Thursday, October 29, 2020
Home > Berita > Virus Corona: AS Diperingatkan Kemungkinan Terjadinya Lonjakan Berbahaya

Virus Corona: AS Diperingatkan Kemungkinan Terjadinya Lonjakan Berbahaya

Seorang pekerja dalam pakaian pelindung menyemprotkan desinfektan ketika pekerja medis melakukan tes asam nukleat di sebuah lokasi pengujian di Beijing. (Foto Reuters/Al Jazeera)

Seorang pekerja dalam pakaian pelindung menyemprotkan desinfektan ketika pekerja medis melakukan tes asam nukleat di sebuah lokasi pengujian di Beijing. (Foto Reuters/Al Jazeera)

mimbar-rakyat.com – Pakar medis terkemuka AS, Dr Anthony Fauci, memperingatkan bahwa negara itu, yang sudah “sangat terpukul” oleh virus corona, menghadapi lonjakan berbahaya dalam kasus-kasus baru. Sementara Arizona, Texas, dan Nevada semua melaporkan jumlah kasus hariannya.

Sedang negara-negara Uni Eropa sedang mempertimbangkan untuk melarang masuk ke Amerika karena AS telah gagal dalam mengendalikan penyebaran virus corona. Demidikian menurut New York Times, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Di seluruh dunia, hampir 9,2 juta orang telah dipastikan teriinfeksi virus corona. Lebih dari 4,6 juta telah pulih, sementara lebih dari 474.000 telah meninggal. Begitu menurut Universitas Johns Hopkins.

Austria telah mengeluarkan peringatan terhadap perjalanan ke negara bagian Jerman Barat, Rhine-Westphalia Utara setelah muncul wabah corona di pabrik pengemasan daging di sana, kata Kanselir Austria Sebastian Kurz.

Langkah ini menempatkan negara dalam kategori yang sama dengan wilayah Italia Lombardy, pusat penyebaran virus corona Italia, yang merupakan salah satu yang terburuk di Eropa.

India dilaporkan telah mencatat lonjakan tertinggi dari 15.968 kasus virus corona baru dalam 24 jam terakhir, menjadikan totalnya menjadi 456.183, dengan Mumbai dan New Delhi sebagai kota-kota yang paling terpukul di negara ini.

Kementerian Kesehatan juga melaporkan rekor peningkatan 24 jam dari 465 kematian akibat COVID-19, yang menyebabkan kematian menjadi 14.476.

Sophia Chan, sekretaris Hong Kong untuk makanan dan kesehatan, membela skema perjalanan yang direncanakan yang mengharuskan penduduk kota untuk berbagi hasil tes coronavirus mereka dengan pihak berwenang di provinsi Guangdong di China daratan. Hal itu menepis kekhawatiran bahwa data pribadi sensitif warga, seperti catatan medis, dapat ditransfer ke otoritas keamanan daratan.

Hong Kong akan mengembangkan sistem “Kode Kesehatan” untuk memungkinkan “hasil tes virus peserta skema percontohan di Hong Kong untuk diunggah ke dalam kode” dan dibagikan dengan otoritas daratan, katanya. Wisatawan tidak akan diharuskan memasang aplikasi seluler, katanya.

Ibrahim Mohamed Solih, presiden Maladewa, mengatakan negara kepulauan itu membuka perbatasannya pada 15 Juli untuk kedatangan wisatawan dari semua negara.

Ekonomi kepulauan Samudra Hindia sangat bergantung pada pariwisata, dan kedatangan tidak akan dikenakan tindakan karantina dengan hanya pelancong yang simptomatik yang diwajibkan menjalani pengujian COVID-19 wajib di bandara. Demikian menurut kementerian pariwisata.

Pengujian akan tersedia bagi para pelancong yang memerlukannya untuk kembali ke negara mereka atau melanjutkan perjalanan selanjutnya, sumber kementerian menambahkan.***sumber Al Jazeera.(edy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru