Thursday, May 06, 2021
Home > Berita > Pedasnya Harga Cabai Bikin Pusing Pengusaha Kuliner

Pedasnya Harga Cabai Bikin Pusing Pengusaha Kuliner

Harga cabai semakin pedas di Kuningan. (dien)

Mimbar-Rakyat com (Kuningan) – Lebih dari 30 hari harga cabe rawit semakin “pedas” membuat pengusaha kuliner di Kabupaten Kuningan menjerit akibat mahal harga cabe yang terus melonjak.

Hal itu dirasakan langsung oleh Derry, pengusaha kuliner “Sambal Mahnet”, yang memiliki slogan pedasnya juara ini, harus memutar otak untuk mengantisipasi bahan baku cabai rawit yang kian naik.

“Akibat naiknya harga cabai, selama satu bulan ini bisnis kuliner saya sekarang sedang menurun, karena memang harga bahan baku dari suppliernya harga naik sedangkan harga jual tetap, dan itu sangat mempengaruhi sekali,” ujarnya.

Maka dari itu, untuk menutupi modal dagang dalam satu hari pihaknya harus memenuhi target penjualan dalam sehari dan mengurangi porsi cabai rawit. “Ya, kurangin juga porsi cabai rawit, dan diganti dengan cabe merah, agar pedasnya tetap juara,” kata Derry.

Menurutnya naiknya harga cabai sudah di luar batas kewajaran, apalagi harganya bertahan selama satu bulan. ” Harga – harga komoditinya sekarang ripuh (repot,red) , kalau dulu harga yang naik itu hanya bertahan selama tiga hari, sekarang harganya sudah sebulan lebih tetap bertahan,” terangnya.

Derry mengungkapkan setiap hari dirinya belanja ke pasar dan harga cabai masih terasa pedasnya. “Tadi pagi saja saya belanja, Harga cabai rawit jablay saja sekarang mencapai Rp. 120/kg, tadinya 30/kg, terus cabe merah dar Rp. 25 ribu/kg sekarang jadi Rp. 50 ribu/kg. Makanya porsi sambel cabenya dikurangi, tapi pedasnya tetap juara,”terangnya.

Derry meminta agar pemerintah daerah bisa menelusuri penyebab kenaikan harga cabai ini. “Kalau bisa mah ada oprasi pasar atau bantuan pemerintah agar bisa menormalkan kembali harga cabai, memang sayuran harganya sempat naik tapi kan cepat turun seperti timun, contoh timun, memang mahal tapi dalam tiga hari turun, tapi kalau untuk cabai sendiri sudah sebulan lebih paling murah ya bertahan di lima puluh,”paparnya.

Tidak hanya menelusuri penyebab kenaikan harga, tambah Derry, namun pemerintah bisa segera adakan oprasi pasar agar pengusaha kuliner kembali menggeliat kembali.

Rupanya pedasnya harga cabai, tidak hanya dikeluhkan oleh Derry, ibu rumahtangga di Kabupaten Kuningan pun mengeluhkan hal yang sama. “Sekarang mah sudah ngga masuk akal, masa harga cabai sama dengan harga sekilo sapi, sudah gitu mahalnya lama banget,”imbuh Siti.

Dijelaskan olehnya menikmati rasa pedas adalah sudah menjadi selera bagi keluarga. “Karena itu mah sudah turun temurun, suka pedas ,kan lidah orang indonesia. Makan sayur asem pake sambel tarasi, itu juga udah luar biasa, tapi sekarang cabainya sudah menjadi barang mewah, sama kayak beli daging sapi sih,”pungkasnya.  (dien / arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru