Thursday, November 26, 2020
Home > Berita > Penelitian: Rutinitas Kerja dari Rumah Selama Pandemi Covid-19, Bisa Membuat Orang Jadi Pelupa

Penelitian: Rutinitas Kerja dari Rumah Selama Pandemi Covid-19, Bisa Membuat Orang Jadi Pelupa

Ilustrasi.

Mimbar-Rakyat.com (London) – Selama pandemi Corona atau Covid-19, menyebabkan banyak orang harus bekerja dari rumah (working from home/WFH). Hasil penelitian menunjukkan, rutinitas bekerja dari rumah itu bisa berdampak pada ingatan kita, menjadi pelupa.

Jika, sejak karantina wilayah (lockdown), Anda mungkin merasa sulit untuk mengingat sesuatu, seperti keharusan mengirim email kepada seseorang, lupa kata tertentu yang mau Anda ucapkan, atau lagi-lagi lupa membeli susu. Namun, Anda tidak sendiri.

Banyak teman yang baru-baru ini mengeluhkan ingatan mereka yang memburuk. Tentu saja masih terlalu dini untuk meneliti ingatan kita sebelum dan setelah pandemi Covid-19.

Namun dalam survei yang dilakukan Alzheimer’s Society, separuh orang-orang yang disurvei mengatakan bahwa ingatan orang yang mereka cintai semakin memburuk setelah mereka dipaksa menjalani kehidupan yang lebih terisolasi.

Batasan bersosialisasi di dalam panti jompo dan dalam beberapa kasus, larangan pengunjung selama berbulan-bulan, tampaknya telah berdampak buruk.

Di Universitas California Irvine, penelitian dimulai dengan bagaimana lockdown mempengaruhi ingatan orang.

Dilaporkan bahwa bahkan beberapa orang yang biasanya memiliki ingatan hebat, seperti ingat tiket bioskop yang dibelinya 20 tahun lalu, kini mulai melupakan banyak hal.

Tentu saja ada beberapa jenis ingatan yang berbeda.

Kurangnya kontak sosial dapat mempengaruhi otak secara negatif dan efeknya berdampak sangat serius pada mereka yang sudah mengalami gangguan ingatan.

Melupakan apa yang ingin Anda beli berbeda dengan melupakan nama seseorang atau apa yang Anda lakukan Rabu lalu.

Namun penelitian tentang cara kerja memori menunjukkan bagaimana situasi kita saat ini yang lebih terbatas bisa mempengaruhi bagaimana kita mengingat.

Faktor yang paling jelas adalah isolasi diri.

Kita tahu bahwa kurangnya kontak sosial dapat mempengaruhi otak secara negatif. Efeknya berdampak sangat serius pada mereka yang sudah mengalami gangguan ingatan.

Bagi penderita penyakit Alzheimer, tingkat kesepian bahkan dapat menentukan perjalanan penyakit.

Tentu saja, tidak semua orang merasa kesepian selama pandemi. Hasil beberapa penelitian menunjukkan tidak ada peningkatan signifikan dalam hal perasaan kesepian dari waktu ke waktu.

Tetapi meskipun kita tidak merasa tertekan karena berkurangnya kontak dengan sesama, banyak dari kita yang masih tak bisa bertemu orang-orang sebanyak biasanya.

Kita melewatkan percakapan di kantor atau di pesta, di mana kita mungkin berbicara dengan lusinan orang dalam satu malam, bertukar cerita tentang apa yang telah kita lakukan.

Mengulang cerita membantu kita mengkonsolidasikan ingatan tentang apa yang terjadi pada kita – yang disebut ingatan episodik.

Jika kita tidak bisa banyak bersosialisasi, mungkin tidak mengherankan jika ingatan tidak terasa sejernih biasanya.

Ketika kita mendapat kesempatan untuk mengobrol, kita juga memiliki lebih sedikit cerita untuk dibagikan.

Jika kita tidak bisa banyak bersosialisasi, mungkin tidak mengherankan jika ingatan tidak terasa sejernih biasanya.

Oleh karena liburan dibatalkan, pesta pernikahan ditunda, konser dan acara olahraga berlangsung tanpa penonton, semakin sedikit hal yang perlu kita bicarakan.

Sementara, cerita seputar kantor umumnya soal frustrasi karena perangkat teknologi yang mengecewakan.

Memang benar Anda mungkin bisa bersosialisasi secara online.

Tapi percakapan itu tidak persis sama. Anda mungkin enggan membagikan hal-hal remeh yang terjadi pada Anda. Anda lebih memilih cerita-cerita apa yang layak diceritakan.

Tapi, ini lebih dari sekadar kurangnya sosialisasi.

Banyak orang yang mengatakan mereka makin sering merasa gelisah.

Sekalipun Anda menghargai betapa beruntungnya Anda dan betapa orang lain lebih buruk keadaanya, perasaan bahwa dunia telah menjadi tempat yang lebih tidak pasti itu sulit untuk dihilangkan.

Di University College London, psikobiolog Daisy Fancourt dan timnya telah melakukan penelitian terhadap perasaan orang di Inggris selama pandemi Covid-19.

Meskipun tingkat kecemasan terlihat memuncak ketika lockdown dimulai dan secara bertahap berkurang, tingkat rata-rata kecemasan tetap lebih tinggi dari pada biasanya, terutama pada orang yang masih muda, tinggal sendiri, tinggal bersama anak-anak, hidup dengan pendapatan rendah, atau di daerah perkotaan.

Sementara itu, Badan Statistik Nasional Inggris menemukan bahwa angka depresi meningkat dua kali lipat. Baik depresi dan kecemasan diketahui berdampak pada ingatan. Demikian dirilis BBC News.

Kekhawatiran membebani memori kita, membuat kapasitas memori yang lebih sedikit sehingga kita bisa lupa daftar belanjaan atau apa yang perlu kita lakukan untuk bekerja.

Ini semua menjadi lebih sulit karena kurangnya isyarat untuk membantu ingatan kita.

Anda mungkin lebih sering bersosialisasi secara online, tapi itu tetap saja berbeda dengan mengobrol secara tatap muka.

Jika Anda pergi bekerja, maka perjalanan Anda, perubahan pada pemandangan di jalan, dan istirahat yang Anda lakukan bisa jadi seperti penanda dalam hari Anda, hal yang membantu kerja memori Anda.

Namun saat Anda bekerja dari rumah, setiap rapat online terasa sangat mirip dengan rapat online lainnya karena Anda cenderung duduk di tempat yang persis sama di depan layar yang sama persis.

Ada lebih sedikit hal yang bisa menandai ingatan Anda, juga untuk membantu Anda membedakannya.

Seperti yang dikatakan Catherine Loveday, profesor ilmu saraf kognitif di University of Westminster, “Mencoba mengingat apa yang terjadi pada Anda ketika hanya ada sedikit perbedaan di hari-hari Anda, rasanya seperti mencoba bermain piano yang tak punya tuts hitam.”

Di kantor, Anda mungkin berjalan melewati ruangan tempat Anda rapat, yang mengingatkan Anda bahwa Anda perlu mengirim email kepada seseorang tentang rapat.

Di rumah tidak ada petunjuk untuk membantu Anda mengingat bagian-bagian berbeda dari pekerjaan Anda. Setiap memori ditandai dengan duduk di depan komputer Anda.

Di tempat kerja Anda mungkin ingat persis di mana Anda mengobrol – di lift atau di dapur kantor – dan itu membantu Anda tidak melupakannya.

Lalu ada rasa lelah, yang juga mempengaruhi ingatan kita.

Rapat lewat aplikasi Zoom yang melelahkan, pekerjaan yang lebih sulit dilakukan dari rumah, hingga liburan yang dibatalkan.

Kurangnya rutinitas dan kecemasan akan pandemi dapat mengganggu tidur kita. Gabungan semua faktor itu membuat kita merasa lelah.

Jadi dengan kombinasi kelelahan, kecemasan, dan interaksi sosial yang lebih sedikit, tidak heran jika sebagian dari kita merasa kinerja ingatan kita mengecewakan.

Dan Loveday percaya ada faktor tambahan yang mungkin tidak kita sadari.

Di rumah tidak ada petunjuk untuk membantu Anda mengingat bagian-bagian berbeda dari pekerjaan Anda.

Menemukan jalan pulang penting bagi kelangsungan hidup kita. Begitu kita meninggalkan rumah, kita mulai memperhatikan sekeliling.

Apakah kita menavigasi jalan kita melalui hutan atau di sekitar kota, kita lebih banyak menggunakan bagian otak berbentuk kuda laut yang dikenal sebagai hipokampus.

Ingat penelitian yang menunjukkan soal pengemudi taksi hitam di London yang mempelajari setiap jalan tikus? Pengemudi itu memiliki hipokampus yang lebih besar.

Kita perlu menggunakan hipokampus untuk mengingat informasi baru. Namun Veronique Bohbot, seorang ahli saraf di Universitas McGill di Kanada, menemukan, jika kehidupan orang menjadi lebih terbatas dan berulang seiring bertambahnya usia, penggunaan hipokampus akan berkurang.

Selain itu, dia menemukan bahwa pengemudi yang mengandalkan sistem navigasi daripada menemukan jalannya sendiri memiliki lebih sedikit memori spasial, jenis memori yang sangat bergantung pada hipokampus.

Jika kita berada di rumah hampir sepanjang waktu selama beberapa bulan karena pandemi, kita kehilangan rangsangan ekstra, yang biasanya datang saat kita mencoba mencari jalan.

Kabar baiknya adalah ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya.

Di kantor, Anda mungkin berjalan melewati ruangan tempat Anda rapat, yang mengingatkan Anda bahwa Anda perlu mengirim email kepada seseorang tentang rapat.

Berjalan, terutama di jalan yang tidak Anda tahu sebelumnya, akan mengembalikan perhatian otak Anda.

Dan bahkan bergerak bisa membuat perbedaan.

Apakah Anda harus duduk di meja Anda setiap rapat? Jika itu panggilan telepon, Anda bisa mempertimbangkan untuk sambil mengobrol.

Memastikan hari kerja dan akhir pekan tak campur aduk dapat membantu persepsi kita akan waktu,

Loveday menyarankan untuk menambahkan lebih banyak variasi dalam hidup kita, yang mungkin memerlukan pemikiran kreatif untuk mencapainya.

Ketika kita keluar rumah, otak akan mulai memperhatikan keadaan di sekitar kita.

Jika Anda tidak bisa keluar, dia menyarankan untuk mencari aktivitas yang benar-benar baru di rumah, dan kemudian memberi tahu seseorang tentang hal itu untuk membantu Anda mengingatnya dengan lebih baik.

Merenungkan hari Anda dengan sengaja setiap malam dapat membantu Anda mengkonsolidasikan ingatan Anda.

Anda bahkan bisa menulis buku harian. Memang benar bahwa lebih sedikit kejadian yang patut diperhatikan akhir-akhir ini, tetapi mungkin akan menarik untuk melihat ke belakang suatu hari nanti.

Ini juga bisa membantu ingatan Anda.

Jika Anda lupa melakukan sesuatu, membuat daftar dan menyetel pengingat di ponsel dapat sangat membantu. Anda juga bisa memanfaatkan imajinasi Anda sendiri.

Jika Anda berencana untuk membeli susu, roti, dan telur, maka sebelum Anda pergi, Anda bisa membayangkan diri sedang mengunjungi setiap lorong toko itu.

Saat Anda sampai di sana, perjalanan belanja imajiner ini akan muncul kembali di benak Anda dan kemungkinan besar Anda akan mengingat semua yang Anda butuhkan. (ds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru