Tuesday, April 13, 2021
Home > Cerita > Cerita Bale-Bale > Selamat Datang November,   Oleh Hendry Ch Bangun

Selamat Datang November,   Oleh Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun.

Dan datanglah November. Bersama hujan, bersama angin, bersama awan kelam yang bergerak di langit. Bersama kenangan, mungkin. Dan yang pasti berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini bersama Pandemi Covid 19.

Banyak penggemar musik yang tiba-tiba ingat akan lagu Guns N’Roses, November Rain.

Kalau dicek di You Tube, sampai tadi pagi penontonnya sudah mencapai 1,4 milyar lebih, sejak dilepas di kanal itu tahun 25 Desember 2009, meskipun albumnya sudah dikeluarkan sejak tahun 1992.

Lagu sedih tentang seorang penyanyi rock yang kehilangan istrinya, justru pada saat berada di puncak kebahagiaan, yaitu mengikat janji perkawinan di sebuah gereja disaksikan kerabat dan teman-temannya.

Tentu saja ini fiksi, tetapi kisahnya telah membuat jutaan oang di dunia membeli album lagunya dan Axl Rose kaya raya. Vokalis top ini telah menjadi ikon di dunia musik karena tarikan suaranya yang kuat dan berkarakter. Enak dinikmati.

Saya sendiri lebih sering mengingat lagu Bimbo, Angin November, yang keluar di awal 1970an, saat saya masih berangkat remaja dan mendengarkan lagu ini dari radio.

Suara berat Acil mengisahkan tentang kasih tak sampai, hubungan cinta yang gagal karena orang yang diharapkan menjadi pasangan malah pergi begitu saja. “Kukira takkan berlalu” begitu salah satu penggalan liriknya, ternyata pergi bersama November yang basah, diiringi angin yang berlalu.

Suara khas Acil menjadikan lagu ini terasa sahdu dan menekan batin. Mereka yang mengalami peristiwa seperti lagu akan terseret ke dalam kenangan pahit ketika mendengarnya kembali. Apalagi bila cuaca di luar sana selaras, hujan, berangin, dan sendirian di rumah.

November juga kerap dikaitkan dengan zodiak Scorpio dengan simbol kalajengking yang sering digambarkan misterius, tertutup, bergairah, kuat, dan bersemangat. Kalau sudah menjadi kekasih atau pasangan hidup, dia tidak akan mudah untuk melepaskan diri, ia menjadi orang yang setia.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Adakah kenangan akan November? Kalau kita lihat komentar di bawah lagu Angin November, ada beberapa yang menyatakan bagaimana di bulan itu cintanya terputus. Kecewa. Sedih. Tapi pasti ada juga yang mendapat kebahagiaan, yang mungkin malu melukiskannya.

***

Pandemik Covid 19 yang sudah mendera dunia sejak bulan Maret 2020 belum juga reda dan bahkan semakin mengganas.

Di Indonesia penderitanya sudah tembus 415.000, dengan 14.000 lebih meninggal, meskipun angka kesembuhan mencapai 346.000. Sementara di dunia penderita mencapai angka 46,6 juta dengan angka kematian 1,2 juta dan sembuh 32 jutaan.

Tentu saja ini gambaran yang kelabu bagi kita semua. Telah masuknya musim gugur yang akan diikuti musim dingin di negara subtropis diramalkan akan membuat Covid19 semakin ganas.

Inggris baru saja menerapkan lockdown, menyusul Jerman, Spanyol  karena penderitanya terus bertambah. Kita di Indonesia lebih beruntung. Banyaknya sinar matahari membuat mudah mendapat asupan vitamin D, serta memperlambat penyebaran virus karena udara yang hangat dan perputaran udara yang banyak.

Itu sebabnya, bersyukur adalah salah satu hal yang harus kita lakukan terus menerus karena diberi kehidupan, diberi kesehatan baik, dan masih berkesempatan berkarya bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara.

Masih bisa memberi apa yang kita punya, masih bisa menggunakan pikiran untuk disumbangkan. Khususnya bagi mereka yang telah memasuki usia senja, memberi dan memberi adalah langkah terbaik dilakukan di kondisi seperti ini, tidak lagi mencari dan mengambil.

Kita mengetahui dari media sosial, gerakan memberi,  berpartisipasi, bergotong royong untuk saling membantu, telah menjadi gerakan raksasa yang menyentuh sampai ke pelosok tanah air. Kalau Anda ingin membantu perbaikan masjid, ingin membantu pembangunan gereja, membantu orang yang sakit, anak yatim yang tidak mampu bersekolah, rumah tangga orang yang berhenti kerja karena PHK, saat ini semuanya tinggal klik di ponsel. Mau Rp5.000 boleh, mau Rp5 juta juga silakan saja, semuanya mudah. Jutaan orang menjadi dermawan karena kemudahan yang diberikan teknologi digital ini.

Jadi bisa disimpulkan masyarakat kita memang ringan tangan dalam membantu, gampang mengulurkan tangan. Kita juga lihat dari media, ada keluarga yang buat makan siang gratis di rumahnya, berbagi sayur-mayur di lingkungannya, ada yang berkeliling membagikan sembako bagi yang tidak mampu.

Itulah sisi indah dari bencana kemanusiaan Covid 19 yang melanda Indonesia pada khususnya.

Semua orang seperti terpanggil untuk berbuat baik. Jangan tanya lagi perusahaan yang menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR)nya secara rutin. Ratusan dan mungkin ribuan badan usaha milik negara dan swasta membantu masyrakat. Dan tentu kita berharap mereka semua ini tidak bosan melakukan kebaikan bagi sesama.

***

Maka November tidak selalu bermakna sedih, luka, bahkan duka.

Walaupun Anda mungkin terpaku di balik jendela karena hujan deras yang tak berhenti, tetaplah pandang dunia dengan semangat dan terima kasih kepada Sang Pencipta karena kita diberi kesempatan menikmati dunia. Dunia yang penuh tantangan. Dunia yang setiap hari memberi kabar kematian.

Dunia akan berputar. Persoalan akan selesai ketika waktunya tiba. Seperti disebutkan dalam salah satu lirik lagu November Rain, semua “kegelapan” akan ada akhirnya.

//So never mind the darkness/We still can find a way/’Cause nothin’ lasts forever/Even cold November rain//

oOo

Jakarta,  02 November 2020.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru