sampai pada suatu titik,  karena menyimpulkan begitu banyak pemberian  dari Yang Maha Kuasa.

Sederhana saja. Masih bisa bernafas normal, menghirup udara segar, ketika begitu banyak orang kesulitan melakukannya bahkan banyak yang meninggal dunia karena paru-parunya diselimuti Virus Corona. Masih bisa berjalan kaki, melangkah kemana pun kita mau, ketika banyak orang begitu menderita menggerakkan kakinya karena sakit pergelangan, tulangnya rapuh sehingga harus ditopang alat bantu seperti kursi roda.

Ada teman mengatakan syukurnya karena semasa SD melihat kemampuan ekonomi orangtua, berpikir paling dia hanya tamat SMA lalu bekerja apa saja untuk menopang hidup keluarga, tapi mampu kuliah bahkan sampai S3 dan bekerja di perusahaan yang baik. Tidak terbayangkan dia kini hidup di rumah rumah nyaman, memiliki kendaraan, dan mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi ternama.

Kuncinya, bekerja keras, terus berdoa setelah menjalankan ibadah, dan berbuat baik. Tidak beda dengan pepatah, Ora et Labora. Atau selalu mendesahkan Insya Allah karena percaya bahwa apapun usaha kita Allah Swt lah yang paling tahu, apa yang terbaik untuk kita.

Terkadang manusia terlalu rasional, kalkulasinya hanya berdasarkan pengetahuan keduniawian, hitung-hitungan akal sehat dan peristiwa yang telah terjadi sebelumnya, best practice. Dia mengira kalau sudah melakukan semua tuntutan yang diharuskan, maka pastilah harapannya akan menjadi kenyataan. Padahal cara kerja hidup manusia tidaklah demikian. Kita semua tidak boleh  melupakan kuasa Sang Pencipta, dan bahkan harus memasukkannya sebagai faktor utama setelah semua usaha.

Sikap “pasrah” dan “nrimo” sangat bermanfaat sebenarnya pada saat  bersemangat ataupun ketika putus asa. Sebab akan membuat ada satu celah dalam perasaan kita bahwa saya telah mencoba sebisa saya, semampu pengetahuan dan pengalaman, tetapi Allah Swt mengetahui apa yang sebenarnya paling bermanfaat bagi saya. Betapa banyak contoh. Ada yang selamat dari maut ketika ketinggalan pesawat karena macet. Ada yang terhindar dari kematian karena “lupa” jam keberangkatan.

***

Saya sendiri pernah mengalami hal mirip sekitar 30 tahun lalu. Menghadiri silaturahim bersama kelompok pengajian, saya memaksa pulang karena kelelahan sebab hadir sehabis bekerja. Saat mau pamit, sang kyai mengatakan, nanti saja kembali setelah pukul 24.00. Saya minta maaf dan ngotot untuk pulang. Beliau bilang, tunggu saja dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu, seperti menahan saya untuk beberapa lama lagi. Ketika saya ngotot, lalu dia bilang hati-hati di jalan.

Mengenderai sepeda motor saya pulang dari daerah Kebayoran itu menuju Ciputat. Di sekitar Lebak bulus yang waktu itu baru menjadi terminal, tiba-tiba ban belakang saya kempes entah apa sebabnya. Tidak ada penambal ban. Terpaksa saya mendorong sepeda motor sampai pasar Ciputat yang jauhnya mungkin sekitar tiga kilometer,  setengah jam lebih. Capek dan berkeringat, saya menemukan penambal ban tidak jauh dari kantor Kecamatan. Capek dan ban dalam hancur, “rugi” yang tidak sedikit. Saya sampai rumah ketika hari sudah berganti.

Belakangan ketika saya bercerita soal itu, teman di pengajian mengatakan, sebenarnya ahli agama itu merasakan, akan ada gangguan kalau saya pulang sebelum tengah malam. Itu sebabnya dia mencegah, tetapi tanpa mengatakan hal itu. Karena masih muda, saya tidak dapat “menangkap” isyarat yang diberikan. Benar memang, jam ketibaan tokh sama apabila saya kembali ke rumah pada jam yang disarankan Pak Kyai. Seandainya saya “nurut” kepada orang lebih ahli, tentu saya tidak mendapat malapetaka. Malah mungkin mendapat pengetahuan lebih karena ikut ngobrol tentang agama. Dasar tindakan saya hanya pikiran.

***

Mengasah perasaan membuat setiap kita lalu mencoba menghadirkan “feeling” saat bertindak, melakukan sesuatu. Mungkin kalau hendak pergi membawa mobil, selain ada panduan google map, perasaan diajak ikut serta sebelum meninggalkan garasi. Sebelum melakukan sesuatu yang penting, lakukan refleksi diri sebagai “second opinion”.  Atau ketika berbicara dengan orang apalagi yang baru dikenal, jangan lupakan “kesan” yang biasanya memberi penilaian dari hasil olah perasaan.

Atau sebaliknya, ketika tiba-tiba kepikiran untuk mengerjakan sesuatu yang baik, jangan tunda melakukannya. Barangkali pada saat itu ada orang yang sedang berdoa kepada Sang Pencipta, untuk meminta sesuatu dan kita termasuk salah satu pihak yang masuk dalam kategori orang yang diharapkan dapat mewujudkannya. Kalau sudah demikian, maka sebenarnya kita sudah masuk dalam “daftar” orang yang dinilai Allah Sang Pencita mampu melakukannya, sudah siap memberi secara lahir dan batin.

Cobalah iseng-iseng, siapkan uang Rp 100.000, dan ucapkan dalam hati, uang ini akan segera saya serahkan sebagai sedekah kepada orang yang memintanya. Kadang, seharian kita tidak bertemu orang yang membutuhkannya. Tetapi bilang sedang tidak “punya uang”, ada saja orang yang entah dari kata-kata atau sinar matanya, mengharapkan bantuan.

Di sini, keihlasan kita diuji karena memberi saat kekurangan, tentu akan besar pahalanya, tetapi pikiran mengatakan, “Lha nanti mau makan siang bayar pakai apa”.  Orang yang percaya pada Yang Maha Kuasa, akan yakin bahwa pasti selalu ada jalan keluar apabila kita membantu di saat kesulitan. Perasaan seperti ini harus terus diasah. Sebab itulah takdir, kehendak Dia, yang ingin agar kita berbuat kebaikan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.

Mengasah perasaan mengajar kita untuk “bekerja” sesuai jalannya, tentu setelah berusaha sebaik-baiknya. Tidak ada peristiwa kebetulan, semua sudah digariskan. Tinggal apakah kita dapat menerimanya dengan perasaan lapang. Atau menggugatnya hanya berdasarkan akal sehat dan kalkulasi pikiran semata.

***

Jakarta, 04102020

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru