Wednesday, September 22, 2021
Home > Cerita > Berharap Cemas Badai Ketiga,  Catatan Hendry Ch Bangun

Berharap Cemas Badai Ketiga,  Catatan Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun.

Alhamdulillah. Kita patur bersyukur pada Allah, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, karena angka-angka persebaran Covid-19 di Tanah Air semakin menurun.

Hari Jumat (3/9) kemarin, untuk seluruh Indonesia penambahan 7.797 kasus baru positif Covid-19, sehingga total pasien terkonfirmasi saat ini sejumlah 4.116.890. Angka harian itu, turun sangat drastis kalau kita menengok ke angka bulan Juli, yang pada puncaknya mencapai 56.757, pada 15 Juli, yang merupakan tertinggi di dunia waktu itu.

Kita ingat peningkata waktu itu, dari rata-rata 20.000-an terjadi akibat mudik lebaran, yang walau secara resmi dilarang pemerintah, dalam kenyataan dilakukan secara diam-diam oleh warga masyarakat yang rindu bersilaturahmi dengan keluarga.

Efeknya sungguh fatal, fasilitas kesehatan tidak cukup, bed occupancy ratio (BOR) menembus batas 100%.

Ribuan orang tidak terawat, banyak yang meninggal di lorong-lorong rumah sakit, ribuan tenaga kesehatan dipaksa bekerja 24 jam dan ikut menjadi korban. Yang meninggal dunia juga tidak sedikit. Indonesia pun masuk dalam daftar hitam kunjungan dari luar negeri. Diboikot belasan negara karena ancaman penularan dan ketiadaan fasilitas kesehatan. Ribuan warga negara Jepang, Australia, Amerika Serikat, Cina, dievakuasi pemerintahnya dengan pesawat khusus.

Untunglah pemerintah bertindak cepat, dengar berbagai cara membangun rumah sakit darurat di mana saja. Instansi pemerintah khususnya TNI dan Polri, badan usaha milik negara, bekerja keras dan secara pelahan Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid  bisa mengendalikan keadaan dan seperti kita alami bersama badai sudah reda.

Masih diberlakukannya Pembatasan Pergerakan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai akhir Juli sangat efektif, meski banyak menjerit karena khususnya kegiatan ekonomi terpukul karena sektor yang tidak esensial harus tutup. Pesawat udara, kereta api, angkutan umum antarkota, terkena imbas paling parah. Begitu mal dan pusat perbelanjaan.

Berbarengan dengan itu gencarnya vaksinasi, yang sebenarnya sejak Agustus ditargetkan dapat mencapai satu juta perhari, ikut memberikan hasil. Indonesia kini sudah masuk negara yang paling banyak memberikan vaksin penduduknya. Padahal sempat diramalkan pengamat asing, sampai tahun 2022 pun vaksinasi penduduk Indonesia tidak akan selesai.

Sampai 3 September 2021, menurut Kementerian Kesehatan RI, sudah 65.957.151 ( 31,67%) penduduk yang mendapat vaksin pertama dan 37.722.478 (18,11%) mendapat vaksin kedua, dari rencana vaksinasi terhadap 208.265.720 penduduk Indonesia.

Maka target untuk mencapai herd immunity pada akhir 2021 boleh jadi akan tercapai. Sebab stok vaksin sudah memadai dan tinggal pelaksanaanya digencarkan. Dan target vaksinasi dua juta orang per hari pada September ini dapat dipenuhi.

Apa artinya, apabila tingkat kekebalan tubuh semakin merata, maka meskipun virus Covid-19 ada, penularannya tidak akan mudah. Sejauh kita semua taat pada protokol kesehatan yang dianjurkan, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan. Jadi tetap waspada, itu salah satu kuncinya.

***

Tetapi terus terang saja, di balik kabar baik dengan semakin menurunnya angka persebaran virus Covid-19, masih ada kekhawatiran melihat gejala yang terlihat dan kita alami bersama-sama.

Dari media massa kita ketahui, masyarakat yang jenuh karena dipaksa bekerja dari rumah, dipaksa belajar dari rumah, mulai ceroboh dan kurang peduli.

Baru saja diturunkan level PPKM menjadi tiga, tempat wisata boleh dibuka dengan pembatasan jumlah pengunjung dan protokol kesehatan ketat, sudah terlihat pelanggaran dari masyarakat. Kita melihat di siaran televisi dan berita, kawasan wisata Puncak sudah dipenuhi wisatawan. Kemacetan terjadi lagi, seperti hari-hari normal. Tempat nongkrong seperti warung pinggir jalan dipenuh orang, dan banyak yang tidak menggunakan masker misalnya.

Kawasan wisata Gunung Merapi, di Jawa Tengah, disesaki pengunjung . Sepeda motor dan mobil tidak mampu ditampung tempat diparkir. Ratusan warga pun menghirup udara segar di ketinggian tanpa menggunakan masker. Apalagi menjaga jarak.

Dan keadaan ini terjadi di berbagai tempat wisata umum di seluruh Indonesia. Apapun upaya pencegahan dari pemerintah daerah atau penanggungjawab lokasi wisata, sulit untuk membendung warga yang bosan dan jenuh di rumah. Bahkan di Sulsel, upaya penjaga dan satpol PP mencegah pendakian ke  Gunung Bawakaraeng, dilawan para pendaki yang jumlah ratusan sehingga sulit dibendung.

Belum lagi seperti di Medan, sebuah sekolah secara diam-diam melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) walaupun wilayah itu masih di PPKM level 4 yang artinya sekolah masih harus ditutup. Para murid sengaja disuruh berpakaian bebas untuk mengakali aturan, sebelum akhirnya dipergoki petugas kesehatan dan membubarkan kegiatan pembelajaran itu.

Di sinilah sebenarnya dituntut kedewasaan masyarakat, untuk berpikir jauh ke depan dan tidak melulu bicara kepentingannya, khususnya bagi mereka yang mengelola sarana yang terkait dengan kepentingan umum.

Harus dicatat, kalau murid-murid Anda kena Covid-19, itu bukan hanya urusan Anda, tetapi urusan keluarganya, lingkungannya, dan tentu saja pemerintah kota, kabupaten, provinsi bahkan pemerintah pusat. Harus dirawat berarti perlu fasilitas, perlu tenaga kesehatan, perlu obat, dan seterusnya, yang intinya: menyusahkan semua.  Apalagi kalau ternyata siswa itu menularkan ke teman sekolahnya, atau keluarganya, akibatnya pasien akan bertambah. Kerepotan pun akan bertambah.

Yang paling menjadi ancaman memang kegiatan pendidikan, selain kegiatan masyarakat umum seperti di pasar, pusat keramaian seperti daerah wisata, karena sulitnya dikontrol, selain karena kurang kesadaran juga jumlah tenaga pengawas yang tidak mencukupi.

Kegiatan perkantoran relatif terkontrol, karena seperti terjadi di Jakarta, mereka yang masuk kategori memberi pelayanan umum dan bersentuhan dengan masyarakat / pelanggan, secara rutin menjalani tes antigen.

Artinya, apabila terkena Covid-19 mereka akan segera dirawat dan tidak masuk kantor. Sementara di tempat umum, tidak pernah atau kalau ada sangat jarang, dilakukan tes, jadi bisa saja di sudah terkena Covid dan masih melakukan kontak fisik dengan orang lain dan menularkannya, dan si tertular menularkan lagi, dan seterusnya sampai kemudian ada yang jatuh sakit  sampai pada kondisi parah dan tidak tertolong.

***

Memang kondisi yang dialami dilematis. Tindakan pemerintah tidak melakukan lock-down dan hanya pemeringkatan kondisi pandemi daerah sehingga masyarakat dapat sedikit bergerak bebas seharusnya diikuti dengan kepatuhan masyarakat pula. Ya tentu saja para pedagang belum akan mencapai 100% omzet seperti semula, tetapi paling tidak sudah bisa sedikit bernafas dibanding kalau ditutup sama sekali.

Pengelola mal juga mestinya bersyukur karena sudah boleh buka sampai pukul 21.00 di PPKM level 3, walau pengunjungnya harus sudah divaksin dan pengunjung maksimal 50 persen.

Dibolehkannya PTM secara proporsional, misalnya hanya separuh kapasitas kelas, dengan syarat semua guru sudah divaksin dan dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat, serta tidak ada kegiatan makan-minum, seharusnya dianggap sebagai jalan keluar sementara sebelum kelak dilakukan secara penuh seperti sedia kala.

Demi masa depan kita semua yang lebih baik, kita semua harus bersabar dan menerima langkah-langkah demi langkah kegiatan yang ditetapkan pemerintah. Masyarakat silakan memanfaatkan keadaan, sesuai batasan yang dibuat.

Kita masih lebih beruntung dibandingkan dengan Selandia Baru, yang melakukan lockdown lagi selama dua minggu, ketika ditemukan pasien Covid-19 baru. Atau negara bagian di Australia, yang melakukan pembatasan ketat tidak boleh keluar rumah, karena  ternyata penularan Covid-19 masih terjadi.

Jangan sampai ulah masyarakat yang melampiaskan kejenuhan seolah tidak ada lagi pandemi Covid-19 di Tanah Air, menciptakan gelombang ketiga penularan yang akan lebih dahsyat karena adanya varian baru yang lebih mematikan.

Dua hal yang harus kita lakukan. Mereka yang belum divaksin, segeralah cari tempat vaksin yang kini semakin banyak. Hampir semua markas polisi dan TNI kini melakukan vaksinasi, begitu pula dengan pemerintahan di daerah. Yang sudah sekali, genapkanlah menjadi dua kali untuk mendapatkan kekebalan tubuh yang paripurna.

Kedua, tetaplah taat prokes kapan pun, dimana pun, dengan meyakini bahwa ancaman bahaya masih ada, bahkan lebih ganas, walaupun kita sudah divaksin dua kali.

Mari bersemangat, jangan sampai muncul gelombang ketiga. Kalau kita lengah dan itu nanti terjadi. Dia bisa menjadi tsunami yang membuat Indonesia sulit menanggulanginya.

***

Ciputat, 4 September 2021

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru